LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 120





Meldy dan Zid tengah makan siang bersama. Hanya mie instant kuah yang Zid masak sebagai menu pengganjal lapar mereka.



*Terjebak pada tempat yang sama, dengan orang yang sama. Dan bahkan rasa yang sama. Namun ikatan hubungan yang sudah jauh berbeda. Itu rasanya cukup menyiksa*.



"Aku masih menunggu mu, Mel.?" Zid menatap Meldy dalam, matanya sayu dan nanar, suaranya terdengar sangat tulus. Ia begitu menginginkan agar Meldy bisa kembali padanya.



"Aku tidak bisa, Zid. Suara 3r4n9an mu yang berada di bawah Zizi selalu menggema memenuhi pendengaranku. Aku tidak bisa membuang bayangan-bayangan pengkhianatan itu.!"



"Kenapa kau tidak memberikan kesempatan dulu untuk ku Mel.? Kenapa kita tidak memberikan kesempatan pada hubungan kita. Kita masih sama-sama saling mencintai, Aku tahu kamu masih mencintaiku, Mel.?"



Meldy diam. Hatinya masih begitu sakit. Mungkin egonya memang tinggi, tapi wanita mana yang bisa begitu saja kembali menerima pria yang sudah mengkhianati cintanya. Dan bahkan ia menyaksikan sendiri perbuatan laknat itu di depan matanya.



"Menikahlah dengan ku, Mel.?" Zid mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Ia ingin mengakhiri kesendiriannya dan memiliki Meldy seutuhnya.



Meldy berdiri. Dia tidak bisa tetap berada di situasi seperti ini.



"Mel.?" Zid meraih tangan Meldy. Menghentikan langkahnya yang ingin pergi meninggalkannya.



"Lepaskan Zid. Aku memang masih mencintaimu, tapi aku tidak akan lagi bisa kembali padamu.!"



"Apa kau juga mencintai DK.? Apa karna dia kamu tidak mau lagi kembali padaku.?"



"Hentikan Zid. Bisakah kau mengintropeksi diri sendiri.? Tanpa harus melibatkan orang lain dalam kisah yang memang sudah hancur ini.?"



Meldy menepis tangan Zid yang memegangi tangannya.



"Kita sudah berakhir. Dan biarkan saja semuanya seperti ini.!"



Meldy melangkah keluar dari tempat yang pernah ia tinggali itu. Pergi meninggalkan Zid yang sudah meneteskan air matanya karna tak ada lagi kesempatan dan harapan untuk menyelamatkan cintanya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Arend menautkan bibirnya pada bibir Syeira yang lembut dan basah. Mengeksplor bagian dalam, menyesap dan membelit lidah. Sesekali bayangannya tentang hal yang sama yang ia lakukan dengan Syeira dulu muncul ketika Arend memejamkan mata.



Arend berpindah ke area leher Syeira, mengecup dan mengecap, meninggalakn jejak-jejak kepemilikan. Syeira mendongak ke belakang membuat Arend semakin bersemangat.



Nafas mereka tersengal. Saling besahutan.



"Kita pindah ke ranjang.!" Bisik Arend sambil menggigit kecil telinga Syeira. Mengalirkan gelanyar dahsyat semakin terbuai dalam mabuknya gairah.



Arend lantas mengangkat tubuh Syeira. Menggendongnya ala bridal style. Ia membaringkan tubuh Syeira yang polos di atas ranjang. Lalu ia sendiri pun merangkak naik menutup tubuh Syeira.



"Kau yakin akan melakukannya, My L.?" Syeira bertanya lirih.



"Kenapa.?" Sorot mata Arend sangat sayu menatap manik Syeira yang sudah berkaca-kaca.



"Kau masih belum mendapatkan ingatanmu tentang ku.!"



Arend tersenyum manis mendengar jawaban Syeira.



"Kau benar, aku memang tak memiliki memory apa pun tentang dirimu, tapi aku sangat percaya dan yakin dengan hati yang begitu menginginkanmu. Untunglah. Hanya otak ku yang konslet karna kecelakaan itu.!"



Jawaban Arend mengundang tawa Syeira. Ini adalah tawa Syeira pertama kali di depan Arend setelah selama ini dia hanya diam dengan raut muka yang sedih.



"Teruslah tersenyum dan tertawa. Kau sangat cantik saat melakukan keduanya.!"



Syeira semakin melebarkan senyumnya. Ia tak bisa membohongi hatinya yang merasa sangat senang.



Tangan Arend kembali bergerak nakal. Bergerilya di area bawah Syeira. Mengusap-usap lembut, mengelus dan membelainya. Lembab dan basah.



Satu jari Arend menyeruak masuk kedalam tubuh Syeira, membuat Syeira mengeluarkan d3$4han penuh kenikmatan, '*Aaahh*.?'



Arend tersenyum *Smirk*. Syeira berada di bawah kendalinya. Menggel!nj4ng, menggelepar, matanya memejam menahan nikmat dibawah sana. Syeira menggigit sendiri bibir bawahnya. Dan Arend terus memperhatikan wajah Syeira yang penuh gairah.



Tangan Arend terus bergerak. Mengelus, masuk dan keluar.



"Ini apa, Ra.? Ada bijinya di luar, dan ada juga yang terasa didalam.!"



Arend menggoda Syeira yang sudah menggila. Tentu sebenarnya Arend tahu tentang semua itu. Tapi dia ingin saja menggoda sang istri.




"Ayolah.?"



Arend kembali tersenyum karna Syeira yang memintanya.



"Bimbing aku, aku lupa caranya bagaimana.!" Goda Arend lagi.



Sedikit demi sedikit memory Arend tentang Syeira bermunculan. Terutama saat sesi malam pertama mereka yang panjang, hal ini seperti sebuah therapy, yaitu membangkitkan kembali memory dengan kenangan-kenangan yang paling menyenangkan. Selain itu, ada juga therapy dengan cara membangkitkan kembali kenangan-kenangan yang paling menyakitkan.



Syeira membuka matanya perlahan, tatapannya sudah sangat sayu. Ia pun bangkit dan menarik tubuh Arend membalikkan keadaan. Hingga kini Arend lah yang berada di bawah kendalinya.



Syeira duduk menutup tubuh Arend yang terbaring terlentang di atas ranjang. Arend kaget, ia terperangah.



Syeira bergerak kebawah perlahan. Arend hanya diam memperhatikan. Syeira meraih tubuh Arend, mengelusnya lembut, menggerakkan nya dengan sangat baik. '*Aahh,, sshh*.!'



Arend hanya bisa mend3$4h nikmat. Syeira menundukkan wajahnya tepat di tengah Arend. Memasukkannya kedalam mulutnya.



Arend memejamkan mata dan kembali mend3$4h, ia tidak menyangka jika Syeira akan melakukannya. Sangat nikmat.



Syeira bergerak lembut menciptakan tempo yang indah. Kepalanya naik-turun teratur, membuat Arend memejamkan mata lalu membukanya lagi, di sertai 3r4n9an-er4n9an kenikm.a.tan.



Syeira terus melakukan itu, membuat Arend semakin k3l0j0t4n, ia serasa ingin menggila.



Arend bangkit dan menarik tubuh Syeira. Mengambil alih kendali permainan.



Kini Syeira yang berada di bawahnya.



"Kau sangat nakal **sekarang**. Kau cepat belajar.?"



"Kau ingat.?" Syeira kaget dengan yang di ucapkan Arend.



Arend hanya tersenyum *Smirk*. Ingatannya yang hilang telah kembali sempurna.



"Kau jahat.? Beraninya kau melupakanku.? Akan ku bunuh kau?"



Syeira bangun, mencengkeram lembut leher Arend. Mereka duduk berhadapan. Keduanya saling menatap dalam.



"Kau harus menerima hukuman.!"



Syeira mendorong tubuh Arend kebelakang. Ia lantas melakukan gerakan penyatuan. '*Aahh*.?' Keduanya mel3n9uh penuh nikmat.



Syeira dan Arend sama-sama terdiam. Bahkan kening Syeira sudah mengernyit. Sedikit perih, Ia bergerak terlalu kasar. Kini Syeira hanya diam. Dan Arend menatapnya seakan meminta lebih.



"Kau baik-baik saja, My L.?"



Syeira membuka matanya perlahan mendengar Arend yang memanggilnya dengan sebutan My L. Itu artinya dia memang telah kembali mengingat semuanya.



Syeira mulai bergerak. Maju dan mundur. Naik dan turun. Ia menciptakan permainan yang sudah lama ia rindukan. Dan Arend menerima Service terbaik istrinya itu dengan penuh gairah.



Keduanya saling bergerak memberi dan meminta.



Arend kembali membalikkan keadaan. Membuat Syeira terbaring di bawahnya. Dan Arend memaju-mundurkan tubuhnya dengan tempo semakin cepat.



Suara-suara mereka yang saru dan menggema seakan bersahutan dengan suara derasnya air hujan di luar sana.



Tubuh Syeira naik turun seirama dengan gerak tubuh Arend yang terus memainkannya.



Arend menjatuhkan tubuhnya sempurna. Membuka lebar Syeira dengan kedua tangannya.



Arend menautkan bibir mereka. Lalu pindah ke ceruk leher Syeira. Gerakannya semakin cepat, Arend maju-mundur dengan tempo yang membabi buta.



"My L.?" Jerit Syeira.



"Aaahh. Aaahh.aagh.?"



Nafas keduanya tersengal dan putus-putus, d.ad.a mereka naik turun saling bersahutan.



"Maafkan aku karna telah melupakanmu.?" Bisik Arend di telinga Syeira. Ia lantas menjatuhkan tubuhnya menutup sempurna tubuh Syeira.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...