
"Kamu jadi pergi ke rumah kasih.?"
Arend bertanya pada Syeira yang tengah memakaikannya dasi, Syeira berdiri di depan Arend yang duduk di kursi meja rias, Kedua tangan Arend melingkar di pinggang Syeira.
"E em.!"
"Besok saja, biar ku antar.!"
"Nggak papa kok, lagian rumah kasih sama perusahaan *N~A Cell* kan deket.! Nanti aku sekalian ke Perusahaan nemuin kamu sepulang dari rumah kasih!"
Ucap Syeira sambil melayangkan satu kecupan di pipi Arend.
"Sekarang aja, bareng.?"
"Aku mau beliin anak-anak mainan dan Snack dulu. Biar mereka seneng.!"
Syeira menggandeng lengan Arend mengantarnya sampai pintu depan. Arend harus segera ke kantor, menyelesaikan masalah yang kemarin Zid bilang.
"Baiklah, hati-hati, kalo ada apa-apa langsung hubungi aku,!"
Ucap Arend pada Syeira, ia lantas mengecup kening dan bibir Syeira, lembut.
"*Cuupp*"
"I love you,!" Bisik Arend di telinga Syeira lalu sedikit nakal menyesap leher nya.
"My L.?" Syeira mendorong tubuh Arend keluar dari rumah karna merasa kegelian.
"Bye..!" Syeira melambaikan tangan di sertai senyuman manis pada Arend yang mulai berjalan menuju lift.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Syeira membeli beberapa mainan di sebuah pusat perbelanjaan, Ia lantas memesan taksi onlin dan akan pergi ke rumah kasih.
Barang-barang belanjaan Syeira sudah di masukkan kedalam bagasi mobil, ia lantas membuka pintu taksi tersebut.
Tiba-tiba seorang gadis seusianya datang menyentuh pintu mobil dari arah sebelah berhadapan dengan Syeira, mereka masih sama-sama berdiri dan saling memandang.
Terlihat dari wajahnya jika gadis itu habis menangis, bahkan wajahnya terdapat lebam seperti luka habis kena pukul. Rambutnya berantakan, dan wajahnya kusut berkeringat, padahal dia gadis yang cantik.
"Nona.? Nona ini sudah memesan saya lebih dulu, tolong anda mundur.!"
Teriak sopir taksi pada gadis yang baru datang.
Syeira masih menatap intens gadis di depannya yang ingin naik ke dalam taksi. Gadis itu menoleh ke kanan dan ke kiri, pandangannya mengedar ke segala arah, seakan memastikan tak ada orang yang melihatnya.
'*Dia seperti ketakutan, apa seseorang telah mengejarnya*.?'
"Kalau mau, masuklah, kita bisa pergi bersama.!"
Ucap Syeira pada gadis itu, yang langsung di balas dengan anggukan antusias lalu masuk kedalam taksi mendahului Syeira.
Syeira pun masuk dan sopir taksi menginjak gas melajukan mobilnya .membelah jalan pusat kota.
"Kita kemana dulu nona.?"
Sopir taksi bertanya pada Syeira.
"Kita antarkan dulu nona ini, pak.!"
Jawab Syeira yang masih memperhatikan gadis di dekatnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Gadis itu tidak menggunakan alas kaki. Terdapat beberapa luka kecil di kaki dan bekas ikatan di pergelangan tangannya.
Ada sesuatu yang di genggam oleh gadis itu, sebuah benda kecil.
"Kau mau pergi kemana.?"
Syeira bertanya pada gadis itu yang membuatnya sangat kaget dan menoleh cepat.
Gadis itu hanya diam, gerak kepalanya sangat aneh, tak mau diam. Lalu dia menggeleng. Syeira mengangguk.
"Apa sesuatu terjadi padamu.? Maksudku, kau kenapa.?"
Tanya Syeira sangat lembut dan pelan. Gadis itu menggeleng cepat sambil menundukkan kepala.
"Aku Syeira.!"
Syeira mengulurkan tangan mengajak berkenalan.
Gadis itu masih diam, melihat Syeira dengan kepalanya yang terus bergerak.
"Nama kamu.?"
"Zee, Zizi.!"
Akhirnya gadis itu membuka suara. Tapi dia tidak menerima uluran tangan Syeira, dia kembali menunduk, dan menoleh ke kaca melihat luaran sana.
Syeira tersenyum kecut menarik kembali tangannya.
"Kau mau pergi ke suatu tempat.?"
Zizi menggeleng, dia terus menggeleng.
"Turunkan aku disini.!"
Ucap Zizi membuat Syeira mengernyitkan kening.
"Hentikan Mobilnya.!" Teriak Zizi lagi pada pak sopir taksi.
Sopir taksi pun menginjak rem hingga mobilnya benar-benar berhenti, ini adalah sebuah daerah yang lumayan sepi, di sebelah kiri ada jalanan turun menuju tempat bekas terminal kereta api lama yang sudah tidak di gunakan. Dan di sebelah sana ada sebuah gedung tinggi bekas Mall yang juga sudah tidak digunakan.
Zizi lekas turun dari mobil tanpa mengatakan apapun pada Syeira. Dia berlari menuruni jalanan menurun menuju tempat kosong tak terpakai itu.
"Kenapa dia malah pergi kesana.?" Syeira merasa aneh.
"Pak, Tolong kirimkan semua barang saya ke alamat ini. Dan ini uang nya.!"
Syeira menunjukkan alamat panti dari ponselnya lalu memberikan lembaran uang pada pak sopir taksi.
Syeira pun ikut berlari mengejar Zizi yang sudah semakin jauh, tapi Syeira masih bisa melihatnya. Dan Syeira terus mengejarnya.
Zizi memasuki gedung bekas mall yang kini tak terpakai. Bangunan yang sudah rusak, penuh sampah kayu, besi, botol. Pecahan kaca. Dan sampah-sampah lainnya.
Didalam ruangan terlihat petang, meski siang, karna tak ada lampu yang menyala.
Zizi terus berlari menaiki eskalator yang sudah mati, ke lantai satu menuju lantai lainnya terus ke atas.
Syeira terus mengejarnya, untunglah dia sudah terbiasa berlari, dan Syeira termasuk pelari yang cepat sehingga ia bisa semakin dekat dengan Zizi.
Sampai lah mereka berdua di lantai paling atas gedung Mall yang tanpa atap, dari atas sini bisa melihat pemandangan sekeliling kota.
"Aaaaahhhhh.!" Zizi berteriak sangat kencang, menutup sendiri kedua telinganya, ia seakan ingin melepas semua beban dan masalahnya.
"Aaaaahhhhh.!" Sekali lagi Zizi berteriak, dan kini dia sudah menangis.
"Kau kenapa.?" Syeira bertanya dengan takut, Zizi baru menyadari jika Syeira mengikutinya, dia menoleh ke belakang dan melihat Syeira dengan panik.
"Kenapa kau mengikuti ku.? Pergi.?" Zizi berteriak.
Syeira hanya diam.
"Semua orang begitu jahat, kalian orang-orang kaya begitu kejam. Aku benci hidup ini.!"
Zizi berteriak pada Syeira dan dia berlari menuju tepian gedung hendak melompat dari sana.
Untunglah Syeira sudah berlari lebih cepat dan bisa memprediksi niat g!l\_a yang akan dilakukan Zizi, Syeira menarik kuat tangan Zizi. Hingga mereka terjatuh bersamaan di lantai dengan kasar.
"Aaahhh.!"
"Aaahh.?"
Keduanya merasakan sakit karna benturan tubuh mereka dilantai.
"Sakit, kan.?"
Teriak Syeira.
"Kau pikir dengan kau melompat dari gedung ini, semua masalah mu akan selesai.? Hah.? Kau hanya akan merasakan sakit dan cacat, dan bahkan meski kau mati.? Kau masih harus mempertanggungjawabkannya kelak di akhirat."
Teriak Syeira, Zizi hanya menangis meraung sambil duduk. Lututnya sejajar dengan dada. Ia menundukkan kepalanya di lutut.
Syeira mendekat, memeluk tubuh Zizi yang bergetar hebat.
"Ceritakan padaku, ada apa.? Mungkin, aku bisa membantumu.!"
Zizi melepas pelukan Syeira dan menatap Syeira.
"Siapa kau yang berpikir bisa membantuku.? Aku bahkan telah datang pada mereka yang berseragam. Mengajukan laporan ku, aku menunggu semalaman di kantor mereka untuk bisa mendapat keadilan ku, tapi saat paginya. Para penjahat itu yang justru datang untuk kembali menangkap ku, dan para petugas berseragam itu hanya membiarkan ku dibawa pergi tanpa membela apa lagi menyelamatkanku.!"
Syeira tak dapat berkata-kata. Itu artinya, masalah yang dihadapi oleh Zizi bukanlah masalah sepele.
Dia bahkan sudah melapor dan sia-sia.
Zizi membuka genggaman tangannya, Syeira memperhatikan, ada sebuah benda seperti Chip yang ada di tangan Zizi.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...