LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 28





Arend merebut sendok dan kotak makanan dari tangan Syeira. Ia lantas menaruhnya kasar di meja depan Zico.



"Makan sendiri. Jangan manja."



Suara Arend terdengar pelan namun penuh penegasan. Arend memang paling tidak suka melihat Syeira yang berdekatan dengan pria lain, meski itu adalah Zico saudaranya sendiri.



*Bukankah itu menunjukkan jika Arend telah jatuh cinta pada Syeira.? Atau hanya karena ia menjaga martabatnya sebagai seorang CEO Narendra*.?



Arend menarik tangan Syeira kasar, Syeira sampai tertatih karna langkah Arend yang begitu cepat dengan kaki panjangnya.



Zico hanya menatap mereka yang keluar dari ruangan dengan raut muka bingung.



"Ada apa dengan dirinya.?" Zico mengendikkan bahu. Kembali fokus pada makanan itu.



Arend terus menarik tangan Syeira. Beberapa karyawan yang melihatnya sampai membulatkan mata dan terbengong. Mereka mengetahui jika CEO nya telah menikah. Tapi tidak mengetahui siapa kah wanita yang beruntung menjadi istrinya itu.



"Tuan.?" Syeira berteriak memanggil Arend. Namun Arend yang mendengar mengacuhkannya tidak peduli.



Arend berdiri di depan lift yang pintunya terbuka. Beberapa orang yang ada di dalam melihat Arend berdiri langsung menganggukkan kepala dan keluar. Lift kosong. Arend menarik Syeira masuk kedalam. Disinilah mereka berdua sekarang.



"Tuan.? Ada apa.?" Syeira kembali bertanya. Namun Arend masih tetap diam.



'*Ya tuhan.? Bagaimana cara membunyikan batu ini tanpa membuatnya marah*.?'



Syeira merasa sangat kesulitan untuk bisa mengobrol dengan Arend yang jarang sekali membuka suara.



Mereka sudah sampai di lantai paling bawah. Arend terus menggandeng tangan Syeira, melangkah menuju parkiran, membuka pintu mobil dan Syeira masuk tanpa di perintah. Arend menyalakan mesin menginjak gas memutar kemudi menjalankan kendaraan mewah itu.



Arend masuk ke halaman sebuah resto yang mewah, Syeira membulatkan mata melihat tempat ini. Dan hanya bisa terus melangkah cepat mengikuti gerak kaki Arend.



"Duduk."



Syeira langsung menurut. Beberapa pelayan datang. Membukakan buku menu makanan. Arend nampak serius memilih menu makanan. Sedangkan Syeira terus menatap Arend dengan perasaan yang campur aduk, deg-degan pasti, tapi rasa bahagia lebih mendominasi.



Arend menganggukkan kepala, pelayan menutup buku menu, membungkukkan badan lalu berlalu. Arend sudah selesai memilih menu. Kini ia melihat ke arah Syeira yang masih terus menatapnya dengan tatapan yang penuh cinta. Mata Syeira bahkan sudah berkaca.



"Kenapa anda membawa saya kemari, Tuan.?"



"Kau belum makan."



Arend menjawab singkat pertanyaan Syeira.



"Kenapa anda bersikap sangat baik terhadap saya.?"



"Karna kau adalah istri ku saat ini. Paling tidak??, sampai semuanya selesai."



Kalimat terakhir yang di ucapkan Arend terdengar sangat menyakitkan di hati Syeira. Padahal sebelumnya ia sudah terbiasa. Karna memang pernikahan ini paling lama hanya akan berjalan selama satu tahun.



Syeira memalingkan muka, mencoba menetralkan hatinya yang nyeri tiba-tiba.



"Kau baik-baik saja.?"



Syeira menoleh. Arend mengajaknya berbicara.



"Iya, saya baik-baik saja."



Arend mengangguk mendengar jawaban Syeira.



"Tuan.?"



Syeira ragu, tapi ia tak lagi bisa menahan. Ingin rasanya semuanya menjadi lebih jelas.



Arend hanya diam, namun tatapan matanya yang dalam melihat manik Syeira menyiratkan jika ia memperhatikan apa yang ingin Syeira sampaikan padanya.



"Tuan.? Apa anda tidak pernah lagi datang ke rumah kasih sejak waktu kecil dulu.?."



Akhirnya Syeira berhasil membuka obrolan yang mengarah ke topik itu.



"Tidak, begitu banyak hal yang terjadi setelah hari itu. Papah bahkan sampai melarang mamah untuk pergi kemana saja, termasuk datang ke rumah panti."



Jawaban Arend cukup tegas. Syeira mengangguk.



"Kenapa kau menanyakannya?"



"Ah.? Tidak, Tuan. Anda pernah bilang jika anda bertemu dengan teman saya Meira, dan bahkan memberikannya sapu tangan anda. Apa anda tidak pernah lagi ingin menemuinya.? Maksudku, bukankah Anda menganggap dia teman anda.?"



Jantung Syeira berdetak begitu cepat, tubuhnya terasa bergetar menanti jawaban yang akan Arend berikan.




Jawaban Arend cukup jelas. Syeira berpikir. Mungkin saja Arend tidak mencarinya karna ia tidak menjalani hidup secara normal seperti orang lain pada umumnya. Dan seperti yang di katakan Arend. Ia melupakan Meira kecil karna mungkin saja waktu yang menghapusnya.



Tapi, bukankah itu ber arti jika selama ini hanya dirinyalah yang selalu mengingat, yang selalu berharap, dan bahkan jatuh cinta,? Sedangkan dia? Sudah melupakan gadis bernama Meira itu.



"Apa kau pernah jatuh cinta, Tuan.?"



Satu pertanyaan Syeira yang menanti jawaban nya penuh harap.



"Pernah, dan aku menjalin hubungan dengannya. Saat kuliah dulu di Amerika."



Jawaban Arend meluluh lantakkan hati Syeira. Ia sama sekali tidak menyebut nama Meira. Justru gadis lain yang ia temui di kala sudah dewasa di Amerika. Nafas Syeira sesak tiba-tiba. Seperti sebuah beban berat telah menimpa dadanya.



'*Oh Tuhan.? Itu artinya, selama ini .? Aku hanya berharap seorang diri.? Syeiraaa.? Please jangan nangis*.!'



Syeira berusaha menguatkan batinnya yang terasa patah, hancur berkeping-keping. Cinta itu hanya ia simpan sendirian. Kerinduan yang menyiksa itu hanya ia rasakan tanpa balasan.



"Lantas, kenapa anda tidak menikah dengannya .?" Suara Syeira yang bertanya terdengar bergetar dan lirih. Menahan hati yang sangat nyeri.



Para pelayan sudah datang, menata makanan di atas meja. beraneka menu di sajikan. Menghentikan obrolan mereka sementara waktu.



"Kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, dia tidak bersedia untuk tinggal di Indonesia. Dan aku juga tidak bisa untuk tetap tinggal di Amerika."



Syeira sedikit demi sedikit mulai memahami kisah hidup pria yang sejak kecil di cintai nya itu. Yang kini ia sadari jika anak laki-laki itu tidak pernah mengingatnya, tidak pernah merindukannya, tidak mengharapkannya, apa lagi mencintainya.



Mata Syeira sudah basah, air matanya tumpah tanpa bisa di cegah. Arend tidak menyadari itu karna ia menunduk mengambil makanan di piring.



Syeira lekas bangun dengan gerakan cepat, ia harus segera pergi dari sini. Syeira tak dapat lagi menahan sakit yang menusuk relung hati, dan Arend tidak boleh sampai melihatnya menangis.



"Maaf, Tuan. Saya harus segera pergi.". Ucap Syeira yang sudah bangkit dan langsung bergegas lari, suaranya benar-benar terdengar lirih.



Arend menoleh namun Syeira sudah berlari, Arend pun berdiri dan hendak mengejarnya karna ia mendengar suara Syeira seperti sebuah tangisan. Namun sial, Arend malah menabrak seorang pelayan yang membawa senampan makanan hingga makanan yang di bawa pelayan itu jatuh berserakan.



Arend melihat Syeira yang semakin menjauh dan bahkan sudah keluar dari pintu. Ia tak bisa lagi terus mengejar, Arend harus terlebih dulu menyelesaikan kekacauan yang di buatnya.



Syeira berlari sambil menangis keras. Hatinya terasa seperti di tikam benda tajam. Sangat sakit, Cinta yang di pupuknya telah kering tak bersambut. Dan itu memang terasa sangat sakit di hati.



Sebuah Taksi lewat, Syeira menghentikannya, Taksi itu berhenti, Syeira membuka pintu dan langsung masuk menjatuhkan tubuhnya di jok penumpang. Ia menangis sesenggukan. Suara tangisan yang kencang. Syeira memegangi dadanya yang terasa sangat nyeri.



"Haaaaaaa.... ha ha ha ha haaaa.... *hikss hikssss hiksss*."



Sopir taksi sampai meliriknya dari spion depan. Penumpangnya sedang menangis histeris.



"Nona.? Anda baik-baik saja.?"



Sopir taksi pria itu memberanikan diri untuk bertanya, dia adalah sopir taksi yang sangat tampan dan muda. Usianya mungkin sama dengan Arend.



Syeira masih menangis tanpa menjawab. Batinnya begitu sakit, dan perih. Wajahnya berantakan dan sendu. Ia akhirnya mulai menahan tangisnya setelah mendengar suara sopir taksi yang bertanya. Syeira mencoba meredam suara tangisnya yang kencang.



Kini sesenggukan mengiringinya. Tangannya mengusap wajahnya sendiri menghapus air mata yang membasahi pipi dan hidung. Sopir taksi mengulurkan tangan memberikan sekotak tisu. Syeira menerimanya. Ia membersihkan muka dengan tisu itu.



"Nona. Kau baik-baik saja.?"



Sopir taksi kembali bertanya.



"Iya, saya baik-baik saja." Syeira menjawab sambil membersihkan pipi dan hidungnya.



Sopir taksi tampan itu melihat Syeira dengan intens lewat kaca spion depan. Ia mengagumi kecantikan alami gadis ini. Syeira memang gadis yang sangat cantik. Bahkan beberapa kali Arend merasakan gejolak ketika berada di dekatnya. Namun Arend selalu berhasil meredam libidonya.



"Nona, kemana kita akan pergi.?"



Sopir taksi yang tampan kembali bertanya. Syeira sudah lebih tenang.



"Club' \*\*\*\*\*\*"



Syeira menyebut nama sebuah Club'. Dulu ia pernah datang ke tempat itu bersama rekan kerjanya termasuk Bim saat Bu Mela merayakan keberhasilan *Melavers* pada suatu pencapaian.



Sopir taksi mengangguk sambil tersenyum.



"*Dia pasti sedang dalam masalah. Dan tempat itu menjadi pelariannya*."



Sopir taksi yang tampan itu pun melajukan mobilnya menuju tempat yang di sebut Syeira. Sekarang sudah jam 2. Mungkin akan sampai disana saat jam 3 atau lebih, tergantung kondisi ramai dan sepi nya jalanan.



Syeira masih menangis. Namun ia meredam suara tangisnya. Menjadikannya menangis dalam diam. Matanya yang sendu menatap kaca mobil melihat pemandangan luar yang sama sekali tidak ia perhatikan. Air matanya terus saja lolos tanpa bimbingan. Cinta pertamanya telah membuatnya patah sedemikian rupa.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...