LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Bab 9



Setelah kejadian kemarin,si gadis bermata cokelat yang tak lain adalah Natasha Putry Albert terus kepikiran dengan teman masa kecilnya dan sahabatnya.Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.


Argghhhhh...ia sangat frustasi dengan keadaanya sekarang.


"Apakah aku harus bales dendam sama Aina?gumam Natasha pada dirinya sendiri.


Arggghhhhh...gak..gak.Aina itu udah donorin ginjalnya buat Mami.Jadi aku gak boleh bales dendam sama dia cuma gara-gara cowok.


.


Matahari telah terbit, sinarnya masuk melalui sela-sela kecil jendela kayu itu,nampak seorang gadis bermata cokelat bangun dari tidurnya.Ia perlahan membuka matanya.Lalu beranjak dari tempat tidurnya.Kaki kecil nya mulai melangkah menuju kamar mandi dengan mulut sesekali menguap.


Sekitar 15 menit ia bersiap-siap ke sekolah,ia berjalan keluar dari kamarnya menuju meja makan dengan melewati beberapa anak tangga.


"Morning,Mami...Papi".ucap Natasha dengan penuh semangat.


"Morning too".jawab Mami and Papi Natasha dengan kompak.


Keadaan hening setelah sambutan pagi tadi.Mereka pun sarapan, sesekali berbincang-bincang sedikit.Tak lama itu Natasha melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7.Ia pun langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya.


"Mi,Pi.Natasha pamit dulu yh ke sekolah"ujar Natasha kepada kedua orang tuanya sambil mencium kedua tangannya dengan tergesa-gesa.


"Kenapa terburu-buru Sha?tanya sang Mami.


"Soalnya hari ini Natasha lagi try out mi,makanya aku cepet-cepet.Takut telat".jelas Natasha.


"Oiyaa,kalo gitu hati-hati yh nak".ujar mami.


"Iya mi.Assalamualaikum".ucap Natasha berpamitan.


"Waalaikumsalam".jawab mami dan papi dengan kompak.


Natasha pun langsung menuju garasi,mengambil mobil Lamborghini kesayangannya yang dominan berwarna Pink.Ia lalu menancap gas mobilnya tersebut dengan kecepatan rata-rata.Di perjalanan,mata cokelatnya tak sengaja melihat seorang pria yang tingginya sekitar 170-an dengan mata ciri khasnya yang berwarna biru menaiki sebuah motor butut. Ya pria itu Devan Syahputra Alinsky,teman masa kecilnya.


Ia lalu mengikuti motor tersebut dan ia kaget saat Devan berhenti di sebuah rumah minimalis yang cukup sederhana yang tak lain adalah rumah sahabatnya sendiri yaitu Aina.


Rasanya sakit saat ia melihat langsung lelaki yang ia sangat cintai,lelaki yang ia tunggu setelah beberapa tahun ia berpisah,mencintai sahabatnya sendiri.


Ia tak bisa tahan dengan air matanya yang sudah mengalir di pipinya.


Gadis itu pun langsung menancap gas mobilnya pergi meninggalkan rumah tersebut.


Tak lama itu ia memasuki gerbang sekolah SMA JAYA PUTRA,lalu memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


Setelah itu,ia pun langsung menuju kelasnya dengan mata yang sedikit sembab akibat tangisan tadi.


Di sisi lain seorang Devan Syahputra Alinsky dan Aina Khanza Leonardo menikmati perjalanan mereka dengan sesekali menikmati hembusan cuaca pagi ini.


Tak lupa pula mereka singgah di warung makan mang Joko untuk sarapan.


Setelah sarapan Aina pun langsung bergegas menuju sekolahnya dengan wajah yang ceria.


Di sepanjang koridor sekolahnya banyak siswa-siswi yang menatap tajam dan tak suka kepadanya.Tapi ia hanya menghiraukannya saja.Toh ini udah biasa ia rasakan.


Sekarang ia sudah di depan kelasnya dan ia sudah melihat sahabatnya yang tak lain yh si Natasha.


"Hei Sha,tumben loh cepet datang.Biasanya kan gue lebih cepet datang daripada loh."ketus Aina sambil duduk di samping sahabatnya itu.


"Hehehehe...gak papa Na".jawab Natasha dengan senyuman paksanya.


"Oiya,btw mata loh kenapa?Kok kek habis nangis gitu?tanya Aina dengan raut wajah khawatir.


Natasha bengong dengan pertanyaan sahabatnya itu.Apa yang harus aku jawab?Masa ia aku jujur bilang gue nangis karena gue lihat dia sama Devan tadi pagi di jemput.


"Sha...Sha...".panggil Aina.


"Ehh..iya..iyaa.Anu tadi malam itu perut gue sakit bangett,sampe-sampe gue nangis.Dan ternyata gue dateng bulan".jawab Natasha dengan berbohong.


"Owhh kirain ada apa-apa".sambung Aina.


Tring...


Tring...


Tring....


Para siswa-siswi SMA JAYA PUTRA pun berlarian menuju kelasnya masing-masing.


Hari ini kelas 12 melaksanakan try out.Jadi sebentar lagi mereka akan ujian.


Di kelas Aina nampak mereka semua sibuk mengerjakan soal-soal yang ada di depan mereka.Termasuk Aina ia sangat pusing mengerjakannya.Tapi berbeda dengan Natasha ia sangat santai mengerjakannya dengan senyuman tanpa ada rasa khawatir dan ketakutan di raut wajahnya.


Natasha memang salah satu murid yang cerdas di sekolah.Tidak hanya itu ia sering memenangkan olimpiade-olimpiade SAINS dengan membawa nama sekolah bahkan sampai tingkat Nasional.


Bukan hanya kepintarannya,di lain itu ia juga memiliki paras wajah yang cantik dengan ciri khas matanya yang berwarna cokelat.Sehingga cowok-cowok di luar sana banyak yang naksir sama dia.


Beda halnya dengan Aina.Ia sama sekali tidak memiliki kemampuan di bidang ilmu pengetahuan.


Tapi di balik kekurangannya itu,ia memiliki kemampuan di bidang seni lukis.


Bahkan sejak kecil ia sering menjuarai lomba-lomba menggambar.Tapi sayangnya orang tuanya tidak pernah peduli dengannya.Mereka meremehkan kemampuan gadis tersebut.


Tak terasa try out selesai,dan bel pulang pun berbunyi.Para siswa/siswi kelas 12 berhamburan pulang.Ada yang mengendarai mobil,motor,dan ada juga yang nunggu angkot dan lain sebagainya.Ya hari ini kelas 12 lebih awal pulang daripada kelas 10 dan 11 karena kelas mereka try out.


Di lain tempat si gadis mata sipit sedang berdiri di depan gerbang sekolahnya dengan menunggu seseorang.Ia pun menoleh ke samping saat ada suara yang memanggilnya.


"Na,loh kerja gak hari ini?tanya Natasha.


"Kan hari ini kita cepet pulang sekolah,gimana kalo kita jalan.Lagian kan ini masih jam 12 (sambil melihat jam yang melingkar di tangannya) loh kerja jam 4,masih banyak waktu lahh.Mau yaa Na.Pleasee...Anggap aja ini termasuk bayar cicilan loh yang kemaren".jelas Natasha ke sahabatnya itu dengan memohon.


"Iya dehh Sha gue mau".ujar Aina dengan senyuman.


"Oke,kalo gitu kita langsung pergi aja yh Na".ketus Natasha.


"Kita gak ganti baju dulu gitu Sha?tanya Aina dengan muka polosnya.


"Yaelahh gak usah Na.Cepet sana masuk mobil".ucap si gadis mata biru itu.


"Iya..iyaa Sha".jawab Aina dengan pasrah,lalu memasuki mobil sahabatnya itu.Tak lupa pula ia mengirimkan pesan ke pacarnya.


"Dev,gak usah jemput aku yh.Soalnya Natasha ajak aku jalan-jalan".sebuah pesan singkat Aina ke pacarnya.


"Ohh gitu.Jadi aku langsung pulang aja yhh.Kalo ada apa-apa langsung kabarin aku.oke".balas Devan


"Iyaaa Devannya Aina".balas Aina dengan sedikit tawa.


Lalu ia pun menaruh ponselnya lagi ke dalam tasnya.


Di lain tempat Devan dan sahabatnya itu nampak masih di kelas,walaupun bel pulang dari tadi berbunyi.Mereka baru pulang sekolah kalo udah sepi,ya biar gak antri gitu di parkiran.


"Ga,habis dari sini loh mau kemana?tanya Devan dengan muka cueknya.


"Ya gue palingan ke rumahnya Leon main PS,iyakan Leon?celetuk Arga dengan tawanya.


"Gue boleh ikut gah sama kalian?tanya Devan.


"Bolehlah,loh kayak orang lain aja Dev.Oiya loh gak pergi jemput pacar loh si Aina?tanya Leon.


"Gak.Dia lagi pergi jalan sama Natasha sahabatnya".jelas Devan dengan muka datar.


Arga dan Leon hanya mengangguk dengan ucapan sahabatnya yang satu itu.


"Kalo gitu kita berangkat sekarang aja".ketus Devan


"Okee".jawab Leon.


.


.


Di sebuah Mall di kawasan Jakarta terlihat dua seorang gadis yang tengah asyik menikmati suasana yang sangat begitu ramai di Mall tersebut.


"Na,kita makan yuk.Gue laper nih belum makan siang dari tadi".ujar Natasha dengan wajah lesuh.


"Yukk,kita cari makan aja di luar".jelas Aina.


"Aduhhh nih sahabat gue,ini Mall Aina.Di sini tuh banyak restoran.Makanannya juga enak banget.Udahh ahhh sini cepet gue udah laper banget nih ".ujar Natasha sambil menarik tangan sahabatnya itu.


Aina hanya mengikuti kemana sahabatnya itu membawanya pergi.Tanpa sadar tangannya terlepas dari genggaman Natasha karena sahabatnya itu tergesa-gesa sebab Natasha tak bisa lagi menahan laparnya.Aina pun ketinggalan jauh dari sahabatnya itu.Ia melihat Natasha sudah masuk ke dalam lift.Lalu ia berlari mengejar langkah sahabatnya itu.Tapi nihil pintu lift nya sudah tertutup.


Tiba-tiba ia mendengar suara teriakan Natasha dari dalam lift.


"Na...Na..Na.Tolongin gue.Liftnya tiba-tiba mati nih.Cepet Na tolongin gue".ucap Natasha dari dalam sana dengan nada suara penuh ketakutan.


"Iyaa Sha gue bakal tolongin loh kok.Loh tenang dulu ya dalam sana.Gue dulu pergi minta cari bantuan yaa".jelas Aina dengan penuh kekhawatiran.


"Iyaa Na gue percaya sama loh".ketus Natasha.


"Oke gue pergi bentar dulu yaa".jawab Aina.


Aina pun bergegas mencari bantuan untuk menyelamatkan sahabatnya itu.Ia melihat security di salah satu pintu toko furniture,lalu ia menghampirinya.


"Pak,tolongin saya pak.Ada temen saya kejebak di dalam lift pak".jelas Aina kepada security dengan penuh kekhawatiran.


"Oke dek,kita ke sana sekarang".ujar security tersebut.


Aina berlari bersama security tersebut ke tempat sahabatnya yang terjebak di dalam lift.


"Di dalam sini pak,temen saya terjebak".tunjuk Aina ke lift itu.


"Bentar dek saya hubungin dulu operator lift".jelas security itu.


"Iya pak cepetan.Kasihan temen saya di dalam pak".ketus Aina dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tak lama itu operator lift Mall tersebut datang dan langsung menyelamatkan si gadis bermata cokelat itu.Ia pun keluar dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Shaaa...loh gak papa kan?tanya Aina sambil memeluk Natasha.


"Hiksss...hiksss.Gue takut Na tadi di dalam.Gue kira mungkin gue udah mati..hikss..hiksss".jelas Natasha dengan penuh ketakutan.


"Hutssss.Jangan bilang kek gitu Sha.Yang pentingkan sekarang loh udah gak kenapa-napa".ujar Aina.


"Makasih yaa Na udah tolongin gue.Gue kira loh udah ada dalam lift sama gue,tapi ternyata gak gue gak sadar kalo gue ninggalin loh dan gue juga minta maaf ya Na cuma gara-gara gue laper banget jadi gak inget loh".jelas Natasha dengan rasa bersalahnya.


"Iyaa gak papa kok Sha.Gue ngerti tadi itu loh udah gak bisa nahan laper loh makanya buru-buru".ujar Aina.


"Oiya Na soal utang loh yang kemarin di gue itu,loh gak usah bayar semuanya".jelas Natasha.


"Tapi.....".ucapannya terpotong.


"Gak ada tapi-tapian.oke".sambung Natasha.


Aina hanya mengangguk dengan pelan.