
Zid dan Meldy saling diam. Tak ada suara yang menemani perjalanan mereka. Hanya keheningan.
Zid menatap lurus kedepan dengan raut muka datar. Sesekali ia mengernyitkan kening seolah menahan rasa sakit, tapi Meldy tak tahu itu, Meldy tak menoleh kearah Zid sama sekali.
Meldy memalingkan muka melihat ke arah kaca mobil. Seolah ia melihat pemandangan luar sana yang sebenarnya sama sekali tak ia perhatikan. Hatinya bergemuruh, riyuh, harus berdua bersama Zid seperti ini.
Zid membelokkan mobil ke kiri, berhenti di sebuah latar depan apotek. Meldy menyadari dan dia langsung menoleh kepada Zid yang sudah keluar dari mobil. Meldy terus memperhatikannya. Zid membeli obat.
Zid kembali dan masuk kedalam mobil, Meldy berpura-pura seolah-olah ia tak mempedulikan Zid. Meldy menatap lurus kedepan.
Zid menaruh kresek putih berisi obat di atas dashboard mobil. Meldy meliriknya, ada rasa ingin tahu yang begitu tinggi.
'*Itu obat maag. Apa dia sakit*.?'
Meldy melihat Zid yang bermuka datar menatap lurus kedepan. Sesekali Meldy melihatnya mengernyitkan kening.
'*Dia merasakan sakit. Apa aku harus menanyakan keadaannya.? Aaaaahh.? Tidak tidak. Untuk apa.? Nanti dia akan mengira jika aku masih peduli padanya*.!'
Hati Meldy berperang dengan ego nya sendiri. Ia merasa kasihan dan tidak tega. Meldy tahu jika Zid memiliki riwayat asam lambung, dan dulu dia lah yang selalu menjaga makanan dan jadwal makannya Zid. Agar penyakitnya itu tidak kambuh. Tapi sekarang di depan matanya sendiri. Zid menahan sakit.
'*Kenapa lalai.? Menjaga kesehatan sendiri saja tidak bisa. Dasar*.!'
Meldy menggerutu dalam hati.
'*Ciiittt*.!'
Zid menginjak rem tiba-tiba. Mobil pun berhenti mendadak. Tubuh Meldy sampai terhuyung dan tersentak ke depan.
"Aaahhhh.?" Meldy berteriak karna kaget.
Zid menjatuhkan kepalanya di kemudi. Kedua tangannya memegangi perutnya sendiri. Rasa sakitnya semakin parah. Dan Zid tak lagi bisa menahan.
"Zid.? Kau baik-baik saja.?"
Meldy akhirnya bertanya. Tidak mungkin dia hanya diam saja melihat kondisi Zid saat ini.
Zid tidak menjawab pertanyaan Meldy. Ia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.
"Zid. Kau bergeserlah, biar aku yang menyetir.!"
Zid masih diam, ia mengernyit semakin kuat. Dan tangannya meremas perutnya sendiri begitu erat.
Meldy membuka pintu mobil, ia lantas menarik tubuh Zid membantunya untuk bergeser.
Meldy sangat ragu pada awalnya. Setelah sekian lama ia tak pernah lagi menyentuh tubuh Zid. Dan kini ia akan kembali menyentuh tubuh yang selalu ia damba itu.
Meldy bergerak ragu menyentuh tangan dan lengan Zid. Hatinya sangat deg-degan. Ia bahkan menelan salivanya kasar. Meldy masih sangat mencintai Zid. Jelas itu akan mengakibatkan gelanyar aneh yang dapat menyerang tubuhnya.
Meldy menarik tubuh Zid kuat. Hingga akhirnya tubuh Zid bergeser dan pindah ke jok yang semula di duduki Meldy.
Meldy lekas menutup pintu mobil dan dia berlari berputar arah masuk dan duduk di jok kemudi. Ia menyalakan mesin dan lekas menginjak gas melajukan mobil dengan cepat.
"Aku antar kamu ke Rumah Saki.?"
Suara Meldy sangat gugup dan panik. Ia takut jika Zid kenapa-kenapa.
Zid menggeleng.
"Tidak, aku tidak mau ke Rumah sakit.!"
Meldy menoleh sekilas ke arah Zid yang bersuara berusaha menahan rasa sakit di perutnya. Meldy kembali menatap depan fokus menyetir.
"Bawa aku pulang.!" Ucap Zid lagi.
"Pulang kemana.? Ke apartemen Zizi.?"
Meldy tidak begitu menyadari dengan apa yang di ucapkannya.? Bahkan nada suaranya terdengar tulus dan panik.
Sontak Zid menoleh pada Meldy yang mempertanyakan kemana dia akan mengantar Zid pulang.
'*Apa dia bilang.? Ke apartemen Zizi*.?'
Zid menatap tajam Meldy dengan tatapan matanya yang menyipit karna menahan sakit.
"Aaaiiisshhhh.? Berhenti menatapku seperti itu. Dasar kadal.? Buaya.?"
"Bawa aku pulang ke *N~A Cell*. Aku masih tinggal disana. Aku tidak tinggal bersama Zizi.!"
Meldy menelan salivanya lagi. Ia merasa tidak nyaman sekarang. Setelah sekian lama perang dingin. Ini pertama kalinya dia berbicara secara normal dengan Zid. Dan apa itu tadi.? '*Zid mengatakan jika dia tidak tinggal bersama Zizi.? Kenapa*.?'
"He em.!"
Meldy menginjak gas, melajukan mobil semakin cepat, untunglah jalanan sepi dan lengang. Membuat laju mobil berjalan lancar tanpa hambatan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Syeira dan Cellin menonton film bersama di Ruang Tamu. Mereka tengah menonton sebuah drama Korea yang yang lucu dan romantis.
Terkadang mereka tertawa bersama, terkadang menangis bersama.
Cellin meraih botol minuman. Kosong, airnya sudah habis.
"Biar ku ambilkan.!"
Syeira lekas mengambil alih botol minuman itu lantas ia berjalan cepat menuju dapur untuk mengisi air.
Kepala Cellin kembali terasa sangat sakit berdenyut-denyut. Sangat sakit. Cellin memegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Benar-benar sakit. Tiba-tiba pandangan mata Cellin kabur. Buram. Ia tak dapat melihat dengan jelas.
Cellin merasa ada yang bergerak dari hidungnya. Ia kembali mimisan.
Cellin lekas meraih tisu yang terletak di depannya di dekat aneka macam Snack camilan mereka. Ia masih bisa melihat meski samar dan buram. Cellin harus segera mengusap darah yang keluar itu, jangan sampai Syeira melihatnya.
"Minumlah.!"
Syeira kembali dengan cepat, dan ia mendapati Cellin yang sedang mengusap darah mimisannya yang terus mengalir dari hidung.
Tangan Cellin penuh darah begitu pula dengan tisu putih itu yang kini sudah berubah warna menjadi merah.
"Cellin.?"
Syeira berteriak kaget, botol minum yang dibawanya jatuh. Ia lekas duduk di depan Cellin.
"Ya Allah Cellin.?" Air mata Syeira sudah menetes.
Ia memegang tangan Cellin yang penuh darah dengan tangannya yang sangat gemetar.
Cellin hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Ini sudah biasa.!" Ucap Cellin lemah lembut. Matanya sayu, wajahnya pucat. Tapi ia tetap tersenyum.
Syeira lekas meraih ponselnya. Ia harus segera menghubungi Zico sekarang juga.
"Ra.? Kamu mau apa.?"
"Aku akan menelfon Zico sekarang juga.!"
Suara Syeira bergetar, tangannya gemetaran. Dan air matanya lolos begitu saja. Ia sangat panik sekarang, Syeira takut.
"Ra, jangan.? Zico sedang bekerja sekarang.? Aku tidak apa-apa.? Ra.?"
Syeira berhenti memainkan jarinya. Tangan Cellin menyentuh tangannya. Panas. Suhu tubuh Cellin panas.
"Ra?, Aku tahu, hidupku tidak akan lama lagi. Jadi Aku mohon sama kamu, aku minta tolong sama kamu. Biarkan aku menjalani sisa hidupku dengan tenang. Aku sangat bahagia bisa hidup bersama kalian. Aku tidak mau pergi ke luar negri lagi. Jika aku di operasi untuk yang kedua kalinya. Kemungkinannya sama menakutkannya. Aku koma, atau kalaupun aku sadar, aku akan amnesia. Aku akan kehilangan semua ingatan dan memori ku, aku akan melupakan kalian. Aku akan lupa pada diriku sendiri, aku akan lupa pada Zico, padamu, keluargaku, semuanya. Aku tidak mau Ra.? Itu semua menyakitkan.? Aku tidak mau di operasi lagi. Aku tidak mau.?"
Kalimat yang Cellin ucapkan terasa menyayat di hati. Ia mengucapkannya dengan diiringi deraian air mata.
"Cellin.? *Hiks, hiks, hiks*.?"
Syeira memeluk tubuh Cellin erat, dan Cellin menyambut pelukan Syeira. Mereka berdua menangis dalam kepiluan.
"Jangan katakan apapun pada Zico. Biarkan aku menemaninya di sisa umurku dengan penuh kebahagiaan. Aku tak ingin melihat Zico bersedih lagi. Aku tak pernah bisa memberikannya apa-apa. Hanya memori kebersamaan yang bisa aku berikan padanya.! *Hiks hiks hiks*.!"
Cellin merasa semakin dekat dengan hari-hari terakhir di masa hidupnya. Syeira menangis semakin pilu.
'*Hiks hiks hiks*..'
Syeira tak mampu membayangkan bagaimana nantinya jika Tuhan benar-benar membawa Cellin pergi dari semua orang.? Bagaimana nanti dengan Zico yang begitu sangat mencintainya.? Bukankah itu akan membuat Zico merasa kehilangan dan rapuh.? Sang Cassanova yang telah berubah. Akan jatuh pada masa terpuruknya. Syeira sangat sedih membayangkan hal yang di takutnya akan terjadi.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...