
Syeira dan Zico nonton TV bersama di ruang tamu, Zico menceritakan pada Syeira jika semalam Arend lah yang membawa nya pulang, sedangkan Syeira tak membuka suara sama sekali pada Zico perihal rahasianya tentang Arend adalah cinta nya yang hadir sejak kecil.
Syeira memutuskan untuk memendamnya saja, ia mengetahui jika Arend tak memiliki rasa padanya, dan bahkan juga pernah berpacaran dengan gadis di Amerika. Arend tak pernah mengingat Meira, apa lagi merindukannya.
Syeira akan mulai menjauhi Arend sebisanya, ia tidak ingin jika sering dekat dengan Arend, cintanya semakin tumbuh dan akan menyakitinya semakin dalam.
Arend pulang, Syeira dan Zico menoleh bersamaan. Tidak ada ucapan salam, atau sekedar sapaan. Arend melihat Syeira dan Zico dengan tatapan dingin, dan hanya sekilas. Setelah itu melenggang pergi masuk kedalam kamar.
Syeira dan Zico saling pandang, mata Syeira sudah berkaca-kaca, nyeri di hati itu hadir kembali, ia pun berdiri cepat dan lekas pergi masuk ke kamarnya, meninggalkan Zico yang terbengong sendirian.
Hari-hari berlalu seperti itu, tidak ada sarapan bersama, tidak ada makam malam bersama. Bertemu pun tidak saling tegur sapa. Semuanya diam. Apartment yang biasanya ceria karna canda tawa kini berubah menjadi dingin dan sunyi.
Sikap Syeira yang semula hangat menyiapkan baju, sepatu, dan jas Arend telah lenyap tak berbekas, ia tak lagi melakukan apa pun yang berhubungan dengan Arend. Syeira benar-benar menghindarinya.
Arend bisa menyadari dan merasakan berubahnya sikap Syeira, ia mengira jika itu Syeira lakukan karna ada hati lain yang Syeira jaga. Dan Arend pun melakukan hal yang sama sebagai balasannya. Diam tanpa kata.
...****************...
Syeira berdiri di trotoar jalan menghadap ke arah lautan lepas. Ia baru saja pulang kerja, jam menunjukkan pukul 5 sore.
Ia mencari ketenangan yang tak kunjung ia dapatkan, saat berada di apartment Arend, ia merasa begitu sesak dan tertekan. Berada dekat dengan orang yang di cintai dan mengetahui jika ia tak mencintai kita itu ternyata rasanya sakit luar dalam.
Bahkan meski pernikahan ini telah berjalan selama 3 bulan, sama sekali tak ada perubahan. Mereka benar-benar menjadi manusia tanpa suara saat di apartment bersama.
Syeira melihat sekitar, jalanan cukup ramai lancar, tiba-tiba pandangannya tertuju pada satu titik, Syeira melihat Cellin yang di tarik paksa oleh seorang pria.
"Cellin.?"
Syeira membulatkan mata melihat Cellin yang berdiri di trotoar yang sama tidak jauh darinya, pria itu terus memaksa Cellin untuk naik ke atas motornya. Syeira lekas berlari mendekat ke arah Cellin berada.
"Lepaskan dia.!"
Syeira berteriak. Dan dia juga memegang tangan Cellin berusaha melepaskan cengkraman tangan pria itu.
"Siapa kau. Jangan ikut campur. Ini urusan kami berdua."
Cellin sudah menangis. Syeira akhirnya berteriak meminta tolong, namun tak ada yang datang, para pengendara juga enggan menghentikan kendaraannya untuk menolong sesama.
"Syeira.?"
Cellin memeluk tubuh Syeira saat tangan Faisal berhasil terlepas dari tangannya.
"Cellin, cepat naik. Kalau tidak, kamu tahu akibatnya."
"Diam kau. Akan aku laporkan kau pada Polisi, dasar b4d_ j!ng4n."
Teriak Syeira pada Faisal memberanikan diri.
"Apa kau tahu siapa aku, Hah.? Aku adalah calon suaminya."
Faisal pun berteriak kepada Syeira, namun Syeira justru berekspresi sinis seakan menghina.
"Aku tidak peduli kau ini siapa.? Mau calon suaminya, mau calon Presiden. Cellin tidak mau ikut dengan mu. Dan aku tidak akan membiarkanmu membawanya."
Syeira pun kembali menantang. Faisal sudah hendak mengangkat tangannya untuk menampar Syeira.
"Tunggu." Teriak Syeira dengan perasaan panik dan takut namun ekspresi wajahnya di paksa untuk berani.
"Jika kau berani memukulku, aku pastikan kau akan mendekam di penjara. Aku adalah reporter dari channel berita, Akan aku laporkan kau ke Polisi atas tindak kriminal."
Syeira berteriak sambil menunjukkan kalung ID nya, Faisal menunjuk geram.
"Urusan kita belum selesai."
Faisal pun menyerah dan dia pergi mengendarai motornya.
"Oh, Tuhan...! Cellin?" Syeira memeluk Cellin semakin dalam. Dan Cellin merangkul tubuh Syeira dengan kuat, Isak tangisnya begitu keras. Hingga beberapa waktu kemudian Cellin baru mulai tenang, menyisakan senggukan.
Syeira mengajak Cellin ke sebuah Cafe yang tidak jauh dari sana. Ada Cafe sederhana yang berada di atas pinggiran laut. Mereka menenangkan diri disana.
Syeira memesan beberapa minuman dingin dan camilan. Cellin sudah berhenti menangis. Tapi ia masih banyak diam. Syeira memberikan waktu untuknya lebih tenang.
"Makasih,,,.!" Lirih Cellin memulai obrolan.
"Apa benar yang dikatakan pria tadi, Cellin.?"
Syeira menanyakan hal tentang Faisal yang menyebut dirinya sebagai calon suami Cellin.
Cellin mengangguk pelan. Mereka akhirnya mengobrol, Cellin menceritakan sebagian kisahnya tentang perjodohan, yang sebenarnya tidak ia inginkan. Syeira tidak bisa memberikan banyak masukan. Ia sendiri terjebak dalam kondisi yang tidak lebih baik dalam pernikahan dan percintaan.
"Jangan lakukan, jika tidak, kamu akan menderita."
Hanya itu kalimat yang Syeira ucapkan pada Cellin.
Semenjak hari itu, mereka jadi semakin dekat, selalu bertukar kabar lewat pesan singkat, sering bertemu di jam makan siang, dan terkadang belanja bersama di hari libur.
Dan Zico mendapat keuntungan dari hubungan baik mereka, Syeira yang sering mengajak Zico bersama secara tidak langsung memberikan ruang pula untuk Zico dan Cellin semakin dekat.
Mendapatkan teman yang baik adalah salah satu keberuntungan bagi mereka, di balik sisi lain tentang luka hati yang mereka pendam di dada.
Dan Syeira hanya mengira jika Zico murni berteman dengan Cellin, tanpa ia sadari bahwa Zico sebenarnya telah jatuh cinta pada temannya yang berkerudung itu.
...****************...
Hari ini adalah hari libur. Syeira baru bangun. Ia membuka pintu keluar dari kamar, Dia sudah ada janji untuk bertemu dengan Cellin sekedar makan bersama atau apa saja. Dan nama Zico juga sudah ada dalam daftar perjanjian sederhana itu.
Syeira mencium aroma masakan yang sangat menggugah selera. Arend tengah memasak di dapur. Setelah sekian lama, hampir 4 bulan, akhirnya dapur itu kembali lagi di gunakan.
Syeira mendekat, Arend menata makanan di meja makan. Canggung sekali rasanya untuk memulai obrolan. Dan Cellin memilih untuk berbalik, kembali menghindar.
"Aku sudah siapkan sarapan."
Suara berat Arend yang terdengar pelan menghentikan langkah Syeira. Hati Syeira bergetar, sekeras apapun dia menghindar, hanya dengan mendengar suara Arend yang berbicara padanya semua usaha pertahanannya luluh lantak.
Arend sudah selesai menata makanan. Ia lalu duduk di kursi. Tanpa melihat ke arah Syeira sama sekali, ia begitu pandai menyembunyikan rasa.
"Jika kau mau, kau bisa makan."
Nada suara Arend sangat dingin, ia mengatakan itu tanpa menatap Syeira sedikit pun dan sibuk mengambil makanan yang ia taruh di atas piringnya. Itu justru terasa seperti hujaman benda tajam di hati Syeira. Menyakitkan.
Syeira pun berbalik dengan cepat kembali masuk ke dalam kamar, hatinya sangat sakit, air matanya mengalir tanpa bisa di cegah. Syeira memegangi dadanya yang terasa nyeri. Lalu mengeluarkan kalung nya yang berbandulkan cincin keramat itu.
Syeira menariknya kasar, melepas kalung itu dan hendak melemparnya, namun sedetik kemudian tangannya terhenti. Ia tak bisa melakukan itu. Bayangan Arend sudah menemani Syeira sejak kecil. Semakin besar rasa Cinta, semakin besar pula rasa sakitnya.
Syeira terduduk bersimpuh sambil menangis menggenggam kalung itu.
Arend terdiam dengan raut muka dingin dan kesal. Meski ia sudah mencoba untuk menghangatkan suasana rumah, namun sikap Syeira justru mengacuhkan kebaikannya. Membuat Arend merasa kesal.
Arend pun melepas sendok dan garpu, meninggalkan makanan itu. Mood nya berubah, tak ada lagi selera untuk makan, sudah hilang berantakan.
Arend masuk ke dalam kamar mengganti pakaian, lalu ia pergi dari apartment. Entah kemana.
Syeira bangkit, ia menghapus air matanya, selalu seperti itu, menangis, menguatkan diri sendiri, berusaha tegar, menangis lagi, berusaha tegar lagi. Sungguh menyiksa.
Syeira sudah siap, dia akan pergi sekarang, Cellin dan Zico sudah berada di tempat tujuan yang mereka janjikan. Namun Syeira terlambat karna harus menangis dan menenangkan hati.
Syeira melihat ke meja makan. Masih utuh, Arend tidak ada.
'Kemana dia.?'
Syeira kembali melangkah, ia hendak membuka pintu, namun di saat yang hampir bersamaan. Suara bel berbunyi. Seseorang datang. Syeira ayang kebetulan sudah berada di depan pintu pun segera membukanya.
..."Mamah.?"...
Ayla sudah berdiri di luar depan pintu sambil tersenyum lebar, 2 Bodyguard menemaninya sambil membawakan beberapa bingkisan.
Syeira tersenyum canggung karna kaget.
"He he he."
Ini adalah pertama kalinya Ayla sang Mamah mertua datang main ke apartment mereka setelah 4 bulan menikah.
...****************...