
Barista itu sangat syok tentang kejadian yang ia alami. Dia terduduk di salah satu kursi cafe tersebut. Mulutnya tak bisa berkata-kata. Hanya rasa bingung yang ia rasakan tentang bagaimana cara dan kapan ia bisa melunasi hutangnya.
"Na, lo gak papa kn. Nih minum dulu".kata Natasha sambil menyodorkan segelas air. Sahabatnya itu tau betul apa yang sedang dirasakan Aina.
"Loh gak usah mikir apa-apa. Loh bisa bayar kapan pun. Gue juga bantu loh ikhlas Na." sambungnya.
"Makasih ya Sha."kata Aina lesu.
Natasha hanya menjawab nya dengan senyuman. Ia menyadari bahwa Aina terluka. Dia langsung menarik lembut tangan Aina meniupnya seakan mereka saudara.
"Pak Jonathan saya mau anda membawakan saya kotak P3K segera".teriak Natasha.
"Ini mbak Natasya kotak P3K nya."ucap Jonathan Froseor.
Gadis manis itu langsung mengobati luka yang ada di tangan Aina. Ia selayaknya dokter dadakan dan penghibur bagi Aina. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat siapapun yang melihat pasti tersenyum.
"Em.. nih udah siap. Sekarang udah bukan sif loh lagi kan. Gue antar loh pulang ok."kata gadis itu.
"Gak usah Sha. Aku bisa kok pulang sendiri." tolak Aina halus.
Dalam hati Aina, dia sama sekali tidak ingin merepotkan siapapun terlebih Natasha.
"Gak boleh nolak ok. Anggap aja ini cicilan hutang loh yang pertama."kata Natasha dengan penuh senyuman.
Aina hanya menganggung tersenyum mendengar permintaan sahabatnya itu. Mau tak mau ia harus menerimanya.
Dua gadis itu menikmati indahnya senja di atas mobil Lamborghini. Canda tawa terpancar jelas di raut wajah mereka. Iringan musik santai menambah suasananya.
"Udah sampe dah hahahah".ucap mereka serempak.
"Gue duluan ya Aina. Loh gak usah mikir apapun. Ok."tegas Natasya.
Senyum tipis yang hanya ia berikan kepada sahabatnya itu. Ia melihat mobil Lamborghini itu sudah menjauh dari hadapannya. Terukir satu kata yang sangat ingin ia keluarkan tentang betapa beruntung dan bersyukurnya masih ada yang bersifat bagai pohon beringin baginya.
"Makasih banyak Sha."ucap Aina di dalam hati. Dia pun langsung memasuki rumah sederhana milik keluarga Leonardo tersebut. Ia langsung menutup pintu kamar tanpa memperdulikan ocehan keluarganya.
Dinginnya malam seakan membalut tubuh Natasha. Mobil tersebut menembus heningnya suasana kota. Ia sengaja memelankan laju kendaraannya ketika memasuki komplek rumah elit tersebut. Mobilnya terhenti tepat di depan salah satu rumah mewah yang ada di kompleknya.. Itu bukanlah rumahnya. Dia hanya memperhatikan dari jauh seseorang yang sedari dulu ia kenal.
Seseorang yang mengingatkannya akan cinta tentang kejadian 10 tahun lalu
"Hiks..hiks.. hiks.."
Tangisan gadis kecil itu memecah
Keheningan taman tersebut. Entah mengapa gadis itu terus menangis. Tidak ada orang lain di sekitarnya. Hanya beberapa burung yang ikut mengingiringi.
"Kamu kenapa?suara anak laki-laki membuatnya terhenti. Kepalanya menengadah melihat sumber suara itu. Senyuman manis langsung terukir di wajahnya. Gadis itu langsung menghambur diri memeluk anak laki-laki yang ada di hadapannya.
"Ih.. kamu gak seru akh. Kamu kan belum cari aku".kata anak laki-laki itu.
"Heheheh... tapi sekarang kamu udah ketemu."jawab gadis kecil itu dengan polosnya.
"Kamu curang!."tegas anak laki-laki tersebut. "Gimana nanti kalo aku beneran pindah rumah. Pasti kamu nangis terus ahahah."sambungnya.
Gadis kecil itu langsung mencubit anak laki-laki tersebut. Ia menangis kembali ia takut semua hal itu akan terjadi.
"Ih udah Sha. Jangan gitu aku akan pulang kok."ucap anak laki- laki tersebut
Merekapun bermain di taman itu hingga menjelang sore. Tak ada kenangan indah yang lebih baik dari pada kesan masa kecil.
"Sha,nih aku ada kalung buat kamu. Ntar kalo aku udah besar aku akan beliin yang lebih bagus".kata anak laki-laki itu sembari mengalungkannya di leher gadis kecil tersebut.
"Aku juga bakal pulang kok Sha.Kata papa kami disana cuman bentar aja. Jadi jangan nangis lagi."sambungnya.
Ya mereka adalah Devan Syahputra Alinsky dan Natasha Putri Albert. Dua sahabat yang sedari bayi sudah bersama.
Ibu mereka sudah bersahabat sejak lama. Terlebih ayah mereka yang merupakan mitra kerja sama.
Devan dan Natasha di besarkan di keluarga konglomerat yang mempunyai segala hal. Mereka di didik bak putra putri kerajaan.
Namun beberapa hari yang lalu keluarga Alinsky memutuskan untuk kembali ke kampung halaman Mamah Devan ya itu Kota Makassar. Devan adalah blasteran Jerman-Makassar, mata biru yang ia miliki adalah warisan ayahnya. Sedang Natasha adalah penduduk asli Kota Jakarta.
Tentu saja itu membawa luka mendalam bagi Natasha dan maminya. Pertama kalinya Devan pergi dan meninggalkan Natasha entah sampai kapan ia kembali.
"Janji ya Dev. Aku mau kita nikah nanti kalo besar, kayak yang kamu bilang kemaren." tanya gadis kecil itu sambil menjulurkan kelingkingnya.
Ya sebait kalimat yang terus tercatat dalam pikiran Natasha.
Sekitar hampir 3 tahun anak laki-laki itu meninggalkannya. Ia masih sangat mengingat jelas semua kenangan itu. Setiap kali rindu itu datang hanya taman bermainlah tempatnya berkeluh kesah. Tempat dimana kenangan terakhir itu di buat.
Kepulangan Devan kembali ke Jakarta sama sekali tidak ia ketahui bahkan orang tua Natasha sekalipun. Tiga tahun berselang baru keluarga Albert mendengar kabar Keluarga Alinsky.
Tok...tok..tok..
Suara ketukan menyadarkan Gadis manis itu ia segera membuka kaca jendela mobilnya.
"Eh Natasha. Ngapain loh depan rumah gue. Ini udah malam. Pulang loh. Entar mami loh nyariin."ucap pria itu yang tak lain adalah Devan.
"Hehe apaan sih loh. Gue cuman singgah bentar. Ya udah gue pulang by by."jawab Natasha.
Ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang rasa bahagia merasuk dalam dirinya.
Trinkkkk!!!!...
Bel pulang berbunyi.
Di sebuah pojok sekolah tampak dua gadis yang sedang terduduk menikmati hangatnya kopi. Mereka menunggu hujan itu sedikit mereda.
"Eh Na. Loh tau gak tadi malam tuh gue seneng banget. Gue ketemu sama dia lagi." ucap Natasha.
"Emang siapa?tanya Aina
"Ih kepo hahahah." jawab Natasha girang
Natasha memang tidak pernah menceritakan kepada siapaun mengenai sang pangeran kecilnya termasuk Aina.
*Pengumuman!!
Untuk semua murid kelas Xll besok akan diadakan Masa TryOut sesuai dengan jadwal yang sudah di beritaukan sebelumnya. Bagi murid kelas X dan Xll tidak libur. Tetap mengikuti pelajaran seperti biasa.
Suara parau tersebut tak lain tak bukan adalah Kepala Sekolah SMA Jaya Putra.
"Na. Ntar gue mampir di cafe ya. " kata Natasha.
"Ih kamu aneh Sha. Itukan cafe ibu kamu kok nanya ke aku."jawab Aina.
Natasha hanya tertawa melihat kepolosan sahabatnya. Mereka pun bergegas pulang sebelum hujan itu kembali deras.
Suasana sore di tengah dinginnya angin selepas hujan memang cocok untuk menikmati si hitam.
Barista cantik itu sedang sibuk meracik kopi pesanan pelanggannya.
"Na. Ini udah bukan sip lo.Yuk gue antar pulang."tawar Natasha menggoda sahabatnya.
Aina hanya terseyum melihat tingkah manis gadis tersebut. Namun di lain sisi pikirannya harus mencari alasan yang tepat untuk menolak tawaran Natasha secara halus.
Tink *"aku udah di depan cafe. Cepat keluar Ainanya Devan."*
Sebuah pesan singkat dari kekasihnya
"Maaf ya Sha. Aku udah di jemput pacar aku".kata Aina
Wajah Natasha langsung sumringah mendengar hal itu. Ini kesempatannya mencari tau siapa pacar sahabatnya.
"Yh udah kalo gitu loh harus kenalin gue dong sama pacar lo haha." ucap Natasha.
Mereka pun menuju parkiran cafe tersebut. Aina langsung menghampiri kekasihnya bersama dengan sahabatnya.
"Dev, maaf aku telat hehe. Ngomong-ngomong aku mau kenalin kamu sama sahabat aku ini Natasha."ucap Aina.
Devan sangat terkejut melihat kekasihnya itu ternyata bersahabat dengan sahabat masa kecilnya sendiri.
"Aina kok kamu gak bilang kalo punya sahabat. Andai kamu tau Natasha ini sahabat kecil aku."ucap Devan kaget.
"Masa sih? Aku ngk nyangka . Beneran Sha?tanya Aina.
Natasha hanya menganggung sambil tertawa canggung. Lain dari Devan dan Aina dia sangat kecewa dan tak menyangka kejadian itu bisa terjadi.Diapun langsung pamit menuju mobilnya.