
Setelah mengambil keputusan dalam hidupnya Aina mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang.
"Dev kamu sibuk gak?Aku ingin ketemu sama kamu di taman sekarang".pesan singkat Aina kepada sang kekasih.
"Aku gak sibukko.Oke aku otw sekarang jemput kamu ya".balas Devan.
"Ehh gak usah Dev,aku bisa berangkat sendiri kok.Kita langsung ketemu di taman aja"balas Aina.
Dan ia pun langsung beranjak menuju taman dan meninggalkan istana kecilnya itu.
Di Taman...
Seorang gadis dan pria sedang duduk di sebuah kursi dalam keadaan hening.Tak ada di antara mereka yang membuka suaranya.Mereka lebih menikmati cuaca di sore hari ini.Ya mereka adalah sepasang kekasih Aina Khanza Leonardo dan Devan Syahputra Alinsky.
"Dev,aku mau ngomongin sesuatu sama kamu".ucap Aina memecahkan lamunan Devan.
"Hm mau ngomongin apa?jawab Devan sambil menatap kekasihnya itu.
"Aku di jual sama orang tuaku".jelas Aina yang tetap fokus menatap datar ke depan.
"Hah?Aku gak percaya Na.Orang tua mana sih yang tega jual anaknya sendiri".sambung Devan yang tidak percaya dengan ucapan kekasihnya itu.
"Terserah kamu Dev mau percaya sama aku atau gak.Yang jelas aku kemarin udah di jual sama temen ayah".jelas Aina yang masih dengan raut wajah yang sama.
"Terus kamu setuju gitu mau di jual?"tanya Devan.
"Iyaa aku setuju Dev.Ini semua keinginan keluarga aku.Kalo dengan cara ini mereka bisa bahagia,kenapa gak aku melakukannya.Aku akan melakukan apapun Dev asalkan keluargaku aku bahagia walaupun tanpa kehadiranku" jelas Aina yang sudah tidak bisa lagi membendung air matanya itu.
"Aina asal loh tau ya,jadi orang itu gak usah terlalu baik meskipun sama keluarga loh sendiri karena keluarga loh tuh gak pernah anggap loh bagian dari keluarga mereka.Manusia itu punya ego dan ego itu kata lain yang punya definisi dari sayang sama diri sendiri.Tuhan juga marah kalo loh terlalu mikirin orang lain dan gak mikirin nasib diri loh sendiri.Posisinya tuh harus seimbang.Kalo loh belum nemu gimana cara bikin mereka seimbang,prioritasin diri loh.
Karena belum tentu mereka mikirin diri loh sama kayak loh mikirin mereka".jelas Devan yang tak tau cara pikir kekasihnya itu.Di satu sisi ia kecewa sama Aina karena dia terlalu menuruti semua perintah dari keluarganya.Di lain sisi ia juga kasihan melihat nasib kekasihnya itu.
"Dev jadi kamu gak setuju dengan keputusan aku?"tanya Aina dengan air mata yang terus mengalir di pipinya itu.
"Aku gak tau Na.Aku hanya khawatir sama lingkungan keluarga baru kamu.Aku takut nanti mereka nyiksa kamu melebihi dari keluarga kamu sendiri dan juga aku kecewa sama keputusan yang kamu ambil Na."sambung Devan dengan sorot mata yang penuh dengan kekecewaan kepada kekasihnya itu.Ia lalu meninggalkan taman itu tanpa memperdulikan gadis yang sedang terpuruk oleh masalah hidupnya.Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya kekecewaan.Ia berpikir gadis yang ia cintai itu tidak pernah menganggap kehadirannya.Tohh untuk apa dia punya pacar kalo dia gak mau ngebagi semua masalah yang di hadapi.Bukankah dalam hubungan spesial itu susah senang kita harus bersama.
.
.
Hari ini Aina Khanza Leonardo meninggalkan istana kecilnya dengan berat hati.Bagaimana tidak ia dari bayi sampai sekarang 17 tahun ia di besarkan di istana kecilnya itu walaupun tanpa kasih sayang yang tulus dari orang tuanya.Ia pikir kedua orang tuanya dan kakaknya akan mengubah keputusan mereka untuk menjualnya,tapi nihil itu gak terjadi.
"Ayah,Ibu,kak Revan aku berangkat sekarang yaa"ucap Aina kepada keluarganya dengan menahan air matanya itu.
"Iyaa sana pergi gak usah berpikir dehh kami mau ngubah keputusan kami menjual kamu".jawab sang Ibu Rita Leonardo.
"Hm benar tuh bu sana pembawa sial pergi".sambung sang kakak Revan.
"Malah diam di situ,sana cepat pergi kamu gak usah drama pake nangis lagi.Air mata buaya kamu tuh gak akan membuat kami kasihan sama kamu".jelas tuan Leonardo dengan tegas.
Gadis itu pun tak bisa lagi menahan air matanya.Ia berlari keluar dari rumahnya dengan membawa dua koper.Segitu benci keluarganya kepada dia?Sam
pai-sampai ia di usir.Entahlah berapa besar rasa benci keluarganya kepada ia.
Ia pun berjalan menuju halte bis.Tak lama bis nya pun datang ia naik dan duduk dekat jendela.Di dalam perjalanannya hanya termenung yang ia lakukan.Seperti pepatah "Sakit Tapi Tak Berdarah" ya seperti itu yang ia rasakan sekarang.Hanya dirinya dan Tuhan lah yang mengetahui semuanya.
Lamunannya terhenti ketika bis yang ia tumpangi berhenti.Ia pun turun dan menuju ke rumah keluarga barunya.Di dalam dirinya hanya rasa takut dan ia terus membayangkan kata-kata sang kekasih kemarin di taman "Aku hanya khawatir sama lingkungan keluarga baru kamu.Aku takut nanti mereka nyiksa kamu melebihi dari keluarga kamu sendiri".hanya itu yang terus terbayang di pikiran gadis tersebut.
Kediaman tuan Bramana..
Di sinilah Ia di depan sebuah rumah mewah bak istana.Hanya kekaguman yang ia pinta.Berbeda dengan istana kecilnya yang jauh lebih sederhana.
Ia tak pernah berpikir keluarga baru nya memiliki rumah semegah ini.
"Setelah aku masuk di keluarga ini,apakah aku sudah menjadi anak orang kaya?Ohhh...tidak...tidakkk.Kenapa aku berpikir seperti itu sih".gumam Gadis itu yang tak lain adalah Aina Khanza Leonardo dalam hatinya.
Ia lalu melangkahkan kakinya memasuki sebuah mansion yang sangat besar dan mewah itu dengan interior bangunan yang terkesan klasik-modern.Ia tak bisa lagi mengeluarkan kata-kata untuk mendefinisikan rumah tersebut.
Aina pun memencet bel yang ada di luar gerbang kediaman tuan Bramana tersebut.
Ting...tong..
Terlihat seorang lelaki paruh baya membuka gerbang rumah tersebut yang ia yakini itu adalah security rumah ini.
"Cari siapa dek?tanya security itu dengan sopan.
"Hmm anu pak cari tante Mita sama om Ardi".jawab Aina dengan senyuman.
"Owhh emang adek udah buat janji ya sama tuan dan nyonya?tanya security tersebut.
"Belum sih pak,tapi....".ucapannya terpotong ketika sepasang suami istri berteriak ke arah mereka.
"Ehh nak Aina sini masuk".ujar nyonya Rita Leonardo.
"Ehhiyaa tante".jawab Aina dengan sopan dan lembut.
Ia pun masuk bersama nyonya Mita Bramana dan tuan Ardi Bramana.Ketika ia memasuki pintu pertama mansion tersebut hanya kekaguman yang ia rasakan.Sepanjang jalan hanya rasa hormat yang ia dapatkan dari beberapa pelayan yang menyambutnya sambil tersenyum kepadanya.Ia tak pernah merasakan semua ini.Berjalan di antara kedua orang asing yang ia baru kenal,tetapi ia merasa berbeda.Ia seperti merasakan sosok seorang ibu dan ayah yang memberikan kasih sayang kepada anaknya.
"Nak Aina mulai sekarang ini juga rumah kamu".ujar nyonya Mita Bramana dengan senyumannya.
"Hah?Kok bisa sih tante ini kan rumah om dan tante".sambung Aina dengan sedikit kebingungan.
"Gak nak ini juga rumah kamu.Oiya jangan panggil lagi saya dengan panggilan tante ya,saya ingin kamu memanggil saya dengan sebutan mama dan suami saya kamu panggil dengan sebutan papa".ucap nyonya Mita Bramana dengan sorot mata yang terlihat di dalam sana penuh dengan harapan.
Seorang nyonya Mita Bramana dan tuan Ardi Bramana langsung memeluk gadis yang ada di hadapannya itu dengan penuh haru.Mereka berdua baru saja mendengar seorang anak memanggilnya dengan sebutan mama dan papa.Sungguh mereka sudah mengharapkan ini sejak lama.Tapi sekarang mereka baru merasakannya.
"Makasih nakk dan mulai sekarang dan untuk selamanya kamu sudah menjadi anak saya dan sudah menjadi bagian dari keluarga ini"jelas nyonya Mita.
"Hmm sama-sama mah,pah".jawab Aina yang masih canggung dengan suasana barunya.
"Kami lagi mempunyai satu permintaan nak".ujar tuan Ardi Bramana.
"Permintaan apa itu papa".jawab Aina.
"Apakah kamu mau mengubah nama kamu di belakang dengan nama Bramana?tanya tuan Ardi Bramana.
Aina hanya diam mendengar pertanyaan itu.Ia tak tau harus mengatakan apa.Sungguh ini bagaikan duri yang menusuknya secara tiba-tiba.Lalu ia sudah memikirkan keputusannya.Apapun resikonya ia harus menanggung semuanya.
"Iyaa papa aku mau mengubah nama belakang aku menjadi Aina Khanza Bramana".ucap Aina dengan lantang dan kedua orang tua barunya itu terkejut mendengar pernyataan gadis itu.
"Sekali lagi makasih yaa nak sudah memenuhi semua permintaan kami".ujar Mita Bramana sambil memeluk Aina dengan mengeluarkan benih-benih air mata bahagia.
"Iyaa sama-sama mama.Dan aku juga mau ucapin terima kasih untuk mama dan papa yang mau nerima aku sebagai anak kalian".jelas Aina dengan membalas pelukan kedua orang tua barunya itu.
Mereka pun berjalan menuju sebuah kamar dengan melewati beberapa anak tangga dan puluhan ruangan yang mewah.Yang ia rasakan saat ini hanya kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Nak Aina ini sekarang sudah jadi kamar kamu".ucap sang mamanya Mita Bramana.
"Apa ini tidak berlebihan mah?tanya Aina.Ia merasa kamar ini terlalu mewah dan tidak pantas untuknya.
"Tidak nak ini memang sudah kamar kamu.Dan ini juga (sambil membuka lemari yang terbuat dari kaca) barang-kamu semua.Terserah kamu mau pakai yang mana".jelas mamanya kepada gadisnya itu.
Aina hanya melongo melihat semua barang-barang branded itu.Terlebih merek-mereknya pun limited edition.
"Kami dulu keluar ya nak,kalo kamu perlu apa-apa di luar ada pelayan yang kamu panggil".ucap mamanya.
"Iya mah,sekali lagi terima kasih yaa semua pemberian mama dan papa ini".ujar Aina sambil memeluk mama dan papanya itu.
"Iyaa sayang.Tidur gih sana ini udah malam.Besok kamu sekolah".sambung papanya,lalu mereka pun meninggalkan gadis itu.
.
.
Tidur yang cukup nyenyak bagi seorang gadis Aina Khanza Bramana.Baru kali ini ia merasa beban yang ia pikul selama ini perlahan mulai menghilang.
"Non Aina udah bangun".teriak salah satu pelayan dari luar sana.
Gadis itu pun berjalan membuka pintu kamarnya.
"Iya aku udah bangun".jawab Aina dengan senyuman.
"Oiya non,tuan dan nyonya udah nunggu non Aina di bawah untuk sarapan".ujar pelayan tersebut.
"Hm oke aku akan ke bawah".sambung Aina.
Ia lalu masuk mengambil tasnya dan mengunci pintu kamarnya.Setelah itu ia turun melewati beberapa anak tangga sesekali ia melihat interior-interior bangunan rumah ini.Ia sangat kagum dengan beberapa lukisan yang ia lihat.
"Pagi sayang".ucap mamanya.
"Pagi mah,pah".jawab Aina dengan senyum.
"Yukk sarapan dulu".ujar papanya.
Keadaan hening.Masing-masing mereka sibuk menikmati sarapan.
"Aina kamu tau nyetir mobil?tanya sang papa.
"Aku gak tau pah nyetir mobil".jawab Aina jujur.
"Oh yaa udah kalo gitu papa yang anterin kamu ke sekolah ya".ucap papanya menuju garasi untuk mengambil salah satu mobil sport.
Sekali lagi ia hanya melongo melihat beberapa deretan mobil mewah itu.Ini orang kok kaya banget yaa?gumam gadis itu dalam hatinya.
"Aina masuk cepet,nanti telat lo ke sekolah".panggil papanya.
SMA JAYA PUTRA
Terlihat para siswa/siswi menatap kagum dengan seorang gadis yang melewati koridor.Penampilan yang cukup mewah.Barang-barang yang ia pakai seperti sepatu,tas,bando merupakan barang branded dan mereknya pun limited edition.Gadis itu merasa tidak enak karena ia di tatap aneh oleh beberapa siswa di sepanjang koridor.Ia pun mempercepat langkahnya menuju kelasanya.
"Selamat pagi Aina".ucap Natasha sambil berlari mengejar langkah sahabatnya itu.
"Pagi Sha".jawab Aina sambil tersenyum.
"Ehh Na,tadi gue lihat loh di anter pake mobil yaa?tanya Natasha.
"Hmm iyaa Sha".sambung Aina.
"Kalo boleh tau,itu siapa yang anterin loh?tanya Natasha yang penasaran.
"Anu itu tetangga dekat rumah aku.Kebetulan tadi pagi dia lihat aku jalan jadi dia nawarin tumpangan ke aku.Kebetulan juga searah".jawab Aina berbohong.
Sahabatnya itu hanya mengangguk dengan ucapan Aina.