
"*Jodoh bukan tentang siapa yang pertama datang dalam hidup kita*". Itu adalah kalimat yang Zico katakan pada Meldy sesaat setelah mereka telah resmi menjadi suami istri.
Zico baru saja selesai mengucapkan kalimat Kabul dengan lancar dan benar, hingga Arend dan Aryan yang menjadi saksi, serta para tamu undangan mengucapkan kata sah penuh semangat mengiringi resminya hubungan Zico dengan Meldy.
Hari ini adalah hari resepsi mewah pernikahan pasangan pengantin baru itu. Diadakan di sebuah gedung hotel bintang 5 dengan pelayanan VVIP. Seluruh tamu undangan yang hadir hampir dari segala kalangan.
Mulai dari seluruh keluarga Syeira, yang berasal dari panti kasih, seluruh keluarga besar Cellin yang sederhana. Para pekerja, baik rumah maupun perusahaan, Staf, bahkan karyawan rendah sampai ke OB, Satpam, dari perusahaan Aryan dan *N~A Cell*. Para kolega dan teman-teman pebisnis. DK dan beberapa artis yang pernah membintangi iklan *NA Cell*, orang-orang penting beserta petinggi negara, para awak media. Dan tentu saja keluarga besar mempelai wanita, Meldy.
Acara sangat meriah dan mewah. Designe interior WO yang bernuansa gold dan putih, mempertegas kemewahan acara ini.
Bunga-bunga mawar putih terpajang di setiap sudut dan meja-meja. Lampu-lampu kristal yang menggantung menjuntai di tambah bunga-bunga berwarna putih seperti Lily dan mawar. Sangat mewah dan megah. Tirai-tirai yang tertata indah seperti nuansa istana pada negri dongeng, sangat mewah.
Pengantin pria bersetelan tuxedo putih bersih, dengan dasi silver dan sapu tangan gold yang sedikit timbul dari saku jas nya di dada kiri. Zico nampak sangat tampan dan gagah. Pria pirang yang menggoda mata para kaum hawa.
Meldy mengenakan gaun putih panjang menjuntai ke lantai, mengembang bak princess negri dongeng, rambutnya di sanggul modern dan rapi. Sebuah mahkota bertahta intan permata menghiasai kepalanya. Sebuah buket mawar putih berada di genggamannya. Meldy terlihat sangat cantik dan elegan.
Tangan kanan Meldy menggandeng mesra lengan kiri Zico yang telah sah menjadi suaminya.
Lantunan musik klasik yang merdu mengiringi sepanjang acara, dan DK tengah menyanyikan sebuah lagu cinta romantis yang ia persembahkan sebagai hadiah.
Aryan, Ayla, Arend, Syeira, dan si kecil Lucy yang digendong sang grand ma berada di barisan paling depan para tamu. Sedangkan Kei memilih berdiri di belakang tak jauh dari mereka sambil menikmati segelas wine.
Zid hanya diam di kursinya di belakang Kei yang berdiri, sambil menunduk memainkan gelas minumannya. Dari seluruh tamu yang hadir dengan berbahagia, dialah yang menjadi satu-satunya orang yang menderita dan terluka atas acara resepsi pernikahan ini.
Senyum semuanya terus mengembang. Sangat indah dan bahagia. Kini pasangan pengantin baru itu tengah melakukan pemotongan kue yang tinggi menjulang dengan sebuah pedang yang sudah disiapkan. Riuh riang terdengar dari para tamu undangan. Begitupun gemuruh tepuk tangan yang meriah.
Acara demi acara terus berjalan dengan lancar. Hingga kini telah sampai pada acara dansa. Musik-musik klasik piano dan biola sudah dimainkan dengan indah.
Arend mengajak Syeira berdansa, tentu pasangan pengantin sudah memulainya terlebih dulu.
Dengan malu-malu Syeira menerima uluran tangan Arend. Ia merasa sungkan karena kini sudah menjadi ibu muda. Ayla dan Aryan yang terus mendorongnya hingga akhirnya Syeira bersedia.
DK tiba-tiba mendekat pada Kei yang hanya berdiri santai seorang diri.
"Sayang sekali, jika wanita secantik anda, hanya berdiam saja seorang diri disini. Izinkan saya untuk membawa anda ke lantai dansa, Nona?" DK membungkukkan badan lalu mengulurkan tangan seperti seorang pangeran yang menghadap tuan putri.
"DK?" Kei mengernyitkan kening, ia tahu pria di depannya ini adalah penyanyi terkenal, dan Kei bahkan pernah juga melihatnya di perusahaan Arend meski tak sempat bertegur sapa.
"Berdansalah denganku." DK kembali menawarkan diri. Mata elangnya memang sangat jeli. Bisa memilih wanita tercantik yang masih nganggur untuk diajak sebagai partner dansa.
"Tentu." jawab Kei lembut, ia lantas menaruh gelasnya di atas meja. Dan mengulurkan tangannya pada DK. Mereka berdua pun akhirnya melangkah ke lantai dansa bergabung degan Arend, Syeira, Zico, Meldy, dan beberapa pasangan dansa lainnya.
Hanya Zid yang terdiam dalam kenestapaan. Air matanya beberapa kali lolos dan dia langsung mengusapnya. Ingin rasanya Zid meraih botol minuman lalu menenggaknya, tapi ia mengingat kejadian buruk hari itu yang mendatangi apartemen Meldy dan hampir melakukan kesalahan karena pikirannya yang tak lagi jernih hingga mendorongnya dalam hal yang salah.
Kebahagiaan yang sudah lama dinantikan telah hadir dalam keluarga besar Aryan. Setelah sekian lama dan banyaknya masalah demi masalah yang datang sebagai cobaan agar mereka semakin tegar.
Meski tak ada bukti dari sebuah kalimat, **hidup bahagia selamanya**, karena itu hanya ada di dongeng anak-anak. Setidaknya, setelah semua yang terjadi. Mereka akan lebih dewasa dalam menyikapi masalah-masalah yang mungkin akan datang sebagai bumbu-bumbu kehidupan mereka dikemudian hari.
Acara dansa telah selesai. Kini memasuki acara puncak. Yakni pelemparan bunga pengantin.
Sebelum acara pelemparan bunga itu dilakukan. Syeira menggoda agar mempelai pengantin melakukan ciuman mesra terlebih dulu di depan para tamu undangan.
"Sialan kau, Syeira." umpat Zico sambil tersenyum mengembang menahan malu, sedangkan Meldy justru sangat berharap.
"Ayolah, sayang? Lakukan?" pinta Meldy lucu yang mengundang gelak tawa semua orang.
Zico mengusap rambutnya yang tak gatal, entah kenapa sang mantan Cassanova itu jadi malu-malu mau.
Zico akhirnya mulai bergerak perlahan. Tangan kirinya menyentuh pinggang ramping Meldy sebelah kanan. Lalu tangan kanannya menyentuh pipi kiri Meldy, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Meldy, lantas mulai menautkan bibirnya pada bibir Meldy, Meldy memejamkan mata menerima ciuman mesra dari suaminya.
Seluruh tamu undangan pun bertepuk tangan dan berteriak dengan meriah. Ini adalah ciuman pertama antara suami-istri itu yang disaksikan oleh ratusan orang.
"Eehh,, eehh,,, tutup mata kalian?" ucap ibu panti pada anak-anak kasih. Yang mendapat penolakan dari mereka dan justru mendongak, apalagi yang seusia Syeira dan belum menikah, serta para remaja. Mereka melihat pemandangan romantis itu dengan antusias.
Jangan tanya bagaimana perasaan Zid saat ini. Kei bahkan memperhatikan pria malang itu dengan tatapan kasihan. Dari seluruh tamu yang tertawa bahagia, hanya Zid lah yang terus berderai air mata. Pria itu hanya diam menatap nanar pada pasangan pengantin baru itu. Dan Kei bisa mengerti bagaimana rasanya berada diposisi seperti Zid saat ini. Karena sebelumnya, Kei pun pernah patah hati dua kali.
"Mereka sangat serasi." ucap DK pada Kei yang berdiri disampingnya. Membuyarkan lamunan Kei yang menatap Zid sedari tadi.
Kei berusaha tersenyum. Meski kaku.
"Iya." jawabnya sambil mengangguk.
"Okay kita sampai pada acara lempar bunga? Mempelai pengantin pria dan wanita akan melempar bunga ke belakang, dan bagi yang ingin bisa segera menikah silahkan cari tempat kalian di belakangnya." MC berbicara nyaring dari Mikrofon.
"Aku mau ikut?"
"Aku juga?"
Beberapa gadis dari panti kasih, keluarga Cellin, serta keluarga Meldy yang masih single atau pun yang sudah janda. Mereka mulai memposisikan diri.
"Lempar padaku?"
"Aku yang harus mendapatkannya?"
"Aku juga mau?"
Gadis-gadis itu terdengar saling berebut hingga tamu undangan yang lain tak dapat menahan gelak tawa.
Posisi berdiri Kei tidak jauh di belakang para gadis-gadis itu. Dan Zid duduk di kursi tak jauh dari sebelah Kei.
"Apa kau mau aku menangkapnya untukmu?" tanya DK menggoda Kei.
"Hentikan! Jangan konyol." jawab Meldy.
"Satu... dua... tiga..."
"Aaaah?"
"Aaahh?"
"Aaahhh?"
Meldy dan Zico telah melempar buket bunga mawar putih itu ke belakangnya dengan kekuatan yang cukup keras, hingga.
"Aaahh?"
Buket bunga itu berhasil di tangkap DK, namun karena DK bergerak cepat, ia menabrak tubuh Kei hingga Kei terhuyung, dan DK dengan cepat meraih tangan Kei. Namun Zid yang melihat Kei akan terjatuh lekas berdiri dan menangkap tubuh Kei. Kedua tangan Zid melingkar sempurna pada pinggang ramping Kei yang tubuhnya sudah dalam posisi berbaring dalam dekapannya, namun tangan kanan Kei di pegang oleh DK yang juga memegang buket bunga pada tangan satunya.
Zid menatap dalam manik Kei, Kei pun menatap tajam padi Zid yang memeluknya, lalu Kei berpindah menatap DK yang memegangi tangannya.
Hening.
...~~**The End**~~...