
Arend dan Syeira sudah sampai di apartment, senyum mereka terus merekah menghiasi raut muka yang tengah bahagia di mabuk cinta.
Sesekali pandangan mereka saling bertemu secara tidak sengaja, lalu secepat kilat memalingkan muka, rasa canggung hadir mendominasi, keduanya seperti remaja yang baru saja berpacaran. Sangat manis, tapi juga memalukan.
Arend membuka kan pintu, menatap Syeira sesaat, Syeira menganggukkan kepala nya canggung dan memberi senyuman lucu pada Arend.
Arend tersenyum tertahan sambil memalingkan muka saat Syeira melangkah masuk terlebih dulu. Ahh,,,,,, begitu senangnya hati hanya mendapat satu senyuman canggung dari orang yang di cintai.
Arend mencoba menghilangkan senyumannya yang ingin terus terukir menghiasi bibir, ia lantas menarik nafas dalam dan membuangnya, Arend melangkah masuk lalu menutup pintu secara perlahan.
Syeira meletakkan tas di sofa ruang tamu, ia meregangkan ototnya yang terasa kaku, Syeira mengangkat kedua tangannya ke atas, melemaskan tubuh nya yang terasa pegal.
Arend terpana melihatnya, ia lantas mendekat. Menyentuh bahu Syeira, Syeira kaget, menurunkan tangan menoleh ke belakang. Arend sudah memijit bahunya sekarang. Syeira kembali menghadap depan dengan senyumnya yang mengembang, ia bahkan menutup mata rapat menahan hati yang ingin berteriak saking bahagianya.
Arend memijit bahu Syeira dengan pelan dan lembut, senyumnya sendiri terus mengembang, begitu manisnya cinta. Melebihi rasa gulali maupun Ice Cream rasa Vanilla.
Syeira kembali menoleh, Arend menghentikan gerakannya memijit bahu Syeira, Syeira berjinjit dan dengan gerakan cepat mengecup pipi Arend.
'*Cuupp*.'
Satu kecupan kilat mendarat di pipi Arend. Arend membulatkan mata, *Oohh, rasanya ingin jatuh ke lantai*, Jantungnya berdebar kencang memompa lebih cepat.
Syeira yang malu lekas melangkah hendak pergi ke kamarnya, namun Arend dengan gerakan cepat sudah meraih tangannya. Syeira sampai berbalik dan tubuhnya menabrak tubuh Arend, karna tarikan Arend sangat kuat.
"Kau mau kemana.? Kau sudah membangunkannya, Bukan kah kau harus bertanggung jawab.?"
Kalimat yang Arend ucapakan terdengar sangat saru di telinga Syeira. Syeira sampai harus menunduk karna merasa malu. Dadanya berdegup Dag Dig Dug tak menentu.
Arend mengangkat wajah Syeira dengan tangannya, hingga Syeira mendongak menatap Arend yang menatapnya dengan perasaan penuh cinta sungguh mendamba.
Mata Arend sangat sayu, dan Syeira memahami tatapan itu.
Arend pun mendekatkan wajahnya, Syeira berjinjit menyambut Arend. Tangan kanan Arend merengkuh pinggang Syeira, tangan kirinya menyentuh wajah Syeira. Sedangkan kedua tangan Syeira memeluk pinggang Arend.
Arend menautkan bibirnya pada bibir Syeira dengan gerakan sangat pelan, awalnya bibir mereka hanya menempel dan bertemu satu sama lain.
Lalu Arend dengan sangat pelan memberanikan diri membuka bibir Syeira dengan gerakan bibir nya hingga kini bibir-bibir itu saling tumpang tindih.
Arend membuat gerakan sempurna, sangat pelan dan lembut, terasa basah, Syeira sangat kaku, ini adalah c!um4n pertamanya.
Arend terus mengeksplor bibir Syeira, menautkannya sempurna, mengecup, mengecap, menyesap, sangat lembut dan nikmat.
Syeira menutup mata merasakan sensasi aliran listrik yang bergelanyar di seluruh tubuhnya. *Inikah yang dinamakan surga dunia.? Kenapa sangat nikmat*.?
Mereka berdua terus melakukan tautan bibir itu cukup lama. Sangat romantis, manis.
"Aaaaahhh.!"
Teriakan Ayla yang berdiri di sana membuyarkan adegan romantis anak dan menantunya.
Jelas saja Arend dan Syeira kelabakan mendapati seseorang di rumahnya, yang di kiranya kosong tanpa penjaga.
Ayla spontan menghadap berbalik memunggungi mereka. Kedua tangannya menutup sempurna matanya. Meski itu adalah hal wajar yang di lakukan sepasang suami istri, tapi jika di lihat secara langsung tetap saja itu terasa hororrr.
Syeira dan Arend salah tingkah. Mereka kini bingung mau apa.
"Apa kalian sudah selesai.?"
Pertanyaan Ayla justru membuat Syeira dan Arend membulatkan mata bersama. *Apa itu maksudnya*.? Mereka bahkan baru saja mulai.
Arend bertanya dengan gugup, Syeira hanya menunduk. Menyentuh bibirnya yang terasa.? Entahlah, rasa itu masih tertinggal meski Arend sudah melepasnya.
Syeira bahkan sampai menggosoknya lembut dengan jari berusaha menghilangkan rasa itu. Namun tetap saja. Tautan bibir Arend terasa sangat kuat melekat pada bibirnya.
Ayla menoleh pelan-pelan, tangannya yang masih menempel di wajahnya ia buka sedikit, mengintip situasi dan kondisi. Memastikan keamanannya.
Ayla bernafas lega, anak dan menantunya bahkan saling jaga jarak. Ayla menyentuh dadanya dimana jantungnya serasa mau lompat keluar karna kaget.
Ayla melangkah, duduk di sofa, ia harus menenangkan diri sejenak. Arend dan Syeira mengikuti.
"Kenapa kesini tiba-tiba.? Ini sudah malam. Mamah kesini seorang diri, tanpa Papah.? Dan tidak ada pengawal di luar.?"
Arend mencerca Ayla dengan berbagai pertanyaan. Dia tahu jika Aryan Papahnya tidak mungkin membiarkan Ayla sang istri tercinta keluar dari rumah tanpa pengawalan yang ketat.
"Mamah tadi kesini di antar sama mereka, tapi mamah suruh mereka pergi lagi.!"
"Mamah kenapa kesini.? Ada apa.?" Arend bertanya dengan nada pelan dan halus.
"Memangnya kenapa.? Tidak boleh.?"
Pintu di buka tiba-tiba, Zico pulang.
"Mamah.?"
Zico berseru antusias, ia lekas menutup pintu lalu berhambur memeluk Ayla.
"Mamah kesini.? Malam-malam begini.?"
Zico bertanya setelah melepas pelukannya pada Ayla.
"Mamah kesini sejak tadi siang, tapi kalian.? Tidak ada yang pulang, Mamah bahkan sudah siapkan makanan untuk kita makan malam."
"Papah.?" Arend bertanya.
"Papah ada perjalanan bisnis dengan Uncle Aaron ke Brazil. Kata Papah agak lama. Mamah merasa bosan dan jenuh di rumah sendirian. Jadi mamah memutuskan untuk ikut tinggal disini, sampai Papah pulang.!"
Jawab Ayla dengan suara yang renyah dan ceria.
Arend membulatkan mata kurang setuju, Syeira hanya menunduk dan diam, dia masih merasa sangat malu dengan kejadian tadi. Sedangkan Zico. Ia merasa begitu senang mendengar Ayla yang akan ikut tinggal bersama.
Zico sangat merindukan hari-harinya untuk bisa bermanja-manja dengan Ayla. Ia hanya tidak betah di rumah karna ketidak cocokannya dengan Aryan yang selalu memancing keributan hanya dengan hal-hal kecil.
"Tapi Mah.? Kamar disini hanya ada dua.?"
Arend berusaha menolak, bagaimana jika mamahnya sampai menginap dan tinggal disini, dirinya dan Syeira saja tidak tidur pada satu kamar yang sama.
"Kau ini kenapa Arend.? Kamarnya sudah pas, Kau tidur sekamar dengan istrimu, dan mamah akan tidur sekamar denganku, Oouuh,,, Mamah.!"
Zico merengek seperti anak TK lalu memeluk Ayla kembali. Pertemuannya kemarin dengan Ayla tidak mengizinkan Zico untuk bermanja, karena ada nya Cellin waktu itu membuat Zico harus menjaga wibawanya.
"Aaaaahhh,,, anak mamah.! Pintar sekali." Ayla pun memeluk Zico penuh kasih.
Arend menatap Syeira yang hanya diam menunduk.
'*Bagaimana ini.? Kami akan tidur sekamar.? Oh Tuhan..? Bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikan jagoanku di bawah sana*.?'
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...