
Meldy menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal dan sakit, matanya memicing, menetralkan edaran pandangan menerima pencahayaan. Kepalanya sangat berat, berdenyut-denyut, pusing dan pening.
"Good morning, Babe.?"
Zid duduk di tepi ranjang, menyambut Meldy yang baru bangun dengan sangat manis.
Zid mengecup kening Meldy dengan mesra, Meldy sampai kaget dan bingung, ingin rasanya dia meleleh sekarang. Untuk pertama kalinya Zid melakukan hal ini padanya.
"Babe.?" Meldy memanggil Zid dengan suaranya yang lirih, raut mukanya masih jelas mensiratkan sisa-sisa kesedihan kemarin malam.
"I'm sorry, Babe. Really.!"
Zid memeluk tubuh Meldy hangat, ia kembali menghujani kening Meldy dengan kecupan-kecupan hangat.
Zid merasa sangat bersalah pada Meldy, ia secara sadar telah mengkhianati Meldy yang sudah begitu sangat mencintainya. Dan percuma untuk menyesalinya, karna nyatanya, ada rasa lain di hatinya pada Zizi.
"Breakfast.?"
Zid bangun, pergi kedapur, lalu kembali dengan membawa sepiring makanan buatannya.
Meldy mengembangkan senyumnya, ia begitu bahagia dengan semua perlakuan manis Zid.
"Mau kusuapi.?" Zid telah berubah, ia tak lagi sedingin salju kutub Utara. Ia kini bersikap menjadi Zid yang begitu hangat dan lembut, Meldy sampai menangis haru, tapi tetap saja suara tangisan itu terdengar berisik, memang dasar Meldy yang tak bisa bersikap lembut.
Ia berpikir jika Zid melakukan ini semua karna menyesali perbuatannya yang membentaknya kemarin.
Meldy mengambil alih piring yang di bawa Zid, ia taruh di atas nakas. Lalu Meldy menarik kerah baju Zid, dan ia menjatuhkan dirinya kebelakang kembali berbaring di atas ranjang, membawa Zid yang ikut terjatuh dan menutup tubuhnya.
"I Really Love You, Babe.? Don't leave me. Never .!"
Sorot mata Meldy sangat sayu, ia begitu tulus saat mengatakannya. Dan Zid tersenyum kaku lalu mengangguk.
Dengan cepat Meldy menautkan bibirnya pada bibir Zid. Zid pun menerima dan membalas. Inilah permainan Meldy yang selalu aktif dan lebih mendominasi.
Tangan Meldy tak tinggal diam, ia langsung menyentuh tit Zid, hingga mereka sampai pada permainan inti.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Di halaman depan *N~A Cell* tengah ramai, shooting akan segera di mulai, tapi Zid dan Meldy yang sebagai penanggung jawab belum ada yang datang.
Darren menunggu dengan santai sambil membaca artikel berita di laman sosial media. Seorang hair do masih sibuk merapikan rambutnya yang klimis. Darren terlihat sangat tampan dan mahal.
Meldy datang dari dalam gedung. Menarik perhatian semua orang, termasuk Darren.
"Sorry guys..? Gue telat. Ada urusan sama big bos.!" Seru Meldy yang masih engap karna berlari.
Darren menyunggingkan senyum sinis mendengar penuturan Meldy yang beralasan, ia tahu pasti Meldy yang mabuk berat semalam, Darren berpikir jika itu pasti alasan keterlambatan Meldy, meski ia tak tahu di tambah dengan olahraga panas tadi pagi. Membuat Meldy sangat terlambat.
Semuanya sudah stand by, dan shooting pun dimulai.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Kita pergi sekarang!"
Arend dan Zid keluar dari ruangan Arend, mereka akan melakukan pertemuan bisnis di salah satu resort pusat kota.
Pintu lift terbuka. Ada Zizi yang berdiri di depan lift, dia akan kelantai atas untuk melakukan bersih-bersih.
Zid membulatkan mata. Ia kaget. Arend memalingkan muka dan terus melangkah keluar, Zizi menunduk. Hatinya sakit karna Zid yang pergi meninggalkannya semalam. Air matanya bahkan sudah lolos dalam diam.
Zid melihat Zizi yang menangis. Ia berhenti ketika di dekat Zizi.
"Jangan menangis, nanti malam aku datang.!"
Zizi mendongakkan kepala ketika Zid mengatakannya, dan Zid langsung melangkah cepat mengikuti Arend yang sudah berlalu lebih dulu.
Zizi tersenyum senang, ia tak bisa mengontrol hati dan perasaannya. Dia memang mencintai Zid. Meski ia menyadari itu salah. Tapi ia tak bisa mengendalikan hatinya. Cinta itu menyeretnya begitu saja ketengah hubungan orang lain.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Babe.?" Meldy melihat Zid yang keluar dari pintu utama gedung *N~A Cell*, di belakang Arend. Ia langsung berlari memeluk Zid dengan genit, lalu menautkan bibirnya pada bibir Zid begitu agresif. Membuat semua orang hampir saja bersorak-sorai, jika saja tidak ada Arend yang berdiri disana. Dan semua orang kembali menunduk.
Darren tersenyum seakan tak percaya melihat perilaku Meldy, wanita itu begitu sangat terang-terangan, gaya nya yang manja, centil, merasa paling cantik, dan over. Tapi Darren merasa dia wanita yang berbeda, Darren menyebutnya, wanita yang ekspresif.
'*Lantas apa yang membuatnya menangis dan meracau dalam mabuk semalam*.?'
Meldy tersenyum mendengarkan Zid. Ia lalu mengangguk.
"Hati-hati.?"
Zid mengecup kening Meldy dengan hangat dan mesra. Meldy sangat menyukai perubahan sikap Zid padanya, Laki-lakinya yang sangat dingin telah berubah menjadi begitu hangat.
Meldy melambaikan tangan mengiringi kepergian Zid bersama Arend.
Zizi melihat semua adegan itu dari jendela gedung, dengan tangannya yang mengelap kaca. Zizi kembali menangis. Ia merasa cemburu, sakit dan patah.
Jika bisa memilih, Zizi pun tidak ingin berada di posisi dan situasi seperti saat ini. Ini sama saja dengan menyakiti hatinya sendiri. Tapi semua sekaan sudah terlambat, ia bahkan dengan sadar dan suka rela telah melakukan penyatuan dengan Zid.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
pengambilan gambar telah selesai di lakukan, semua saling berpamitan, dan berterimakasih.
"Aku tidak melihat Syeira sama sekali.!"
Darren berbicara pada Meldy, dia berdiri di belakang Meldy yang tengah sibuk memainkan hapenya. Membuat Meldy merasa kaget dan hampir teriak.
"Kau ingin membuatku mati kena serangan jantung, hah.?" Meldy terengah, ia memegang dadanya yang serasa mau copot.
Darren semakin mengembangkan senyumnya.
"Untuk apa kau menanyakan Syeira.?"
"Tidak, aku hanya merindukannya, sudah begitu lama kami tidak pernah bertemu.!"
Meldy mengernyitkan kening mendengar penuturan Darren. Ia kembali sibuk dengan ponsel di tangan, mengabaikan Darren.
"Apa kau punya nomornya.?" Darren masih berusaha.
Meldy membuang nafas kasar. Lalu menatap Darren tidak suka. Ia masih mengingat kejadian semalam meski dalam keadaan mabuk.
"Syeira sudah memiliki Suami, dan kau sudah tahu siapa pria yang menjadi suaminya. Jadi jangan cari masalah, kau tidak akan memiliki kesempatan, mereka adlah Couple Goals. Tidak ada tempat bagi perusuh.! Pergi jauh-jauh."
Jawab Meldy sambil melangkah hendak pergi.
"Ha ha ha ha.!" Darren tertawa, langkah kakinya mengikuti gerak Meldy, Meldy menatapnya tidak suka.
"Mau minum bersama.? Aku yang traktir.!"
"Tidak, terimakasih.!"
"Minggu depan aku ada konser. Aku bisa memberikanmu golden ticket untuk mu duduk di kursi VVIP barisan depan.!"
"Ha ha ha ha.? Kau pede sekali, Tuan DK.? Terimakasih atas tawaranmu, tapi maaf, aku tidak suka konser.!"
Meldy berlari meninggalkan DK. Bahkan ketampanan dan pesona DK yang memikat sejuta umat tak mampu mengalihkan Meldy dari seorang Zid. Meldy sangat mencintai kekasihnya itu.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Semua persiapan telah dilakukan, Arend tengah menyiapakan suatu kejutan untuk Syeira di hari ulangtahunnya nanti. Tinggal menunggu beberapa hari lagi.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Aku turun disini, Arend.?"
Zid menginjak rem, ia pamit pada Arend. Hari sudah petang, mereka baru saja menyelesaikan semua kesibukan yang melelahkan di hari ini.
"Kau akan menyesal, Zid.!"
Zid hanya diam. Ia tak begitu ingin mendengarkan Arend saat ini, apa yang di katakannya memang benar, tapi ia tak bisa menolak setiap dorongan yang begitu kuat dari dalam hatinya.
Arend memang orang yang sangat genius dan peka. Ia seakan tahu semuanya tanpa harus di beri tahu.
"Aku pergi dulu.!"
Zid keluar dari mobil tanpa membalas ucapan Arend.
Zid menghentikan taksi yang lewat, dan pergi ke apartemen Zizi untuk menemui kekasih gelapnya itu. Menemani sesaat meski nantinya ia harus kembali pergi meninggalkannya untuk kembali bersama Meldy yang selalu setia menanti.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...