LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 114





Alunan musik penuh semangat menggema di seluruh penjuru ruangan. Lampu-lampu berkelebat mempertegas nuansa club' remang-remang yang menjadi tempat orang-orang itu mencari hiburan dan kesenangan.



Rain dan Mikaila telah sampai di suatu Club' di pusat kota. Mereka lantas masuk ke dalam. Banyak orang-orang tengah melakukan semi berc!nta di sepanjang mereka melewati koridor masuk ruang utama.



"Wooaahh. Lihat. He is so f.uc.king sexy's man.!"



"He is so cool. So handsome.!"



"But so hot"



Beberapa wanita yang melihat Rain berjalan langsung heboh karna ketampanannya yang pari purna. Badannya yang tinggi tegap, sorot matanya yang tajam dan penuh ke angkuhan. Rain pria matang yang sangat perfect membuat hati para wanita yang melihatnya menjerit begitu terpesona.



Mikaila terus melangkah masuk, dan Rain terus mengekor padanya.



"Hai Om.? Mau kita temani?"



"Hi hi hi.!"



Beberapa wanita muda yang lain menyapa Rain dengan nakal. Dan Rain hanya tersenyum sinis.



"Dia tampan sekali.?"



"Iya, sayang. Dia sudah punya sugar babby.!"



"Sudah ada pawangnya.!"



Mikaila berjalan menuju meja bartender, tapi dengan sigap Rain lekas meraih tangannya dan menariknya menuju sofa yang melingkar di meja VVIP.



"No alkohol.!" Ucap Rain pada Mikaila sekali lagi dengan tegas dan penuh penekanan.



Mikaila hanya bisa terperangah. Mulutnya menganga lalu seakan ingin mengumpat namun tertahan. Ia bahkan sudah berusaha untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Rain. Tapi jelas itu percuma.



Rain duduk dengan penuh wibawa. Dan Mikaila duduk dengan kesal.



Rain hanya memesan minuman bersoda untuk mereka. Dan beberapa makanan. Mereka belum makan malam.



"Aku mau ke lantai dansa.!"



Mikaila sudah berdiri dan melangkah, Rain tidak melarangnya atau pun mencegahnya. Tapi mata elang Rain tak pernah lepas dari sosok Mikaila. Rain menjaga Mikaila seperti kucing kecil peliharaan sang majikan. Aryan.



Para Waiters sudah datang dan menyuguhkan pesanan Rain. Rain memberikan uang dan tip.



Mikaila mulai menggerakkan badannya meliuk, memutar, mendayu mengikuti alunan musik DJ yang terdengar jedag-jedug hingga terasa membentur jantung. Ia berdansa bergabung dengan kumpulan orang-orang yang tak di kenalnya disana.



Sesekali Mikaila melirik Rain. Dan dia menyadari jika Rain memperhatikannya terus sejak tadi. Mikaila tersenyum sinis.



'*Bukankah akan sangat seru jika aku sedikit bermain nakal di depannya*.?'



Mikaila kembali berpikir licik. Ia selalu ingin memainkan emosi Rain. Ada kepuasan dihatinya saat melihat Rain marah.



Mikaila bergerak semakin cepat. Ia menggerakkan tubuhnya dengan hentakan-hentakan er0t!s, ekspresi wajahnya bahkan ia bikin agar terlihat se hot mungkin. Menggoda.



Tangan Mikaila menyentuh lembut pundak seorang pria di depannya yang tadinya berdansa dengan wanita lain membelakanginya. Dan pria itu lekas menoleh. Ia terperangah melihat Mikaila. Pria itu cepat beralih membalikkan badan menghadap Mikaila mengabaikan wanitanya tadi. Wanitanya kesal dan pergi.



Pria itu melihat penampilan Mikaila dari bawah hingga atas. Tinggi badan yang ideal dengan bentuk tubuhnya yang melekuk sempurna di setiap pahatannya. Bahkan pria itu dengan nakal menatap d.a.da Mikaila yang terlihat menyembul di bagian atasnya. Serta perut Mikaila yang terekspose sempurna memperlihatkan pus4rnya yang kecil dan seksi.



Tentu saja pria itu merasa begitu senang, seorang gadis muda, cantik dan seksi mengajaknya berdansa.



Mikaila mengalungkan kedua tangannya ke leher pria itu, sambil terus menggerakkan badannya mendayu di sertai ekspresi wajah yang seakan ingin, menantang kelelakian.



Rain tersenyum sinis. Ia tahu kemana arah permainan Mikaila. Tapi Mikaila salah. Ia telah menciptakan permainan yang membuat dirinya sendiri berada dalam masalah.



"Kau mau aku mengajakmu kemana. Baby?" Bisik pria itu di ceruk leher Mikaila. Ia sudah di Landa n4f$u nya yang telah di bangkitkan dengan cepat.



"Apa maksudmu.?" Mikaila merasa panik. Suara pria itu terdengar berat karna m4f$u. Dan pria itu bahkan sudah mencium aroma leher Mikaila. Mikaila semakin panik. Tapi ia merasa malu jika dia mendorong tubuh pria itu sekarang, Rain melihatnya dengan tatapan seolah mengejek.



'*Sial. Dia justru merasa senang melihatku di permalukan*.!'




Rain menarik seorang wanita untuk ikut bersamanya tanpa melirik sama sekali pada wanita itu. Dan jelas wanita itu langsung patuh tanpa protes. Pria yang menariknya adalah pria yang sangat tampan dan berkelas. Terlihat jika dia bukan pria sembarangan.



Rain berdansa dengan wanita yang di tariknya itu di dekat Mikaila. Rain hanya menggerakkan tubuhnya biasa saja. Tapi wanita yang di tariknya seakan terbakar gelora. Ia menari dengan gaya panas menggerayangi tubuh Rain. Rain terus menatap sinis pada Mikaila yang juga terus menatapnya dengan penuh kekesalan.



"Aaahh.? Lep\_paskan tanganmu.?"



Tangan pria yang berdansa dengan Mikaila menyentuh, menggerayangi perut mulusnya. Mikala semakin tidak nyaman. Ia ingin segera pergi dari lantai dansa. Tapi pria yang berdansa dengannya justru merengkuh tubuh Mikaila hingga menempel sempurna pada tubuhnya.



Wajah Mikaila sudah pucat Pasih dan dia mencoba mendorong pria itu.



Raut muka dan tatapan Rain seketika berubah saat melihatnya. Dengan gerakan cepat ia menarik tangan kanan pria yang memeluk tubuh Mikaila, membekuknya kebelakang lalu menekuknya.



'*Kleck*.!'



"Aaaahh" Jeritan pria itu tertahan. Tak terdengar karna suara musik yang sangat keras. Tangan pria itu patah, dan pria itu langsung berjongkok di lantai menangis menahan sakit dengan keadaan tangan kanannya yang telah patah.



Mikaila kaget, takut dan panik. Ia membungkam sendiri mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat sempurna melihat pria yang berdansa dengannya tadi sudah dalam keadaan memprihatinkan.



Bersih. Tak ada orang yang melihat perbuatan Rain yang di lakukan pada pria itu. Bahkan pria itu tak tahu jika Rain lah yang telah mematahkan tangannya. Rain bahkan sudah kembali berdansa dengan santai.



Hanya Mikaila dan wanita yang berdansa dengan Rain yang melihat adegan tadi. Wanita yang berdansa dengan Rain terkejut, ia pun terdiam karna takut. Rain lantas menarik pinggangnya. Dan berbisik di telinga wanita itu.



"Don't be afraid, everything Will be okay. *Cuup*!" Rain mengecup lembut pipi wanita itu.



Rain membimbing agar wanita yang kini bersamanya kembali bergerak untuk berdansa. Membiarkan pria yang kesakitan itu menjerit tanpa suara. Dan belum ada orang yang memperhatikannya. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing dalam mencari kepuasan dan kebahagiaan.



Mikaila terus menatap Rain tak percaya. Ia lantas melangkah pergi dari sana dengan cepat, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan.



"Thank you.!" Ucap Rain lembut di ceruk leher wanita itu, ia menghadiahi wanita yang menemaninya berdansa dengan satu kecupan di ceruk leher nya yang langsung membuat wanita itu merasa seluruh tubuhnya merasakan gelanyar gelora. Dan satu kecupan lembut tepat di bibir wanita itu sebelum Rain pergi meninggalakannya.



Wanita yang di tinggalkan Rain merasa sangat beruntung.



"*He is a f.u.c.king Bad Boy. I like him*.!" Seru wanita itu setelah Rain pergi berlari mengikuti langkah Mikaila keluar dari Club'.



Wanita yang di tinggal kan Rain pun akhirnya berteriak meminta bantuan atas pria yang tangannya telah di patahkan oleh Rain. Pria itu menangis dan meringis tak mampu bersuara karna saking sakit nya yang ia rasa.



Mikaila sudah berada di luar bangunan. Ia terus berjalan. Entah kenapa hatinya sakit. *Mungkin karna Rain yang menertawakannya, karna ia yang di permalukan akibat ulahnya sendiri. Atau? entahlah*!.



Mikaila terus berjalan. Ia hanya merasa hatinya sakit tanpa tahu alasannya apa.



"Stop.!"



Rain berhasil meraih tangan Mikaila yang terus bergerak tergesa.



"Don't touch me..?" Mikaila menepis tangan Rain. Ia sudah menangis deras. Dan memalingkan mukanya. Menunduk karna malu.



Rain merasa aneh, ia tak tau harus bicara apa sekarang. Menangani wanita yang sedang menangis bukankah keahliannya.



Tangan Mikaila berusaha menutupi perutnya yang terlihat. Ia menyesali perbuatannya.



Rain lekas melepas jas yang ia pakai. Dan ia berikan pada Mikaila.



Awalnya Mikaila hanya diam dan menatapnya. Tapi setelah beberapa saat akhirnya ia terima jas pemberian Rain. Dan dia memakainya.



"Kita pulang. Dan berhenti menangis. Kalau tidak. Aryan dan Ayla akan menyalahkan ku, karna tidak bisa menjagamu.!"



Mikaila menatap Rain dengan tatapan nanar, dan Rain menatap Mikaila dengan raut muka yang datar.



'*Apa yang kurasakan.? Ada apa dengan hatiku.? Kenapa berdebar.? Kenapa aku merasa senang dengan pria tua ini yang memperhatikan dan menjagaku, apa tadi aku kesal karna dia mengecup pipi wanita lain*.?'



Rain bergerak, memegang kedua bahu Mikaila yang masih terdiam, mengajaknya untuk melangkah.



'*Apa aku telah jatuh cinta pada pria tua ini*'?



Mata Mikaila terus menatap dalam muka Rain yang menatap lurus kedepan. Rain tak menampakkan ekspresi apapun. Hanya ada raut muka datar, dengan tatapan mata yang tajam dan dingin.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...