LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Bab 27



"Mmm tadi aku mau beli apa aja ya".gumam si gadis bermata sipit di salah satu minimarket yang cukup jauh dari kompleks rumahnya, yah Aina Khanza Brahmana.


Ia pun langsung memasuki minimarket tersebut dengan senyuman ramah kepada setiap orang yang ia lewati. Sikap ramahnya itu tak hilang dalam dirinya meskipun sekarang ia sudah di angkat sebagai anak dari keluarga terpandang karena baginya kekayaan yang di miliki di dunia itu hanya titipan sementara dari Tuhan kepada hambanya.


Setelah memilih beberapa barang keperluannya ia pun langsung menuju ke kasir. Yah cukup banyak pengunjung hari itu di minimarket tersebut. Aina tak segan untuk mengantri di minimarket itu padahal bisa saja ia memesannya di rumah.


"Semuanya Rp250.950,00 mbak." Ucap kasir tersebut setelah menghitung belanjaan gadis itu.


"Ini mbak." kata Aina menyerahkan kartu kredit nya.


"Terimakasih. Silahkan datang kembali." Kata Kasir itu.


Aina pun hanya tersenyum membalasnya dan langsung segera keluar dari minimarket itu.


"Mana sihh." Ucap Aina sembari matanya terus menulusuri.


Yah ia menunggu sopir kepercayaan papahnya untuk menjemput dirinya. Suasana yang mulai menunjukkan warna gelapnya membuat Aina ingin segera berlari menuju halte bis. Tapi ia mengingat kembali bahwa sopir tersebut mungkin saja masih dalam perjalanan.


Tak sengaja matanya menangkap sesosok pria tampan yang baru keluar dari sebuah toko. Ia sangat mengenali pria itu yang sedari kecil bersama dirinya. Tersirat rasa rindu yang berat ketika melihat pria itu.


"Kak Revan?Ngapain dia di daerah sini." Ucap Aina pelan.


"Kak Revan..." teriak Aina.


Pria tersebut tak mendengar panggilan itu dan langsung bergegas meninggalkan toko yang di datanginya.


Hampir sekitar 10 menit menunggu akhirnya sopirnya pun datang. Namun Aina lebih memilih berlari ke arah pria yang di panggilnya tadi.


"Non... mau kemana" teriak sopir tersebut heran.


"Aku pulangnya naik bis aja pak. Bapak duluan aja." Jawab Aina yang langsung berbalik meneruskan langkahnya.


Sampai di depan toko tempat pria tampan tadi keluar, langkah kakinya terhentih. Matanya tak sengaja menangkap benda pajangan di dalam toko tersebut. Bukan hal yang mencekam ataupun berbahaya. Tampak di luar toko dengan jelas tertulis "Toko mainan". Hati Aina kembali bertanya ada apa semua ini. Dia sangat mengenal kakak kandungnya itu. Revan Alexndra Leonardo bagi Aina merupakan pria tegas yang sangar dan membenci anak kecil. Apakah ia mendapat seorang adik baru? Akkhhggthttt... hal itu baginya tak mungkin. Ia terus saja menerka namun tak menemukan jawaban apapun.


"Taxi..." teriak Aina melambaikan tanggannya.


"Ikuti taxi di depan pak." Ucapnya memberi perintah.


Sekitar 30 menit di dalam mobil, dimana hatinya terus bertarung melawan pikiran. Kemana kakaknya itu mengarah. Apa yang akan dia lakukan. Hal itu terus saja tertancap di otak Aina. Putaran roda mobil itu pum terhentih di depan sebuah rumah.


"Makasih Pak. Ambil aja kembaliannya." Ucap Aina yang langsung keluar dari mobil tersebut.


Sekarang ia berada di depan sebuah rumah tua yang tampak usang. Di depan rumah itu banyak termpapang jelasTentu saja terbesit lagi rasa tanya di hati Aina.


"Kak Revan....


..." teriak anak-anak itu yang langsung memeluk pria itu.


ia berada di depan sebuah panti asuhan. Tentu saja terbesit lagi rasa tanya di hati Aina.


Dari jauh Aina mengamati hal itu. Sesuatu yang sangat sulit ia percaya. Tampak jelas anak-anak tersebut sangat mengenal kakaknya. Senyum lebar terlihat dimuka kakanya itu. Seakan ia ingin merekam peristiwa langkah tersebut.


"Kakak bawa robot-robot kan buat aku." Ucap seorang anak laki-laki.


"Bawa dong." Jawab Revan sambil mengacak rambut anak itu.


"Yah udah kita masuk dulu yah." Sambungnya sembari menggendong anak itu.


"Bu.. kak Revan datang." Teriak anak di dalam panti tersebut.


"Revan..." ucap seorang wanita paruh baya.


"Iya bu. Ini baru ada kesempatan lagi. Sibuk banget kuliah." Jawabnya sambil membagikan mainan yang di bawahnya tadi.


"Yah udah kalian main dulu yah." Ucap Revan kepada anak-anak itu.


Wanita paruh baya itu hanya bisa tersenyum melihat perilaku pria muda di hadapannya. Tampak jelas raut wajahnya sangat mengenal pria tersebut. Yah dia adalah bu Marwa, pemilik panti tersebut. Seseorang yang sangat mengenal keluarga Leonardo terlebih Revan. Dia penyimpan segala rahasia dari kelam masa lalu keluarga itu. Dia kemudian mengambil sebuah pigura di dalam kamarnya.


"Revan ini punya ibu mu. Kau boleh membawanya." Kata wanita paruh baya itu sambil menyerahkan sebuah pigura.


"Aku kan udah bilang aku ngak bisa bawa ini keluar dari panti ." Ucap Revan tak ingin mengambil pigura tersebut.


"Nak... peristiwa itu sudah lama berlalu. Jangan buat dendam mengubah pribadimu." Kata wanita paruh baya itu.


"Bu... aku masih anggap dia hidup. Setiap kali aku berkunjung kesini sama aja bagi ku aku melihat dia." Ujar Revan dengan mata berkaca-kaca.


Di luar panti tersebut Aina mendengar dan melihat. Ia tak dapat mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya. Hatinya hanya bisa bertanya siapa di pigura itu sampai ia melihat raut wajah sedih yang terpancar di wajah kakaknya.?


"Lagian ibu tau sendiri. Kalo aku bawa itu aku mau letakkan dimana.?" Sambung Revan.


"Nak... terima semuanya. Kejadian itu sudah lama berlalu. Ibumu tak mengajarkan mu dendam. Jika dia masih hidup dia pasti akan marah dengan sikap mu." Kata bu Marwa.


"Ha??Hidup?ibu? Apa semua ini?Bukankah sudah jelas kak Revan itu saudara ku. Apa yang tersembunyi di keluarga ini?Gumam Aina di hatinya.


Gadis cantik itu terus saja mengamati percakapan mereka. Ia ingin mengetahui segalanya.


"Apa kau lupa?Rita Leonardo adalah seorang ibu yang baik bagimu. Bahkan dia menyanyangimu lebih besar dari anak kandungnya sendiri yah itu Aina adik tirimu. Dia memang jahat tapi ia menebus semua itu dengan kasih sayangnya kepadamu Revan." Sambung bu Marwa


"Adik tiri? Apa lagi ini?hiks... hiks..." ucap Aina pelan dengan tangisannya yang tak tertahan.


"Dia wanita pembunuh.!! Dia baik kepada ku hanya karena aku laki-laki. Dia membenci anak kandungnya sendiri karena dia tidak terima anaknya seorang perempuan. Dia masih sama tak berubah sekalipun. Dia hanya wanita yang gila akan harta." Sergah Revan tak bisa menahan emosinya.


"Revan sadarlah ibu mu tak pernah membenci orang yang jahat kepadanya. Bahkan karena dendam, kau melampiaskannya kepada orang yang tak bersalah yah itu Aina." Balas bu Marwa mencoba menyadarkan Revan.


Selama ini bu Marwa tau ia bersalah. Ia mengetahui segalanya namun tak berbuat apapun. Sekarang, satu-satunya yang bisa ia perbuat adalah menyadarkan putra kesayangan sahabatnya itu. Yah, Stevania Anggun Leonardo adalah seorang wanita yang telah melahirkan putra yang tampan, Revan Alexandra Leonardo. Dia merupakan perempuan yang bertutur kata lembut. Dia mengajarkan kepada anaknya untuk selalu berbagi dan menyanyangi anak yatim. Pemilik panti tersebut merupakan salah satu sahabatnya sedari masa SMA.


"Apa kau tau? Jika kau terus begini kelakuan mu tak jauh berbeda dengan Rita. Kau sama orang jahat. Berubahlah Nak. Sadarlah. Apa kau tak merasa kasihan dengan saudara tirimu yang terus kau tindas. Padahal dia tidak tau apa-apa. Kau tau ibunya tak menyukai gadis itu. Tapi mengapa kau tidak membelanya. Apa kau merasa senang ketika gadis itu tertindas?Apa kau merasa dendam mu terbalas? Tidak Revan!!. Bagi Rita tak ada pengaruh jika kau menyakiti anaknya. Dia tidak perduli akan kelakuan mu ataupun apa yang di rasakan anaknya. Kau tau kan bagaimana dia. Sekarang aku tanya kepadamu nak. Apakah pernah ibumu membenci Rita.?" Ujar bu Marwa.


Revan hanya terdiam dengan air mata yang mengalir mendengar kata-kata tersebut. Kepalanya seperti di benturkan di tembok. Ia mengingat semua peristiwa masa lau yang ada. Ibunya tak pernah mengajarkanya hal keji ataupun kekerasan. Hatinya berkata ia salah. Ia ingin menemui ibunya dan meminta maaf akan perbuatannya. Selama ini dia bodoh menuruti dendam.


"Bu... maafkan Revan hiks... hiks... Revan salah bu..." ucap Revan yang langsung terduduk ke lantai.


"Revan minta maaf bu... Revan mau ketemu... Revan sendiri disini... Revan takut bu..." sambungnya.


Aina tak tahan melihat peristiwa di hadapannya itu. Dia mulai tau bahwa dalang semua itu adalah ibu kandungnya sendiri. Ia melihat sorot penderitaan yang terdalam di wajah kakaknya. Ia sadar kakaknya lebih menderita dari pada dirinya. Bahkan dia tak bisa menyebutkan nama ibu kandunya di depan semua orang. Kakaknya menyimpan rapat semua masalah itu tanpa ada satu orang pun yang tau.


Kaki Aina memberanikan diri untuk maju memasuki panti itu. Dia tak tahan melihat air mata yang terus tertumpah di mata Revan.


"Kak...." suara seorang gadis memotongnya. Sorot mata mereka berdua beralih ke gadis di pintu tersebut.


"Aina" ucap Revan kaget.


"Kak... maafin Aina... maafin ibu Aina..." kata gadis itu mendekati Revan.


"Apa kau Aina? Tanya bu Marwa.


"Iya saya Aina. Saya tadi melihat kak Revan keluar dari toko mainan. Dan saya mengikutinya sampai disini." Ucap Aina.


"Yah sudah... Revan...ibu berpesan kepadamu. Hentikan dendam itu nak. Kau melampiaskannya kepada orang yang salah. Dan ingatlah ibumu tak pernah mengajarkan hal jahat kepadamu. Dan ia sangat membenci hal itu. Bicaralah kepada adikmu" Kata Bu Marwa sambil menyerahkan pigura itu kembali kepada Revan.


Sedang pria tampan itu hanya terdiam sembari memegang pigura ibunya.


"Ibu masuk dulu Aina. Bicaralah di luar. Anak-anak juga sudah mau tidur." Sambungnya yang langsung meninggalkan mereka.


Di atas tempat duduk dari bambu tampak dua orang sedang terdiam. Mereka seperti di bungkam oleh bintang dan bulan. Hembusan angin dari pohon besar yang ada di sampingnya menambah suasana sepi malam itu.


"Apa kamu sudah mendengar semuanya.?" Tanya Revan memecah kecanggungan yang ada.


"Iya kak. Aina dengar semuanya. Maafkan Aina kak." Ucap Aina.


"Aina hanya ingin bertanya kak mengapa ini semua di rahasiakan.?" Sambungnya.


"Ayah membuat peraturan untuk tidak berkata apapun tentang ibuku." Jawab Revan.


"Maafkan Aina kak. Aina gak tau harus berkata apa lagi. Aina gak bisa bayangkan apa yang kakak rasakan." Kata Aina.


"Sudahlah Na... kita ini hanya korban dari kelakuan orang tua. Kita terbentuk menjadi pribadi yang tidak kita inginkan. Kadang kakak ingin pergi dari dunia menyusul ibu ku. Tapi... kakak ingat semua pesannya untuk bisa sukses dengan cara kakak sendiri." Kata Revan.


"Kakak yang harus minta maaf kepadamu. Kakak terlalu mengikuti dendam tanpa memikir perasaan mu." Sambungnya.


"Kak... apapun yang kakak lakukan sama aku udah ku maafkan. Aku gak tau harus berkata apa tentang ibu. Kenapa ibu sampai setega itu sama kita." Ucap Aina.


"Ibu belum bisa membuka pikirannya akan peristiwa yang terjadi. Karmanya akan perusahaan ayah yang bangkrut tak pernah ia sadari. Ia menganggap itu bukan karna perbuatannya tapi karna kelahiran mu yang dia anggap sial." jelas Revan.


"Sudahlah Na yang lalu biarlah berlalu. Kakak sadar akan perlakuan kakak salah kepadamu. Kita sama-sama saja mendoakan ibu supaya ia bisa cepat sadar." Sambung Revan.


"Aina juga minta maaf karena selalu salah menduga kakak. Iya kak semoga bisa cepat sadar." Jawab Aina.


Merekapun kembali terdiam mencoba merasakan udara di sekeliling. Tampak rasa lega terpancar di wajah mereka. Kedua saudara itu merupakan orang yang sama-sama tersakiti.


"Oh yah kak. Kalian udah pindah rumah yah soalnya.............


Ucap Aina.


*1 bulan yang lalu.


"Aku gak sabar mau tunjukin hasil kelulusan ini" ungkap seorang gadis.


Yah dia adalah Aina, ia berjalan di sebuah lorong yang dulu sering ia lewati. Dia menuju ke arah rumah kedua orang tua kandungnya. Rumah yang dahulu ia jadikan tempat pulang namun sangat mencekam baginya. Rumah tersebut dulunya bagaikan rumah hantu bagi dirinya namun, sangat ia rindukan


"Kok sepi yah... bu... bu... ini Aina bu. Buka pintunya bu." Teriak Aina di depan pintu rumah itu.


Tok... tok... tok...


" bu.. ibu ada kan di dalam." Ucap Aina.


"Orangnya udah pindah" teriak seorang ibu rumah tangga yang tak lain tetangga Aina dulunya.


"Pindah?Kalo boleh tau kemana yah ?" Tanya Aina.


"Saya juga gak tau. Mereka pindah gak ngomong-ngomong. Eee eee kau Aina kan anaknya Rita yang cewek itu?" Ucap ibu rumah tangga itu.


"Iya aku Aina. Kok ibu gak ngomong yah kalo mau pindah." Ujar Aina.


"Kemana aja kau Na. Kok saya baru lihat kamu.?" Tanya ibu rumah tangga itu.


Aina hanya terdiam tak tau ingin menjawab apa. Tak mungkin kan ia mengatakan bahwa ia telah di jual oleh keluarganya sendiri. Sangat mustahil hal itu ia lakukan.


"Diam aja Na. Kok kamu juga gak tau yah kalo keluarga mu pindah. Kamu kan anak mereka." Sambung ibu rumah tangga itu.


"Aaa... aku tinggal di rumah saudara ayah. Mungkin ayah lupa nelpon. Nanti aku telpon ayah tanya ke dia." Jawab Aina sambil terseyum paksa.


"Kalo begitu aku duluan yah bu... permisi..." ucap Aina berlalu meninggalkan rumahnya.


......nah gitu kak. Aku datang ke rumah udah dalam kondisi kosong. Aku juga bingung mau hubungin kalian pake apa. Nomor handphone kakak udah gak aktif lagi." Ucap Aina kepada Revan.


"Yah kami udah pindah. Seiring dengan usaha papa yang mulai maju lagi. Mana handphone kamu." Ujar Revan .


Aina pun langsung menyerahkan handphonenya itu kepada kakaknya.


"Nih... nanti kakak sms alamat baru kita." Ucap Revan menyerahkan handphone adiknya.


"Makasih yah kak." Kata Aina tersenyum.


"Gak usah makasih. Kakak juga gak ngasih kamu ice cream." Kata kakaknya terseyum.


"Iss kakak..." ucap Aina.


"Ini udah malam. Pulanglah. Rumahmu jauh juga. Tuh... mumpung ada taksi singgah depan panti makan bakso." Ucap Revan sambil menunjuk ke arah taksi tersebut.


"Emm... yah udah kak. Aina pulang yah." Kata Aina bangkit dari duduknya.


"Yah udah yok... kakak antar." Ucap revan yang langsung merangkul adiknya tersebut.


"Pak makan aja terus. Nih adik saya mau pulang. Antar dia pak. Awas aja bapak macam-macam sama dia. Ku hancurkan mobilmu." Ujar Revan kepada sopir taksi tersebut.


"Sipp aman den. Yuk neng naik." Ucap Sopir taksi itu.


"Kak aina duluan yah..." kata Aina dari balik mobil.


Sedang Revan hanya menjawabnya tersenyum sambil melambaikan tangan. Ia melihat mobil itu melaju perlahan menjauh darinya.


" Perjalanan waktu yang menempa diri dan kelam masa lalu yang menghantui. Terkadang itu membangun rasa dendam dan mengubah pola pikir seseorang. Tinggal bagaimana diri untuk membalasnya ataupun menjadikannya suatu pelajaran. Dan aku mulai sadar akan tingkah bodoh ku yang dikalahkan dendam." Gumam Revan dalam hatinya. Matanya menatap ke bintang seakan ingin menyuruh bintang tersebut menyampaikan permohonan maafnya kepada mendiang ibunya.