
Pukul 9 pagi waktu Negara Brazil. Aryan baru saja selesai melakukan sambungan telepon dengan Ayla. Ia keluar dari kamar setelah sudah dalam mode siap.
Aaron dan Mikaila sudah menunggunya di sofa ruang tamu, selama berada di Brazil, Aryan dan Aaron tinggal di apartemen Mikaila tentu saja. Yang berada di pusat kota Brasilia ibu kota Brazil.
Ini adalah hari terakhir Aryan dan Aaron disini, setelah nanti sore waktu Brazil, mereka akan melakukan penerbangan kembali ke tanah air.
Mikaila akan membawa mereka berkeliling di salah satu pusat perbelanjaan di Brasilia untuk membeli oleh-oleh buat semua yang ada di rumah.
Mikaila turut bahagia dengan kabar yang Aryan sampaikan jika Zico dan Cellin telah menikah, Aryan sempat seakan tak percaya ketika Mikaila mengatakan bahwa Cellin adalah sahabatnya, dan Mikaila juga merasa syok, karna ia tak pernah tahu jika Cellin sedang sakit.
Semenjak Mikaila pindah ke Brazil, ia hampir memutus semua hubungan dengan semua orang yang berhubungan dengannya di tanah air, Ayla, Cellin, maupun Zico. Ia langsung ganti nomor kontak dan seluruh sosial media nya ia non aktifkan. Itu salah satu usaha kerasnya untuk bisa melupakan Arend.
Cinta pertama yang sudah mendarah daging memang sangat sulit untuk bisa di lupakan. Apalagi Aaron ayahnya yang berhubungan bisnis dengan Aryan, jelas masih mengingatkan Mikaila pada Arend saat ini.
Sesekali Mikaila masih menanyakan kabar Arend. Dan bagaimana keadaannya setelah Arend menikah. Jawaban Aryan yang menggebu menceritakan kebahagiaan keluarga kecil putra nya yang Aryan dapat informasinya dari Ayla, membuat Mikaila merasa sakit hati. Tapi itu juga membuat Mikaila sadar diri. Dan tetap harus terus melangkah maju untuk melupakan Arend.
Mikaila menjadi gadis cantik, baik, yang bernasib sebagai sad\_girl. Dan itu sangat berat untuk di jalani.
Disini, di kota ini. Brasilia, ibu kota Brazil. Mikaila bisa sedikit melupakan tentang Arend dan kesedihan yang menyertai hatinya, dengan kesibukan dan hiruk pikuk orang-orang yang baru, tempat baru, dan suasana yang baru.
Beberapa kerabat Aaron yang tinggal di kota ini membuat Mikaila cepat ber adaptasi dengan lingkungan. Bahkan putri dari sepupu Aaron yang bernama Gylda sering menginap dan menemani Mikaila di apartemen nya. Membuat Mikaila tidak merasa sendiri.
Mobil yang di kendarai oleh salah satu pengawal Aryan telah memasuki area parkir gedung besar dan luas salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Dua mobil lainnya yang turut menyertai perjalanan mereka pun telah sampai.
Dengan sigap para pengawal Aryan membukakan pintu dan berjalan seakan memberi perlindungan pada atasan mereka.
Rombongan Aryan yang datang memasuki tempat itu sempat menjadi pusat perhatian, karna mereka dikawal oleh para Bodyguard dengan ketat.
Mikaila dengan antusias mulai menunjuk toko-toko yang akan di kunjungi mereka. Ia juga ingin menitip bingkisan untuk Zico, Cellin, Arend, dan Ayla sebagai hadiah. Mikaila memang gadis yang baik.
Mereka mulai berbelanja, baju, celana, kaos, tas, jam tangan, sepatu, dll. Hampir semua jenis barang mereka beli. Kini para Bodyguard di sibukkan dengan menenteng tas-tas berisi belanjaan mereka yang sudah seperti tengah memborong seisi Mall.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"I don't care how you get close to him, I want you to kill him today, he has made me fall. And I have to make him lifeless."
Seorang Pria Brazil bernama Matteo telah memerintahkan para pembunuh bayaran untuk menyerang Aryan hari ini, sebelum Aryan akan terbang dan kembali ke negaranya.
Matteo adalah seorang CEO dari perusahaan yang juga berada di satu perkumpulan pertemuan para CEO yang di adakan di salah satu Hotel Brasilia kemarin. Dan Aryan yang merajai dunia bisnis membuat perusahaan dan saham Matteo anjlok. Ia memiliki dendam pada Aryan. Dan nyawa Aryan adalah incarannya.
Rencana di susun matang, Aryan yang selalu di kawal hampir 20 Pengawal yang handal dan professional, jelas sangat menyulitkan musuh dan lawan untuk sekedar mendekat. Tapi pasti ada celah.
Para pembunuh bayaran yang di sewa Matteo adalah Kelompok Berandal Gank Pusat kota, jaringan mereka memang masih di katakan biasa, namun mereka terkenal dengan aksi brutal dan nekadnya. Keluar masuk tahanan adalah hoby bagi mereka.
Brazil memang terkenal dengan negara yang penuh kekerasan, kejahatan biasa terjadi dimana-mana. Mudahnya peredaran senjata api tanpa legalitas juga menjadi salah satu penyebab tingginya tindak kriminal di negara itu.
Sekitar 50 orang dari pembunuh bayaran telah ter sebar untuk mengintai pergerakan Aryan dan rombongan. Ada yang terlihat seperti para pengunjung biasa pada umumnya, ada yang berpenampilan seperti kakek yang sudah tua. Dan yang kini berhasil mendekat begitu dekat pada mereka adalah seorang wanita muda yang berpura-pura tengah hamil besar.
Wanita itu duduk di bangku depan toko baju yang kini di masuki oleh Aryan, Mikaila dan Aaron. 5 Pengawal selalu berada di dekat mereka, sedangkan sisanya berjaga di luar dan terus melakukan pengamatan.
Mikaila keluar terlebih dulu setelah menerima panggilan dari Gylda. Mikaila melangkah keluar dan duduk di bangku bersebelahan dengan wanita yang berpura-pura hamil.
Mikaila sama sekali tak mencurigainya, dia terlihat sangat normal seperti wanita hamil pada umumnya.
Mikaila masih berbicara dengan Gylda, sesekali terdengar canda tawanya yang ceria. Ia telah selesai dan menutup sambungan telepon itu.
"Nona.?" Wanita itu memanggil Mikaila.
"Iya Nyonya.? Ada apa.?"
"Bisa tolong bantu saya berdiri.? Saya ingin membeli baju di sana.!"
Mikaila pun membantu wanita itu berdiri dan mengajaknya masuk. Ia mengobrol dengan wanita itu saat tengah melihat-lihat koleksi baju yang di jual disana.
"Kenapa anda hanya belanja seorang diri, Nyonya.? Kenapa tidak bersama dengan suami Anda.?"
"Saya bersama suami saya, Nona. Dia sedang ke Toilet, sebentar lagi juga dia akan menemui saya disini. Tapi saya sudah tidak bisa menahan diri untuk melihat-lihat.!"
Mereka terus mengobrol sampai seorang pria berwajah sangar yang mengaku sebagai suami wanita itu datang.
Kebetulan Aryan dan Aaron juga bersama mereka.
"Terimakasih telah membantu istri saya.!" Ucapnya dengan suara berat khas pria Brazil.
Wanita dan pria itu kembali melihat-lihat baju bersama. Mata mereka tidak lepas mengintai pergerakan Aryan, Aaron dan Mikaila.
"Ayolah Papah,,, papah Aryan.? Buruan di coba.?"
Mikaila mendorong kedua pria yang sama-sama di panggilnya Papah itu untuk masuk keruang ganti untuk mencoba baju yang Mikaila pilihkan.
Dengan malas akhirnya Aryan dan Aaron menurut, Mikaila tersenyum senang, ia kembali melihat-lihat baju disana. Tak ada seorang pun pengawal yang ikut masuk kedalam ruang ganti itu, karna itu hanyalah ruangan sempit, dan kondisi di konfirmasi aman.
Kesempatan. Pria berwajah sangar itu lekas ikut masuk kedalam ruang ganti dengan membawa sebuah kemeja di tangannya. Ia berpura-pura untuk mencoba baju juga.
Ada beberapa ruang kecil yang tersekat, Aryan masuk ke satu ruang dan Aaron di ruang sebelahnya.
Pria berwajah sangar itu mengetuk pintu dimana Aryan yang baru saja masuk, dan Aryan yang hendak membuka kemejanya untuk di ganti, mendengar ketukan pintu itu dan dia berhenti membuka kemejanya. Ia lantas membuka kembali pintu itu, Aryan merasa bingung karna pria berwajah sangar yang tadi ia temui berdiri disana.
"Tuan.? Anda.?"
Tak ingin membuang kesempatan, pria berwajah sangar itu lekas menyerang Aryan dengan sebilah pisau yang sangat tajam. Jelas Arend kaget dan reflek mundur hingga mereka berdua kini masuk kedalam ruang ganti yang berukuran kecil itu.
Pria itu terus mencoba menyerang Aryan, Aryan berusaha menahan tangannya dan melawan. Satu tendangan Aryan mengenai tepat perut pria itu. Tapi Aryan juga terluka, pisau tajam itu berhasil menggores dada Aryan, darah segar keluar.
Aaron merasa ada yang tidak beres karna suara yang Gedebag gedebug terdengar dari sebelah ruang ganti Aryan. Aaron pun lekas keluar,. Ia membulatkan mata ketika melihat Aryan yang terluka dan berdarah, Aryan menahan sakit di dadanya.
"Aryan.?"
Pria berwajah sangar itu bangkit dan kembali menyerang dengan cepat, Aaron yang melihatnya lekas menghadang, ia ingin menahan tangan pria yang memegang pisau itu untuk menyerang Aryan, namun justru pisau tajam itu menusuk dalam tepat di perutnya.
Seketika Aaron jatuh dengan tumpuan lututnya di lantai, ia merasakan sakit yang teramat sangat, bagian dalam perutnya telah terkoyak.
Pria berwajah sangar itu menarik kasar pisau dari perut Aaron, dan ia kembali menusukkan pisau itu dengan ganas ke dalam perut Aaron sekali lagi. Aryan mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk menendang pria itu.
'*Gubrak*.!'
Kini pria itu jatuh tersungkur ke lantai lebih keras, ia lekas bangkit dan keluar dari ruang ganti. Berpapasan dengan para pengawal yang baru masuk setelah mendengar suara gubrakan.
Tapi mereka sama sekali tak mencurigai pria berwajah sangar yang baru saja keluar, karna dia adalah pria yang tadi beramah tamah dengan atasannya. Dan tangan pria itu berbalutkan baju sehingga menutupi darah segar Aaron yang menempel pada tangannya, Pria berwajah sangar itu lekas pergi dengan wanita tadi.
"*Misi selesai*." Ucapnya dari sebuah alat Clip on yang tersembunyi di dalam bajunya.
Aryan dan Aaron tumbang, tapi Aryan masih bisa menahan sakit sayatan di dadanya, dan ia masih dalam kesadaran penuh, sedangkan Aaron telah jatuh di lantai dengan mata yang tertutup sempurna.
"Cepat bawa dia kerumah sakit.?" Teriak Aryan dalam emosi yang memuncak sambil memegangi dadanya yang terus mengeluarkan darah segar.
Mikaila turut masuk dan berteriak histeris mendapati Papahnya yang terbaring di lantai dengan tubuh yang bersimbah darah.
"Papaaahh\_\_.??"
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...