LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 57





Di sebuah Mansion mewah yang bernuansa gelap, nampak beberapa pria gagah bersenjata berdiri di titik-titik tertentu Mansion itu. Itu adalah Mansion Bos Mafia Klan Cosa. Tuan Rain Cosa.



Cen, pria dengan bekas luka yang seram di wajahnya masuk ke sebuah ruang di Mension itu. Seorang Pria dengan perawakan tinggi, tegap, gagah, dan tetap seksi di usianya yang tak lagi muda itu, tengah berdiri di dekat jendela, menghadap ke pemandangan di luaran sana yang menampakkan cahaya senja.



"Tuan.? Ada satu berita.!" Cen berbicara padanya. Pria yang berdiri gagah di dekat jendela itu adalah Rain Cosa. Bos Mafia dari Klan Cosa.



Rain berbalik, melihat Cen yang baru datang, ia lantas melangkah, mendekat dan duduk di tepian meja, ia lantas mengeluarkan sebatang rokok, memantik lalu menyesap asapnya.



"Ada apa.?" Tanya Rain tenang dengan nada suara nya yang pelan namun berat, setelah mengepulkan asap pertama yang disesap.



"Tuan Aryan.?" Satu nama yang di sebut Cen sontak membuat Rain menoleh cepat dan melirik tajam menatap Cen dengan tatapan membunuh.



Sudah begitu lama Rain tak berhubungan dengan mereka. Bahkan sampai detik ini, rindunya pada Ineke membuatnya merasa tersiksa. Dan sekarang Cen menyebut salah satu nama yang kembali mengingatkannya pada Ineke yang terus bersemayam menghantui pikiran dan hatinya.



Mata Rain terlihat memerah, ia lantas memalingkan muka, kembali menyesap rokok yang di pegangnya. Rain berdiri, melangkah kembali ke dekat jendela. Hatinya merasa sakit mendengar nama yang Cen sebutkan barusan. Waktu nyatanya tak mampu menyembuhkan Rain dari rasa sakit atas kehilangan dan penyesalan.



"Tuan.? Ada berita yang memuat kabar usaha pembunuhan pada Tuan Aryan dan Tuan Aaron di Mall pusat kota Brasilia kemarin. Dan sekarang Tuan Aryan dan Tuan Aaron tengah di rawat di Rumah Sakit \*\*A\*\* pusat kota. Nyonya Ayla dan Arend datang kemarin malam.!"



Cen mengatakan apa yang diketahuinya, Ia tidak tahu apa keputusan Rain setelah mendengar berita yang ia sampaikan ini. Tapi keinginan hatinya begitu kuat untuk memberitahu Rain. Biar bagaimanapun, mereka pernah memiliki hubungan keluarga.



"Aku tidak peduli dengan urusan mereka.!"



Jawab Rain dingin yang membuat Cen hanya bisa berdiri dan diam tanpa kata. Cen akhirnya menundukkan kepala dan lekas pergi, jawaban Rain yang ia dengar cukup jelas.



Rain terus menatap pemandangan diluar sana yang semakin menggelap, malam segera menyapa.



Hati Rain lebih gelap dari nuansa malam yang menghitam. Ia begitu larut dalam kekalutan. Tak ada sedikitpun cahaya yang bersinar memberikan penerangan di hidupnya.



Rain terus berusaha tidak peduli, ia tidak ingin lagi berhubungan dengan keluarga Aryan, bukan karna ia membenci keluarga itu, tapi justru ia sendiri yang merasa bersalah pada dirinya, jika semua hal buruk yang terjadi pada keluarga itu adalah karena kehadiran dirinya.



Ingatan-ingatan masa lalu hadir kembali, kenangan-kenangan manis dan pahit itu berputar di kepala Rain. Ia duduk di sebuah kursi di depan meja tadi. Matanya terpejam sempurna mencoba menenangkan hati yang kini di penuhi emosi.



Bayangan Dion, Aryan, Arend, Zico, Ayla, dan terlebih Ineke, terus berputar di kepalannya.



Tiba-tiba bayangan Ineke yang tersenyum cantik terlihat begitu jelas di hadapan Rain saat ini. Rain kaget dan lekas membuka mata. Nafasnya berat dan pendek-pendek. Rasa bersalah Rain yang begitu besar telah menghukum Rain setiap detiknya.



Hanya darah lah yang bisa membuat Rain bisa meluapkan dan mengurangi emosinya. Rain bergegas keluar.



Ia melangkah cepat menuju halaman depan. Semua anak buah menghadap dirinya, kecuali mereka yang masih fokus di titik-titik tertentu untuk menjaga.



"Tuan.?" Cen kaget dengan kehadiran Rain yang tiba-tiba.




Aryan telah di lukai di daerah kekuasaannya. Klan Cosa adalah Jaringan mafia internasional. Tidak ada yang tidak mengetahui namanya di dunia kegelapan. Siapa yang berani bermain dengannya, sama saja dia telah bermain dengan kematiannya.



"Mereka bukankah siapa-siapa, hanya berandalan tikus got di pusat kota. Hanya dengan satu perintah anda. Akan saya bereskan mereka semua.!"



Rain mengernyitkan kening, ia merasa bingung. Jika mereka hanyalah orang-orang tidak berguna, bagaimana bisa menyerang dan berurusan dengan Aryan.? Yang bahkan selalu dalam perlindungan para pengawal.?



Cen kembali menjelaskan, seakan ia memahami kebingungan Rain yang mengernyitkan kening padanya.



"Di duga itu adalah persaingan bisnis. Mereka hanyalah tenaga bayaran. \_\_\_\_\_\_ \_\_\_\_\_\_\_ \_\_\_\_\_\_.!"



Cen terus menjelaskan, dan Rain menatap depan dengan tatapan tajam membunuh.



"Bawa mereka ke hadapanku, aku ingin sedikit bermain bersama mereka." Rain berbicara dengan suara dingin yang menakutkan, wajahnya tersenyum *Smirk* yang terlihat sangat menawan dan tampan di usianya yang sudah hampir berkepala 5.



"Baik, Tuan.!" Cen menganggukkan kepala, dan ia bergerak cepat.



Rain kembali masuk dan berdiam diri di ruangannya yang bernuansa gelap tadi. Ia berdiri melihat satu foto Ineke yang terpajang di dinding dengan lampu yang berpendar kuning menerangi foto cantik sang istri.



"Keluargamu ada disini, Ke.! Haruskah aku menemui mereka.? Bagaimana jika mereka tidak menerima kehadiranku.?"



Rain mengelus lembut foto Ineke yang tersenyum sangat cantik. Hati Rain terasa perih karna begitu sangat merindukannya. Tak ada nafas lain yang bisa mengganti nafas Ineke dalam hidup Rain. Bos Mafia itu hidup secara raga, dan mati secara jiwa.



"Kau ingin aku datang.? Baiklah.! Besok aku akan datang untuk melihat mereka, sayang.?" Ucap Rain pada foto Ineke yang seakan mengajaknya bicara, menyuruh sang suami menemui keluarganya.



Rain memutuskan untuk datang ke Rumah Sakit \*\*\*A\*\*\* esok hari, melihat mereka secara sembunyi. Ia tidak akan menampakkan diri. Rain hanya ingin melihat dan memastikan keadaan Aryan dan keluarganya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Kondisi Aaron sangat kritis. Setelah operasi yang pertama, Para Tim Medis dan Dokter ahli bedah kembali akan melakukan operasi lanjutan siang ini.



Mikaila hanya bisa menangis dalam pelukan Ayla. Mikaila sangat senang karna ada Ayla yang kini menemaninya, wanita yang di panggilnya mamah Aii ini selalu bisa menenangkannya saat tengah dalam masalah sejak dulu kala, bahkan rekaman suara Ayla yang mengaji di ponsel Aaron Papahnya yang membawa Mikaila menjadi seorang mualaf saat kecil.



Aryan sudah berangsur membaik, hanya saja lukanya masih basah. Tapi ia sudah bisa berdiri dan melakukan aktifitasnya secara mandiri. Tak ada lagi selang infus di tangannya. Yang menjadi kecemasan mereka saat ini adalah keselamatan nyawa Aaron. Bahkan Dokter sudah mengatakan tipisnya kemungkinan keselamatan dari korban.



Syeira merasa kasihan melihat Mikaila yang terus menangis dalam pelukan Ayla. Tapi ia tidak berani mendekat, Arend tidak membiarkannya, Arend terus saja menggandeng tangan Syeira tanpa melepasnya barang sedetik pun. Arend tidak ingin ada celah yang memisahkan mereka, meski itu berawal dari kebaikan hati istrinya yang ingin bersimpati pada wanita yang Arend tahu jika Mikaila mencintai dirinya.



Para Dokter keluar. Mereka semua lekas berhambur mendekat ke arah Dokter yang telah selesai melakukan Operasi pada Aaron.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...