LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 51





Arend segera datang ke Rumah Sakit yang telah di beritahukan Zico, ia langsung melangkah cepat menuju kamar yang Zico sebutkan. Arend sangat khawatir, ia takut jika Zico kenapa-kenapa. Zico tidak mengatakan pada Arend jika Cellin lah yang sedang sakit, ia hanya mengatakan pada Arend untuk segera menemuinya di Rumah Sakit sekarang juga.



Arend membuka pintu, ia sedikit kaget ketika melihat ada keluarga Cellin di dalam ruang rawat itu, pandangannya tertuju pada Zico yang duduk di kursi dekat ranjang rawat menggenggam tangan Cellin yang terbaring tak sadarkan diri disana.



"Arend.?" Zico lekas berdiri dan berhambur kedalam pelukan saudaranya itu, Zico sudah menangis sekarang, ia mencurahkan kesedihan hati nya pada sang saudara.



"Dia sakit, Arend.? Cellin sakit.?" Arend memeluk Zico, mencoba memberikan ketenangan padanya, Zico melepas pelukan Arend, ia membiarkan Arend yang melangkah mendekat ke ranjang melihat kondisi Cellin.



Keluarga Cellin semuanya berdiri haru.



"Saya akan berbicara pada Dokter sekarang.!"



Ibu Cellin jelas mengangguk antusias. Zico ikut pergi bersama Arend.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



\*Saat ini, perawatan dan pengobatan yang di berikan Kepada Cellin hanyalah sebatas pemberian obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit, dan pencegahan komplikasi akibat pecahnya aneurisma.



Dokter menyarankan agar Cellin segera di bawa ke Luar Negri untuk melakukan tindak operasi.



Prosedur ini bertujuan untuk menghentikan aliran darah ke aneurisma. Operasi bisa dilakukan dengan menjepit pembuluh darah (neurosurgical clipping) atau memasang kumparan di lokasi aneurisma (endovascular coiling).



Dengan berhentinya aliran darah ke dalam pembuluh darah yang mengalami aneurisma, diharapkan aneurisma tidak membengkak atau kembali pecah\*.



Setelah itu pun, Pasien masih harus menjalani serangkaian perawatan seperti terapi dan pengobatan-pengobatan lanjutan.



Namun, Dokter juga menjelaskan efek-efek samping apa saja yang akan di alami oleh pasien, seperti Mual dan muntah yang menyembur, lumpuh atau lemah pada salah satu sisi tubuh atau tungkai, sulit berbicara, sulit berjalan, dalam arti kata lain stroke, kejang, hilang kesadaran atau Koma, serta melemahnya ingatan, bisa jadi penderita melupakan beberapa hal yang lalu, atau bahkan orang-orang yang di kenalnya sebelumnya, (Amnesia). Dan jika operasi gagal dan pembuluh darah pecah ke otak. Maka pasien bisa meninggal.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Zico menangis histeris mendengar penjelasan Dokter yang begitu sangat menakutkan. Arend hanya diam dengan pandangan nanar memeluk tubuh Zico yang bergetar.



Baru saja Zico bertemu dengan cinta sejatinya, dan dia bahkan berusaha berubah, tapi takdir seakan mengujinya dengan ujian yang begitu berat.



Keterangan yang Dokter berikan membuat mereka begitu sulit mengambil keputusan. Bahkan tindak Operasi ke Luar Negri pun masih memiliki resiko yang sangat besar. Arend sangat bingung, apa yang harus di lakukan.?



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Zico tidak ikut arend pulang, ia ingin menemani Cellin sampai nanti Cellin sadar, Zico Bahkan meminta ibu dan Kakak ipar untuk pulang dan beristirahat, dia akan menunggui Cellin menjaganya bersama Kakak nya Cellin.



"Cepatlah bangun. Kau harus sembuh, aku tahu kau mencintaiku, aku akan langsung menikahimu saat kau sadar nanti. Kita akan berjuang bersama.!"



Zico mengucapkan kalimat itu pada Cellin dengan hati yang tulus. Ia sangat mencintai Cellin apapun keadaannya, tidak peduli bagaimana nanti dirinya. Bagi Zico cinta itu bukan karna mata yang memandang kecantikan, tapi karna hatinya yang telah bergetar hanya dengan membayangkan wajahnya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Arend Sampai di rumah. Mamah dan istrinya tengah sibuk memasak di dapur.



"Kamu sudah pulang, sayang.?" Mamahnya Ayla menyapa lebih dulu. Arend lantas duduk di kursi meja makan. Ia masih diam dengan raut muka datar.



"Zico mana.? Dia tidak ikut pulang.?" Syeira mendekat dengan segelas air putih yang ia letakkan di meja depan Arend.



"Dia di Rumah sakit, Cellin sakit."



Ayla menghentikan aktifitasnya di dapur dan lekas duduk di sebelah Arend, ia mengingat nama itu, Cellin adalah gadis yang di kenalkan padanya sebagai pacar Zico



"Cellin sakit.? Sakit apa.?" Syeira lekas duduk dan menatap Arend dalam.



Arend pun menenangkan diri, lalu menceritakan semua nya pada istri dan mamahnya, tak ayal itu membuat kedua wanita yang di cintai nya itu menangis dalam kepiluan.



"Ya Allah Cellin.?" Syeira menangis menutup mukanya menundukkan kepala di atas meja, Ayla pun sama halnya, ia memikirkan bagaimana sekarang putra nya itu.? Zico pasti sangat sedih, Ayla sangat mengkhawatirkannya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Hari yang baru, Cellin akhirnya siuman. Ia mulai membuka matanya pelan, pandangannya buram, itu memang salah satu efek yang di alami. Cellin tersenyum dan meneteskan air mata dari sudut matanya mendapati penglihatannya yang tak lagi sempurna.



Ia tak menyadari sepenuhnya dimana kini dirinya berada, samar-samar ia melihat ke langit-langit ruang yang bernuansa putih bersih.



"Cellin.? Kau sudah sadar.?" Zico yang selalu terjaga dan berada di sampingnya menyentuh lembut tangan Cellin dan berbicara dengan suara penuh kasih.



"Zico.?" Cellin berbicara dengan lembut, meski pandangan matanya terganggu, ia masih bisa mengenali dengan jelas suara orang-orang yang di kenalnya.




Cellin kembali tersenyum lebar dengan deraian air mata yang terus menetes membasahi pipi.



"Cellin.?"



"Hemmm.??"



"Ku mohon menikahlah dengan ku.!" Zico mengatakannya sambil menangis yang tak lagi tertahan. Melamar gadis nya dalam keadaan sekarat ternyata sakitnya begitu menusuk ke relung hati yang paling dalam.



"Kau tahu keadaanku, Zico. Aku sangat berterimakasih karna kau telah mencintaiku, tapi tolong maafkan aku, aku tidak bisa menemanimu."



"Kenapa kau harus mengatakan itu.? Apa kau ingin mendahului kehendak Tuhan.? Apa kau meremehkan kuasanya.?"



"Aku sangat percaya jika Allah itu maha kuasa, Zico. Tapi.?" Cellin menangis semakin deras, tenggorokannya terasa tercekat saat ingin melanjutkan kalimatnya, dadanya terasa sesak tiba-tiba. Cellin tak mampu berkata-kata.



"Ku mohon menikahlah denganku, aku mohon. Mohon dengan sangat.!" Suara Zico terdengar parau, penuh penekanan. Ia benar-benar menangis sesenggukan.



Kakak Cellin yang melihat mereka sejak tadi pun akhirnya tak kuasa menahan kesedihannya, ia lantas melangkah keluar, menangis sejadi-jadinya di depan pintu kamar rawat Cellin. Ia memegangi dadanya yang terasa sangat sakit, seorang pria mencintai adiknya dengan sangat tulus, namun Tuhan malah seakan ingin memisahkan mereka.



Zico mengeluarkan Cincin yang pernah di belinya waktu itu, ia lantas memakaikannya pada jari Cellin, Cellin merasakan semua pergerakan itu, Ia sangat sedih dan terharu, Zico mengecup punggung tangan Cellin.



"Kita akan menikah hari ini.!" Ucap Zico mantap. Diam nya Cellin ia anggap sebagai persetujuan. Zico memencet tombol memanggil perawat, meminta tolong untuk selalu menemani Cellin, dan tidak meninggalkannya barang sedetik pun, ada hal yang harus segera ia urus.



Zico meninggalkan Cellin sebentar, ia keluar ruangan, Kakak Cellin yang berada di depan kamar berhadapan dengannya.



"Kak, Izinkan saya untuk menikahi Cellin hari ini, saya berjanji akan selalu mencintai Cellin dan menjaganya, saya tidak akan pernah meninggalkannya atau pun membuatnya bersedih. Izinkan saya untuk menjadi suami adik mu.!" Zico meminta restu pada Kakak Cellin penuh Khidmat, Di iringi derai air mata yang terus lolos membasahi pipi, beberapa orang yang melihat nya sampai ikut larut dan terharu.



Kakak Cellin memeluk tubuh Zico, ia sendiri sudah menangis sejak tadi, Kakak Cellin mengangguk, mengelus punggung Zico, memeluknya erat.



Setelah itu, Kakak Cellin menemui adiknya yang berada di dalam, sedangkan Zico lekas memainkan ponselnya menghubungi Arend.



Arend mengerti, dan dia bergerak cepat. Ia meminta Zid untuk menjemput keluarga Cellin di rumahnya dan membawa mereka ke rumah sakit, termasuk ayah Cellin yang sedang sakit pun di bawa dengan kursi roda.



Arend lantas memberitahukan Syeira sang istri dan Ayla sang mama, dia akan membawa Pak Kiyai ke Rumah Sakit untuk menikahkan saudaranya.



Yang bisa di lakukan barulah pernikahan secara agama, karna akan membutuhkan waktu lebih untuk mengurus secara negara.



Semua bergerak dengan cepat. Cellin memakai kerudung putih yang di bawa Ayla, itu adalah kerudung lamanya yang ia gunakan saat menikah dengan Aryan, Cellin terlihat sangat cantik meski tanpa sedikitpun goresan make up.



Cellin terduduk di atas ranjang dengan seluruh peralatan medis yang menempel pada tubuhnya. Zico duduk di kursi samping ranjangnya, berhadapan dengan Pak Kiyai yang akan menikahkan mereka.



Cellin merasa sangat bahagia. Penglihatannya kembali normal secara tiba-tiba. Ia bisa melihat semua orang yang hadir memberi doa dan restu untuk pernikahannya.



Cellin melihat ayahnya yang sudah lama hanya terbaring di rumah, kini ia duduk di kursi roda dengan raut mukanya yang sendu, mata pria tua itu terlihat berkaca-kaca. Bahkan sangat terlihat jika ia berusaha untuk tersenyum.



Arend dan Kakaknya menjadi saksi pernikahan nya dengan Zico. Cellin terus menangis, mengamati semua orang, Kakaknya sedari tadi tidak berhenti menangis dan mengusap mata. Kakak iparnya, keponakannya, ibunya.



Mamah mertuanya yang juga datang dengan derai tangisan. Ia terlihat sedang melakukan panggilan Video. (Ayla menghubungi Aryan menceritakan semua hal yang harus terjadi secara tiba-tiba, jelas pada awalnya Aryan marah, tapi setelah mendengar penjelasan Ayla, Aryan pun akhirnya berusaha memahami situasi Zico).



Syeira berdiri tepat di sebelah ranjang Cellin, ia menyentuh pundak sahabatnya itu, memberikan energi positif untuk Cellin.



"Saya terima, Nikah dan Kawinnya, Cellin Nabila, Binti\_\_\_\_(Keterbatasan Author yang tidak begitu memahami hukum agama. Jika seorang perempuan yang tidak di ketahui ayahnya, maka wali nya jatuh pada wali hakim.) Dengan mas kawin tersebut di bayar Tunai.!"



Zico mengucapkan kalimat Kabul sangat lancar dengan sekali tarikan nafas.



"Sah.?"



"Sah.!"



"Sah.!"



"Alhamdulilah... Baarakallaahu\_\_\_\_\_\_."



Pak Kiyai memanjatkan doa, Syeira lekas memeluk Cellin meski tak dapat ia lakukan dengan sempurna.



Mereka semua sangat bahagia. Tumpang tindih dengan rasa haru dan juga sedih.



Zico lantas bangkit, ia mengenakan kalung berlian yang sudah disiapkannya waktu itu ke leher Cellin.



Cellin menatap pria yang di cintanya, yang kini telah sah menjadi suaminya dengan tatapan nanar, Zico mengecup dalam kening Cellin. Cellin memejamkan mata menerima ungkapan kasih itu. Zico membiarkan air matanya yang lolos menetes jatuh pada kerudung putih Cellin. Mereka telah sah menjadi sepasang suami istri.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...