
"Bagas... ini aku kekey." Teriak gadis gendut itu sambil melambaikan tangannya dan berjalan ke arah Bagas.
Belum sempat gadis itu tersenyum Bagas sudah lari pontang panting ketakutan. Dia tidak memperdulikan siapa yang ada di hadapannya yang langsung.
saja ia terobos.
"Gas... berhentih gas..." teriak gadis itu mengejar Bagas.
Dari jauh Bagas melihat gadis itu sudah hampir dekat dengannya. Namun kondisi mall yang ramai membuat gadis itu pasti kewalahan untuk mengejarnya. Ia kemudian masuk di salah satu Toko Pakaian Wanita dan masuk di ruangan ganti berharap itu menjadi tempat persembunyiannya.
"Akkkhhhhgggtt.." teriak wanita yang ada dalam ruangan itu yang belum sempat membuka bajunya.
"Sssttt... diam napa woi." Ucap Bagas yang langsung membekap mulut wanita itu dengan tangannya.
Sesekali ia mengintip keluar memastikan apakah kekey sudah menjauh atau belum. Ketika sudah melihat kekey melewati toko itu ia pun keluar dari persembunyiannya.
"Huuhhh... hampir ajah." Katanya sambil mengelus dada.
Prakkk.!!! Satu tamparan ringan mendarat di pipi detektif muda itu.
"Dasar loh ya penguntit!!. Tunggu gue laporin loh ke pihak keamanan." Umpat Gadis itu.
"Ihh penguntit dari mananya orang kamu belum buka baju juga. Lagian ini cuman salah paham. Gue di kejar tuh sama si beruang gila." Ucap Bagas memegang pipinya.
"Alasannn... dasar mesummm." Teriak gadis itu sambil memukul badan bagas.
"Aduh... aduh... biar aku jelasin dulu woii. Akhh... sakit." Rintih bagas.
"Apa ha??Apa yang mesti loh jelasin." Kata gadis itu.
"Sumpah beneran aku tadi di kejar sama cewek aneh yang suka sama aku. Terus aku sembunyi di ruangan itu. Tapi bener aku ngak tau kalo itu ada orang di dalamnya." Jelas Bagas.
"Ini kartu nama aku." Sambungnya sambil mengeluarkan sebuah kartu dari saku celananya.
Gadis itu langsung mengambil kartu itu dan membacanya. Ya jelas tertulis disitu nama Wijaya seorang dokter pribadi di keluarganya. Apa lagi pekerjaan pria yang tertera di kartu itu persis seperti cerita yang ia dengar.
"Oo." Ucap gadis itu
" Akhernya percaya juga. Oh yah kalo ngak salah kau Lisha kan yang sekolah di SMA Jaya Putra.?" Tanya Bagas.
"Emm iyah. Dari mana lo tau?" Jawabnya.
"Astaga di situ kerjaan aku apaan? Detektif kan. Terus artinya apa?" Kata Bagas balik nanya
"Loh lagi ngurusin kasus terus ada sangkut pautnya sama gw. Itu maksud lo? Kata Lisha.
"Yaps.. sebagai permintaan maaf aku traktir makan yok. Sekalian aku mau nanya sesuatu." Ucap Bagas yang langsung menarik lengan gadis itu.
Langkah kaki merekapun terhentih di salah satu restoran cina di mall tersebut.
"Apa yang lo mau tanyain? Ucap Lisha di sela makan siang mereka.
"Mengenai kasus penyebaran foto Aina Khanza. Kamu pasti taukan? Saya hanya meminta kejujuran mu karna saya mendapatkan bukti bahwa kamu lah orang yang pertama menyebarkan foto itu." Ujar Bagas.
"Emm bukan gue Itu ada yang ngasih ke gue." Jawab Lisha sambil melanjutkan makannya.
"Siapa yang ngasih? Emang kamu punya bukti?" Tanya Bagas.
Lisha pun langsung meletakkan sumpitnya. Ia menghela napas dan tersenyum lebar. Yah memang hal seperti ini sudah dia bayangkan akan terjadi. Dia pun mengeluarkan handphone dan sebuah eirphone dari tasnya.
"nih.. dengerin ajah." Ucap nya sambil menyodorkan benda segil empat kecil itu.
Detektif tampan itupun langsung mendengar rekaman audio itu. Senyum miring tampak jelas terpancar di wajahnya. Salah satu bukti kuat yang ia butuhkan.
"Makasih ya Lisha." Ucapnya mengembalikkan hanphone tersebut.m
"Gak masalah." Jawab Lisha
....Nahhh jadi gitu om ceritanya." Ucap Bagas sambil menyeruput jus jeruknya.
"Oo begitu akhirnya semua udah jelas. Makasih ya Gas kamu udah mau bantu om." Kata Tuan Bramana.
"Sama-sama om. Yang penting aku di traktir makan siang ajah terus hahaha." Jawabnya dengan penuh tawa.
"Haha iyalah Gas pasti itu. Oh yah hari senin nanti Aina kan hari pertama masuk universitas tuh. Kamu antar dia yah?" Kata Tuan Bramana.
Sontak saja kalimat itu lagi-lagi membuat kening Bagas berkerut. Baru saja tadi ia melihat seorang Aina yang rela kekasihnya bersama wanita lain dan sekarang juga papahnya menyuruh untuk mengantar putrinya padahal ia tau kalo putrinya itu sudah mempunyai seorang kekasih.
"Maksud om?? Kan Aina udah ada pacar om." Tanya Bagas.
"Iyah Gas kalo itu om tau. Cuman kan mereka beda kKampus. Yang om tau kalo putra semata wayang dari keluarga Alinsky itu masuk sekolah khusus kedokteran. Om juga nyuruh kamu kan buat jalanin tugas kamu." Jelas Tuan Bramana.
"Oh... hehe aku pikir kenapa. Alinsky? Emang Devan itu putra semata wayang keluarga itu yah om." Tanya Bagas heran.
Ya Alinsky adalah nama keluarga yang sangat terkenal di kalangan elit. Mempunyai banyak usaha dan cabang-cabang sampai keluar negeri. Bahkan keluarga itu membangun rumah sakit elid sendiri tanpa bantuan orang satupun.
"Iyah namanya kan Devan Syahputra Alinsky. Tempat Papamu kerja loh Gas. Pikun ajah kamu ini." Ungkap Tuan Bramana.
"Kalo tempat papa aku kerja ingat om. Kalo Devannya aku baru tau hehe." Kata Bagas.
Bramana pun hanya bisa mengehela napas melihat tingkah pria muda di hadapannya itu. Bagaimana mungkin sudah jelas bahwa kemaren dia sedang berlibur bersama dengan Putra Alinsky itu namun masih saja dia tidak mengetahuinya. Memang benar kata orang bahwa seorang Bagas Wijaya jika sedang melakukan tugas sama sekali tak memperhatikan sesuatu yang tidak penting baginya.
"Oke om besok aku jemput Aina." Sambungnya.
Papa Ainapun hanya tersenyum membalasnya.
Weekend pun berlalu. Setelah menikmati libur panjang , semua pelajar pun memasuki awal baru mereka.
Begitupun dengan mereka yang baru saja selesai berperang di bangku SMA. Ada beberapa yang langsung bekerja karna terhalang biaya dan kemauan diri mereka sendiri. Namun berbeda dengan keluarga-keluarga konglomerat, mereka pasti memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi bahkan sampai ke luar negeri.
Tampak di sebuah teras rumah mewah milik keluarga Bramana terduduk seorang gadis cantik. Lain dari biasanya, sekarang ia tak lagi menggunakan pakaian putih abu-abunya sehingga membuat penampilan gadis itu sudah terlihat dewasa.
Ia sedang menunggu seseorang untuk mengantarkan dirinya menuju ke kampus. Tak berapa lama menunggu tampak di depan gerbang rumah itu singgah sebuah mobil sport bewarna merah. Gadis itu pun berjalan ke arah mobil tersebut.
Tok...tok..tok...
Tingkah gadis itu mengetuk kaca jendela mobil.
"Masuk sendiri. Aku lagi makan." Ucap pria yang ada di dalamnya sambil membuka kaca mobilnya.
Gadis itu hanya menghela napas dan langsung memasuki mobil tersebut.
"Ayok berangkat." Ucapnya.
"Iss... makan terus..." sambung gadis itu sambil menarik roti yang ada di tangan pria tampan tersebut.
"Na tega kamu. Aku belum sarapan ini langsung jemput kamu." Ujar pria itu yang tak lain adalah Bagas.
"Bukan salah aku kalik. Siapa suruh gak makan?Kata Aina.
"Aku tinggal di apartemen Na. Siapa juga yang masakin kalo bukan diri sendiri." Ucap Bagas.
"Ooo gitu hehehe." Kata Aina yang langsung menyodorkan roti itu kembali.
"Oke yok berangkat." Ucap Bagas.
Merekapun menembus udara pagi dengan kemacetan yang menemaninya.
Setelah sekitar 20 menit perjalanan mereka pun sampai di sebuah kampus elit kawasan Kota Jakarta. Ya memang kampus itu terkenal dengan biaya semester yang sangat mencekik. Namun tentu saja fasilitas di dalamnya sangat woah.
"Makasih Bagas." Kata Aina yang langsung keluar dari mobil.
Aina hanya mengacungkan jempolanya tanda mengerti.
Ia pun langsung memasuki kampus itu dan mencari di mana keberadaan sahabatnya.
"Na... disini." Teriak Natasha.
Ia langsung berlari menuju sumber suara itu.
"Sha... aku telat gak. Tadi macet di jalan." Ucap Aina.
"Gak Na. Masih ada 15 menit lagi." Kata Natasha sambil melihat jam tangannya.
"Hei Anak baru yang pake baju kuning jurusan arsitek ayok kumpul di lapangan." Teriak gadis memakai almameter hitam garis orange.
Aina pun langsung berbalik mencari sumber suara itu
Ya gadis yang berteriak itu adalah Rara salah satu senior Aina. Gadis itu merupakan gadis terpopuler di kampus tersebut. Postur tubuhnya yang tinggi sekitar 170cm serta muka blasterannya membuatnya tampak seperti model profesional.
Di tambah lagi sifat dirinya yang sangat ramah dan tidak menyukai bullying membuat gadis itu sangat di sukai banyak orang.
"Iya kak tunggu." Teriak Aina.
Rara pun hanya berbalik dan melambaikan tangannya ke atas.
"Na... cantik bener. Kayak model." Ucap Natasha takjub.
"Iya Sha namanya Kak Rara senior aku dia baik banget." Kata Aina.
"Kak Rara? Wah itu kan terkenal banget di jurusan gue Na. "Ujar Natasha.
"Iyalah Sha. Dia paling populer di kampus ini. Oh ya aku duluan yah Sha." Ucap Aina yang langsung berlari menuju ke lapangan.
"Eh Btw tadi yang nganter lo siapa." Teriak Natasha.
"Bagas." Jawab Aina.
"Bagas...?Apa sih hubungan mereka? Sampai Bagas tau kalo Aina punya orang tua angkat." Gumam Natasha bertanya dalam hatinya.
"Woi... melamun aja." Teriak dua orang pria yang salah satu di antara mereka langsung menepuk bahu Natasha.Yah mereka tak lain adalah Leon dan Arga.
"Dia mungkin lagi haluin pangeran berkuda kuning dalam mimpinya Ga." Ucap Leon.
"Apaan sih bikin kaget ajah. Mana ada kuda berwarna kuning ." Kata Natasha kesal.
"Ada lah contohnya ajah gigi mu itu gigi kuda dan kuning hahaha." Sahut Arga tertawa besar.
"Ih mana ada. Gigi gue putih ya. Rapi lagi. Ngiiiii..." ucap Natasha yang langsung memperlihatkan giginya.
"Gak usah gitu Sha. Napas loh bau hahaha." Kata Leon yang terus saja tertawa.
" ihh... loh semua yah nyebelin." Teriak Natasha.
Belum sempat mendapat hukuman kedua pria itu langsung lari meninggalkan Natasha dengan kondisi perut yang sakit menahan tawa.
Di lain sisi terduduk seseorang di pinggir lapangan.Dia adalah seorang gadis yang sama sekali tidak menyukai suasana baru terlebih keadaanya sekarang dimana tak ada sahabat yang menemaninya. Dia terus saja sibuk dengan handphone dan tak memperdulikan seruan orang yang menyapa dirinya bahkan senior sekalipun. Tanpa sengaja sorot matanya menangkap seseorang yang sedang berlari mendekat ke arah lapangan tersebut. Ya itu adalah seseorang yang selalu ia tindas tanpa sebab semasa dahulu. Kadang ketika itu rasa bersalahnya muncul namun tak berani untuk mengungangkapkan.
"Ainaa..." teriak gadis itu yang tak lain Lisha sambil melambaikan tangannya.
"Hufftt... capek..." ucap Aina yang langsung duduk di samping gadis itu
Lisha pun langsung menyodorkan air mineral di sampingnya.
"Makasih ya Lisha." Kata Aina sambil tersenyum.
"Gak papa Na. Ini juga gak ada bandingannya sama perlakuan gue kemaren ke loh. Gue tau yah gue salah. Loh mau benci atau balas gue silahkan. Gue mau minta maaf sama loh." Ujar Lisha menatap ujung sepatunya.
"Iya Lish udah gue maafin kok. Dan ingat yang kemaren biarlah berlalu. Kita gak akan mungkin bisa mau maju kalo masa lalu selalu menghantui. Jadikan masa lalu itu pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya. Kita jalin persahabatan Lish dari awal.Gimana?" Kata Aina.
"Makasih ya Na. Iya gue mau kok Na." Jawab Lisha.
"Eh btw aku denger-denger Miska sama Nada pindah ke luar negri yah?"Tanya Aina
"Iya Miska pindah sama kelurganya ke London. Kalo Nada dia milih untuk kuliah di Australia." Jelas Lisha.
"Ooo sabar ya Lish, sekarang kan udah aku hehe." Ucap Aina.
Lisha pun hanya tersenyum memdengar ucapn gadis di sampingnya itu. Senyumnya yang pertama kali ia berikan kepada seorang mantan korban pembullyiannya.
"Yah udah yuk Lish kita kumpul sama mereka. Itu kak Rara udah manggil." Sambung Aina sambil berdiri mengulurkan tangannya ke arah Lisha.
Lisha pun langsung menyambut tangan itu dan mereka berlari ke tengah lapangan bersama.
Sekitar kurang lebih 4 jam mereka mengingilingi kampus tersebut. Yah meskipun waktu itu hanya mereka pakai untuk menjelajahi perpustakaan. Kampus elit tersebut memang mempunyai ukuran yang sangat luas. Siapapun yang datang pertama kali tanpa melihat denah pasti akan tersesat.
Para mahasiswa/i tersebut akhirnya bisa menikmati makam siang mereka di kantin kampus yang bagaikan restoran berbintang.
"Lisha... kantinnya bagus banget." Bisik Aina sambil mengunyah makanannya.
"Iya Na. Kampus ini memang paling Top. Mangkanya aku milih kuliah disini meskipun orang tua rekomendasiin di Amerika." Jelas Lisha.
Aina hanya mengangguk mendengar hal itu. Tidak di herankan lagi mengapa biayanya sangat mencekik.
"Na... disini ternyata." Ucap gadis yang menghampiri mereka yang tak lain, Natasha.
"Ehh kunti ngapain lo sama Aina?Na lo ngak di kerjain kan sama ini orang gila." Tanya Natasha emosi.
Lisha yang mendengar itu hanya menatap sepupunya tersebut dengan tatapan sinis ditambah dengan senyum miringnya.
"Enggak Sha. Jangan emosi dulu. Ayok duduk." Kata Aina .
"Yah udah Na gue juga udah makan. Gue duluan yah. Males berhadapan sama serigala berbulu kain kasa." Ucap Lisha yang terus saja tertawa sinis.
"Apa maksud lo?" Teriak Natasya.
Tanpa memperdulikan sepupunya itu Lisha pun langsung pergi meninggalkan kantin.
"Udah Sha gak usah emosi." Kata Aina mencoba menenangkan sahabatnya tersebut.
"Loh juga Na. Udah tau Lisha itu sering ngebully lo. Pasti niatnya tuh jahat. Kenapa Lo gini sih.?" Celoteh Natasha.
"Sha... dia udah sadar kok sama perbuatannya kemaren itu salah. Dan Natasha aku yang harusnya nanya kenapa kamu nilai orang dari sisi buruknya aja? Semua orang bisa berubah.Gak selamanya yang buruk itu akan terus buruk. Jangan mentang-mentang dia dulu penjahat giliran udah tobat kamu masih anggap dia penjahat. Itu salah Sha. Pembunuh berdarah sekalipun pasti ada kok dalam hatinya untuk mau berubah dan hidup normal." Jelas Aina.
"Akh serah lo Na. " kata Natasha.
Aina hanya menganga melihat tingkah sahabatnya itu. Natasha yang dulu selalu berbaik sangka dan memberinya nasehat kini sangat berbeda.
"Oh yah Na. Nih..." katanya sambil menyodorkan sebuah undangan.
"Loh jawab jujur yah... emang orang tua angkat lo siapa Na.??" Tanya Natasya.
"Emm hehe gimana yah Sha. Kamu datang aja ke pestanya. Ntar akan kamu tau kok." Ungkap Aina.
"Iss tega lo Na main rahasia-rahasian." Kata Natasha .
Gadis bermata sipit yang ada di sampingnya itu hanya tersenyum tak tau ingin menjawab dengan apa.
Setelah seharian berada di sebuah kampus elit dan menjelajahi 3% dari yang ada di dalam kampus tersebut, merekapun meninggalkan kampus itu untuk kembali ke esok hari.