
Cellin sudah meminta izin dari perusahan *N~A Cell*, Dia meminta cuti untuk beberapa hari kedepan.
Persiapan demi persiapan dilakukan. Rumah sudah di hias, sanak keluarga sudah berkumpul di rumah Cellin, para tetangga yang juga ikut sibuk menyiapkan masakan.
Besok adalah hari dimana Cellin akan menikah. Cellin menghabiskan waktu sore nya mengaji di kamar, hanya dengan mendarus Kalam Tuhan ia bisa mendapatkan ketenangan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zico semakin larut dalam kesedihan. Tak ada lagi harapan. Setelah esok hari, ia akan benar-benar kehilangan Cellin.
Malam semakin larut, Arend berada di kamar, ia mencoba menghubungi ponsel Zico berkali-kali. Namun hasilnya nihil. Ponsel Zico tidak aktif.
Arend lantas keluar dari kamar, ia merasa gelisah, tidak seperti biasanya. Kasus ini berbeda, Zico hatinya sedang patah, Arend tidak mau kalau Zico sampai kenapa-kenapa.
Mental seseorang yang bisa down segitu parahnya karna cinta selalu membuat Arend lebih mawas setelah kejadian Aunty nya dulu. Itu adalah trauma yang mendalam, juga peristiwa yang luar biasa Arend jadikan pelajaran.
Syeira masih sibuk di sofa ruang tamu, ia tengah mempelajari artikel tentang DK dan Miyuri. Bu Mela terus menekannya. Untuk memuat sebuah berita yang bisa menggebrak dunia.
Syeira melihat Arend yang berjalan tergesa dengan ponsel di telinga.
"Tuan.? Anda mau kemana.? Ini sudah tengah malam.!"
Syeira menghentikan langkah Arend yang membuka pintu. Arend berhenti dan menatap nya.
"Diam di rumah."
Syeira hanya bisa berdiri mematung melihat Arend yang keluar lalu kembali menutup pintu.
'*Mau kemana dia*.?'
Zid sudah menunggu Arend dibawah. Mereka lekas naik mobil. Menancap gas dengan kencang menuju satu tempat yang sudah di lacak oleh Zid sebelumnya.
Syeira tidak bisa tidur, dia yang tengah berbaring di ranjang terus merubah posisi, menghadap ke kanan. Lalu ke kiri. Ia menjadi gelisah sendiri.
Zico yang tidak pulang sejak kemarin malam, tidak ke kantor, dan Arend yang keluar tergesa di tengah malam.
Syeira meraih ponsel nya. Sudah pukul 1 dini hari. Rasa kantuknya hilang, ia mengkhawatirkan 2 manusia bersaudara itu.
"Telepon, tidak, telepon, tidak."
Syeira sedang menimang-nimang, hatinya ingin segera mencari tahu dimana kini Arend berada, namun otaknya mengatakan jangan. Takut jika Arend marah karena merasa dirinya telah ikut campur pada urusan Tuan CEO itu.
"Aaahh\_\_ Telepon saja lah, kalau dia marah.? Ya aku diam saja.!"
Akhirnya Syeira memberanikan diri menghubungi kontak CEO sang suami Narendra.
"*HA*.?" Arend menjawab panggilan dari Syeira.
Setelah beberapa kali berdering akhirnya di angkat juga.
"Tuan.? Anda dimana.?"
"*Kenapa kau belum tidur*.?"
"Aku tidak bisa tidur, Tuan. Aku selalu teringat padamu, em.? Em.? Ma maksudku, aku mengkhawatirkan mu, karna anda keluar rumah dengan tergesa.!"
Syeira memperjelas kalimat nya, jangan sampai Arend berpikir ke arah yang *sesungguhnya*.
Arend sempat tersenyum mendengar kalimat yang di katakan Syeira.
"*Sebentar lagi sampai*."
Suara Arend terdengar berat, dia tengah menggendong Zico di punggungnya, seperti saat kecil dulu mereka tersesat di gunung dan Zico kakinya terluka.
Seperti D'javu, hal yang sama seperti itu kembali terjadi saat ini, Zico yang kembali tersesat tanpa arah karna hati yang patah. Dan hatinya yang terluka parah, kembali tak berdaya, dan Arend yang selalu siap selalu ada untuknya.
"Jangan biarkan dia menikah, Arend.!"
Untung Arend dan Zid segera datang menyelamatkannya.
"Jangan biarkan dia menikah, Areeend\_\_?"
Lagi, lirih suara Zico yang terdengar sedih menyayat hati kembali terucap dari bibirnya yang berdarah.
'*Kau sungguh mencintainya, Zico*.?'
Arend merasa senang, di balik rasa sedih karna patah hati yang yang Zico rasakan, Arend bisa mengetahui jika saudaranya itu masih bisa mencintai perempuan dengan benar. Itu artinya ada kesempatan untuk mengubah Zico ke arah yang lebih baik.
Arend membuka pintu, Zid sudah kembali ke perusahaan tadi saat Arend sudah sampai di lantai bawah apartment.
Syeira yang menunggu, berdiam diri duduk di sofa ruang tamu bergegas berdiri. Lari menghampiri Arend yang menggendong Zico melangkah menuju kamar.
Arend menjatuhkan tubuh Zico yang sudah tak berdaya di atas ranjang. Nafasnya tersengal.
"Zico..\_\_.?"
Syeira panik, mendekat ke arah Zico mengelus rambutnya melihat keadaan Zico yang benar-benar parah, beberapa lebam biru nampak menghiasi wajah tampannya. Bahkan sudut bibirnya berdarah. Dan Zico sudah tak sadarkan diri karna mabuk.
Syeira menoleh ke arah Arend. Arend melangkah ke kamar mandi, rasa cemburunya karna Syeira yang mengelus rambut Zico ia tepiskan. Ada hal serius yang sedang di alami oleh saudaranya itu.
Syeira berlari keluar, mengambil kotak obat, es, dan handuk.
Syeira kembali masuk, ia lantas melepas sepatu Zico, membersihkan dan mengobati luka-lukanya. Syeira merasa sangat kasihan melihat keadaan Zico saat ini.
Air mata Syeira menetes, hal ini pun mengingatkan dirinya dengan kejadian yang ia alami beberapa bulan yang lalu. Sakit karna hati yang patah itu memang luar biasa akibatnya.
Syeira bisa merasakan sesakit apa hati Zico saat ini, karna dia juga pernah berada pada posisi yang sama.
Syeira sudah selesai mengobati wajah Zico. Arend juga sudah selesai membersihkan badan. Ia memakai celana pendek dan Kaos polos warna putih lengan pendek.
Syeira bergerak hendak membuka kancing kemeja Zico. Ia bermaksud membersihkan tubuh adik iparnya itu tanpa berpikiran hal aneh apapun, karna melihat kemeja Zico yang sangat kotor dan ada beberapa noda darah.
Arend membulatkan mata melihatnya, ia lantas menarik tangan Syeira hingga Syeira berdiri menghadap tepat di hadapannya. Syeira kaget dan hanya diam saja. Raut mukanya yang panik menjelaskan bagaimana rasa takutnya saat ini. Arend benar-benar posesif, tak membiarkan milik nya di sentuh ataupun menyentuh selain dirinya.
Jantung Syeira berdegup kencang, Sorot mata Arend yang tajam memperlihatkan kemarahan, Mereka hanya saling diam sambil berhadap-hadapan, karna merasa takut, Syeira memalingkan muka menghadap ke arah samping, menghindari tatapan tajam Arend yang menakutkan.
Tiba-tiba mata Arend tertuju pada kalung di dada Syeira, Kalung itu berada di luar baju tidur yang Syeira kenakan, Bukan kalungnya, Arend tersentak melihat bandul cincin di kalung itu.
Itu adalah Cincin nya yang ia buat semasa kecil di desa dulu, Cincin berwarna hitam yang pernah ia berikan pada gadis kecil di panti Kasih, Meira.
Jantung Arend terasa berhenti berdetak, matanya merah sempurna, dan sudah berkaca-kaca. Ia menatap muka Syeira semakin tajam, namun Syeira yang sedari tadi memalingkan muka tak dapat melihat raut muka Arend yang ekspresinya berubah.
...'*Meira.?'...
...'Syeira adalah Meira*.?'...
Arend kembali mengingat bagaimana pertemuan mereka awalnya, saat di lift, (*Arend sudah melihat tali kalung yang melingkar di leher Syeira, namun waktu itu bandulnya berada di belakang ceruk leher Syeira*.) hingga ke ancaman pernikahan. Syeira yang menanyainya tentang sapu tangan. Perubahan Syeira yang tiba-tiba. Semua bayangan itu kembali terngiang berputar di kepala.
Air mata Arend jatuh menetes membasahi pipi, menyadarkan nya kembali pada dunia yang nyata.
Arend lekas membalikkan badan, melepas cengkraman tangannya pada Syeira. Jangan sampai Syeira melihatnya menangis saat ini, dan dia juga merasa belum siap dengan kenyataan-kenyataan yang menghubungkannya dengan masa lalu yang tak pernah di anggapnya ada.
Syeira menoleh kaget karna Arend melepaskannya kasar dan berpaling memunggunginya.
"Keluar.!"
Hanya satu kata itu yang Arend katakan. Syeira pikir Arend bersikap begitu Karena ia sedang marah pada Syeira yang hampir membuka kancing kemeja Zico.
Syeira pun menurut dan dengan cepat lekas pergi keluar dari kamar Arend. Menutup kembali pintunya.
Syeira lantas bergegas masuk ke kamarnya, begitu menyeramkan saat melihat Arend dalam mode marah. Sudahlah, lupakan saja. Paling tidak, dirinya sekarang sudah aman, pikir Syeira.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...