LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 33





Setelah berada di dalam kamar, Arend lekas mengunci pintu, ia melepaskan tangan Syeira dengan kasar.



"Aaauuwwh"



Syeira memegang pergelangan tangannya yang terasa nyeri karna kuatnya genggaman Arend mencengkram nya tadi.



"Dengar, Aku tidak peduli, siapa pria yang sedang kamu cintai, tapi yang jelas, kamu sedang membayar hutangmu saat ini padaku. Jadi lupakan tentang perasaan mu itu, dan lakukan tugasmu."



Arend bersuara pelan namun tegas, Syeira menatapnya tidak suka, namun lagi-lagi justru dada Syeira berdegup kencang, dia memang benar-benar mencintai Arend dengan atau tanpa Arend yang harus membalas cintanya itu. Syeira hanya diam.



'*Apa yang dia katakan*.?' Syeira tidak mengerti kalimat yang baru saja Arend ucapkan padanya tentang pria yang sedang ia cintai.



"Aku sudah memberikanmu kebebasan berbulan-bulan. Jangan bertingkah lagi, atau kita batalkan semua ini dan kau bisa menghabiskan sisa hidupmu di dalam tahanan."



Lanjut Arend yang membuat Syeira menganga dan berekspresi semakin kesal.



"Kau harus pandai berakting di depan mamah, kita adalah sepasang suami-istri yang harmonis. Dan? romantis." Ucap Arend ragu pada kalimat terakhirnya.



Arend meninggalkan Syeira setelah mengatakannya, ia masuk kedalam kamar mandi. Melakukan mandi kilat. Paling tidak agar tubuhnya bau sabun.



Syeira duduk di tepian ranjang, ia merasa kesal, tapi juga senang, dua rasa ia rasakan di waktu bersamaan.



'*Jika Arend dulu tidak mencintaiku, memangnya kenapa? Tidak masalah, bukan.? Sekarang dia adalah suamiku, ada kesempatan lebih untuk bisa membuatnya jatuh cinta padaku, Iya, aku harus berusaha membuatnya jatuh cinta padaku. Tidak peduli seberapa dinginnya dia, masih ada Zico yang akan membantuku, dan mamah yang selalu menjadi kartu AS untukku*.'



Syeira berpikir keras, keinginannya untuk memiliki Arend kembali tumbuh.



'*Lupakan kesedihan yang lalu. Kita mulai rencana yang baru. Saatnya untuk berperang*.'



Syeira mengangguk-anggukkan kepala memikirkan ide nya untuk berjuang mendapatkan hati Arend. Senyumnya yang licik terlihat mengembang di bibirnya.



"Yaahh.!"



Teriak Syeira tanpa sadar begitu semangat membayangkan usahanya untuk bisa menaklukkan sang suami.



Arend yang baru keluar dari kamar mandi jelas kaget.



"Apa yang kau teriakkan.?"



Syeira menoleh ke sumber suara. Membulatkan mata, Arend hanya melilitkan handuk di pinggangnya, Syeira lekas menutup matanya dengan kedua tangan namun sela-sela jari tengah dan manisnya justru terbuka dan matanya mengintip. Dan ia kembali hendak berteriak.



Dengan gerakan cepat Arend berlari menghampirinya membungkam mulut Syeira, jangan sampai Syeira berteriak dan mamahnya akan berpikir hal buruk terjadi di antara mereka.



Arend berhasil membungkam mulut Syeira sebelum Syeira berhasil teriak. Karna geraknya yang tergesa. Handuk yang Arend kenakan melorot teronggok di atas lantai.



"Hah.?"



'*Deg*'



Jantung Arend serasa berhenti berdetak. Ia membulatkan matanya sendiri dan bahkan menganga.



"Dengar jangan bergerak, dan jangan berteriak, jika mamah sampai mendengar teriakanmu, mamah akan mengira yang bukan-bukan. Kau mengerti.?"



Arend berbicara di telinga Syeira. Syeira belum menyadari kondisi Arend saat ini. Dan Syeira mengangguk sebagai jawaban atas apa yang Arend katakan.



"Tutup matamu, jangan buka sampai aku yang meminta."



Syeira kembali mengangguk menjawab perkataan Arend.



Arend lantas melihat wajah Syeira, memastikan apakah dia sudah menutup matanya, dan Syeira memang sudah memejamkan matanya, bahkan dengan sangat kuat.



Arend menatap wajah Syeira semakin dalam dan lebih lama, dalam posisi seperti ini membuat Arend serasa ingin menggila.



'*Kau sangat cantik, Syeira. Sangat*.'



Arend yang telah mempunyai rasa dan tak ingin mengakui karna berpikir Syeira memiliki cinta yang lain. Berdiam-diaman begitu lama. Sama sekali tak bertegur sapa. Dan kini malah bisa begitu intens dan begitu dekat. Membuat adiknya dibawah sana telah berdiri sebagai respon libidonya yang normal.



"Emmpphh"



Syeira hendak berbicara, namun tangan Arend masih membungkamnya. Arend pun tersadar dan melepaskan tangannya.



"Hah,, hah\_\_ Hah\_\_"



Syeira menarik nafas sebanyak banyaknya. Dan ia masih menutup matanya. Arend lekas mengambil handuk, mengambil baju ganti, lalu memakainya. Mata Arend terus melihat ke arah Syeira, jangan sampai dia mengintip, atau dia bisa melihat aset negara yang sangat rahasia.



"Tuan,.? Apa masih lama?"



"Sebentar, pakai celana." Jawab Arend.



"Tolong cepatlah, Tuan.? Kepala saya pusing jika melihat kegelapan.!"



Syeira mengeluh.



"Sudah." Ucap Arend santai, yang kini sudah mematut dirinya di depan cermin. Ketampanan yang pari purna. Dan Syeira tak melepas pandangannya sejak ia membuka mata.



Arend sudah selesai. Memakai jam tangan. Lalu melangkah hingga berada di dekat Syeira. Syeira hanya diam, sesekali ia menelan salivanya kasar tidak kuat melihat ketampanan suaminya.



Arend berhenti, menggerakkan tangannya setengah lingkaran agar Syeira menggandengnya.



Syeira tersenyum kaku, tapi dia mengerti yang di maksud Arend, ia lantas menggandeng lengan suaminya itu, melangkah keluar dari kamar menemui keluarga yang tengah berkumpul di ruang tamu.



Syeira dan Arend datang, Syeira terus menampakkan senyumannya yang tak terlihat tulus, sangat kalau, sedangkan Arend seperti biasa, hanya berekspresi datar.



Mereka duduk di sebelah Ayla. Zico menahan senyum melihat mereka yang beradegan bak pasangan romantis, karna Zico tahu bagaimana keaslian hubungan mereka.



"Kalian memang pasangan yang sangat serasi. Terlihat cocok sekali." Ayla memuji anak dan menantunya.



"Ha ha ha, mamah bisa aja." Syeira merasa canggung. Tapi ke-gugupannya sekarang berkurang.




"Mamah tidak masalah kalau kalian belum berencana untuk program baby, kalian yang menjalani, mamah hanya bisa mendoakan agar anak-anak mamah selalu bahagia. Tapi kalau kabar baik itu datang, mamah pasti akan lebih senang lagi. Kamu mengerti maksud mamah kan, Syeira.?"



Ayla mencoba berbicara sebaik mungkin, ia tidak ingin jika sampai kata-katanya ada yang menyinggung apalagi sampai menyakiti hati menantunya. Syeira hanya tersenyum dan mengangguk.



"Lantas hubungan kalian,? Kapan mau di resmikan.?"



Kini giliran Zico dan Cellin yang menjadi target operasi Ayla.



Zico membulatkan mata, Cellin apa lagi, raut mukanya tegang tiba-tiba. Arend mengernyitkan kening mendengar perkataan Mamahnya, ia hendak bicara, namun secepat kilat Syeira mendahuluinya.



"Iya, sayang,,,.? Zico dan Cellin kan sudah lama berpacaran.? Mereka juga harus membicarakan ke jenjang pernikahan, Bukan.? Ha ha ha."



Syeira berbicara pada Arend, matanya berkedip-kedip seperti lampu kerlap-kerlip, mengelus tangannya dan sesekali mencubit untuk memberikan kode.



Arend memalingkan muka atas permainan baru yang mereka ciptakan tanpa sepengetahuannya.



"Kita bicarakan lain kali saja. Aku sudah lapar, ayo kita makan."



Arend mengakhiri sandiwara yang terjadi. Cellin merasa lega mendengarnya, ia menghembuskan nafas menghilangkan beban berat yang sedari tadi terasa menyiksa.



Arend melangkah ke arah dapur. Ayla juga, Syeira pun ikut serta, tapi ia berhenti di meja makan, Syeira ragu untuk ke dapur, bagaimana kalau mamah mertuanya tahu dia tidak bisa memasak? Kacau.



Zico dan Cellin turut bangkit, menghampiri Syeira yang tengah membereskan meja makan.



"Kamu ngomong apa sih, Ra.? Kenapa aku dibawa-bawa.?"



Cellin berbisik pada Syeira, mata mereka sesekali melirik ke arah Ayla yang tengah sibuk menyiapakan bahan bersama Arend di dapur.



"Sssuutt,, kita bahas lain kali, sorry banget,.? Aku kepepet."



Zico justru berekspresi senang mendengar percakapan antara Syeira dan Cellin.



"Ada yang bisa bantu mamah.?"



Ayla memanggil bala bantuan. Syeira, Cellin dan Zico menoleh serentak.



Syeira yang sudah menjadi menantu sah nya merasa terpanggil, ia nyengir kuda melihat ke arah Ayla.



"Iya mah,." Jawab Syeira sambil mengangguk.



Arend yang tengah mencuci sayur tersenyum mendengar jawaban Syeira dengan suara nya yang bergetar. Ia mengetahui jika istrinya itu memang tidak bisa memasak sama sekali.



Syeira mendekat, bergerak satu langkah, ia berhenti, menoleh kembali dan menarik tangan Cellin untuk ikut bersamanya. Cellin hanya bisa pasrah dan membulatkan mata. Ingin sekali rasanya marah, tapi tidak bisa.



"Apa yang bisa di bantu, Mah.?"



Tanya Syeira dengan senyumnya yang di paksa.



Zico tertawa.



"Bantu doa aja.? Ha ha ha"



Cellin pun tak bisa menahan tawa, ia baru tahu jika sahabatnya Syeira tidak bisa memasak.



"Diem Lo,,\_ An,,.?"



Arend dan Zico menoleh ke arah Syeira serentak. Menghentikan tawa dan raut muka berubah panik seketika.



"An.? Anak bandel.!"



'*Fuuhh*'



Hampir saja Syeira mengeluarkan kata *keramat*.



Cellin mengambil pisau, ia mengupas bawang yang ada di depan Ayla. Terlihat jika Cellin cukup terampil melakukannya, Syeira pun melakukan gerakan yang sama. Ia meraih pisau dan ikut mengupas bawang, dan bisa di lihat dengan jelas jika Syeira tidak terbiasa. Ayla malah tersenyum melihatnya. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan menantunya yang bisa memasak atau tidak. Yang terpenting kehidupan anak-anaknya bahagia. Itu saja.



Belum juga dapat dua siung bawang, mata Syeira sudah sangat perih, ia tak lagi bisa tahan. Air matanya sudah keluar, dan karna panik Syeira malah mengucek matanya menggunakan tangannya yang membuat perih itu semakin menjadi.



"Aaahh."



Syeira sudah tidak bisa membuka mata.



"Syeira.?" Semua jadi ikut panik.



Arend segera mendekat, ia menggandeng tangan Syeira untuk mengikuti langkahnya ke wastafel, Arend membasuh muka Syeira.



"Jangan sentuh mata kamu dengan tangan, nanti akan semakin perih."



Suara bariton Arend yang berat terdengar penuh kasih di telinga Syeira.



Syeira mengangguk patuh.



Arend mencuci tangan Syeira menggunakan sabun cuci piring. Membilasnya hingga bersih.



Arend lantas kembali fokus pada mata Syeira yang masih terpejam dan menangis menahan perih.



Arend mendekatkan wajahnya pada wajah Syeira, meniup mata Syeira pelan-pelan. Tanpa mempedulikan 3 pasang mata yang memperhatikan ke romantisannya.



Syeira perlahan membuka mata, mendapati Arend yang masih meniup matanya, air mata Syeira kembali lolos, tapi itu bukan karna perih akibat bawang, melainkan perih di hatinya menerima kenyataan orang yang di cintai tidak mencintainya.



Arend berhenti meniup mata Syeira, kini mereka berdua saling menatap dalam. Seakan hanya mereka berdua yang ada di sana.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



*Yang Lain ngontrak. Ye kan*.?