LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 113





"Aaaahh.??" Teriak Meldy yang kaget dan takut karna film horor yang mereka tonton muncul ghost yang sangat menyeramkan secara tiba-tiba di layar tv.



Meldy tidak sadar dirinya yang kini memeluk Zid. Zid membulatkan mata. Dadanya berdetak kencang karna Meldy memeluknya. Zid tersenyum bahagia. Inilah yang sangat dirindukannya. Sentuhan Meldy.



Syeira tak merespon karna sejak tadi ia tenggelam dalam pikirannya sendiri dan sama sekali tak memperhatikan Film.



Zico terperangah melihat Meldy yang sedang memeluk Zid dengan erat.



"Aaaahh.? Dasar cari kesempatan dalam ketakutan.!" Zico ngedumel.



"Zid.?" Suara Arend membuyarkan suasana.



Meldy lekas melepas tangannya yang memeluk tubuh Zid. Dan ia mencoba bersikap biasa. Merapikan bajunya. Mendongak dan memalingkan muka.



Syeira lekas menoleh kala Arend datang memanggil Zid.



"Iya Arend.?"



"Ikut aku.! Zico.? Sini ponselmu.!"



"Ponselku.?" Zico bingung, tapi dia memberikan ponselnya pada Arend yang memintanya.



Arend melirik Syeira sekilas. Syeira menatap Arend dengan pandangan mata yang sendu. Lalu Arend kembali melangkah, Dan Zid langsung mengekor. Zid ikut masuk kedalam kamar Arend.



"Apa yang akan dilakukannya.?" Meldy berbisik. Ia menebak pasti Arend akan melakukan sesuatu. Syeira menggeleng pelan sebagai jawaban tak tahu menahu.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Aku mau pergi ke Club'.!"



Mikaila dan Rain tengah dalam perjalanan, Rain fokus menyetir menatap lurus kedepan. Ia tak berniat membalas Mikaila yang bicara.



"Hey Om.? Aku bicara padamu. Aku bilang aku mau ke Club'.!"



Rain masih diam tak bergeming, kalau bukan karna Aryan yang menganggapnya seperti seorang anak. Pasti saat ini Rain sudah menembakkan senjatanya ke kepala Mikaila.



"Berhenti.?"



"\_"



"Ku bilang hentikan Mobilnya.?" Mikaila sudah berteriak. Rain menahan emosi. Giginya beradu dan raganya mengeras.



"Aku akan lompat dari mobil, kalau kau tidak mendengarkan ku.?" Mikaila kembali berteriak dan sudah memegang handle pintu mobil.



'*Ciiittt*.!'



Rain sontak menginjak rem, mobil berhenti mendadak.



"Aaauuww.?" Tubuh Mikaila yang tidak siap terhuyung dan keningnya membentur dashboard.



"Apa kau berniat membunuhku.? Dasar monster.!" Mikaila mengumpat. Rain tak menanggapi dan dia masih menatap lurus kedepan.



'*Jeklek*.'



'***Jebrak***.!'



Mikaila sudah membuka pintu mobil, dia hendak keluar, tapi Rain dengan gerakan cepat meraih handle pintu dan menutupnya kembali. Ia tak mempedulikan Mikaila yang hampir terjepit.



"Aaahh.?" Mikaila berteriak kaget, Rain menutup pintu mobil itu dengan sangat kuat. Hingga suara yang di hasilkan sangat keras.



Tubuh Rain mendoyong ke samping seakan memeluk Mikaila dari depan. Mikaila sampai mengangkat kedua tangannya ke atas, dan dia berekspresi tegang. Tubuh Rain dan tubuhnya bagian depan sangat dekat hampir menyentuh.



Mikaila membulatkan mata dan mulutnya terbuka karna terperangah. Sedangkan Rain menatapnya tajam seakan ingin menghabisi nyawanya. Mikaila membangkitkan emosi Rain.



Mereka saling menatap cukup lama. Hingga kesadaran Rain kembali sepenuhnya. Dan dia mundur kembali duduk di jok kemudi, Rain berusaha menahan amarah yang memuncak karna sikap Mikaila.



"Club mana.?" Rain bertanya. Itu artinya dia mengalah dan menyetujui Mikaila yang ingin pergi ke Club'.



Mikaila menyebut satu nama Club' dan Rain lantas menginjak gas melajukan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi. Menuju tempat yang ingin di tuju Mikaila.



"No alkohol. No smoking.!" Rain kembali berbicara dengan gaya bicaranya yang terdengar seperti memerintah di telinga Mikaila.



"That's My business, Uncle"



Rain menyunggingkan senyum sinis.



"Kita lihat saja.! Jika ada yang berani menyuguhkan minuman padamu. Akan aku patahkan tangannya. Dan kalau kau masih berani minum. Akan aku ratakan bangunan itu ke tanah.!"



Mikaila terperangah, mulutnya menganga dan matanya menyipit, di sertai keningnya yang mengernyit.




'*Bagaimana caranya untuk bisa mengalahkan pria Tua ini*.?'



Mikaila berpikir keras. Setelah beberapa waktu, ia tersenyum licik. Satu ide nakal muncul di benaknya. Dia akan melakukannya hanya untuk sekedar menggoda Rain.



"Khem.!" Mikaila berdehem menenangkan dirinya sendiri. Ia lantas membuka tasnya. Ia membawa sebuah mini cardigan berbahan kain tipis dan dia akan mengenakannya.



Rain meliriknya sesekali.



'*Apa yang akan di lakukan gadis pingsan ini*.?'



Mikaila menggerakkan tangannya. Ia akan membuka baju yang dia pakai.



"Ouugh F.u.c.k?"



'*Ciiittt*.!'



Rain kembali menginjak rem mendadak. Mobil berhenti.



"Apa yang kau lakukan.?"



"Apa yang kau lakukan.?"



Mikaila dan Rain berteriak bersamaan. Rain berteriak marah karna Mikaila yang hendak membuka bajunya di dekatnya dan Mikaila berteriak marah karna lagi-lagi Rain menghentikan laju mobil secara tiba-tiba.



"Kenapa kau mau membuka bajumu disini.? Apa kau sudah gila.?" Rain berteriak pada Mikaila.



"Apanya yang salah.? Aku ingin pergi ke Club', tidak mungkin aku akan memakai baju seperti ini. Memangnya aku mau kuliah.!"



"Berhenti berdebat denganku, Mikaila.?"



"Kau ini kenapa.? Aku hanya ingin mengganti baju. Apa aku harus turun dan mengganti baju Ku di jalan.? Hah.?"



"Kau gila.!"



"Kau yang gila, Om.?"



"**Berhenti bertingkah**.?!"



"Om ini kenapa.? Aku ini seusia dengan putrimu.? Maksudku. Kau ini seusia dengan Papah ku. Tidak mungkin kan.? Om akan tergoda denganku.?"



"Berhenti membual.!"



"Berhenti memerintahku.?"



Mereka berdua terus bertengkar, tak ada Aryan maupun Ayla sebagai penengah diantara mereka seperti biasanya.



"Aku mau ganti baju. Kalau Om merasa risih. Om bisa menutup mata Om, dan memalingkan wajah.! Terseraaahh"



Mikaila benar-benar kembali bergerak. Ia akan membuka bajunya. Rain kaget dan lekas menoleh membelakangi Mikaila. Bahkan Rain langsung menutup matanya kuat. Dalam hati ia terus mengumpat.



Mikaila tersenyum senang. Ia bahkan menahan tawanya yang rasanya ingin meledak, akhirnya ia bisa mengalahkan Rain.



'*Kenapa ide ini tidak pernah terpikirkan oleh ku sebelumnya.? hi hi*.!' Mikaila tertawa dalam hati.



"Sudah.!" Ucap Mikaila yang telah usai mengenakan Mini Cardigannya.



Model mini Cardigan Mikaila yang ia pakai hanya memiliki satu kancing pengait di bagian dadanya. Sehingga bagian perut Mikaila terekspose sempurna.



Rain tak meliriknya lagi sama sekali. Ia kembali menjalankan mobil dan fokus ke jalan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Arend yang meminta bantuan Zid telah selesai memeriksa semua yang ingin ia buktikan. Tak ada kebohongan maupun kejanggalan. Semua nya fakta dan asli.



Arend bahkan membrowsing sendiri tentang amnesia yang kini ia alami. Dan dia harus berusaha menerimanya. Meski tak satupun masuk di akal dan tak satupun bisa ia ingat.



"Baiklah Arend. Ini sudah terlalu malam. Aku akan balik, kau istirahatlah dulu. Semua urusan *N~A Cell* bisa aku kendalikan. Besok siang aku akan kemari, untuk mengajarimu semua tentang perusahaan yang kamu lupakan. Semoga ingatanmu lekas kembali.!"



Arend mengangguk. Mereka berdua keluar dari kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.



Zico dan Meldy sudah tertidur di karpet lantai. Syeira masih terjaga. Ia duduk melamun berada di tengah-tengah antara Zico dan Meldy yang tertidur. Kedua lutut Syeira sejajar dengan dadanya. Dan tangan Syeira merangkul kakinya.



Arend menghentikan langkahnya saat melihat Syeira dalam posisi seperti itu. Syeira menatap kosong kedepan. Raut wajahnya tersirat kesedihan yang mendalam.



'*Apa benar yang di katakan Zid. Kalau aku sangat mencintai gadis itu.? Tapi kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya*? *Ck*.?'



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...