LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 112





Rain dan Mikaila berpamitan, hari sebentar lagi gelap. Dan Mikaila sudah mengantuk karna seharian tidak tidur siang.



"Cepatlah sembuh.!" Ucap Rain pada Arend sebelum ia melangkah keluar.



"Aku tidak sakit.!" Jawab Arend yang membuat Rain tersenyum sinis.



"Kami permisi dulu, Syeira. Zico.!" Mikaila memeluk Syeira lalu bergantian pada Zico.



"Apa kau pernah mengingat aunty ku.? Apa kau pernah merindukannya.?" Tanya Arend pada Rain yang sontak membuat semua orang terdiam.



"Seperti paru-paru ku yang bernafas, dan sepeti jantungku yang berdetak. Setiap saat itulah aku merindukannya.!" Rain menjawab dengan tulus. Mikaila justru ingin tertawa mengejek. Ia memang tak tahu kisah tentang mereka secara pasti.



Setahu Mikaila, Aunty Ineke mereka meninggal bunuh diri, dan itu karna Rain. Jelas itu membuat Mikaila ingin tertawa mendengar Rain yang berbicara seolah ia benar begitu mencintai mendiang sang istri.



"Baiklah, kami pergi dulu. Jaga Arend dengan baik.!" Rain mengelus bahu dan rambut Syeira. Syeira membalas nya dengan tersenyum manis.



Hati Arend kembali terasa nyeri. Tapi kali ini dia memilih diam. Zico selalu mengatainya cemburu saat ia mengungkapkan rasanya yang tidak suka orang lain menyentuh Syeira. Dan itu membuat Arend semakin bingung, bagaimana dia bisa cemburu pada orang yang bahkan tak di kenalnya.



Pintu kembali di tutup. Zico kembali duduk di karpet ruang tamu. Ia menyalakan tv. Sekarang yang di putar adalah film horor Thailand.



Arend duduk di salah satu sofa yang dekat dengan dinding. Dan Syeira masih berdiri.



"Mau makan apa buat makan malam.?" Syeira bertanya pada Zico dan Arend.



Arend hanya diam. Ia tak menatap Syeira sama sekali. Arend membaca buku komik yang tergeletak di atas meja.



"Kau mau masak.? Ku mohon jangan, tidak usah repot-repot. Aku akan pesan go food saja nanti.!"



Syeira pun kembali duduk di sebelah Zico. Ikut menonton bersama.



"Baiklah.!"



"Apa kau benar-benar sudah menikah.?" Arend menutup bukunya dan bertanya serius pada Zico.



Zico lekas berdiri. Ia meraih ponselnya di meja lalu memainkannya.



"Lihat. Bahkan kau yang menjadi saksi pernikahan kami.!"



Zico memberikan ponselnya pada Arend. Lalu Arend kembali duduk.



Arend melihat foto-foto dan video di galery Zico. Setiap momen yang di abadikan di ponsel Zico selalu ada gambar Syeira pula disana. Bahkan tak jarang, dalam gambar gambar dan video itu. Arend yang menggandeng tangan Syeira. Memeluk tubuhnya. Dan menatap Syeira penuh cinta. Tapi Arend masih tak bisa mengingatnya.



"Namanya Cellin. Gadis cantik, manis, imut, shalehah, baik, penurut, ngegemesin.?"



"Dimana dia sekarang.?" Arend menyela pembicaraan Zico yang terus beruntun tanpa jeda.



'*Sebegitu cintanya kah Zico pada gadis ini.? Apa dia sudah berhenti menjadi pria Cassanova*.?'



"Siapa.? Istriku.? Dia sudah di surga. Kau terlambat datang saat pemakamannya, dan kau mengalami kecelakaan saat hendak pergi ke Rumah Sakit untuk menemuinya.!" Zico mengucapkan kalimatnya dengan nada yang ringan. Tapi Syeira selalu menatapnya dalam. Zico menyembunyikan semua kesedihannya di depan orang.



'*Jika ingin menangis.? Kenapa tidak menangis*.?'



Mata Zico yang menatap lurus pada layar tv sudah berkaca, bahkan beberapa kali dia menelan salivanya kasar. Dadanya terasa sesak.



"Kenapa dia bisa meninggal.?" Arend masih fokus dengan ponsel Zico.



"Oh...\_?? Sayangku.? Tolong kau maafkan Kakak ipar-mu ini. Dia tidak sengaja melupakanmu. Dia hanya sedang sedikit pikun saat ini.?" Zico kembali bertingkah konyol. Berteriak sambil mendongakkan kepala seakan Cellin berada di atasnya.



'*Iiisshh*.!'



"Aauuwwh.? Ponselku.? Aaahh.? Kau bisa merusaknya lagi, kau ini. Selalu saja membanting ponsel ku.!"



Karna kesal Arend melempar ponsel Zico ke hadapannya, dan ponsel Zico jatuh di pangkuan paha.



"Dimana laptop ku.?"



"Masih di bawa Zid. Nanti juga dia pasti akan datang mengirimkannya. Dan itu laptopmu yang baru. Kau sudah membuang yang lama.!"




'*Gadis ini pendiam sekali. Bagaimana aku bisa menikah dengannya.? Apa kami pernah saling berbicara sebelumnya.? Apa aku dan dia di jodohkan.? Atau dia menjebak ku.? Aku harus mencari tahu semuanya. Bisa saja semua foto dan Video itu hanyalah editan*.!'



\**Ting,,, Tong*..!\* Bunyi bel apartemen Arend. Seseorang datang.



Syeira dan Zico saling menatap. Syeira nyengir kuda. Dan Zico berdecak kesal. Ia tahu apa itu maksudnya. Arend masih terus melihat Syeira.



'*Kenapa dia terlihat akrab dengan Zico.? Apa ini sebuah konspirasi*.?'



Zico sudah berdiri akan membuka pintu.



Syeira tiba-tiba menoleh pada Arend dan mendapati Arend yang memperhatikan dirinya. Arend kaget, ia lekas menoleh memalingkan muka melihat kearah lain. Arend bahkan terlihat gugup.



Syeira tersenyum kecil. Hanya dengan di lihat Arend secara intens seperti itu Syeira sudah merasa senang.



"Kami datang.?" Lagi-lagi Meldy menabrak tubuh Zico saat ia memasuki apartemen Arend, hingga tubuh Zico terhuyung.



Zid melangkah sambil tersenyum lalu menepuk bahu Zico yang badannya sedikit menunduk karna di tabrak Meldy.



"Meldy.? Kok gak bilang-bilang kalau mau kesini.?" Syeira sangat senang Meldy datang ke tempatnya. Mereka berpelukan mesra dengan gaya Meldy yang centil, ceria. Rame. Dan manja. Paket lengkap sebagai wanita genit.



Arend memicingkan mata begitu tidak suka melihat Meldy yang datang dengan gaya yang.? *Nyentrik*.



'*Iissh*.!'



"Aaahh.? Kan sudah aku bilang.? Kalau kesini gak usah bawa-bawa.?"



Meldy menenteng beberapa paper bag dengan logo brand makanan terkenal.



"Buat makan malam bersama.!" Jawab Meldy.



Syeira menerimanya, ia lantas berjalan menuju meja makan untuk menaruh paper bag berisi makanan yang Meldy bawa.



"Tuan CEO.? Bagaimana kabarmu.?" Dengan begitu santai Meldy bertanya pada Arend dengan nada suaranya yang ceria.



Arend menoleh ke arah mereka. Dia merasa bingung. Meldy, wanita yang tak di kenalnya mengajaknya bicara dengan sok akrab. Dan semua orang menatap Arend diam.



"Aaahh.? Dia sudah baik. He he he.?" Syeira yang sudah kembali menjawab. Lalu menarik tubuh Meldy untuk ikut duduk dengannya.



"Apa dia masih tidak bisa mengingat semuanya.?" Meldy berbisik di telinga Syeira. Tapi kasak-kusuknya bisa di dengar oleh semua orang.



"Sssuutt.!" Tanggapan Syeira meminta Meldy untuk tidak membahas.



Zid melangkah ke hadapan Arend. Ia sudah membawa semua barang-barang Arend. Ada laptop. Ponsel. Jam tangan. Dompet. Baju. Dan lain-lain dalam satu kopernya yang kemarin.



Arend mengernyitkan kening, ia tak merasa mengenali koper yang dibawa Zid. Tapi ia ingat jika kini ia dinyatakan telah mengalami amnesia. Jadi Arend menerimanya begitu saja.



Arend berdiri. Ia akan membawa kopernya kedalam kamar, ada yang ingin ia kerjakan secara pribadi di sana seorang diri.



"Biar aku saja yang merapikan. Kau jangan terlalu lelah.!" Syeira cepat berdiri dan hendak mengambil alih koper yang Arend bawa.



"Stay away, from me.!" Ucap Arend tegas menghentikan langkah Syeira. Dan sontak Syeira langsung berhenti. Arend pun kembali bergerak masuk kedalam kamarnya dan membawa koper yang di berikan Zid tadi.



Syeira menatapnya nanar. Hatinya sakit karna Arend terus saja menolaknya.



"Aaaiihhh.? Apa itu Syeira..? Arend bersikap seperti orang asing padamu, meski ia telah diberitahu jika kalian ini sudah menikah.? Keterlaluan.? Dan ini.? Apa ini.? Kenapa kau hanya diam saja.? Hajar dia.? Beri dia pelajaran.? Seenaknya saja mencampakkan seorang istri dan bersikap seperti itu.!"



Meldy ngedumel tiada habisnya. Dan Syeira hanya diam. Bagaimana Syeira bisa bersikap seperti yang Meldy katakan padanya. Bagaimana dia bisa menyalahkan Arend.? Syeira yakin jika Arend nya pun akan merasa sedih saat tahu ia kehilangan memory dan memperlakukan dirinya sepeti sekarang ini.



'*Aku tidak mau, Ra.? Aku tidak mau di operasi lagi. Aku tidak mau kehilangan ingatan-ingatanku tentang kalian semua. Aku tidak mau melupakan orang-orang yang kucintai dan juga mencintaiku. Itu pasti membuatku tersiksa. hiks hiks hiks*'



Suara Cellin yang begitu takut dengan efek samping operasi lanjutan jika sampai amnesia kembali menggema di telinga Syeira.



'*Aku akan bersabar, mungkin ini adalah ujian cintaku padanya. Akan aku buktikan jika cinta itu berada dalam hati. Bukan dalam otak*.!'



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...