LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 96





"**Meldy**.?" DK berteriak.



DK menarik kasar lengan Meldy dengan cengkraman tangannya yang sangat kuat, membuat tubuh Meldy terlepas dari pelukan Syeira, dan kini menghadap sempurna pada DK yang menatapnya tajam.



"Enough, **STOP**. Don't hurt yourself again.!"



DK membentak Meldy yang tadinya menangis dan meracau. Menyisakan senggukan-senggukan yang menyesakkan rongga dada.



Mata Meldy dan DK saling menatap dalam. Bahkan mata DK berkaca-kaca. Ia sungguh merasa tidak tega dengan apa yang dialami Meldy saat ini.



Meldy menepis tangan DK dengan kasar. Ia lantas mengusap wajahnya yang basah karna keringat dan air mata.



Meldy melangkah pergi meninggalkan tempat. Syeira lekas bergerak mengikuti Meldy yang sudah lebih dulu meninggalkannya.



Meldy berlari menyusuri trotoar jalan. Ia sudah tak lagi menangis. Untuk sesaat ia merasa begitu malu telah menunjukkan kebodohannya dengan menangis di depan orang lain seperti DK. Meldy mengatur perasaannya. Dia harus bisa mengontrol emosinya.



"Mel.?"



Syeira yang melangkah cepat mengikuti geraknya memanggil, dan hanya dengan sekali menyerukan namanya Meldy sudah langsung berhenti. Sudah saat nya dia menghentikan semua tingkah konyolnya yang menangisi orang yang sudah begitu tega menyakiti hati dan menghancurkan kepercayaannya.



"Ra.? Aku minta maaf, aku juga berterimakasih. Tapi.? Bisakah kau membiarkanku sendiri.? Aku butuh ketenangan. Aku janji tidak akan bertindak bodoh dengan menyakiti diriku sendiri apalagi bunuh diri. Aku janji tidak akan ada kisah aunty lagi yang akan terjadi. Tapi Please. Tinggalkan aku untuk sementara waktu. Katakan pada Tuan CEO jika aku sudah baik-baik saja. Dan aku akan kembali bekerja besok.!"



Syeira hanya diam mendengarkan Meldy yang terus berbicara. Syeira tahu, Meldy hanya sedang berusaha menguatkan dirinya sendiri. Tapi Syeira bisa mengerti, saat masalah hati melanda. Terkadang kita memang membutuhkan ruang dan waktu untuk sendiri.



Ada taksi yang lewat. Meldy melambaikan tangannya mencegah transportasi umum itu. Dan taksi berhenti.



"Kau pulanglah. Ada Cellin yang juga harus kau jaga. Salam untuknya dariku, aku selalu mendoakan kesembuhannya. Pulanglah.!"



Meldy setengah mendorong tubuh Syeira yang sedikit kaku untuk masuk kedalam taksi. Meldy tersenyum sangat manis pada Syeira saat sahabatnya itu sudah duduk di dalam jok penumpang. Dan taksi melaju membawa Syeira meninggalkan Meldy yang masih berdiri seorang diri di trotoar jalan.



Meldy kembali melangkah dengan tenang, ia mencoba menikmati suasana dan semilir angin sore yang terasa sejuk tapi juga hangat.



'*Aku harus kuat, jika dia sudah mengkhianati ku. Baiklah. Aku akan melepasnya*.!'



Kalimat yang di ucapakan Meldy dalam hati itu tak sepenuhnya dari hati, itu hanyalah kalimat untuk menguatkan diri yang tengah terpuruk. Dan itu terasa sesak dan perih.



Sebuah mobil berhenti di tepi jalan dekat Meldy yang tengah berjalan di trotoar.



Meldy membulatkan mata. Itu adalah mobil Zid.



Meldy lekas melangkah cepat, ia masih belum siap untuk berhadapan dengan Zid saat ini. Hatinya pasti akan kembali rapuh.



Meldy berjalan setengah berlari, air matanya lolos dan ia lekas mengusapnya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan orang yang sudah menghancurkan hati dan cintanya.



"Babe.?"



Zid yang mengejar berhasil meraih tangan Meldy.



Meldy menarik nafas dalam, tiba-tiba dadanya begitu berat membuat nafasnya terasa sesak. Wajahnya yang sembab dan matanya yang bengkak nan sendu jelas memperlihatkan jika Meldy telah menangis begitu lama.



"Babe, I'm Really sorry. I know, I'm.\_.? I'm wrong. I.'m F.u.c.k!Ng $h!t. But I'm Really Sorry. Aku menyesal. Please maafin aku. Aku tidak bisa kehilangan kamu. Aku mencintai kamu. Aku bersalah, tapi ku mohon maafkan aku.?"



Zid merengkuh tubuh Meldy, membawanya kedalam pelukannya. Zid sudah menangis. Ia sangat menyesali perbuatannya kemarin.



"I'm sorry, I'm Really sorry, *Cup, cup ummuah*.!"



Zid terus saja mengucapkan kata maafnya. Ia menghujani pucuk kepala Meldy dengan kecupan. Rasanya hati Meldy ingin melemah, ia memang sangat mencintai Zid.



Meldy menangis memejamkan mata saat Zid terus mengecupinya.



'*Aaaaahhh,, ssshhhh, emmpph*.!'



Meldy membuka matanya cepat, tatapannya nanar, suara-suara saru Zid dan Zizi malam itu kembali menggema menyiksa pendengarannya.



Meldy lekas mendorong tubuh Zid yang tengah memeluknya.



"Babe.?" Jelas Zid kaget. Tubuhnya yang di dorong oleh Meldy sampai mundur.




"Babe, please.? Jangan katakan itu. Kau menyakiti hatiku dengan mengatakannya.!"



"Hah.? Apa.? Apa kau bilang.? Aku menyakitimu.? Kau yang sudah menyakitiku, Zid.? Kau yang sudah menghancurkan ku. Kau telah mengkhianati cintaku.?"



Meldy berteriak sambil menangis. Zid hanya bisa menangis sambil menatap wanita yang dicintainya itu kini telah berteriak kecewa padanya. Bahkan Zid melihat kebencian dalam sorot mata Meldy pada dirinya. Itu sungguh sangat menyakiti hati Zid.



"Apa salahku padamu, Zid.? Hingga kau harus bermain curang di belakangku.? Jika kau memang tidak mencintaiku. Aku bisa pergi dari mu, Zid.? Meski aku sedih, paling tidak hatiku tidak hancur. Dan aku masih bisa menyelamatkan perasaan ku? Kenapa kau melukaiku begitu parah, Zid.? Tidak adakah cara lain yang lebih sederhana yang bisa kau lakukan untuk pergi dariku.?"



"Babe.? Please.? I'm sorry.!"



"**Hubungan Kita telah berakhir, Zid. Jangan pernah temui aku lagi**.!"



"Please.? Don't say that.?"



"Don't..\_ Touch me. Are you hear me.?"



Meldy berteriak begitu keras. Dan Zid hanya bisa diam ketika Meldy menepis kasar tangannya yang berusaha menyentuh Meldy.



Sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Kaca pintu mobil itu terbuka. Darren rupanya melihat Meldy dan Zid ketika ia keluar dari Cafe.



"Kau butuh tumpangan, Nona.? Akan aku antar kau pulang.?"



Darren berbicara dari dalam mobil. Dan Meldy melangkah membuka pintu mobil Darren meninggalkan Zid yang masih menangis disana. Zid ingin meraih tangan Meldy. Tapi ia tahu Meldy sudah menolaknya saat ini.



Darren lekas menginjak gas mobilnya. Melaju dengan kencang, Meldy mengusap wajahnya yang basah dengan tangannya. Darren mengulurkan tangan, memberikan sebuah sapu tangan pada Meldy. Tapi Meldy tidak menerimanya. Meldy justru meraih tisu yang ada di dashboard mobil. Darren tersenyum sinis melihatnya.



'*Cepatlah kembali menjadi Meldy yang sebelumnya. Aku lebih menyukai itu, dan aku merindukan itu*.'



Kecerewetan Meldy, kecentilannya, dan bahkan teriakannya yang manja saat marah. Itu semua terekam indah dalam benak Darren.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Aaaaahhhhhhhhhhhh...\_\_\_??"



Zid menendang ban mobilnya, mengusap kasar rambutnya. Sebagai luapan emosi dan kekesalannya. Penyesalan selalu datang di akhiri cerita.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Hari-hari berlalu.



Meldy sudah kembali masuk bekerja. Ia tak lagi menunjukkan sisi Meldy yang patah hati dan rapuh. Ia kini berdiri sebagai Meldy yang terlihat kuat dan mandiri.



Setiap kali Zid berusaha mendekatinya, Meldy selalu bisa menghindari lelaki yang masih sangat di cintai nya itu dengan cara yang elegan. Meski setelah itu, Meldy kembali menangis dalam diam dan kesendirian. Percayalah, menyembunyikan rasa itu sangat menyakitkan.



Zizi semakin menunduk malu ketika berpapasan dengan Meldy. Tak ada kata di antara mereka.



Ini adalah perang dingin antara 3 hati yang terbakar api pengkhianatan dan ternodanya kesetiaan.



...----------------...



"Semuanya sudah siap.?"



Arend tengah melakukan meeting serius dengan Meldy dan Zid.



"Sudah.!"



"Sudah.!"



Malam ini adalah ulangtahun Syeira. Dan Arend sudah menyiapkan kejutan yang istimewa atas bantuan Zid dan Meldy.



Arend merasa kagum dengan kedua bawahannya ini, dengan adanya permasalahan yang begitu pelik di antara mereka. Zid dan Meldy masih bisa saling bekerja sama secara profesional. Mereka tidak membawa urusan hati kedalam pekerjaan.



Arend sampai harus menahan tawa kala melihat Zid yang sering tertangkap curi pandang pada Meldy yang kini bersikap begitu dingin padanya. Meldy hanya bicara pada Zid seperlunya. Dan itu Masalah pekerjaan. Dan Arend semakin menahan tawa melihat reaksi Zid yang jelas kelimpungan karna Meldy yang terus mendiamkannya.



**Meldy dan Zid resmi putus**.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...