
Meldy membuka jendela kamarnya, ada balkon kecil disana yang menghadap pemandangan kota.
Udara terasa sangat dingin, angin berhembus serasa menusuk ke dalam tulang. Jalanan sangat lengang, dan kota yang selalu ramai oleh hiruk pikuk kesibukan manusia dan keramaian mesin itu, malam ini serasa begitu hening dalam sunyi.
Syeira membuka mata. Ia sempat tertidur, tapi tak bisa nyenyak, Syeira terbangun setelah merasa ada pergerakan. Benar saja. Meldy sudah bangun dan membuka jendela lalu melangkah berdiri di balkon kamar.
Syeira meraih ponsel di atas nakas. Ia melihat jam. Pukul 2 pagi. Syeira meletakkan lagi benda pipih itu, ia lantas turun dari ranjang bergerak mendekat ke arah Meldy berada.
"Kau tidak tidur.?"
Meldy menoleh pada Syeira yang bicara dan sudah berdiri di sampingnya. Air mata Meldy sudah berhenti, tapi wajah sembabnya menjelaskan kesedihannya. Mata bengkaknya menjadi bukti tangisannya. Raut mukanya datar tapi tak mampu menampik kepedihannya.
"Aku tidak bisa tidur, Ra.!" Suara Meldy sangat serak.
Syeira ikut melihat lurus ke arah pandangan lepas yang menunjukkan hamparan kota malam yang sunyi dan lengang. Lampu-lampu kota menghiasi malam yang gelap. Rambut mereka bergerak oleh sapuan lembut angin yang berhembus.
"Apa yang akan kau lakukan, Mel.?"
Syeira memberanikan diri untuk bertanya. Meldy menggeleng, tak ada kata yang mampu ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan itu. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Aku ingin menceritakan sesuatu.!"
Meldy mendengarkan apa yang Syeira katakan.
Syeira menceritakan kisah aunty Ineke yang pernah Arend ceritakan padanya. Berharap Meldy bisa memahami situasinya saat ini dan dia bisa untuk lebih kuat.
"Saat Aunty Ineke memutuskan untuk bunuh diri, Ia tidak hanya sedang mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi hidup semua orang yang mencintainya pun ikut berakhir. Butuh waktu yang sangat lama bagi Arend, Zico dan keluarga untuk bisa bangkit dan menerima kenyataan.!"
Syeira mengusap air matanya yang menetes pada pipi nya yang lembut.
"Aku ingin meminta padamu, kuatlah. Bertahanlah.!" Lirih Syeira dalam tangis.
Meldy pun sudah tak kuasa menahan air matanya. Ia menunduk dan menangis.
"Aku hanya takut, Ra. Aku takut tidak bisa melupakannya, Ra.? Aku takut, Bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja.? Bagaimana kalau aku terus mengingatnya.? Memikirkannya.? Dan bagaimana kalau nanti aku merindukannya, Ra.? *Hiks hiks hiks*"
Syeira memeluk erat tubuh Meldy yang sudah bergetar dalam tangis nya yang pilu. Mereka berdua merosot hingga terduduk di lantai.
"Tidak apa-apa untuk kita merasa tidak baik-baik saja, Mel. Tapi ingat untuk bangkit. Pikirkan juga orang-orang yang ada di sekitarmu, yang menyayangimu. Apa kau tidak ingin balas dendam.? Kalau perlu, buat Zid juga merasakan bagaimana sakitnya yang kau rasakan karna pengkhianatannya. Kau tidak boleh lemah. Kau seorang Meldy yang sangat kuat dan ceria.!"
"Tapi aku telah kalah, Ra. Aku tak memiliki cinta yang ku banggakan dan ku perjuangkan kemarin. Bagiamana aku bisa membalas.?Sedang kan aku sendiri tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan luka ku ini.? Aku hancur tanpa Zid, Ra.? Aku sangat mencintainya.? *Hiks hiks hiks*.!"
Syeira terdiam. Apa yang dikatakan Meldy benar, ia tak memiliki senjata untuk berperang melawan kecurangan Zid. Bahkan saat ini dirinya tengah terluka parah.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Satu hari terlewati dalam diam. Hanya derai air mata yang masih setia menemani Meldy yang hanya berdiam diri dalam kamar.
Hingga datang hari berikutnya, dan Syeira masih terus setia menemani.
Syeira terus menemani Meldy saat ini. Akibatnya Zico tidak bisa pergi untuk bekerja. Zico harus menemani Cellin. Dan Arend mengirim Zid ke perusahaan Papahnya Aryan sebagai ganti Zico yang tak bisa datang.
Sebenarnya bisa saja Zico meminta ibu Cellin atau Kakak Cellin untuk menemani dan menjaga Cellin, tapi Arend yang melarangnya, ia memang dengan sengaja ingin memberikan pekerjaan tambahan pada Zid, sebagai luapan emosi Arend padanya.
Hubungan Arend dan Zid berjalan normal, Arend tak ingin urusan pribadi mereka masuk ke ranah perusahaan. Selain itu mereka juga sudah bersahabat layaknya saudara. Sedikit hukuman memberikan pekerjaan tambahan pada Zid di perusahaan Aryan cukup membuat Zid sibuk dan tidak terus datang menemui Meldy. Arend akan membiarkan mereka bertemu dan bicara jika itu atas kemauan Meldy.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Mau keluar.? Makan.?"
Syeira mengajak bicara Meldy yang hanya diam menatap kosong, padahal saat ini mereka tengah menonton film komedi. Gelak tawa Syeira tak mampu membangkitkan Meldy yang terpuruk dan hanyut dalam pikirannya sendiri.
Meldy menoleh ketika Syeira mengajaknya untuk makan diluar. Meldy terdiam. Namun akhirnya ia mengangguk.
Syeira mengembangkan senyumnya.
"Baiklah, kita pergi sekarang, aku pesan taksi onlin dulu..!" Syeira memainkan ponselnya.
"Sudah. Mau makan dimana.?" Syeira kembali bertanya.
Meldy menggeleng.
"Eemm.?? Bagaimana kalau kita makan kue di cafe ujung jalan, Iiihh, disana kue nya sangat lezat, ada kopi dan es krim juga. Kau pasti suka.!" Syeira berbicara penuh antusias.
Meldy tersenyum kaku, lalu mengangguk.
Mereka ganti baju lalu Syeira menggandeng tangan Meldy lekas keluar dari kamar hotel menuju lantai bawah untuk segera pergi ke tempat tujuan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zid datang ke perusahaan *N~A Cell*. Ia menyelesaikan urusannya di Perusahaan Aryan dengan cepat. Zid berencana ingin kembali datang ke hotel menemui Meldy. Ia sudah sangat merindukan wanita nya itu, wanita yang ia khianati, wanita yang ia sakiti.
Zid masuk dan menekan tombol lift, ia berniat untuk naik ke lantai atas dimana ruang rahasia tempatnya tinggal berada.
"Zid.?"
Zizi berdiri di belakangnya. Yah, Zizi masih bekerja di *N~A Cell* meski setelah semua yang terjadi. Dan Arend juga tidak memecatnya. Zizi tidak ada masalah dengan pekerjaan. Urusan pribadinya bukanlah ranah Arend.
Dan kalaupun Arend memecat Zizi. Ia berpikir itu bukanlah ide yang tepat. Zid masih bisa menemuinya dimana saja. Justru membiarkan mereka tetap bersama seperti keadaan semula hingga semua berjalan dengan normal itu mungkin pilihan yang tepat, entahlah, biarkan semuanya berjalan dulu.
Zid sempat kaget. Sejak malam itu ia belum pernah menemui Zizi. Itu artinya sudah 2 hari.
"Apa kau akan meninggalkan ku.?"
Zizi langsung berbicara pada intinya. Air matanya sudah deras menetes membasahi pipi.
'*Ting* .?'
Pintu lift terbuka. Beberapa orang yang keluar dari ruang alat gerak itu menatap Zid dan Zizi dengan tatapan yang? Entahlah. Apalagi Zizi sudah menangis.
Zid menarik tangan Zizi untuk ikut masuk bersamanya kedalam lift. Ia belum membuka suara. Tapi yang jelas. Membiarkan Zizi tetap berdiri mematung disana sambil menangis itu bukanlah hal yang baik.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Zid.?"
Zizi kembali bertanya. Meminta kepastian pada Zid yang masih terdiam.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...