LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 129





*Kesalahan bisa dimaafkan, tapi sulit tuk dilupakan*.



...----------------...



"Mel?" Zid berhasil meraih tangan Meldy yang terus berjalan tergesa.



"Mau kemana?."



"Zid?"



Zid menatap dalam pada Meldy yang terlihat panik.



"Ada apa? Kamu mau kemana?" Zid kembali menanyakan pertanyaan yang sama.



"Aku mau pergi ke Rumah Sakit."



"Rumah sakit? Ada apa? Kenapa?"



"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi aku harus segera pergi."



"Iya baiklah, biar ku antar. Tidak perlu naik Taksi."



Meldy mengangguk setuju, itu akan lebih baik.



Meldy menunggu Zid yang mengambil mobilnya di parkiran. Ia lantas masuk kedalam mobil Zid setelah Zid datang. Dan Zid menginjak gas melajukan mobilnya ke tempat yang Meldy sebutkan.



"Sebenarnya ada apa sih Mel? Kenapa kamu tiba-tiba mau ke Rumah Sakit? Siapa yang sakit sih? Dan kamu meninggalkan acara, tanpa menunggu DK terlebih dulu?" Zid mencerca berbagai pertanyaan pada Meldy yang masih terdiam dengan raut muka cemas.



"Bisakah kau berkonsentrasi pada kemudi mu saja? Cepatlah!"



Zid mengangguk, Meldy terlihat tidak ingin berbicara.



'*Apa yang sebenarnya terjadi*?.'



Setelah beberapa menit, mobil yang Zid kendarai memasuki halaman parkir Rumah Sakit, mobil berhenti, Meldy lekas turun dan berhambur ke Ruang IGD sesuai yang DK instruksikan. Zid mengekor.



"DK?" Meldy berteriak memanggil nama DK ketika ia melihat pria tampan itu berdiri di depan pintu Ruang IGD.



'*Sial, jadi aku kesini hanya untuk mengantar Meldy ketemu dengan DK? Benar-benar sial*.'



"Mel?" DK menyambut antusias pada Meldy yang datang.



"Zid?." DK juga melihat Zid yang berjalan dibelakang Meldy.



"Ada apa?" Meldy langsung bertanya.



"Aku tidak tahu, tapi saat di akhir perform kami tadi, Zizi tiba-tiba berteriak kesakitan, badannya lemah seketika. Dia terus memegangi perutnya, Dan?"



DK sedikit ragu untuk meneruskan ceritanya. Meldy sudah mendengarkan dengan antusias. Zid mengernyitkan kening mencoba memahami semua yang DK katakan.



"Dan dia pendarahan."



Meldy menutup mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.



"Apa maksudmu?" Zid bertanya sambil menajamkan matanya menatap DK.



"Apa urusanmu? Siapa kau sehingga berani berteriak di depanku? Kau sudah tidak memiliki hubungan apapun terhadap Zizi bukan? Lantas apa hak mu meninggikan suaramu disini?" DK menantang, ia memang sudah membenci Zid sejak Zid menemukan semua rahasia tentang dirinya dengan penyanyi senior Miyuri.



Itulah alasan DK mendekati Meldy pada awalnya, bukan karna ia benar-benar tertarik pada Meldy, tapi karna ia tahu jika Meldy adalah wanita yang dicintai Zid. Dan DK ingin membalas sakit hatinya pada Zid.



Tapi bukan berarti DK berniat jahat pada Meldy, setelah mengenal lebih dalam gadis yang terkenal centil dan cerewet itu, nyatanya. Meldy adalah gadis yang sangat mahal dan berkelas. DK bahkan merasa kewalahan untuk sekedar bisa menaklukkannya. Meski ia dalam keadaan patah hati.



Dokter keluar.



"Dokter?" Semuanya langsung berhambur mendekat pada Wanita dewasa berjas putih itu.



"Bisa saya bicara dengan suaminya?"



"Suami?"



"Suami?"



"Ada apa Dok?"



"Masalah nya sedikit serius. Dan harus segera di ambil tindakan." Dokter menjawab cepat. Kondisi Zizi tidak sedang baik-baik saja.




"Saya anggota keluarganya, Dok. Dokter bisa bicara dengan saya." Meldy mengambil suara. Tidak mungkin ia akan membiarkan semuanya berlarut-larut sepeti ini.



"Saya juga ingin mendengarkannya Dokter." DK menyahut.



"Saya juga!" Zid pun sama.



"Baiklah, ikut saya."



Mereka semua melangkah mengikuti arah Dokter itu pergi. Hingga masuk kedalam satu ruangan pribadi. Dan setelah Ibu Dokter mempersilahkan. Meldy, Zid, dan Zico duduk di sebuah sofa panjang. Meldy di tengah.



"Kondisi Ibu Zizi sedang darurat. Dia mengalami kontraksi dini pada usia kandungannya yang masih sangat muda. Dan itu berbahaya."



Seketika Zid dan Meldy membulatkan mata. DK tak begitu kaget. Ia sudah menduganya semula.



"Meldy hamil?" Zid bertanya.



"Apa maksudnya? Kalian tidak tahu jika dia sedang hamil? Apa dia belum menikah?"



Sontak semuanya terdiam.



"Maafkan saya. Itu bukan urusan saya. Saya hanya terbawa emosi."



"Lalu bagaimana sekarang Dokter?" Meldy yang bertanya. Biar bagaimanapun, dia juga adalah seorang wanita. Dan Zizi hanya tinggal seorang diri di kota ini. Jelas Meldy merasa kasihan padanya.



DK menatap Meldy yang terdengar mengkhawatirkan Zizi.



'*Terbuat dari apa hatimu, Mel? Bahkan wanita itu yang sudah merusak hubunganmu dengan Zid. Membuatmu begitu sedih dan terpuruk. Tapi kenapa kamu masih bisa bersikap baik padanya*?'



"Saya sarankan agar si janin di angkat. Karna keadaannya telah pecah. Jika kita mempertahankan si janin. Itu bisa membahayakan nyawa ibunya. Tapi Ibu Zizi tidak mau melakukannya. Dia tidak mau di oeprasi. Dia tidak mau kehilangan bayinya."



"Itu artinya dia tahu jika dia sedang hamil?" Lirih Zid.



'*Apa itu anak ku*?'



"Saya suaminya, Dok. Maksud saya? Saya ayah dari si bayi. Saya mohon lakukan pertolongan terbaik untuknya!" Zid membuka suara. Ia berdiri dengan gagah.



'*Apapun yang terjadi, semua itu memang salahku. Aku lah yang harusnya bertanggung jawab*.'



Meldy menatapnya nanar, entah kenapa hatinya terasa begitu sakit. Sangat sakit, bahkan air matanya sudah jatuh menetes. DK menggenggam erat tangan Meldy seakan memberikan kekuatan. Dan Meldy mengangguk, lalu ia lekas mengusap air matanya dan mencoba tersenyum meski sangat terlihat jika dipaksakan.



"Saya butuh anda untuk membujuk Ibu Zizi, Pak? Dia tidak mau di operasi."



"Baik, saya akan bicara padanya."



Keputusan telah diambil. Dokter meminta Zid untuk ikut bersamanya menemui Zizi yang masih berada di ruang IGD menahan sakit.



"Mel? Bisa kita bicara?" Zid berbicara sangat pelan. Meldy dan DK berdiri berhadapan dengan Zid.



"Aku minta maaf. Aku tahu, seberapa banyak pun aku mengatakannya, itu tidak dapat merubah apapun." Suara Zid terdengar sangat tulus.



Meldy hanya diam. Ia menangis tanpa reaksi yang berarti.



"Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku, aku tidak bisa mempertahankan hubungan kita. Tapi meski begitu. Aku tetap sangat mencintaimu. Hanya kamu."



Meldy hendak melangkah. Apa yang di dengarnya justru semakin menyakitinya.



"Mel? Dengar.!"



Zid meraih tangan Meldy, dan Meldy lekas menepisnya kasar.



"Jangan kau lupakan kata-kata ini, ada seseorang yang hidup untukmu, dan juga siap mati untukmu. Dimana pun kau berada, dan bersama dengan siapapun. Semoga kau selalu bahagia. Itu adalah doa dari hatiku. Aku sangat mencintaimu."



Dada Meldy terasa sangat sesak. Kalimat seindah itu, kenapa justru seperti pedang tajam yang menghunus kedalam relung hati? Meldy tak tahan lagi, ia lekas berlari meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Zid yang hanya bisa berdiri hampa menerima satu kenyataan buruk buntut dari kesalahannya.



'*Kau akan menyesali kesalahanmu seumur hidupmu, Zid. Dan ini cukup memuaskan ku. Melihatmu menderita dalam keterpurukan*.'



DK menyunggingkan senyum sinisnya, menatap Zid yang tak berdaya. Dan DK pun lekas berlari mengejar Meldy yang sudah pergi.



Zid mengusap rambutnya kasar. Ia kembali terjatuh dalam jurang masalah akibat kecurangannya.



"Aaarrgghh?"



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...