LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 110





"Aku mau kembali ke Brazil. Ku rasa kondisi disini saat ini sudah kondusif. Arend juga sudah kembali sehat, meski separuh ingatannya hilang. Lagian dia masih tetap sama, tak menginginkanku.!"



Mikaila bicara dengan ekspresi cemberut pada Aryan dan Ayla. Ada Cen dan Rain juga. Mereka semua tengah sarapan di Mansion Aryan. Nanti siang baru akan ke Rumah Sakit karna Arend sudah di perbolehkan pulang setelah hampir 10 hari di rawat.



"Tolong mengertilah, sayang.? Papah Aryan masih sangat sibuk sekarang, Zico masih belum bisa kembali masuk bekerja. Dia harus selalu menemani Arend.!"



Aryan berusaha memberikan pengertian. Ia kini sangat memanjakan Mikaila.



Mikaila menaruh sendok dan garpunya. Ia semakin manja. Dan hendak membantah sebelum akhirnya Rain yang angkat bicara.



"Kau tinggal bersama ku jika kau ingin kembali ke Brazil.!" Ucap Rain santai lalu memasukkan satu sendok makanan ke mulutnya.



Mikaila hampir memaki, ia bahkan sudah membuka mulutnya, tapi percuma. Dia tidak akan menang berdebat lawan Rain. Pria yang di anggapnya tua itu selalu saja punya cara untuk membungkam mulut Mikaila.



Dan bahkan kini Bodyguard yang menjaga Mikaila bukan lagi orang-orang Aryan. Melainkan anak buah Cosa. '*Sangat* *menyebalkan*.'



Ayla tersenyum mengelus punggung tangan Mikaila.



Mikaila menatap tajam pada Rain yang sama sekali tak meliriknya. Rain fokus pada makanannya. Atau sebenarnya ia telah menyadari Mikaila yang terus menatapnya. Tapi Rain seakan tak peduli.



'*Akan aku balas semua perbuatan mu yang suka se enaknya saja padaku, Aki-aki Tua*.?'



Mikaila menancapkan kasar garpunya pada makanan di atas piringnya. Dan Rain tersenyum sinis tanpa melirik Mikaila. Si gadis Childiesh yang suka pingsan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Semua sudah siap. Arend akan segera keluar dari Rumah Sakit. Zico kini di sibukkan dengan mengurus Arend.



Arend tak ingin ada orang lain yang membantunya, apalagi menyentuh tubuhnya. Arend bersikap sangat dingin pada semua orang, terutama Syeira.



"Zico.? Dimana sepatuku"



Arend berteriak. Zico tengah berada di kamar mandi dalam ruang rawat Arend.



"Bentar.? Gua lagi panggilan alam.?" Teriak Zico menjawab pertanyaan Arend.



Syeira datang dengan membawa sepatu Arend. Dan dia sudah berjongkok di depan Arend yang duduk di tepian ranjang. Syeira hendak memakaikannya sepatu.



"Don't Touch me.!" Ucap Arend tegas.



Syeira menarik nafas dalam lalu menghembuskannya kasar. Ia lantas kembali berdiri. Dan membiarkan sepatu itu.



Zico keluar dari kamar mandi lalu melangkah ke arah Arend dan Syeira berada.



"Lah itu sepatu.? Apa kamu juga lupa kalau itu namanya sepatu.? Ini namanya sepatu Arend.? Se\_ Pa\_ tu.!" Zico mengangkat sepatu Arend yang dibawakan Syeira. Lalu Zico mengejanya. Membuat Syeira menutup mulutnya sendiri karna menahan tawa.



Arend membulatkan mata karna Syeira menertawakannya. Dengan tarikan kasar Arend mengambil sepatunya yang di tenteng Zico.



Syeira kembali diam dan tenang. Jangan sampai dia membuat si Tuan Kulkas kembali marah.



Ayla, Aryan, Mikaila, Rain dan Cen datang. Masuk kedalam kamar Arend.



Rain dan Cen sudah membicarakannya. Rain akan berada di tanah air sampai ingatan Arend kembali, Rain tidak terima dengan sikap Arend yang kembali dingin padanya. Dan bahkan seolah masih menyimpan rasa benci. Dan Cen setuju.



Mereka juga membicarakan tentang perasaan Syeira yang pasti sedih karna Arend tak mengingatnya. Padahal saat di Brazil dulu Rain dan Cen melihat sendiri betapa Arend mencintai gadis itu.



"Apa semuanya sudah siap.?" Ayla bertanya.



"Sudah, Mah.!" Zico yang menjawab. Tingkah Zico kembali seperti anak kecil ketika ada Ayla di sampingnya. Sedikit-sedikit Zico memeluk tubuh Ayla.



Semua orang sudah terlihat lebih ceria dan normal. Hanya Syeira yang lebih sering diam dan tak begitu berani bertingkah.




"Arend ingin hidup mandiri, Mah. Kita sudah pernah membicarakannya.!" Arend langsung menjawab.



"Mamah gak perlu khawatir, kan ada Kakak ipar yang akan selalu menjaga suami tercintanya.!?"



Zico kembali menggoda Arend. Syeira hanya diam. Ia tak bisa menunjukkan sikap bar-bar nya sepeti dulu pada Zico. Hatinya kalut karna Arend tidak menganggapnya. Jika tidak. Pasti saat ini Syeira sudah menghabisi Zico karna menjadikan dirinya sebagai bahan candaan.



"Diam kau.? Apa kau bosan hidup.?" Arend sangat nyolot.



Awalnya Arend jelas menolak saat mengetahui Syeira yang juga akan tinggal bersama mereka. Tapi semua bukti telah Zico tunjukkan padanya. Foto dan video Pernikahan mereka. Dan juga disaat ulang tahun Syeira. Serta buku nikah. Sehingga Arend tak lagi bisa mengelak. Mau tidak mau dia harus menerima syeira sebagai istrinya. Hanya saja Arend masih menjaga jarak karna ia merasa semuanya tidak wajar. Tidak ada yang masuk di akalnya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Mereka semua telah sampai di Apartemen Arend.



Saat pertama kali memasukinya. Arend seperti sedang masuk ke tempat baru yang belum pernah ia datangi. Ia merasa sangat asing. Tapi Arend menyukainya. Tempat itu sesuai dengan seleranya.



Yang lain duduk di ruang tamu.



Zico berjalan di depan dan Arend mengikutinya. Syeira pun mengekor di belakang Arend.



Zico berhenti di depan pintu kamar Arend.



"Ini kamar kamu.! Dan yang itu kamarku, Ku rasa kau pun melupakannya.!"



Zico membukakan pintu kamar Arend. Dan Arend tak menanggapi Zico yang kembali berseloroh tentang hilangnya ingatannya itu.



Arend masuk melihat kanan-kiri dan sekeliling seluruh ruang kamar. Syeira ikut berjalan masuk. Tak ada yang aneh bagi Syeira. Ini memang kamarnya.



"What are you doing here.?"



Arend berteriak pada Syeira yang mengikutinya masuk kedalam kamar.



Zico menghembuskan nafas kasar. Sudah menebak jika ini pasti akan terjadi. Zico dengan santai berdiri menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Arend. Ia akan menunggu sampai tenaga dan jasa nya di butuhkan.



"Apa.? Ini kan juga kamar ku.!" Seloroh Syeira terus melangkah masuk menghindari tatapan Arend yang seakan mengintimidasi.



"Wait..? Apa kita akan tinggal dalam satu kamar.?"



Arend bertanya pada Syeira.



"Dimana-mana, yang namanya pasangan suami istri itu pasti tinggalnya satu kamar. Masa iya kamu nya disini dan aku nya di luar.?"



Syeira meletakkan tasnya di atas ranjang sembarangan. Itu adalah salah satu hal yang tidak Arend sukai. Tidak rapi. Tapi Arend yang kemarin yang begitu mencintai Syeira tak pernah menyalahkannya. Apapun yang dilakukan Syeira selalu benar di mata Arend kemarin. Tapi ini adalah Arend yang dulu. Arend yang OCD.



Arend sudah membuka mulut menganga hendak bersuara, tapi Syeira sudah lekas pergi masuk kedalam kamar mandi.



Syeira menangis. Rasanya sangat sakit, di lupakan oleh orang yang sangat kita cintai. Dan orang yang kemarin begitu menganggap kita spesial. Sekarang tak lagi menganggap kita ada. Syeira menyalakan keran air agar dapat meredam suara tangisnya.



Zico bergerak. Berdiri dengan benar.



"Gua pergi dulu. Lo buruan inget lagi deh, Rend. Jangan kelamaan pikunnya.!"



Zico berbicara dengan santai. Dan Arend sudah menggebrak meja rias karna kesal. Zico pun lekas berhambur pergi. Menuju ruang tamu, ikut serta berkumpul dengan keluarga besar.



Arend jelas sangat kesal. Semakin ia berusaha mengingat dan mengigat. Kepalanya justru semakin terasa pening dan sakit.



Syeira sudah keluar dari kamar mandi. Meski Syeira sehabis mencuci muka. Jelas terlihat jika dia usai menangis. Mata merah dan hidungnya merah. Wajahnya juga sembab. Arend sekilas melihatnya lalu kembali bersikap dingin tak peduli. Kini Arend yang masuk kedalam kamar mandi.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...