
Arend sampai di rumah saat pukul 10 malam. Ini adalah pertama kalinya Arend pulang terlambat.
Syeira yang takut bertemu dengannya sudah mengurung diri di kamar, mengunci pintu kamarnya dari dalam. Sebenarnya Syeira sangat penasaran, apakah Suaminya itu sudah pulang.? Namun ketakutannya membuat dia memilih berdiam diri saja. Ia bahkan belum makan malam.
Arend kembali menutup pintu setelah masuk. Ia langsung menuju kamar Syeira, memastikan apakah istrinya itu sudah di rumah.
Arend mengetuk pintu, Syeira mendengarnya, tapi ia memilih diam saja. Arend mencoba membuka pintu kamar Syeira, terkunci dari dalam. Itu artinya Syeira sudah ada di dalam sana.
Arend masuk ke kamar, tidak ada saudaranya Zico di sana. Arend lantas bergegas mandi. Membersihkan diri dan berniat membuat sedikit makanan untuk nya makan malam setelah ini.
Syeira gelisah, perutnya terasa sangat lapar, haruskah keluar.? Bagaimana kalau bertemu dengannya nanti.? Tapi Syeira memilih keluar juga, mungkin dia langsung tidur , pikir Syeira.
Syeira pun keluar dari kamar dengan langkah yang sangat pelan, ia langsung menuju dapur, membuka kulkas, hanya ada buah. Dan bahan mentah, tidak ada makanan yang bisa ia makan.
Syeira mengambil 4 butir telur, ia berencana memasak 2 telur itu. Syeira bingung harus di apakan. Di goreng.? Atau di rebus.? Syeira takut dengan minyak panas, ia pun memilih untuk merebusnya. Syeira menyalakan kompor, mengambil air dalam panci dan menaruhnya di atas kompor, lantas memasukkan ke 4 butir telur itu di dalamnya.
"Aaahh.. Tunggu beberapa saat."
Tanpa Syeira sadari jika Arend sudah berdiri memperhatikan semua tingkahnya sejak tadi.
Betapa kagetnya Syeira saat dia membalikkan badan dan melihat Arend yang berdiri di belakangnya.
"Oh Tuhan...? Hah.? Hah.? Kau mengagetkanku, Tuan.!"
Arend melangkah, tidak mempedulikan Syeira yang hampir terkena serangan jantung karenanya.
Arend mengeluarkan bahan masakan, bahan utamanya adalah Mie. Dia akan membuat mie dengan bumbu racikannya sendiri.
Syeira hanya diam memperhatikan gerak Arend yang cekatan. Arend sengaja mendiamkan Syeira karna masih merasa kesal dengan kejadian tadi siang.
'Kenapa dia diam saja.? Kenapa tidak marah.? Apa dia tidak mengetahui berita yang viral di sosial media.? Dia sangat dingin.'
Syeira mendekati kompor, ia berlagak melihat telur yang direbusnya, sebenarnya ingin agar bisa lebih dekat dengan Arend.
Syeira ingin membuka penutup panci, tapi dia takut dengan uap panasnya.
Arend melihat Syeira yang sama sekali tidak berpengalaman. Ia pun mendekat, berdiri di belakang Syeira, tubuhnya menempel sempurna dengan tubuh Syeira dari belakang, leher Arend sangat dekat dengan wajah Syeira yang menoleh ke samping karna pergerakan Arend yang secara tiba-tiba dengan posisi yang ambigu baginya.
Arend mematikan kompor, ia lalu membuka penutup panci. Setelah itu Arend mengambil alat untuk mengambil telur-telur yang di rebus Syeira, dan kembali berdiri dengan posisi seperti tadi saat mengambilnya. Berdiri di belakang Syeira, menempelkan tubuhnya sempurna pada tubuh bagian belakang Syeira.
Syeira hanya bisa diam dengan jantung yang berdetak tak karuan. Membiarkan Arend yang menempelkan tubuhnya dari belakang. Ini terasa seperti.? Sebuah setruman kebahagiaan. Tubuh Syeira benar-benar bergetar di buatnya.
Arend lantas membawa telur Syeira yang sudah matang menaruhnya di atas piring dan di taruh di atas meja makan. Dan dia kembali memasak Mie nya yang sudah selesai di bumbui.
Syeira minggir, karna kompor kini di pakai Arend.
'Apa dia ini batu.? Kenapa hanya diam saja.?'
Syeira merasa jengah dengan diamnya Arend yang bergerak tanpa kata.
"Kenapa anda mendiamkan saya.?"
Akhirnya Syeira memberanikan diri untuk berbicara.
"Apa ada yang ingin kamu katakan.?"
'Oh Tuhan.? Apakah harus memiliki satu baris laporan baru bisa berbicara dengannya.? Uuffhh.!'
"Tidak.!"
Jawab Syeira yang sudah kesal, Syeira lantas pergi dari dapur dan duduk di meja makan. Ia akan mengupas telur rebus nya lalu memakannya.
"Tunggu, sebentar lagi Mie nya matang."
Syeira menoleh ke arah Arend yang sudah mematikan kompor, mengangkat mie buatannya kedalam wadah.
"Apa kau bisa menatap mata orang yang sedang kau ajak bicara.?"
Dengan kata lain Syeira protes dengan sikap Arend yang dingin dan terlewat Cuek padanya.
Arend mendekat membawa Mie, menaruhnya di atas meja. Dia masih diam dan tak menatap Syeira. Namun sikapnya sungguh membuat hati Syeira merasa hangat karna kelembutannya.
Arend mengambil 2 piring, ia menaruh salah satunya di atas meja depan Syeira. Lalu Arend mengambilkan mie dan menaruh di atas piring Syeira, mengambil sendok dan garpu lalu di taruh di atas piring Syeira, setelah ia selesai melayani istrinya, Arend mengambil semua untuk dirinya sendiri, dan dia duduk dengan tenang, mulai makan masih dengan mengabaikan Syeira.
Sikap Arend yang perhatian membuat Syeira Ge-Er, tentu saja. Namun diam nya Arend tanpa kata membuat Syeira berpikir pada hal lainnya.
Syeira kesal dengan sikap Arend yang teramat baik namun terkesan dingin. Syeira bangkit dari duduknya hendak melangkah, namun dengan gerakan cepat Arend sudah meraih tangannya.
Arend hanya diam, tatapan matanya masih lurus kedepan.
Hanya satu kata yang ia ucapkan. Dan Syeira kembali duduk. Mulai makan dengan perasaan tidak senang. Mata Syeira terus fokus pada Arend yang tengah makan, tanpa membalas tatapan Syeira sama sekali.
Zico pulang, ia sedikit mabuk, tapi masih bisa ia kendalikan. Dia sudah mencoba dan berusaha untuk keluar dari dunia malamnya, tapi itu seperti sebuah 94nj4 yang sudah menadi candu untuknya, sangat sangat sa,__ngat sulit, apa lagi Cellin yang diperjuangkannya masih juga menutup pintu jalannya rapat. Membuat Zico merasa lelah.
Tapi Zico sudah berhenti bermain perempuan hampir satu Minggu lamanya, itu adalah pencapaian luar biasa. Dan bisa di bayangkan, seorang Cassanova telah berpuasa dari kesenangannya selama satu Minggu. Itu seperti gejolak yang di paksa untuk di redam.
"Kalian sedang makan.? Tanpa aku.? Kenapa orang-orang suka sekali melupakanku.?"
Zico yang berbicara dengan nada fals duduk di sebelah Arend berhadapan dengan Syeira.
Arend menaruh sendok dan garpunya. Nafsu makannya sudah hilang tiba-tiba.
"Kenapa berhenti makan.? Apa aku mengganggumu.?"
Zico menyentuh wajah Arend dengan jari telunjuknya. Arend hanya diam saja.
Arend lantas berdiri membawa Zico untuk masuk ke dalam kamar.
"Ooohh,, Cinta..__? Aku tak mau jatuh cinta._? Kau membuatku gila.._?"
Zico bersenandung saat Arend membawanya pergi.
Malam terlewati dengan sangat membosankan.
...****************...
Pagi.
Arend telah menyetujui jika model iklan Smart Phone nya keluaran terbaru akan di bintangi oleh DK.
Siang ini DK akan datang ke perusahaan untuk tanda tangan kontrak, kerja para staf sangat cepat.
Syeira tidak keluar dari rumah, dia meminta izin sama Bu Mela dengan alasan sakit, padahal dia sedang sangat malas untuk keluar.
Syeira menghabiskan waktu dengan menonton film kartun kesukaannya di sofa ruang tamu, Zico baru bangun. Ia keluar kamar dan duduk di sebelah Syeira.
"Kau tidak kerja.?"
Syeira menggeleng menjawab pertanyaan Zico.
"Kau sendiri.?"
"Hah... Aku malas.!"
Jawab Zico sambil menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Syeira tersenyum melihatnya. Ternyata Zico juga sama dengan dirinya.
"Apa Arend memarahimu.?"
"Kenapa dia harus marah padaku.?"
"Kenapa tidak marah.? Kemarin saja ponselku sampai menjadi korban kemarahannya,. Dia langsung membanting ponselku setelah melihat Video mu dengan pria penyanyi itu.!"
"Apa.? Jadi dia tahu tentang Video itu.?"
Syeira sangat kaget mendengar pernyataan Zico. Sedangkan Zico mengernyitkan kening kurang memahami sikap Syeira.
'Itu artinya, dia begitu diam semalam karna dia sedang marah, dan dia menahan amarahnya.!'
Syeira pun segera bangkit, ia akan membersihkan tubuh dan segera menemui Arend di kantornya, entah kenapa dia merasa bersalah, seharusnya Syeira meminta maaf. Dan Syeira begitu ingin menemui suaminya saat ini juga.
"Hei,...? Kau kenapa.?" Zico bertanya pada Syeira.
"Aku akan ke perusahaan N~A Cell." Jawab Syeira mendongakkan kepalanya keluar kembali dari pintu kamarnya.
Zico sesaat berpikir, jika Syeira ke kantor Arend, itu artinya dia memiliki peluang untuk mendekati Cellin. Syeira pasti akan membantunya.
Zico pun bergegas. Ia mengetuk pintu Syeira. lalu berteriak.
"Aku juga mau kerja,! Kita berangkat bersama.! Tunggu aku.! Aku akan siap-siap.!"
Zico berteriak sekerasnya. Dan Syeira hanya menjawab Iya dari dalam kamar.
...****************...
Menurut author. Ini bab yang sangat membosankan. πΏπ
Tapi kalo gak di tulis. Gimana mau ngelanjutin cerita ke bab selanjutnya?. π₯²