LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 49





Arend menutup mulut Syeira dengan mulutnya, ia lantas menautkan lidahnya dengan lidah Syeira, mengicip, mengulum, dan juga menggigit, Arend mengeksplor seluruh bagian dalam mulut Syeira.



Semakin dalam ciuman mereka, semakin membuat Arend merasa tidak puas. Arend ingin lebih dan lebih.



Tanpa disadarinya, tangan Arend sudah bergerilya, menelusuri punggung dan d4. d4 Syeira dengan sembarangan. Nafas mereka pendek-pendek dan tersengal. Menandakan libido mereka yang sudah meninggi.



"Ra.?"



Mata Arend dan Syeira saling menatap sangat sayu. Mereka berhenti saling bertautan dan hanya diam saling menatap dalam penuh cinta.



Malam ini akan menjadi malam yang panjang. Mereka akan menjadi satu, belajar saling memahami dan mengerti perasaan dan kebutuhan pasangan.



Mereka saling menatap cukup lama, cinta telah menghipnotis mereka berdua.



Arend kembali bergerak pelan, kini ia telah menutup tubuh Syeira dengan tubuhnya, Syeira menatap mata Arend lekat, sorot keduanya jelas terlihat sayu dan malu.



Arend kembali menciumi wajah Syeira, mulai dari kening, kedua alisnya, kelopak mata, hidung, kedua pipi Syeira, bibir, dagu, hingga Arend semakin kebawah dan mencium dalam aroma leher Syeira yang sungguh telah menjadi candu untuknya. Syeira hanya memejamkan mata menerima setiap perlakuan manis yang di berikan oleh sang suami tercinta.



Malam yang semakin larut, tak membuat mereka merasa ngantuk, Arend kembali menatap dalam mata Syeira, ia seakan memberitahu pada Syeira untuk bersiap-siap.



Arend pun akhirnya bergerak dengan sangat pelan melakukan penyatuan, Syeira mengernyitkan kening menahan sesuatu yang menyeruak kedalam tubuhnya yang membuatnya hampir menjerit karna rasa yang sangat sakit. Kedua tangan Syeira sampai mencengkeram sprei untuk menahan sakit yang teramat ia rasa.



Arend berhenti, ia tidak tega melihat wanita yang dicintainya sampai menitikkan air mata karna ulah nakalnya, Arend lantas menautkan kembali bibirnya pada bibir Syeira, mencoba memberikan ketenangan dan rasa nyaman pada sang pujaan hati.



Setelah Syeira lebih tenang, Arend kembali bergerak dengan sangat pelan, hingga Syeira mulai merasa terbiasa.



Arend terus bergerak maju dan mundur sebisa mungkin agar tidak menyakiti Syeira, ia terus melakukannya sampai mereka mendapat pelepasan mereka yang pertama.



"Aaaaahhh.! Hah, hah,, haaahh.!"



Arend menjatuhkan tubuhnya, ia merasa seluruh tenaganya habis tak bersisa, Syeira pun sama halnya.



Malam sudah sangat larut, dan mereka kembali melakukannya, lagi dan lagi, entah sudah berapa kali Arend dan Syeira saling berpacu dalam cinta, terus bergerak hingga pada batas kemampuannya.



"Aaaahhhhhhh.!"



Nafas mereka berdua sangat tersengal, Arend mengecup mesra kening Syeira, alis, kelopak mata, hidung, pipi, dan bibir Syeira. Ia mencurahkan seluruh cinta, kasih dan sayangnya pada Syeira yang tak lagi berdaya.



"Aku sangat mencintaimu, Syeira. sangat.!"



Bisik Arend pada Syeira tepat di telinganya. Mata Syeira sudah terpejam, ia tak mampu menjawab bisikan sang suami yang berlirih penuh Cinta, namun hatinya jelas merasa sangat bahagia. Syeira tersenyum manis lalu tidur dalam lelap.



Arend merengkuh tubuh Syeira membawanya kedalam pelukannya. Menghadap dirinya. Ia sendiri pun lantas memejamkan mata dan tertidur dengan hati yang sangat bahagia, bersama orang yang sangat di cintai nya yang kini berada dalam pelukannya. Mereka telah bersatu seutuhnya. *Happy Making*.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Cellin yang tengah menunaikan shalat subuh tiba-tiba merasa sangat sakit pada kepalanya, ia yang tengah berdiri membaca doa qunut terjatuh tak sadarkan diri setelah sakit yang ia rasa di kepalanya tak lagi dapat ia tahan.



Kakak ipar yang kebetulan lewat di depan kamarnya melihat Cellin yang sudah terbaring di atas sajadahnya. Pintu kamar Cellin setengah terbuka.



'*Kenapa Cellin tidur lagi.? Apa dia tidak tidur semalam*.?'



Kakak ipar Cellin pun masuk, mendekati sang adik ipar yang tak sadarkan diri lengkap masih menggunakan mukena.



"Lin.? Kok tidur lagi sih.? Katanya mau ikut Kakak ke pasar.? Lin.?"



Kakak ipar menggoyang tubuh Cellin pelan, berusaha membangunkannya, ia sangat kaget ketika melihat ada darah kental dari hidung Cellin, Cellin mimisan, dan terlihat sangat pucat. Bahkan tetesan darah itu ada yang menempel pada mukena Cellin.



"Cellin.? Allaahu Akbar.!" Kakak ipar berteriak histeris ketika melihat Cellin dalam kondisi seperti itu.



Ia lantas berlari keluar dari kamar, memanggil ibu dan sang suami, memberitahukan kepada mereka keadaan Cellin kini.



Semua jelas saja merasa panik, anak gadis mereka yang tiba-tiba pingsan dan terlihat sangat pucat sontak membuat seluruh keluarga menjadi panik, sedih dan takut.



Kakak ipar menghubungi Rumah Sakit, pihak Rumah Sakit segera mengirimkan ambulance untuk menjemput pasien. Cellin di larikan ke Rumah Sakit pusat kota.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Ayla sudah selesai membersihkan tubuh, ia hendak melaksanakan shalat subuh, Ayla lebih dulu membangunkan putranya Zico untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.




Ayla telah selesai menunaikan shalat subuh. Ia lantas keluar, giliran Zico yang bersembahyang.



Ayla mengetuk pintu kamar Syeira pelan, ia ingin memastikan jika anak dan menantunya sudah bangun.



"Sayang,,,.? Apa kau sudah bangun.?"



Arend bisa langsung mendengar suara mamahnya yang memanggil dari luar, beda halnya dengan Syeira yang kalau tidur sudah seperti orang yang pingsan.



Arend gelagapan, jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, dan dia belum shalat subuh. Arend semakin panik mendapati dirinya yang polos tanpa sehelai benang. Tapi pandangannya malah terfokuskan kembali pada Syeira yang terlelap dan tetap terlihat sangat cantik.



Arend membenarkan selimut menutupi tubuh Syeira, terdengar suara Ayla yang kembali memanggil dari luar.



"Arend.?"



Arend pun segera berlari ke kamar mandi mengambil handuk, ia melilitkan benda itu pada pinggangnya, Arend membuka pintu.



"Iya Mah.?"



Raut muka Ayla berubah seakan menelisik sang putra. Tapi ia lantas tersenyum merekah.



"Aaahhh, dasar pengantin baru. Sudah shalat apa belum.?" Tanya Ayla lembut sambil menggoda putranya.



"Segera Mah.!" Jawab Arend cepat.



"Jangan lupa, kamu juga harus membimbing istrimu, surga dan nerakanya ada pada pundakmu sekarang.!"



Ayla memperingatkan Arend yang memang dosa seorang istri itu juga akan jatuh pada sang suami jika tidak bisa membimbingnya.



"Iya Mah." Arend mengangguk patuh. Ayla melangkah ke dapur, ia akan memasak sarapan untuk anak-anaknya, sudah lama sekali rasanya Ayla tidak memasak untuk mereka, ia sangat bersyukur dan bahagia, kini kesempatan itu kembali ada, Meski ia harus menahan rindu untuk bertemu sang suami sebagai gantinya.



Arend kembali menutup dan mengunci pintu. Ia lantas mendekat ke ranjang, duduk di tepian, mengelus rambut Syeira, mengecup keningnya.



"Ra,,? Bangun.! Sudah pagi.!"



Arend berbisik di telinga Syeira, namun itu tidak berhasil. Istrinya ini benar-benar putri tidur. Arend pun dengan nakal menciumi kembali wajah Syeira, mencium aroma lehernya dan meninggalkan jejak disana.



Syeira merasakan adanya pergerakan pada tubuhnya, ia pun bergeliat memicingkan mata dan bangun dari tidur. Arend menatapnya sambil tersenyum simpul, sangat manis dan tampan. Cara itu cukup efektif untuk membangun kan sang istri.



"Selamat pagi.!" Ucap Arend lembut.



Syeira menatap jam di atas nakas, baru jam 5:15 pagi. Masih sangat pagi baginya.



"Selamat pagi.!" Jawab Syeira pada Arend.



"Mau shalat bersama.?" Arend mengajak istrinya dengan cara yang manis.



Syeira terdiam, *Bukankah itu hal yang sangat luar biasa.? Bisa shalat dan berjamaah bersama suami tercinta*?.



Syeira pun mengangguk antusias. Ia bangun dan hendak berdiri, namun di areanya terasa sangat sakit dan perih, ia sampai mengernyitkan kening menahan rasa sakit itu.



Arend tersenyum melihatnya, Syeira memukul perut Arend pelan sebagai balasan, jelas saja dia merasa malu.



"Aaauuwhh.!" Arend bereaksi seakan pukulan itu menyakitinya.



Syeira diam dan menunduk.



"Mau Ku gendong.?"



Syeira membulatkan mata mendengar ucapan Arend. Ia lantas mendongak cepat dan menggelengkan kepalanya berkali-kali.



'*Oh, ayolah....? Itu pasti akan sangat memalukan*.'



Syeira menolak, ia akan berusaha sendiri untuk masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri.



Arend melihat Syeira yang berjalan tertatih sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal. Arend tak lagi bisa menahan senyumnya kala melihat kondisi sang istri yang porak poranda akibat kejahatannya semalam. Ia bahkan hampir tertawa. Tapi itu semua karena cinta. Dan meninggalkan rasa yang teramat bahagia dalam raga dan jiwa.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...