LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 80





"Masuklah.!"



Zid membukakan pintu apartment yang ia sewa untuk Zizi.



Zizi melangkah ragu, tempatnya jauh lebih bagus dari yang ia bayangkan.



"Zid.? Kenapa di tempat seperti ini.? Maksudku, ini pasti mahal."



Zid hanya diam. Ia masuk lalu menutup pintu.



"Ku tunjukkan seisi ruangannya.!"



Zid melangkah terlebih dulu, Zizi mengekor.



Di mini apartemen itu, hanya ada ruang tamu, satu kamar, satu kamar mandi, dan dapur kecil.



"Ini kamarnya.!"



Mereka berdua memasuki kamar yang akan menjadi kamar tidur Zizi.



"Ini semua terlalu mewah untukku, Zid.!"



"Semoga kau betah dan nyaman tinggal disini, Zi.!"



"Terimakasih.!"



Zid hanya mengangguk.



"Aku harus pergi sekarang, Meldy sudah menungguku, selamat beristirahat.!"



Zid melangkah, ia akan keluar.



"Zid.?"



Zizi menghalangi jalan Zid. Zid hanya diam dengan tatapan mata yang dingin, raut muka datar, ia berusaha menahan hasratnya. Zid tahu, ia bisa merasakan jika Zizi menyukainya. Dan dia pun sebenarnya merasa ada yang aneh di hatinya setiap dekat dengan Zizi.



"Terimakasih.!"



Zizi membungkukkan badan, ia sendiri harus bisa mengendalikan perasaannya pada Zid. Zid sudah menjadi milik orang lain. Zizi akan berusaha untuk tidak menjadi wanita bodoh yang merusak kebahagiaan wanita lain.



Zid mengangguk, lalu ia kembali melangkah dengan cepat meninggalkan Zizi dan keluar dari mini apartemen itu.



Zizi menatap punggung Zid yang keluar dari pintu dengan tatapan nanar, ia benar-benar telah jatuh cinta pada Zid. Dan itu rasanya sakit, mencintai pada apa yang sudah dimiliki orang lain.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Hari-hari berlalu.



Cellin dan Zico kini mereka sudah berada di apartemen Arend. Mereka tinggal bersama.



Satu anggota keluarga itu tengah melakukan video call bersama Ayla dan Aryan yang tengah berada di Brazil menjaga Mikaila.



Semua nampak bahagia, hanya saja ada sedikit masalah, Mikaila mulai berubah, ia lebih suka menyendiri, pendiam, dan bahkan pernah kabur dari pengawasan pengawal, dan menonton acara balapan liar kawula muda disana.



"Maafin mamah yah semuanya.? Mamah harus menjaga Mikaila dulu disini, tapi doa mama tak pernah putus untuk kalian. Semoga semua anak mamah sehat, bahagia.!"



"Iya Mah, kami ngerti kok, mamah juga baik-baik ya disana?" Zico selalu menjadi orang yang paling antusias saat berbicara dengan Ayla.



Setelah cukup lama. Mereka mengakhiri sambungan telepon.



Ini adalah hari libur, Arend, Syeira, Zico dan Cellin yang duduk di kursi roda, mereka tengah bermain kartu di ruang tamu.



Sofa-sofa dan meja mereka singkirkan hingga ke pinggiran dinding, menyisakan satu ruang yang cukup luas di tengah, dan mereka duduk melingkar di atas karpet ruang tamu.



"Giliran ku.!" Seru Syeira yang mendapat giliran menunjukkan kartunya.



"Yeaahh.! Aku menang.? Ha ha ha ha." Tawa Syeira menggema. Ia sudah memenangkan permainan ini berkali-kali.



Arend dan Cellin hanya tersenyum.



"Aaiisshh,,, kau pasti curang itik bar-bar.!"



"Heh.? Fitnah kau.. Fitnah itu lebih kejam dari pada fitnes"



"Kau bilang tadi kau tidak bisa bermain kartu, dan kau belum pernah memainkannya, bagaimana kau bisa terus menang.? Kau pasti curang.?"



Zico sangat nyolot, ia kesal karna terus kalah dari Syeira. Raut mukanya begitu tegang dan serius. Bahkan jarinya menunjuk-nunjuk Syeira, mengatakan jika Syeira pasti curang.



"Heh.? Itu namanya bakat,.? Aku ini diberkati, jadi aku bisa terus menang. Kalau sudah kalah.? Terima saja.?"



Syeira tidak terima dia juga marah-marah dan balik menunjuk Zico.



"Kau mau bertanding melawanku.? Hah.? Ayo.?"



Zico menggulung lengan bajunya, seakan dia akan mengajak duel Syeira.



"Kau pikir aku takut.? Ayo.?" Syeira pun menggulung lengan kaos nya yang pendek.



"Haaa\_\_hh.?" Arend merasa jengah dengan tingkah mereka berdua. Ia memalingkan muka bosan.



Sedangkan Cellin hanya tersenyum senang melihat kelakuan dua makhluk ini.



'*Ting\_\_\_ Tong\_\_, 3X*'



Bel apartemen Arend berbunyi.



"??"



Semua terdiam.




Syeira memalingkan muka. Dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Yang menunjukkan dia juga enggan tuk berdiri.



Arend benar-benar jengah dengan kelakuan mereka. Ia membuang nafas kasar. Arend pun berdiri dan membuka pintu.



Arend terdiam, Zid, Meldy dan Zizi datang. Zid tersenyum kaku, Zizi hanya menunduk. Dan Meldy tanpa permisi langsung menerobos masuk.



"Aku dataaa\_\_ng.?" Seru Meldy ceria yang menambah suasana semakin ramai.



Cellin sudah mengenalnya, beberapa kali di kantor dulu ia bertemu dengan Meldy, wanita yang cantik, dengan balutan pakaian yang selalu seksi, dandanan tebal, selalu berisik, tapi dia baik.



"Aaahh.?? Meldy.?" Syeira menyambut antusias kedatangan Meldy. Mereka berpelukan.



Zid dan Zizi masuk.



"Kalian semua datang, ayo duduk.!" Syeira menyambut tamu dengan baik. Arend menutup kembali pintunya.



"Wooaahh.? Kenapa harus bawa-bawa segala.? Kalau mau main, datang saja, gak usah bawa-bawa kayak gini.!" Seru Syeira yang melihat Zid datang membawa begitu banyak paper bag sebagai hadiah untuk Zico, Cellin dan semuanya.



"Dia siapa.?" Zico bertanya tentang Zizi. Syeira memperkenalkannya sebagai teman baru mereka, tanpa menceritakan kisah kemarin.



Zid dan Zizi duduk bersebelahan. Mereka semua duduk melingkar.



Cellin yang duduk di kursi roda, sebelah kanannya Syeira, lalu Arend, Meldy, Zid, Zizi, dan Zico yang berada di sebelah kiri Cellin.



"Cellin apa kabar.?" Meldy bertanya dengan nada suaranya yang khas ceria.



"Alhamdulillah baik.!"



"Cepat sembuh.!" Seru Meldy lagi diiringi senyumnya yang ceria.



"Kalian bermain kartu.?" Meldy melihat di tengah mereka ada kartu-kartu yang berserakan.



"Iya, dan aku yang menang terus.! Zico ngamuk, karna dia kalah.! Ha ha ha.!"



"Ha ha ha ha.!"



Tawa Syeira dan Meldy memenuhi seisi Apartemen Arend.



"Diam kau.! Kau curang.!" Zico masih tak terima, ia bicara sambil melempar kartu ke arah Syeira. Dan Syeira membalas dengan menjulurkan lidahnya. Membuat semua orang tertawa.



"Kita main lagi.?" Meldy berseru.



"Ah, sudah malas.!" Zico menjawab



"Emm ?? Ganti permainan?.!"



"Apa.?" Tanya Syeira.



Meldy terus mengembangkan senyumnya, kini ia sibuk membuka tas nya, lalu menarik secarik kertas, semua orang hanya bisa memperhatikan.



"Apa.?" Syeira kembali bertanya.



"Kita akan melakukan permainan gigit kertas.!"



Semua orang mendengarkan Meldy yang berbicara sambil menunjukkan selembar kertas di tangannya.



"Kita akan melakukan suwit, dan yang menang akan menjadi orang yang pertama menggigit kertas ini, lalu, kertas akan di berikan pada orang berikutnya, dan orang berikutnya harus mengambil kertas ini dengan cara menggigitnya juga, terus seperti itu. Setiap orang harus meninggalkan sisa kertas dimulutnya, Jika kertas ini habis dan ada yang tidak kebagian kertas di mulutnya, maka dialah yang akan kalah. Dan yang kalah harus mendapat hukuman, antara Truth or dare!" Meldy menjelaskan permainan.



Zico, Syeira dan Cellin terlihat mengangguk, Arend dan Zid hanya diam dengan raut muka datar, Zizi terus menunduk.



"Baik. Kita Suwit.!"



Mereka melakukan Suwit beberapa kali. Sampai pemenangnya adalah Zico, dia yang akan menjadi orang pertama yang menggigit kertas di mulutnya.



Zico sudah menggigit kertas. Ia lantas memberikan kertas itu pada Cellin, Cellin menerima dengan menggigit kertas yang di berikan Zico. Zico menggigit kuat, menahan kertas yang akan di gigit Cellin, berhasil, Zico masih kebagian kertas di mulutnya, dan Cellin berhasil merobeknya cukup lebar.



Cellin pun memberikan kertas yang ia gigit pada Syeira. Dan Cellin menggigitnya kuat agar masih kebagian, Syeira mendapat bagian kertas yang lumayan, kertas itu menjadi semakin kecil.



Syeira lantas memberikan kertas pada Arend, Arend berpikir, ia ingin menggigit bagian kertas lebih banyak agar ia bisa mencuri kesempatan menautkan bibirnya pada Syeira, tapi jika itu ia lakukan, kertas nya akan semakin kecil untuk ia berikan pada Meldy, yang ada malah nanti bibirnya bertemu dengan bibir Meldy, dan Arend pun menggelengkan kepala. Membayang kan hak menyeramkan yang akan terjadi.



Arend menerima kertas yang di berikan Syeira, Arend mendapat kertas yang masih lumayan, tapi kertas itu semakin sedikit. Dan mengecil.



Arend dengan santai memberikannya pada Meldy, Meldy menerima. Syeira Sempat membulatkan mata takut-takut, tapi dia Meldy, tidak peduli dengan pria lain, hanya Zid yang memenuhi hati dan pikirannya.



Meldy sudah berhasil menggigit bagian kertasnya, kertas itu semakin kecil. Dan Meldy memberikannya pada Zid. Dengan nakal Meldy memejamkan mata saat Zid akan menerima kertas darinya.



"Woaah?? Woaah.?"



Membuat Zico heboh sendiri saat melihatnya, ingat, Zico masih puasa, dan dia adalah seorang Cassanova, melihat adegan live di depannya membuat jantung Zico ikut berdetak cepat.



Syeira baru menyadari satu hal dari permainan ini. Meldy ingin mendapat perlakuan romantis dari Zid. Tapi Meldy tidak menghitung dan memperkirakan dengan cermat. Masih ada Zizi di ujung sana.



Zid sudah menggigit kertasnya, dan dia masih berhasil menarik kertas sedikit. Bahkan bibirnya tanpa menyentuh bibir Meldy.



Meldy pun lekas membuka matanya kembali merasakan Zid yang berhasil menarik kertas tanpa menyentuh bibirnya. Ia kecewa.



Kini semua menjadi tegang. Syeira, Zico dan Meldy sudah membulatkan mata menatap Zid yang akan memberikan kertas pada Zizi.



Itu seperti mustahil untuk masih bisa di gigit, Kertas yang di gigit Zid sangat kecil, menempel pada bibirnya.



Jantung semua orang berdetak lebih cepat dari seharusnya.



Zid dan Zizi saling menatap dalam dan diam. Ini adalah giliran Zizi untuk menerima kertas itu yang di gigit oleh Zid. Jika Zid memberikannya, dan Zizi menerimanya, maka bibir mereka benar-benar akan bertemu.



'*Oh, No.? Apa yang sudah kulakukan*.?'



Meldy menyadari kesalahannya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...