
'\**Niitt*.\_\_!'
Pintu terbuka\*.
Syeira dan Meldy mendongakkan kepala bersama, saling menatap, mereka kaget, tapi juga lega.
"Masuklah, kami akan menunggumu.!"
Syeira berbicara sangat pelan pada Meldy yang sudah sangat jelas tersirat di raut mukanya, ia kini dilanda gugup yang Ter amat sangat.
Arend hanya diam, sorot matanya berbeda, dan sulit untuk di artikan.
Meldy mengangguk pada Syeira. Ia pun memasuki ruang utama Apartment Zizi dengan gerak langkah pelan. Misi nya adalah menaruh mini Cam di salah satu tempat Ter akurat. Dimana menurut Arend itu harus berada di dalam kamar menghadap ranjang.
Ruang tamu apartemen Zizi nampak kosong dan sepi. Namun ada yang membuat Meldy merasa aneh, jika apartemen ini di tinggalkan oleh penghuninya. Kenapa lampu nya dalam mode on.?
Meldy terus bergerak, bahkan lampu dapur juga terlihat menyala. Kini Meldy berdiri di depan pintu kamar. Hanya ada satu kamar ini saja di apartemen ini.
Meldy begitu deg-degan. Ia merasa ragu, haruskah ia melakukannya.? Bagaimana nanti jika hasil rekaman video nya membuatnya patah hati dan kehilangan Zid.?
Meldy sangat ragu untuk bergerak.
'*Haruskah aku melakukannya*.?'
"Aaaahhh,,, ssshhh.!"
Samar-samar Meldy mendengar suara d3$4h4n dari dalam kamar.
Meldy membulatkan mata. Ia lantas menempelkan telinganya di pintu kamar bernuansa putih itu.
"Aaahhh,,, aaahhhhh.?"
Kembali suara-suara 3r0t!$ itu Meldy dengarkan, semakin Meldy berkonsentrasi semakin jelas suara-suara itu.
Hati Meldy berdenyut, ia seperti mengenal suara saru itu. Itu suara untuk Meldy selama ini.
Hati Meldy serasa terbakar, panas membara yang teramat menyiksa. Seperti bara api ber ton-ton di guyur kedalam dasar hatinya.
'*Tidak, dia tidak mungkin melakukan itu*.?'
Tangan Meldy memegang handle pintu kamar. Matanya sudah berkaca-kaca, dan hatinya sudah terasa sangat sakit. Sesak begitu hebat di dadanya.
"Aaahhh\_\_\_ aaahhh\_\_\_.!" *Suara d3$4ha.n*. kembali menggema.
Meldy menguatkan hati nya, ia pun menggerakkan tangannya, membuka handle pintu. Tidak terkunci. Dan pintu terbuka.
Meldy membulatkan mata tanpa kata. Diam terpaku, seakan tubuhnya kehilangan daya.
'*Deg*.!'
Jantung Meldy serasa berhenti berdetak, nafasnya sesak tiba-tiba. Tak ada oksigen yang cukup untuk masuk ke paru-parunya.
Rongga-rongga hati Meldy serasa tersayat, sakit dan menyiksa.
Itu seperti anjing-anjing yang mencabik-cabik hatinya. Sangat sakit.
"Aaahh.??" Zizi berteriak kencang melihat Meldy yang berdiri disana menatapnya yang kini tengah berada di atas Zid yang duduk di atas ranjang bersandarkan pada kepala ranjang.
Zid dan Zizi seperti dua bayi yang baru lahir. Tanpa sehelai benangpun di tubuhnya.
Sontak Zid mendorong tubuh Zizi yang berada di atas nya untuk segera turun.
Zizi menarik selimut menutup tubuh polosnya, ia menunduk malu, dan menangis. Tak pernah terpikirkan hubungannya dengan Zid akan di ketahui Meldy secepat ini. Dan dengan cara seperti ini.
"Meldy.? Babe.?"
Air mata Meldy lolos begitu saja. Dadanya sangat sesak, ia lupa caranya bernafas dengan benar. Rasanya Meldy ingin tumbang saat ini juga. Tubuhnya terhuyung, lemah seketika. Meldy mundur dengan tubuh yang tak kuasa berdiri.
Sangat menyakitkan, menyaksikan orang yang sangat kita cintai, berhubungan dengan orang lain. Tepat di hadapan kita, dengan kedua mata kita. Rasanya seperti kita telah di kulit hidup-hidup, seperti kita di ikat pada seekor kuda yang berlari kencang dan kuda itu menyeret tubuh kita hingga penuh luka dan berdarah. Sakit di atas sakit.
Meldy lekas berbalik dan pergi dari neraka itu. Ia tak sanggup untuk tetap berada disana. Meldy ingin mati saja rasanya. Apa yang dilihatnya telah menggores luka begitu dalam. Menyayat perasaannya yang begitu tulus mencintai seorang Zid. Seorang Zid yang di perjuangkannya mati-matian selama 2 bulan.
Meldy berlari keluar diiringi deraian air mata yang sudah membanjir, tangisnya tak terdengar, tenggorokannya tercekat, pita suaranya serasa putus. Begitu sesak. Ia melewati Syeira dan Arend yang menungguinya di depan pintu.
"Meldy.? Mel.?"
Syeira berteriak memanggil Meldy yang sudah berlari. Arend yang tadinya bersandar pada dinding bersedekap lekas berdiri dengan benar kala melihat Meldy yang keluar. Arend sudah memprediksi hal ini pasti akan terjadi.
Syeira langsung mengejar Meldy yang sudah nangis dan berlari.
Zid meraih handuk di tepi ranjang, ia melilitkan benda itu sekenanya di pinggangnya, lalu Zid lekas berlari berusaha mengejar Meldy.
Zid berhenti ketika mendapati Arend yang masih berdiri di depan pintunya.
Zid tak pernah terpikirkan jika Arend bahkan akan turun tangan kedalam masalahnya ini.
Raut muka Zid sangat panik, ia tak mau jika sampai kehilangan Meldy, sedangkan Arend menatap Zid penuh emosi. Ingin rasanya dia melayangkan hantaman ke wajah Zid. Tapi Arend menahannya, Zid juga sahabatnya.
Zid hendak melangkah mengejar Meldy. Tapi tangan Arend mencegahnya, hanya dengan membuka telapak tangannya yang kanan Arend gunakan menahan dada Zid dengan kuat. Menghentikan langkah Zid.
Sorot mata Arend sangat tajam, rahangnya mengeras, gigi-gigi nya beradu, ia tengah berada dalam puncak amarahnya yang dengan sekuat tenaga ia tahan.
Zid memahami gerakan itu, jangan sampai ia terus bergerak, atau Arend akan kehilangan kendali.
Zid berhenti, menoleh gugup pada Arend yang sudah terlihat jelas emosi.
"Zid.?"
Zizi datang dengan selimut tebal yang menutup tubuhnya dari dada hingga selimut itu menjuntai di lantai.
Arend melihatnya tajam. Seakan ingin membunuh mereka berdua. Arend sangat muak dengan pengkhianatan.
"Setidak nya kau pakai baju mu, Zid.? Dan akan lebih baik jika kau membersihkan dulu badanmu, kau terlihat sangat kotor.!"
Kalimat Arend sangat tegas dan penuh makna. Setelah mengatakannya, Arend lekas melangkah pergi. Meninggalkan sepasang pengkhianat itu.
"Aaahhh.?? $h!.t.t. $h!.t.t. D4mn it. Aaahhh.?? Brengsek.!"
Zid meluapkan emosinya dengan umpatan-umpatan mutiaranya. Ia sangat kesal entah pada siapa. Dirinya sendiri lah yang bermain api. Dan resikonya sudah pasti terbakar, tapi kenapa harus Meldy yang merasakan maha dahsyat panasnya kobaran itu? Kobaran api pengkhianatan.
Zid kembali masuk ke dalam kamar, ia memakai semua pakaiannya dengan cepat, dan dia harus segera mengejar Meldy sekarang. Zid tak kan mampu jika ia sampai kehilangan Meldy.
Zizi masih menangis, ia berdiri sambil menunduk. Zid menghentikan langkahnya. Ada wanita yang juga tersakiti jika ia meninggalkannya kini.
"Aku harus pergi, Zi. Tolong mengertilah.!"
Zid memeluk tubuh Zizi. Lalu mengecup kening nya kilat, dan Zid lekas berlari keluar, meraih jas, kontak mobil dan hape nya. Zid meninggalkan Zizi yang menangis merana seorang diri dalam kepiluan.
Tak tahu bagaimana esok Zizi akan menjalani harinya. Ia tak memiliki muka di depan Tuan Narendra yang sudah menolongnya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...