
Syeira di ikat di sebuah kursi kayu menggunakan tali tambang, melingkari seluruh tubuhnya, kedua tangannya di ikat ke belakang, kedua kakinya pun terikat sama kuatnya.
Sebuah penutup kain warna hitam menutupi matanya. Dan lakban hitam yang kuat menutup mulutnya.
"Kenapa kita tidak membunuhnya, Leon.?"
"Jangan, Zizi masih memegang Chip itu, kita bisa menggunakan wanita ini untuk meminta Zizi memberikan Chip dengan menukarnya. Setelah itu, baru kita akan membunuh mereka berdua, atau kita jual bersama dengan yang lainnya. Deteksi ulang, dimana posisi chip itu sekarang berada.!"
Itulah yang membuat kemana pun Zizi lari, ia selalu di temukan, karna dari Chip itu mengandung signal yang terhubung dengan perangkat lunak mereka.
"Eeemmmpphh.!"
Syeira berusaha berteriak, ia merasa sakit di sekujur tubuhnya.
Leon menghampiri, membuka kain hitam penutup mata Syeira.
Syeira mengerjapkan matanya berkali-kali sambil menggelengkan kepala yang terasa pusing. Ia menatap Leon dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. Rasa takut Syeira tertepiskan oleh emosinya.
Leon kembali tersenyum, melihat mata Syeira membuat Leon selalu merasa bahagia, ada sesuatu yang membuatnya begitu tertarik pada wanita ini.
"Mata yang sangat cantik.!"
Ucap Leon berjongkok di depan Syeira, sedikit mendongak melihat kecantikan wajah Syeira. Lutut kirinya sejajar dengan perut dan lutut kanannya lurus kedepan. Kaki nya yang sebelah berjinjit di belakang.
"Eemmpph."
Leon berdiri, menarik kasar lakban yang menutup mulut Syeira.
"*Aaahh, Sshh*.!"
Syeira menahan rasa panas di pipi dan sekitaran bibirnya.
"Kau ingin mengatakan sesuatu, Nona cantik.?"
Kembali Leon mengelus pipi Syeira yang lembut menggunakan punggung tangan kanannya. Membuat Syeira sontak memalingkan muka melakukan gerakan penolakan.
"Singkirkan tangan kotor-mu dari wajahku.!"
Ucap Syeira dengan suara penuh penekanan.
"Ha ha ha ha.!" Leon hanya tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini ada tawanan perempuan yang berani padanya, yang tidak menangis, merengek, apa lagi memohon, meminta untuk di lepaskan.
Bahkan sejak awal mula mereka bertemu, sorot mata Syeira tak pernah menunjukkan ketakutan. Membuat Leon semakin tertantang dan tertarik dengan Syeira.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Chip ini memiliki *Radar*, Arend.!"
Ucap Zid yang menemukan gelombang penghubung di layar laptopnya.
"Aku harus menonaktifkannya dulu, jika tidak, ia bahkan bisa terhubung dengan jaringan lunak kita.!"
"Cepatlah, Zid. Syeira sedang dalam bahaya.!"
Zid mengangguk, dan menggerakkan jemarinya semakin lincah.
"Bagaimana dengan Tuan Rain.?"
"Dia langsung terbang dengan Jet Pribadinya, kemungkinan, besok dia akan sampai.!"
"Apa itu tidak terlalu lama.? Maksudku, bukankah kita harus bergerak cepat untuk segera menyelamatkan, Nona Syeira, Arend.?"
Zid berbicara sambil terus menggerakkan jari jemarinya.
Jarak Brazil-Indonesia yang sangat jauh membutuhkan waktu tempuh 24 jam.
"Dia memerintahkan anak buahnya yang ada di tanah air untuk membantu kita. Tapi aku ragu, jika Nona Zizi yang sudah melapor pada Pihak berwajib saja mereka justru bisa bermain rapi, pasti jaringan mereka bukan lah Klan sembarangan. Aku tidak bisa gegabah mengambil tindakan. Dan kita juga belum mengetahui dimana Syeira sekarang berada.!"
"Mati.!" Satu kata yang Zid ucapakan membuat Arend membungkukkan badan di belakang Zid ikut mengamati layar laptop yang penuh dengan gambar gelombang.
Zid berhasil menonaktifkan *Radar* yang tersambung pada Chip, kini Zid kembali berkonsentrasi untuk membuka kode-kode yang menjadi kunci dari isi Chip tersebut.
Arend melihat Zizi yang hanya menunduk dengan air matanya yang masih terus lolos, tubuh Zizi gemetar, kedua tangannya saling meremas. Dia takut, panik, dan pasti menyisakan trauma yang mendalam.
Arend memainkan ponselnya menghubungi Meldy.
Tak butuh waktu lama, Meldy pun datang dengan gaya centil, dan manja nya.
'*Ckk*'
Membuat Arend memalingkan muka dan berdecak kesal, Zizi melirik pada Meldy yang membuatnya merasa risih.
"Bisa kau hentikan itu, Meldy.?"
Ini adalah pertama kalinya Arend angkat bicara pada tingkah Meldy, yang biasanya ia biarkan saja, karna Arend tahu Meldy memang sangat mencintai Zid, dan meski ia begitu terlihat murah, itu hanya saat bersama Zid, selebihnya, Meldy juga sama dengan wanita lain yang menjaga jarak dengan pria yang bukan miliknya.
Meldy berdiri melepas tangannya yang melingkar dari leher Zid, berdecah kesal, raut muka cemberut yang terlihat dimanyunkan, dan bahkan menghentakkan satu kakinya kasar kelantai. Dengan gaya centil khas Meldy.
Arend membuang nafas kasar melihat tingkah assistant nya ini.
"Nona Zizi, anda ikut lah dengan Nona Meldy, setelah semuanya selesai, saya akan menemui anda kembali.!"
Arend menatap Meldy yang juga menatapnya dengan pandangan tidak suka, lalu Arend menggerakkan kepalanya memberi kode pada Meldy untuk melaksanakan tugasnya.
Meldy melengos dengan cepat, menghindari kontak mata dengan Arend. Ia lantas menggandeng tangan Zizi untuk ikut bersama dengannya. Zizi harus membersihkan diri, mengganti pakaian, mengobati luka-lukanya, makan dan istirahat.
Sama halnya dengan Zid, Meldy juga tinggal di gedung *N~A Cell* di salah satu ruang rahasia yang sudah seperti mini apartment.
Arend memijit pelipisnya pelan, kepalanya terasa pusing, biasanya ia bisa menghadapi segala situasi dengan sangat tenang, tapi ketika ini berhubungan dengan Syeira, Arend merasa cemas.
"Terbuka.!" Ucap Zid yang langsung di sambar oleh Arend laptopnya.
Arend melihat layar laptop Zid yang menunjukkan sebuah data lengkap dengan jaringan Klan beserta daftar nama, satu tempat yang tertulis disana, tapi Arend dan Zid tidak mengetahui tempat apa itu.
"Dimana daerah ini, Zid.?"
"Aku sendiri tidak tahu, Arend. Tapi yang jelas, ini pasti tempat yang tidak begitu jauh dari sini, pasti masih di sekitaran pusat kota. Zizi bilang dia sempat naik bis, dan selebihnya dia kabur hanya dengan lari, dan itu 2 hari 2 malam, kurasa, tempat ini tidak begitu jauh.!"
Hampir semua isi data itu adalah berbentuk kode-kode yang tidak bisa langsung di artikan, butuh pemecahan-pemecahan untuk bisa memahaminya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Waktu terus berlalu, Zid sudah ketiduran di sofa, Arend masih terus memainkan jarinya, mencoba memecahkan kode satu tempat yang tertera disana.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 subuh. Arend berhenti ketika mendengar lantunan iqomah waktu subuh. Ia meraih ponselnya. Banyak panggilan dari Zico, dan Ayla yang tak sempat ia jawab.
Arend meraup wajahnya kasar, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Menutup laptop untuk sementara waktu. Ia harus menunaikan dulu kewajibannya sebagai seorang muslim.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Sejak kemarin, Syeira di pindahkan kesatu ruang bercampur dengan para gadis-gadis tawanan yang akan di perdagangkan.
Ia hampir tidak tidur, Syeira hanya duduk, kedua lututnya sejajar dengan dadanya, kedua tangannya merangkul kedua kakinya. Pandangan matanya tajam lurus kedepan.
Banyak diantara gadis itu yang masih menangis, kebanyakan dari mereka yang masih terlihat sangat muda, tidak kuat membayangkan apa yang akan terjadi esok hari jika mereka benar akan di terbangkan ke luar negri untuk menjadi wanita penghibur.
Dan beberapa di antara mereka yang saling menenangkan satu dengan yang lainnya.
Hanya Syeira lah yang terus diam tanpa kata dan tanpa pergerakan, dalam hati Syeira selalu saja menyebut nama Arend.
Pintu di buka. Beberapa pria bersenjata masuk, termasuk Leon, membuat para gadis menjerit dan mundur ketakutan, mereka saling memeluk satu dengan teman yang lain. Hanya Syeira yang masih diam tanpa pergerakan.
Leon tersenyum melihatnya. Para penjahat itu mengarahkan senjatanya kedepan, agar tak ada yang melawan.
Leon berjongkok di depan Syeira yang pandangan matanya tajam kedepan.
Mendapati Leon yang berjongkok di depannya, Syeira menoleh dan menatapnya dengan tatapan yang sama, penuh kebencian. Raut muka Syeira sangat serius, tak ada ketakutan disana.
"Siapa orang yang ada di balik dirimu.?"
Ucap Leon pelan pada Syeira, setelah mendapati *Radar* yang ada di Chip mereka tidak bisa terdeteksi, dan Leon yakin, itu tidak mungkin ulah Zizi, gadis itu hanya gadis biasa, tidak mungkin Zizi mampu melakukannya.
Jadi itu pasti ada hubungannya dengan Syeira, gadis ini tidak pernah menunjukkan rasa takut sejak kemarin, bahkan auranya sangat kuat.
Senyum Syeira mulai mengembang. Dengan matanya yang menatap tajam pada Leon, seakan ia menantang.
"JAWAB AKU.?"
Teriak Leon sambil menjambak rambut Syeira hingga kepala Syeira mendongak kebelakang, menampakkan leher mulusnya yang jenjang. Wajah Leon begitu dekat dengan wajah Syeira, deru nafas mereka saling bertukar oksigen.
"Dia pasti akan menyelamatkanku, dan kalian akan habis ditangannya.!" Suara Syeira pelan namun sangat menantang.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...