LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 74





"Dimana Zid.?" Cen bertanya.



Sontak Arend dan Rain membulatkan mata bersama dan saling menatap, mereka melupakan satu anggota inti.



"I'm here Guys,,,.!"



Zid datang dengan menyeret seorang pria yang sudah dihajarnya, satu anak buah Klan RG. Entah kapan Zid melakukannya, aksinya tak tertangkap oleh kamera Cen.



"Zid.?"



"Zid.?"



Zid mendorong pria itu untuk masuk ke dalam mobil, Rain langsung sigap menodongkan senjatanya.



Anak buah Klan RG itu berlutut di bawah, Zid duduk bersandar di samping Arend, berhadapan dengan Rain, Arend berhadapan dengan Cen, anak buah Klan RG berada di tengah mereka.



Cen memukul keras tengkuk anak buah Klan RG hingga ia jatuh pingsan.



"Dari mana saja kau, Zid?" Arend bertanya.



"Aku melihatmu dan Tuan Rain pergi ke arah barat, jadi aku berinisiatif ke arah timur, aku melihat dia berbicara dengan pria yang ia panggil Leon dari sambungan telepon, dan ku dengar dia menyebut nama Syeira, jadi aku tidak membunuhnya, kurasa dia tahu sesuatu, dan mungkin bisa jadi peta untuk kita."



Arend mengangguk mendengar penjelasan Zid.



"Kita kemana sekarang.?" Arend bertanya pada Rain.



"Markas Cosa.!"



Mobil pun melaju kencang menuju tempat yang Rain sebutkan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Hari sudah sore, Syeira di bawa kesebuah kamar VVIP di sebuah Bar. Leon membuka penutup mata dan mulutnya, tapi tangan dan kaki Syeira masih sama-sama terikat kuat.



"Aaahh.?"



Syeira berteriak kala Leon membuka paksa lakban di mulutnya, Syeira duduk di tepian ranjang, dan Leon berdiri di hadapannya.



"Katakan padaku, siapa orang yang ada di belakangmu.?"



Leon kembali bertanya.



Syeira hanya diam tak menjawab.



"Baiklah, kalau kau tidak mau menjawabnya. Aku akan mati, jika tidak di tangan orang-orang yang ada di belakangmu, aku akan tetap mati di tangan Mr, RG.!"



Ucap Leon yang tengah membuka kancing kemeja putihnya satu persatu, Syeira membulatkan mata, ia kini merasa takut dengan apa yang akan dilakukan Leon.



"Leon, apa yang kau lakukan.?" Syeira panik, dan Leon hanya tersenyum *Smirk*.



"Kau sangat cantik Syeira, sangat disayangkan jika kau tidak kunikmati, sebelum aku mati!"



Ucap Leon yang membuat Syeira gugup, panik dan takut, jantung Syeira berdegup kencang tak beraturan.



"Lebih baik kau membunuhku, dari pada kau menyentuhku.?" Teriak Syeira.



Leon semakin senang, karna ia menemukan titik kelemahan Syeira. Wanita itu sejak kemarin tidak menunjukkan sedikitpun rasa takut akan mati, tapi dia begitu takut jika ia ternodai.



Leon melempar kemejanya kesembarang arah. Lalu Leon mulai membuka gespernya.



"Tidak.? Tidak.?" Syeira menggelengkan kepalanya berkali kali, ia terus bergerak mencoba membuka tali yang mengikat kakinya dan percuma. Syeira terus bergerak hingga ia jatuh ke lantai tak berdaya.



Leon mengangkat tubuh Syeira yang terus meronta memberikan perlawanan yang tak berarti, lalu Leon membanting tubuh Syeira di atas ranjang, hingga tubuh Syeira bergerak mengikuti ranjang yang memantul.



Syeira sudah menangis dan terus memohon agar Leon menghentikan aksinya.



Leon menutup tubuh Syeira dengan tubuhnya.



"Akan aku katakan.? Akan aku katakan.? Tapi tolong jangan lakukan.?"



Syeira sudah di ambang keputus asa an. Ia tak lagi mampu menyembunyikan identitas suaminya, atau Leon akan menyentuhnya. Syeira memalingkan muka, hingga bulir-bulir bening itu jatuh dari sudut-sudut matanya. Leon begitu tergoda melihat mata dan wajah cantik Syeira. Semua aksen Syeira sangat menggodanya.



"Baiklah. Katakan.?" Ucap Leon, bangkit dari tubuh Syeira, dan dia berdiri di depan ranjang, menatap Syeira yang terbaring tak berdaya dengan kedua tangan dan kakinya terikat.



"Narendra, Narendra Putra Aryan, CEO N~A Cell.! Dia suamiku"



Syeira pun akhirnya menyebut nama suaminya, sambil menangis sesenggukan, ia tak tahu lagi bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri dalam kondisi saat ini.



"Leon.?" Seorang pria datang.



"Mr, RG. Sebentar lagi akan datang, malam ini.!"



Leon mengangguk, dan pria itu kembali keluar, menutup pintu.



"Kau membuatku sangat tertarik padamu, Syeira, hatiku berdetak begitu cepat setiap aku melihatmu. Tapi aku akan menunggu, sampai semua ini selesai, akan aku bunuh suamimu, dan kau akan menjadi milik ku.!"



Ucap Leon pada Syeira sambil memakai kembali kemeja putihnya, memakai gesper dan merapikan penampilannya. Bos besarnya akan segera datang. Leon keluar dari kamar.



Syeira menangis begitu kencang saat Leon sudah keluar dari kamar meninggalkannya seorang diri di kamar VVIP di gedung BAR itu.



"My L.? Cepatlah datang. *hiks hiks hiks*.!"



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Pria yang dibawa Zid di ikat di sebuah kursi kayu, Cen mengguyurnya keras dengan se ember air. Dan Pria itu lekas tersadar.



Rain duduk di kursi berhadapan dengan pria itu dan Rain tersenyum *Smirk*.




"Katakan, dimana Leon.?"



Rain bertanya dengan nada suara pelan. Salah satu gadis yang mereka selamatkan mengatakan Syeira telah di bawa oleh Leon, dan pria di hadapannya ini bahkan sempat berbicara dengan Leon dan menyebut nama Syeira.



"Aku tidak akan mengatakannya, meskipun kau membunuhku.!"



Jawab pria itu yang langsung mendapat pukulan dari Cen yang ada di dekatnya, darah segar keluar dari sudut bibirnya, dan pria itu justru tersenyum dan tertawa, dia adalah salah satu anggota terkuat dan terpercaya.



"Cen.?" Rain mengulurkan tangan pada Cen, dan Cen langsung mengerti. Cen mengeluarkan sebuah silet dari saku jaketnya, memberikannya pada Rain.



Itu adalah salah satu senjata Rain yang sangat di andalkan untuk melakukan interogasi dan eksekusi. Sebuah benda kecil yang sangat tajam.



Rain bangkit, berdiri dari duduknya setelah ia menerima silet dari Cen.



"Apa yang akan kau lakukan.?" Anak buah RG merasa ketakutan. Ini dunia Mafia yang syarat akan pembunuhan dan penyiksaan.



Rain hanya tersenyum lalu berjalan pelan memutar hingga ia berada di belakang pria itu yang duduk terikat dikursi, dan tangannya terikat di belakang bangku.



Arend dan Zid membulatkan mata, menunggu apa yang akan di lakukan oleh Rain.



"Aaaahhhh.?" Teriak anak buah RG sambil bergerak menahan sakit karna Rain telah memotong satu ibu jari nya hingga putus. Kursi tempat pria itu duduk hampir saja bergerak jika Cen tidak memegangnya kuat.



Arend memalingkan muka sambil memejamkan matanya kuat, setelah melihat Rain yang kembali berjalan dengan memegang ibu jari pria itu yang putus, darah segar mengucur menetes di lantai. Rain kembali duduk dengan tenang di hadapan pria itu.



Sedangkan Zid sudah berlari entah kemana. Ia muntah, perutnya sangat muak tiba-tiba.



"Aaahh.? Aaahh.??" Pria itu maaih berteriak dan menangis merasakan sakit yang teramat pada tangannya akibat ibu jarinya yang sudah putus dan kini berada di tangan Rain.



"Satu.!" Ucap rain lalu menjatuhkan ibu jari itu kelantai di depan pemiliknya.



"Kau bukan manusia.?" Umpat anak buah RG.



Rain tertawa terbahak-bahak.



"Jawab, dimana Leon berada.? Dan kemana dia membawa Syeira.?"



Rain kembali bertanya, dan dia sudah berdiri gagah mengamati silet nya yang penuh dengan darah.



"Kalau kau ingin membunuhku, bunuh saja.! Aku tidak akan mengatakannya."



"*Serreeekk*.!"



"Aaaahhhh.?? Aaahh.??"



Rain mengiris telinga anak buah RG sebelah kiri. Arend terus membulatkan mata melihat perbuatan Uncle nya. Ia seakan tak percaya.



Rain kembali menjatuhkan telinga pria itu yang sudah putus dari tempat nya, di lantai depan sang pemilik.



"Aaahhh.?? Hahah Hahah?" Pria itu menangis histeris, darahnya mengalir deras membanjiri bahu dan tubuhnya.



"Bunuh saja aku. Bunuu\_\_hh.??" Teriak anak buah RG yang sudah merasa sangat tersiksa.



"Tentu, tapi setelah kau mengatakannya, kemana Leon membawa Syeira, dan aku akan memberikanmu kematian yang mudah, dan cepat.!"



"Aku sudah bilang, aku tidak akan mengatakannya.?"



"Cen.?" Rain berteriak memanggil nama Cen, tangannya mengulur meminta sesuatu setelah Rain membuang Siletnya.



Cen memberikan sebuah pisau yang sangat kecil pada Rain.



"Apa yang akan kau lakukan.?" Pria itu semakin takut dan panik, darah, keringat dan air matanya bercampur menjadi satu.



"Pegang dia Cen.?"



Cen memegang bahu pria itu semakin kuat, dan Rain mengarahkan pisaunya ke sebelah mata pria itu, Rain akan menusuk dan mengambil satu bola matanya.



"Tunggu.? Tunggu.? Akan aku katakan.?" Ucap pria itu gugup ketika Rain sudah hampir menekan pisaunya ke bola matanya.



Rain mundur dan kembali duduk.



"Cen.?" Rain memanggil nama Cen, dan Cen membungkukkan badan.



Cen lantas bergerak mengambil Laptopnya.



"Katakan.!" Ucap Rain sambil memainkan pisau nya di jari jemarinya sendiri.



"Candy BAR. Leon membawa Syeira ke sana. Dan Mr, RG menemui Leon disana malam ini.!" Ucap pria itu.



"Bagaimana Cen.?" Rain bertanya pada Cen yang memainkan Laptopnya, meretas akun Candy BAR, mencari data tamu penting.



"Benar, mereka sudah disana sekarang.!" Ucap Cen yang berhasil meretas dan menemukan data tamu penting.



Rain mengeluarkan senjata api nya. Ia arahkan tepat di kening pria itu.



"Katakan permintaan terakhirmu, sebelum kau mati, dan akan aku kabulkan.!"



"Sungguh.?" Tanya pria itu.



Rain mengangguk, itulah Rain, ia selalu memberi imbalan pada nyawa yang akan di ambilnya jika mereka mau bekerja sama sebelum mereka mati.



"Tolong jaga anak dan istriku, mereka tinggal di Cappadocia, dan tolong berikan uang pada mereka.!" Ucap Pria itu yang tak lupa menyebut nama dan alamat lengkap yang langsung di catat oleh Cen di laptopnya.



"Di kabulkan.!" Seru Rain.



"***DOORR***.!"



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...