
Meldy tengah dalam perjalanan. Ia akan ke apartemen Arend. Ia berencana akan menemani Syeira dan Cellin sehari ini. Syeira bilang jika Zico juga tidak pergi ke kantor. Akan semakin seru jika Meldy datang dan ikut bergabung.
Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Masih sangat dini memang untuk bertamu, tapi mereka sudah membicarakannya akan masak bersama. Bahkan Meldy sudah membeli bahan yang di minta Cellin dari super market.
Taksi yang Meldy naiki sudah sampai di halaman depan gedung apartemen Arend. Meldy memberikan uang pada supir taksi dan ia lekas melangkah cepat memasuki gedung mewah itu.
'*Ting.Tong*.?'
Zico yang membuka pintu. Tanpa salam dan tanpa permisi Meldy langsung menyerobot masuk dan bahkan menabrak tubuh Zico hingga ia terhuyung karna tak siap dan tak seimbang tubuh Zico sampai Mundur dan punggungnya menabrak tembok.
'*Bugh*.!'
"Aauuww.?" Teriak Zico tertahan. Tapi Meldy tak peduli seakan tak melihat Zico disana. Meldy terus melangkah menggerakkan kakinya dengan ceria menuju dapur apartemen Arend.
Syeira dan Cellin sudah berada disana.
"I'm Coming Ladies.?" Seru Meldy mengangkat kedua tangannya yang membawa banyak belanjaan tinggi-tinggi.
"Aaahh.??? Baguslah kau sudah datang, aku tidak tahu cara membuat makanan ini.!"
Syeira menyambut Meldy antusias sambil menunjukkan sebuah gambar makanan di sertai resep di ponselnya.
Cellin tersenyum. Meldy menaruh barang-barang yang di bawanya lalu memeluk Cellin yang duduk di kursi meja makan.
"Aaahh.? Kau ini.? Begitu saja tidak bisa.!" Meldy lantas melangkah mendekat kearah Syeira, dan melihat layar ponselnya yang Syeira tunjukkan padanya.
"Kau bisa.?" Mata Syeira berbinar.
"He he.?" Meldy menggeleng di sertai cengir kuda.
Zico datang.
"*Aaiiisshh*.!" Syeira nyengir. Ternyata Meldy juga sama saja.
"Aaahh.?? Sudah sudah minggir. Kalian ini beneran perempuan apa cuma jadi-jadian sih?. Tidak ada yang bisa masak.!"
Zico menabrak Meldy dan Syeira. Ia melewati mereka tepat di celah kecil tengah-tengah antara Meldy dan Syeira.
"Iiiihh.?"
Meldy refleks memukul kepala Zico dengan botol air kosong di atas meja dapur di dekatnya.
"Aauuw.? Kau ini.?"
"Apa.?"
Meldy dan Zico terus saja bertengkar, membuat Cellin tersenyum dan Syeira tertawa. Akhirnya Syeira mempunyai satu kawan di dalam Tim nya untuk membantai Zico.
Gelak tawa Syeira semakin keras menertawakan Zico yang menerima serangan tiba-tiba.
"Dasar kalian berdua. Yang satu nya bar-bar. Yang satu nya lagi setres.!" Umpat Zico pada Meldy yang mengatainya setres.
"Apa kau bilang.?"
Mereka kembali bertengkar, Zico berlari karna Meldy sudah mengangkat kembali botol kosong di tangannya untuk memukul Zico.
Zico terus berlari mengitari meja makan di sertai Meldy yang terus mengejarnya.
"Sini.? Ku hajar kau.?"
Cellin hanya bisa terus tersenyum. Dan Syeira semakin tergelak.
Mata Cellin tiba-tiba buram. Kepalanya berdenyut hebat. Sangat sakit. Cellin langsung menunduk dan memegangi kepalanya sendiri. Dari hidungnya keluar darah kental begitu banyak. Ia kembali mimisan.
"Cellin.?"
"Cellin.?"
"Cellin.?"
Mereka semua sontak kaget dan berhenti. Melihat Cellin yang sudah menekan kepalanya sendiri dengan tangannya sangat kuat. Menahan rasa yang begitu teramat sangat sakit.
Cellin jatuh pingsan. Dan Zico lekas menangkap tubuhnya yang hampir jatuh.
"Cellin.?"
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Semalam kamu kemana.?"
Zizi dan Zid sarapan bersama di tempat tinggal Zid. Zizi menginap karna Zid yang kemarin sakit, tapi Zizi ketiduran, dan saat dia bangun, Zid sudah tidak ada. Bahkan sampai menjelang pagi Zid baru datang.
Zid menjawab singkat. Sambil kembali memasukkan sesendok nasi kedalam mulutnya.
"Kau menemui Meldy, Zid.?"
Zid sontak menghentikan geraknya, ia menaruh sendok dan garpunya lantas berdiri, sangat malas rasanya harus bertengkar dan bercekcok sepagi ini.
"Zid.? Aku bicara padamu.?"
Zizi berteriak dan menghalangi Zid.
Zid berhenti dan dia terdiam. Tatapan matanya kosong. Dia tidak menatap Zizi sama sekali. Zid tak pernah menyalahkan Zizi atas apa yang telah terjadi, ia selalu merutuki dirinya sendiri yang tak bisa menahan hawa nafsunya waktu itu sehingga kini ia harus kehilangan Meldy.
"Zid.? Bisakah kau berhenti mencintai Meldy.? Dan lihatlah aku.!"
"Kau tahu jawabannya, Zi.!"
Zid kembali ingin melangkah. Zizi meraih gelas kaca di atas meja yang berisi air putih, ia lantas memukulkannya di atas meja makan.
'*Cyaakk*.!'
Zid sontak menoleh. Zizi sudah menangis, gadis itu sudah berada di ambang batas kesabarannya. Hampir satu bulan lebih Zid tak menganggapnya. Dan ia sudah tidak kuat lagi.
Di tangan Zizi sudah masih ada sisa pecahan gelas yang kini menjadi sangat tajam.
"Aku labeih baik mati dari pada hidup seperti ini, Zid.?"
Zizi berteriak dan ia menggerakkan tangannya yang membawa pecahan kaca untuk ia goreskan di nadi tangannya. Tapi dengan gerakan cepat dan santai Zid lekas menangkap pecahan kaca itu di tangan Zizi.
"Zid.?"
Zizi berteriak kaget, Zid menangkap kaca menahan tangan Zizi bergerak. Zid mengernyitkan kening menahan rasa sakit di tangannya. Darah segar bercucuran.
"Apa yang kau lakukan, Zi.?" Suara Zid sangat pelan dan lemah. Air matanya menetes.
"Zid.?"
Zizi melepas pecahan kaca itu, karna Zid semakin menekankan tangannya kedalam pecahan gelas yang Zizi pegang.
"Zid.?" Suara Zizi bergetar di iringi tangisan.
"Kau masih beruntung di bandingkan aku Zi, Meski orang yang kau cintai tidak mencintaimu, tapi ia masih bersamamu, kapan pun kau ingin menemuinya, kau bisa melakukannya. Bahkan mungkin saja kau memiliki kesempatan untuk terus bersama dengannya. Tapi lihatlah aku, Zi.? Aku telah kehilangan cintaku, aku juga kehilangan orang nya. Dia tak Sudi untuk berada dekat dengan ku, Aku tidak bisa menemuinya sesuka ku, meski aku begitu rindu. Dan dia sudah memiliki orang lain dalam hidupnya sebagai penggantiku. Aku lebih menderita darimu, Zi. Aku tahu ini semua salahku, aku yang brengsek, aku yang bajingan, aku yang sudah salah. Tapi bisakah kau membantuku.? Berhenti melakukan sesuatu yang justru akan menambah beban dan sakit di hatiku.?"
Zizi hanya terperangah di sertai air matanya yang mengalir deras mendengarkan Zid yang kini mengungkapkan seluruh isi hatinya.
Zizi jelas merasa sakit hati saat mendengarkan itu semua. Zid benar-benar mencintai Meldy, tidak ada ruang sedikitpun untuknya dalam hati Zid.
"Tunggu, Zid?. Kau menyakitiku.!"
Zid berhenti. Tatapan matanya lurus dengan raut mukanya yang sendu. Darah segar di tangan kanannya terus menetes.
"Kau tahu Zi.? Pernahkah kau berpikir bagaimana sakitnya Meldy saat itu.? Bahkan untuk membayangkannya saja aku tidak mampu. Kau sakit hati hanya karna aku menemuinya. Lantas bagaimana dengannya yang melihat secara langsung perbuatan kita yang sudah mengkhianatinya di depan matanya ? Jika aku berada di posisi Meldy saat itu. Mungkin aku sudah membunuh kedua orang itu. Kita salah, jika saat ini kita berdua menderita. Maka itu memanglah karma untuk kita.!"
Zid melangkah pergi meninggalkan Zizi. Ia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan darah dari telapak tangan kanannya.
Zizi duduk di kursi ia menangis. Beberapa kalimat yang Zid ucapkan terasa menghantam hatinya. Dan itu adalah kebenaran.
Zid tak pernah menyalahkan Zizi. Tapi dengan diamnya Zid selama ini. Itu seakan telah menghukum Zizi setiap saat. Mereka sama-sama menderita dalam tekanan batin cinta.
Zid kembali keluar dari kamar mandi. Darahnya masih terus menetes.
"Biar ku obati tanganmu.?"
"Aku akan kerumah sakit, ada kaca yang menancap dalam sampai menusuk tulang.!"
Zizi gemetar mendengar Ucapan Zid yang santai dengan keadaannya yang terluka serius.
"Aku antar.?"
"Aku bisa sendiri.!"
Zid pun melangkah pergi keluar dari tempat tinggalnya meninggalkan Zizi yang masih menangis seorang diri.
'*Ya Tuhan.? Haruskah aku tetap bertahan.? Atau haruskah aku menyerah.? Aku tidak kuat dengan semua sikap dingin Zid*.!'
Zizi berada di ambang batas kesabarannya dalam memperjuangkan Zid. Dan kalimat Zid yang mengatakan tentang sakit yang di rasakan Meldy, seakan menyadarkan Zizi. Bahkan tentang derita hati yang kini ia alami, Zid mengatakan itu adalah karma yang lantas untuk dirasa.
Zid dan Zizi berpikir jika kini Meldy telah bahagia. Ia telah bersama DK. Tanpa mereka tahu jika mereka bertiga sama-sama tersiksa.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...