
Zico memanjatkan doa, Mikaila ikut serta.
"Aku sangat merindukanmu, tapi aku baik-baik saja, yaaa? Setidaknya aku berusaha untuk baik-baik saja. Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, aku sangat mencintaimu."
Mikaila terus menatap dalam Zico yang berbicara pada makam Cellin.
'*Ia juga merasakan sakit dan perih dalam hatinya, tapi ia tak pernah menunjukkannya, Zico bahkan selalu bersikap seolah dia yang paling tegar dan baik-baik saja*.'
Mikaila hanyut dalam lamunannya sendiri memperhatikan Zico yang mengelus pusara makam Cellin.
"Kita balik Kei, matahari sudah mulai tinggi."
Zico mengajak Mikaila balik, tapi Mikaila masih terdiam menatap dalam Zico. Zico mengernyitkan kening, merasa bingung dengan raut muka Mikaila.
"Kei?"
"Hah?."
Zico memegang lengan Mikaila menyadarkannya kembali.
"Kita balik."
"Aah? Iya, iya.!"
Mereka berdua pun pergi dari tempat peristirahatan terakhir Cellin. Zico akan membawa Kei ke sebuah cafe. Dia ingin ngopi sebentar, meski Zico tak suka kopi, tapi dia ingin mengurangi sedikit rasa rindunya pada Cellin dengan melakukan beberapa hal yang Cellin sukai, termasuk ngopi.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Bagaimana hasilnya, Dok?."
Arend bertanya antusias pada Dokter Obgyn yang memeriksa Syeira.
Senyum Dokter itu mengembang. Dan dia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Selamat pak, Ibu Syeira positif. Usia kandungannya sudah memasuki Minggu ke 9."
Syeira dan Arend tersenyum senang mendengar penuturan Ibu Dokter.
"Alhamdulillah?"
Mata Syeira berkaca-kaca. Ini adalah berita bahagia yang luar biasa.
"Selamat sayang? Terimakasih?." Arend lekas memeluk Syeira. Suaranya terdengar bergetar. Ia menciumi punggung tangan Syeira berkali-kali, dan mengecup keningnya cukup lama.
"Hei, jangan nangis?" Arend mengusap air mata yang jatuh di pipi Syeira. Mereka sangat senang dengan kabar yang mereka terima.
"Bagaimana perkembangannya, Dokter?." Arend kembali bertanya.
"Sangat baik, Pak. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
Syeira mengelus perut ratanya. Rasa yang tak mudah tuk di ungkapkan dengan kata, bahagia sangat, tapi juga terharu.
"Kondisi sang ibu?."
"Ibu Syeira juga sangat baik, Bapak bisa lihat sendiri, bahkan, dia termasuk ibu super dengan kehamilan three semester pertama tanpa keluhan. Keduanya sangat baik, Pak Arend!"
"Itu karna dia anakku, Dokter.!"
Seru Arend percaya diri mengundang gelak tawa Dokter dan Syeira.
"Jika kami melakukannya, itu, berc!nta? Apa itu tidak masalah Dokter?"
Syeira mendongakkan kepala. Ia merasa malu, Arend dengan begitu terang-terangan menanyakan hal seperti itu.
"Ha ha ha, tentu saja tidak. Jika anda masih merasa khawatir. Saya akan mengirimkan link pada anda untuk anda pelajari sendiri. Gaya dan semacamnya yang bisa anda lakukan tanpa membahayakan.!"
Senyum Arend mengembang, dan Syeira menunduk malu.
Ini adalah hadiah terindah dari pernikahan mereka yang Tuhan anugerahkan.
Arend dan Syeira pamit setelah mereka selesai dengan semua urusan. Mereka akan pulang. Arend menghubungi Zid jika ia belum bisa datang ke kantor. Entah sampai kapan. Arend ingin fokus pada Syeira dan calon anaknya.
Arend bahkan membeli begitu banyak vitamin, makanan, susu ibu hamil. Dan lainnya. Ia ingin memastikan sendiri semua kebutuhan dan penunjang kesehatan Syeira secara lengkap.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Aaahh, kurang ajar, dia seenaknya saja tidak datang ke kantor, membebankan pekerjaannya pada orang lain. Mentang-mentang jadi atasan!."
Meldy ngedumel karna Arend yang harusnya memeriksa beberapa laporan kini semua berkas itu Zid limpahkan padanya.
"Sabaaar, dia bukan cuma atasan, tapi juga pemilik dan pendiri perusahaan."
"Haaahh!" Meldy mendengus kesal.
"Atau kita bawa saja ke apartemen mereka. Kita kerjakan disana?" Zid bersuara.
"Ide yang bagus!" Meldy lekas berdiri. Ia mengemas cepat semua berkasnya. Dan Zid tersenyum.
'*Sudahlah, biarkan saja nanti kalau Arend marah, ada Syeira disana. Semuanya pasti akan baik-baik saja, demi meldy*.'
Zid mengambil resiko, ia tidak tega melihat Meldy yang selalu sibuk dengan pekerjaan tambahan. Itu memang sangat melelahkan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Aku tidak tahu kalau kamu suka ngopi." Mikaila membuka suara memecah keheningan mereka yang kini menikmati hari menjelang siang ngopi di sebuah cafe.
"Aku memang tidak suka ngopi, Cellin yang sangat menyukainya."
Mikaila semakin terperangah, ia tak pernah tahu jika Zico adalah pria bucin yang setia. Setahu Mikaila. Dia adalah pria Cassanova yang bergonta-ganti wanita bayaran.
'*Drrrttt drrtt drttt*' Ponsel Zico yang berada di atas meja bergetar.
1 pesan baru.
**Tuan CEO**.
'*Makan siang bersama di apartemen. Aku sudah siapkan semuanya. Cepatlah datang*.'
"Siapa?." Mikaila bertanya penasaran.
"Tuan CEO." Jawab Zico singkat, ia kembali fokus pada ponselnya, memainkan jarinya, membalas pesan dari Arend.
Mikaila mengernyitkan kening, ia sedikit bingung, '*Siapa tuan CEO*?'
"Ikut aku ya? Kalau aku antar kamu pulang, aku takut mama akan memarahiku karna tidak menemanimu dengan baik."
"Kemana?."
"Makan siang di apartemen Arend."
"Aku pulang saja." Mikaila menolak, bukan karna dia menghindar karna perasaannya, ia sudah tak mencintai Arend, tapi biar bagaimanapun, yang namanya pernah begitu cinta, dan harus bertemu, itu tetap tidak menyenangkan. Tidak nyaman.
"Sudahlah, tidak perlu bersikap seperti itu. Kau ikut, tidak boleh membantah." Zico meletakkan ponselnya. Ia memanggil para bodyguard yang juga tengah menikmati kopi. Mengatakan rencana perjalanan selanjutnya.
'*Sejak kapan Zico bersikap dewasa seperti ini?. Sepertinya aku terlalu lebur dengan hidupku dan duniaku sendiri, sehingga aku begitu abai dengan kehidupan orang lain di sekelilingku*.'
Mikaila terus menatap Zico. Tenggelam dalam pikirannya.
"Kau jangan terlalu sering menatapku seperti itu, Kei. Yang ada kau bisa jatuh cinta nanti." Seringai Zico membangunkan Kei dari lamunannya.
"Tidak, aku tidak mau jatuh cinta lagi, itu selalu menyakitkan." Jawab Kei. Ia lantas berdiri. Mereka akan segera pergi.
'*Aku pernah menyayangimu Kei, bahkan aku mencintaimu, tapi itu dulu, dan aku tak lagi memiliki rasa padamu, kau hanya seperti seorang adik perempuan untukku sekarang*.'
Zico dan Mikaila keluar dari Cafe. Mereka akan pergi ke apartemen Arend. Mobil Bodyguard terus mengikuti mereka dari belakang.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Syeira membantu Arend menata makanan di meja makan. Arend memasak begitu banyak menu, sangat banyak. Senyum keduanya terus mengembang, kebahagiaan mutlak telah datang.
"Apa kamu tidak lelah, sayang? Kamu diam saja, aku bisa menyelesaikannya sendiri."
"Bosan ah, dari tadi juga aku cuman diam."
Keduanya terus bertemu pandang, dan saling melempar senyuman. Malu-malu meong, karna olahraga panas yang mereka lakukan membuahkan hasil.
'*Ting tong*.'
"Zico datang? Biar aku yang buka pintu."
Syeira cepat melangkah, Arend dan Syeira berniat akan memberitahu Zico sebagai orang pertama tentang kehamilan Syeira. Baru nanti malamnya mereka akan ke mension Aryan untuk mengabarkan pada kedua orang tua.
'*Klek*.'
"Syeiraaa? Aaahh?" Meldy berteriak menyerukan nama Syeira saat sahabatnya itulah yang membukakan pintu, ia lantas memeluk Syeira erat, Syeira membulatkan mata. Yang datang ternyata Zid dan Meldy.
"Kalian?. Ngapain kesini?" Arend yang mendengar teriakan Meldy khas suara centilnya lekas melangkah keluar.
'*Iiissshh*.' Raut muka Meldy langsung berubah, seakan kedatangannya sama sekali tak diharapkan.
"Gaji saya tidak anda naikkan Tuan CEO. Tapi setiap hari perkejaan saya selalu anda tambahkan. Kami kesini mau mengantarkan berkas-berkas pekerjaan anda. Seenaknya saja anda libur lagi libur lagi. KERJAA?" Meldy menjawab ketus. Dan Arend hanya bisa berekspresi kesal.
"Aaahhh?. Ayo masuk." Syeira menyambut dengan baik.
Tak lama kemudian. Zico dan Mikaila pun datang.
"Apa ada acara spesial?." Zico berseloroh ketika mendapati Zid dan Meldy yang juga berdiri di depan pintu apartemen Arend.
Meldy menatap sungkan pada Zico. Lalu cepat memalingkan muka. Ia bahkan menelan salivanya kasar, kejadian kemarin masih terbayang, Zico terlihat sangat tampan saat berada di atas tubuhnya kemarin di dalam mobil, dengan tampilan rambutnya yang berantakan basah, namun sangat seksi Dimata Meldy, di tambah Zico yang mengatakan dirinya berdiri dan mengeras karna dirinya. Membuat otak nakal Meldy sedikit bekerja.
Zico melihat Meldy yang terlihat seperti salah tingkah. Dan memalingkan muka darinya.
'*Iiisshhh. Ck*.'
Arend terlihat kesal karna bahkan tamu tak di undangnya bertambah lagi.
Syeira hanya nyengir kuda. Ia menyambut Mikaila yang datang dan memeluknya.
"Ayo, masuk semuanya."
Zid, Meldy, Zico dan Mikaila masuk. Mereka langsung melangkah ke arah meja makan sesuai arahan Syeira.
"Waaahhh?. Ada acara makan siang bersama? Great!" Meldy berseru antusias. Sedangkan Zid memegangi kepalanya bagian belakang, merasa tidak enak pada Arend, sepertinya mereka datang di waktu yang salah. Apalagi tatapan Arend yang seperti tak bersahabat.
Zico duduk santai sambil tersenyum. Ia meminta Mikaila yang hanya terdiam Sedari tadi untuk duduk di sampingnya.
Syeira tersenyum canggung.
"Sudahlah, ini hari yang baik, dan kita di kelilingi oleh orang-orang yang baik."
Syeira berbisik pada Arend yang terlihat kesal. Arend merencanakan ini untuk memberi kejutan pada Zico. Dan malah dirinya yang mendapat kejutan kedatangan mereka para tamu tak di undang.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...