LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 65





Mereka membicarakan hal serius mengenai penyerangan yang terjadi waktu itu, dan Rain mengatakan jika dia telah membereskan semuanya. Tapi masih ada satu yang tersisa. Ia belum sempat memainkan mainannya yang kini berada di ruang bawah tanah.



Rain menawarkan pada Arend untuk melihat dirinya memainkan mainannya itu jika Arend bersedia. Syeira hanya mendengarkan tanpa begitu mengerti apa yang di maksud oleh Tuan Bos Mafia ini.



Arend berdecah.



'*Iiisshh*.' Arend sudah bisa membayangkan permainan seperti apa yang di maksud oleh Rain.



"Aku mau melihatnya. Aku sendiri yang akan membalaskan dendam Papah.!"



Mikaila berbicara, melihat ke arah Rain yang justru memalingkan pandangannya dari Mikaila. Rain tersenyum sinis.



'*Bocah ini.? Yang selalu pingsan dimana-mana*.!'



"Jangan konyol, Kei. Kamu tidak sedang berada di taman bermain anak-anak sekarang.!"



Arend berusaha memberi tahu Mikaila. Tapi Mikaila tidak peduli, dia begitu ingin membalaskan dendamnya.



"Kenapa Arend.? Kau takut.? Yang menjadi target mereka adalah Papah Aryan. Bukan Papahku.?" Mikaila berteriak yang menyulut emosi Arend karna dengan kata lain Mikaila berharap jika Aryan Papah nya lah yang mati, bukan Aaron papah Mikaila.



Arend sudah berdiri penuh amarah. Syeira lekas berdiri dan memeluknya.



"My L.? Please.? Don't.!"



Syeira berbisik di ceruk leher Arend. Arend kembali duduk dan tenang. Mikaila yang melihatnya mengangkat sebelah bibirnya merasa *jijik* dengan sikap Syeira yang sok mesra di depannya.



Mikaila pun menenggak sebotol wine yang ada di atas meja, minuman itu di sediakan untuk Rain. Bahkan sudah ada bekas bibir Rain disana. Tapi Mikaila yang tengah emosi tidak peduli. Ia menenggak minuman dalam botol itu dengan gerakan cepat.



Rain membulatkan mata, ingin rasanya marah tidak terima minumannya di ambil sembarangan. Tapi ia akhirnya menyerah dan membiarkan saja. *Gadis ini tengah sedikit gila* pikir Rain.



Arend memalingkan muka, membiarkan Mikaila.



"Kei.? Sudah.!" Syeira berusaha menghentikan Mikaila.



"Bawa aku kesana, Tuan Rain. Tunjukkan padaku orang yang sudah membunuh Papahku.!" Mikaila berdiri setelah menghabiskan minumannya.



Rain menatap Arend yang juga menatapnya. Mereka seakan saling berbicara telepati.



'\**Gadis ini menyebalkan*.'



'*Dia menyusahakan*.'



'*Dia memang berani*.'



'*Tapi bertindak sembarangan. Dan tidak berpikir panjang*\*.!'



Rain dan Arend berdiri bersama. Syeira dengan raut muka b0d0hnya ikut berdiri.



Rain berjalan terlebih dulu. Lalu mereka mengikuti, Cen yang berdiri tenang tidak jauh dari mereka sejak tadi ikut melangkah di belakang Arend dan Syeira. Sedangkan Mikaila berjalan seorang diri di belakang Rain.



Mereka memasuki ruang bawah tanah, Ruang eksekusi. Ini tempat paling ter menyeramkan yang ada di Mension Rain, tempat rahasia yang tertutup, gelap, pengap, Panas, dan bau anyir darah sangat menusuk hidung.



Beberapa anak buah Klan Cosa membungkukkan badan setiap Rain melewati mereka.



Rain duduk di kursi kayu. Dia mengeluarkan sebatang Rokok, Cen memantikkan apinya.



Syeira, Arend dan Mikaila berada di belakang Rain berdiri berjejer.



Tangan Syeira terasa dingin, Arend menyadari itu. Ia lantas merengkuh tubuh istrinya mencoba memberikan rasa aman. Sikap Arend yang begitu hangat pada Syeira Menarik perhatian Mikaila. Membuatnya sakit hati karna cemburu.



*Kenapa Arend yang begitu dingin bisa begitu cair dan hangat saat bersama dengan Syeira.? Bahkan dirinya yang mengejar Arend secara terang-terangan semenjak masih kecil sama sekali tak memiliki kesempatan. Arend tak pernah melihatnya*.



"Bawa dia.!" Rain memberikan perintah.



2 Anak buah Rain yang bertubuh tinggi besar berkulit hitam dan salah satunya botak, datang dengan menyeret Matteo.



Kondisi pria itu sangat memprihatinkan. Matanya biru dan bengkak, darah keluar dari hidung, ujung bibir, dan pelipisnya. Wajahnya babak belur, bahkan darah segar itu masih menetes membasahi lehernya yang basah karna keringat.



Tubuhnya yang hanya berbalut Bokser juga nampak lebam-lebam. Jelas dia telah mengalami penyiksaan.



Syeira menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Arend. Ia tidak tega melihat Matteo dalam keadaan seperti itu. Itu sangat mengerikan.




Rain berdiri. Menepis halus tangan Mikaila yang mencengkeram pundaknya. Ia lantas mengambil sebuah tongkat besi.



Syeira dan Mikaila melihatnya.



'*Apa yang akan dilakukannya sekarang*.?'



Arend hanya diam menatap lurus dengan raut muka yang datar.



*Benar yang dikatakan Mikaila. Aryan adalah target sesungguhnya. Dan jika mereka berhasil membunuh Papahnya, pasti saat ini adalah hari yang sangat berduka bagi Mamahnya Ayla*.



Arend sudah melihat dulu bagaimana Aunty Ineke yang begitu sedih kehilangan Dion, hingga butuh waktu berbulan-bulan untuk menyembuhkan kesedihannya.



Dan bahkan Tuan Rain, setelah kehilangan Aunty, sampai saat ini luka di hatinya masih belum juga bisa di sembuhkan. Tak ada obat untuk luka kehilangan orang yang di sayang.



"Katakan padaku, putri Aaron.! Apa yang harus aku lakukan padanya untuk membalas kematian Papah mu.? Atau kau yang ingin melakukannya sendiri.?"



Rain berbicara sumbang pada Mikaila. Ia berjalan pelan mengitari pria yang sudah tak kuat untuk berteriak itu. Selama dalam sel Penjara Cosa. Matteo terus di hajar.



Tongkat besi yang Rain pegang ia seret di lantai hingga menghasilkan bunyi yang terdengar mengerikan.



"My L.?" Syeira menatap takut ke arah Arend.



"Jangan takut, ini adalah dunianya.! Sama sepeti kamu yang menjalani hidupmu di duniamu, Anggap saja jika Tuan Rain saat ini adalah seorang wartawan yang menggali informasi untuk memuat sebuah berita.!" Ucap Arend sebisanya menenangkan Syeira yang takut.



Syeira menggeleng berkali-kali, apa yang dilihatnya saat ini begitu nyata, bagaimana dia bisa membayangkan yang lainnya.?



Mikaila mendekat. Ia berdiri di depan Matteo.



"Apakah nyawa itu sebuah mainan untukmu.? Hingga dengan tega kau menyuruh orang-orang untuk membunuhnya.?"



Mikaila berteriak meluapkan emosi.



"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan padamu untuk membalas kan dendam Papahku.?"



Mikaila menangis sejadi-jadinya.



"Bahkan meski nyawamu kuhabisi, itu tidak akan bisa mengembalikan Papahku kembali kedunia ini. Apa kau tahu bagaimana penderitaan hatiku.?"



Mikaila terus berteriak. Dan Matteo hanya diam menunduk. Ia sudah diambang Kematian. Raganya sudah hancur karna pukulan demi pukulan penyiksaan yang di berikan oleh anak buah Rain.



Mikaila berdiri dan meraih senjata api Rain di saku celananya dengan gerakan seperti memeluk tubuh Rain. Mikaila sudah mengincar senjata api itu sejak tadi.



Arend dan Syeira membulatkan mata. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Mikaila akan membunuh orang.?



Rain merebut paksa senjatanya dari tangan Mikaila, ia tahu, sekali darah mengalir di tangan, selamanya tangan itu ternoda. Rain tidak bisa membiarkan Mikaila yang tengah diliputi amarah akan mengotori tangannya hanya demi b4j!n94n berandal seperti Matteo.



"Berikan padaku.?" Teriak Mikaila pada Rain.



"Dan kau akan menjadi pembunuh sama seperti kami.?"



"***Dooorr***.!"



Rain membalas teriakan Mikaila padanya. Bersamaan dengan tangannya yang memegang senjata ia tembakkan tepat di kening Matteo tanpa menoleh ke arah titik sasaran. Karna mata Rain menatap tajam mata Mikaila yang juga menatapnya.



Rain mengakhiri permainan dengan cepat.



Semua orang membulatkan mata melihat Matteo yang sudah terjatuh di lantai. Matanya melotot, darah segar keluar dari keningnya.



Syeira memasukkan wajahnya semakin dalam ke dada Arend. Sedangkan Mikaila tubuhnya melemah, dan jatuh pingsan. Rain menangkapnya sekali lagi.



'*Dasar Gadis Pingsan*.!'



Rain mengangkat tubuh Mikaila menggendongnya seperti karung beras keluar dari tempat itu. Rambut panjang Mikaila yang tergerai mengayun seirama dengan gerak langkah Rain.



Arend menggandeng tangan Syeira untuk turut keluar dari tempat itu.



"Bersihkan semua ini.!"



Perintah Cen pada Para anak buah Cosa yang dibalas dengan anggukan kepala.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...