LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 38



Zico sudah pulang ke Apartment Arend. Ia menjatuhkan dirinya kasar di atas ranjang dengan posisi telungkup. Buliran bening itu keluar dari sudut matanya. Sakit yang ia rasa begitu nyata. Gadis yang benar-benar dicintainya tak bisa ia dapatkan. Bahkan telah sudah menyebar undangan.


Ini adalah pertama kalinya Zico merasakan patah separah ini. Ia merasa begitu sakit melihat Cellin yang menyerahkan undangan pernikahannya pada Syeira tadi siang. Zico menangis dalam diam, pandangan mata yang sendu, dan hening tanpa kata. Sang Cassanova hatinya telah berdarah.


...****************...


Arend mengantar Syeira ke kantornya, tapi ia tidak langsung kembali, Arend menunggu Syeira di dalam mobil di depan halaman gedung Melavers. Dia akan menunggu Syeira menyelesaikan pekerjaan nya terlebih dulu. Lalu akan langsung pulang bersama. Hari juga sudah sore. Saat nya jam pulang kerja.


Setelah hampir 1 jam. Syeira datang, setengah berlari menuju mobil Arend. Membuka pintu, masuk dan duduk.


"Maaf, Lama.! Bu Mela mencercaku dengan pertanyaan tentang tayangan berita yang baru saja tersebar, itu tentang Anda yang berdiri berhadapan dengan DK di hotel tadi."


Arend hanya diam mendengarkan tanpa menjawab ucapan Syeira. Muka itu benar-benar datar.


'Ternyata Pria itu di sebut DK, apa itu namanya.?'


"Tapi Tuan tenang saja. Saya tidak mengatakan apa-apa. Saya bilang pada Bu Mela jika saya tidak melihatnya karena saya dan Bim sudah keluar dari hotel."


Arend lega mendengarnya, istri cerewetnya lebih bisa menjaga perasaan suaminya sekarang. Arend tak menjawab juga tak merubah ekspresi. Ia hanya menyalakan mesin mobil lantas menginjak gas melajukan benda mewah itu menuju apartment, ia ingin segera pulang.


...****************...


Cellin berdiri mematung di dekat jendela. beberapa hari lagi dia akan melangsungkan prosesi pernikahannya dengan Faisal.


Ia kembali teringat dengan Zico, sedih rasanya harus jatuh cinta pada tipe orang yang membuat kita merasa trauma, dan lebih sedih pula menikah dengan pria yang tabiatnya pun tak lebih baik darinya.


2 Jalan bercabang yang harus Cellin lalui sama beratnya. Tapi jika masih ada kesempatan untuk kembali memilih, Cellin ingin agar bisa bersama dengan Zico, mungkin saja dia bisa berubah. Cellin mencintainya.


Kepala Cellin terasa pusing lagi, setiap kali dia dalam tekanan pasti dia merasa pusing dan pening, Cellin melangkah ke dapur, ia menyalakan kompor memasak air, ingin membuat kopi.


Kakak iparnya masuk, sepertinya baru datang dari belanja di warung tetangga.


"Ngopi lagi.?"


Cellin hanya tersenyum mendengar pertanyaan Kakak ipar.


"Kamu periksa deh Lin, ke Rumah Sakit, kamu tuh udah sering banget lho pusing kepala. Kalau kamu gak nurut juga, Kakak bilangin lho ke Kakak kamu biar dia yang bawa kamu periksa."


"Iya, Kak,,, Besok Cellin periksa."


Cellin menjawab santai ucapan Kakak ipar yang terdengar mengkhawatirkannya, sambil mengaduk kopi hitam dalam cangkir.


...****************...


Arend dan Syeira sudah sampai di rumah, di tangan Syeira terdapat beberapa paper bag yang berlogo brand makanan favorit mereka. Kali ini Syeira membeli banyak, tidak hanya nasi, ayam goreng, ada juga pizza, es krim cup dll.


Syeira meletakkan tas-tas berisi makanan itu di atas meja dapur, Arend sudah langsung menuju kamarnya. Syeira pun pergi ke kamar.


Arend melihat Zico yang berbaring dengan telungkup tanpa melepas sepatu. Arend memperhatikannya sebentar, ia lantas melepas jam tangan, di taruh di atas meja rias, membuka kancing kemeja dan melepas pakaiannya menyisakan celana panjang.


Zico dapat mendengar semua pergerakan dari Arend. Tapi ia hanya diam. Matanya jelas terlihat usai menangis.


"Kau sudah tidur.?"


Arend bertanya sambil terus melepas celana, menyisakan Bokser yang menempel di tubuh seksinya. Arend akan mandi.


Zico akhirnya bergerak, ia terlentang menghadap atas, menatap langit-langit kamar dengan tatapan nanar.


Arend melihatnya sampai menyipitkan mata dan mengernyitkan kening.


"Ada apa.?" Arend kembali bertanya.


"Haaa__h." Zico bangkit, duduk di tepian ranjang, kedua pahanya terbuka lebar, kedua Kaki panjangnya menjulang di lantai.


"Game Over"


Jawab Zico singkat. Lalu ia beranjak masuk kedalam kamar mandi mendahului Arend yang sudah hampir t3l_4 n. j.4n9.


Arend hanya diam dengan perasaan bingung, apa yang sedang terjadi dengan saudaranya.? Ia masih mematung disana.


Tiba-tiba pintu kamar di buka.


"Hei, Bocah. Gua beliin Lo ayam geprek.!"


Syeira nyelonong masuk berniat memanggil Zico, dia berhenti dan membulatkan mata saat melihat Arend dalam kondisi hanya memakai celana Bokser saja.


"Le Vel Se pu luh.!" Ucap Syeira terbata meneruskan kalimatnya.


Arend hanya diam melihat Syeira dengan tatapan tajam. Ini aneh, Syeira tidak berteriak. Maupun bergerak, Matanya justru mengarah pada bagian bawah Arend tanpa bimbingan. Dan Syeira menelan salivanya kasar.


Arend merasa seperti di T3. l_4n. j4n9i. Ia semakin membulatkan mata melihat Syeira yang tak kunjung pergi juga.


Tenggorokan Syeira terasa tercekat, jangan kan berteriak. Ia bahkan tak bisa bersuara. dan tubuhnya mematung begitu saja.


Zico keluar, dia lupa membawa handuk, sama halnya dengan Arend, hanya celana Bokser yang masih menempel di tubuhnya, memperlihatkan otot-otot lengan, dada dan perut yang terbentuk sempurna, sangat menggoda. Syeira refleks melihatnya.


Arend bertindak cepat, ia lekas meraih selimut di atas kasur, melempar ke arah Syeira, hingga menutup seluruh tubuh istrinya itu, menutup matanya yang melihat nakal menikmati pemandangan vitamin mata kaum hawa.


'Dasar itik nakal.'


Syeira berhasil membuka selimut yang menutupi dirinya saat di depan pintu yang sudah tertutup dan terkunci dari dalam.


Ia menyentuh dadanya sendiri, jantungnya kembali ingin lompat keluar.


"Apa yang aku lakukan.? Kenapa aku hanya diam saja.?? Aaa__hh, Bodoh. Dia pasti berpikir jika aku adalah gadis yang? Aaahh__"


Syeira mengacak rambutnya sendiri, pipinya merah merona saat ini, ia baru menyadari kekonyolan dirinya yang tak segera lari ataupun menutup mata. 'Kenapa respon tubuhnya berbeda dari biasanya.?'


"Apa yang di lakukan istrimu tadi.?"


Zico bertanya bingung, dan jelas itu tanpa jawaban. Arend sudah bergerak lebih cepat masuk ke kamar mandi mendahului Zico.


"Hei,,__ Aku duluan."


Zico mengejar, namun pintu kamar mandi sudah Arend kunci dari dalam.


Syeira berdiam diri di kamar, rasanya sangat malu untuk keluar, bagaimana tadi dia bisa hanya berdiam diri saja.? Kenapa tidak berteriak atau menutup mata layaknya wanita pada umumnya.? Syeira hanya merasa tegang tiba-tiba, dan tubuhnya pun kaku tiba-tiba.


"Bodoh_ Bodoh_ Bodoh_" Syeira masih terus mengumpat kesal pada dirinya sendiri.


Arend sudah siap di meja makan. Zico juga sudah keluar, tinggal menunggu Syeira.


Arend dan Zico belum ada yang memulai untuk membuka paper bag isi makanan itu, jangan sampai menu yang mereka ambil salah dan itu menu milik Syeira, bisa terjadi perang ke sekian kalinya menjelang tidur malam.


"Panggil dia." Arend meminta Zico untuk memanggil Syeira yang di tunggu tak kunjung tiba.


Zico langsung berdiri. Ia mengetuk pintu Syeira berkali-kali.


"Hei,,, Kakak ipar.? Apa kau tertidur.? Ayo kita makan.? Aku sudah lapar.?"


'Ceklek.' Pintu di buka.


Syeira diam saja. Zico pun menarik tangannya paksa lalu mendudukkan Syeira di kursi sebelah Arend. Dan dia duduk di kursi lain yang bersebelahan dengan Arend juga, posisinya adalah Syeira dan Zico berhadapan.


Syeira hanya menunduk diam.


"Buka." Ucap Arend satu kata.


"Hah.?"


"Hah.?"


Syeira dan Zico menoleh ke arah Arend secara bersama.


"Makanannya.!" Jawab Arend menatap datar ke arah Syeira yang otaknya sudah sempat traveling ke Arabia.


"Ouh.?" Syeira tertawa sumbang.


Mereka makan malam dalam diam. Zico masih larut dalam kesedihan, Syeira masih sangat malu dengan kejadian barusan. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Arend sudah selesai makan terlebih dulu, ia meminum air putih di gelas. Lalu bertanya pada Zico.


"Ada yang ingin kau ceritakan.?"


Bukannya ingin ikut campur dalam urusan orang, tapi Arend sangat perhatian pada Zico. Dia tidak ingin jika saudaranya memiliki masalah, dan Arend khawatir akan hal itu.


Zico berhenti sejenak. Ia juga sudah selesai. Zico minum air putih di gelasnya. Lalu ia bersandar pada punggung kursi.


Syeira masih mengunyah, makanannya belum habis juga. Karna semua menu ia coba.


"Aku patah hati."


Sontak Syeira menyemburkan makanan di mulutnya ke depan dan otomatis mengenai Zico. Jawaban singkat Zico membuat Syeira kaget luar biasa.


Zico hanya bisa diam dan terpejam mendapat serangan semburan maut dari Syeira. Arend malah menahan tawa.


"Sorry, sorry, gua gak sengaja, gua kaget.!" Ucap Syeira mencoba meminta maaf pada Zico.


Zico mengambil tisu kasar mengusap wajahnya yang masih ada sisa makanan semburan dari Syeira dengan gerakan kesal.


"Lo patah hati.? Lo gak lagi demam Kan.? Atau mungkin tadi Lo habis jatuh.? Dan.? Kepala Lo kepentok dinding?" Syeira nerocos pada hal yang bukan-bukan.


"Gua Serius.!" Ucap Zico dengan tegas.


Syeira menatap Zico semakin dalam. Tidak ada kebohongan dari sorot mata Zico yang Syeira tangkap. Arend hanya duduk tenang dengan ekspresi datar menatap depan.


"Gua cinta sama Cellin. Dan dia akan menikah."


Zico akhirnya mengatakan kegundahan hatinya pada Arend dan Syeira. Syeira seakan tak percaya, pria Cassanova seperti Zico bisa jatuh cinta dan patah hati karna seorang gadis seperti Cellin.


Zico kembali larut dalam kesedihan menceritakan pupusnya harapan cintanya pada Seorang Cellin Nabila.


...****************...