
"Yh Udah Sha ayuk cepetan ke kelas" Kata Aina semabari mempercepat langkahnya
"Iyaa... Aina buru-buru amat."jawab Natasha ketus.
Tampak semua orang menyadari perubahan dari gadis cupu di sekolah mereka itu. Tak terkecuali Lisha and The Geng. Matanya menatap ke sekeliling. Dimana orang yang kemaren selalu menyapanya, kini terlalu fokus untuk melihat gadis yang berjalan di depannya.
"Eh lish.. lihat tuh di koridor. Itu gue yang salah lihat atau gimana sih??Itu cupu bukan sih!!.??" Ucap Nada menunjuk seorang wanita cantik di depan mereka.
"Emmmm.... itu si cupu Na. Lo lihat mukanya sama aja walaupun sekarang jauh lebih bersih gak kudel lagi." Jawab Miska.
"Sama si Natasha lagi. Kan loh tau sendiri si Natasha hanya dekat sama satu orang."sambung miska.
Nada hanya mengangguk mendengar perkataan sahabatnya itu.
Ckrek.!! Ckrek..!!
"Lisha ngapain lo motret mereka?Lo mau nyimpen sejarah si cupu berubah hahahaha."kata Nada dengan sedikit meledek.
Sontak saja kata-kata seorang Nada yang ceplas ceplos itu membuatnya emosi. Ia langsung menjitak kepala sahabatnya itu
"Ah..." rintih Nada.
"Ahaha rasain loh." Ucap Miska tertawa.
Lisha tak memperdulikan rintihan sahabatnya itu dia hanya fokus ke handphonenya. Tampak ia sedang mengirimkan hasil potretnya tadi kepada seseorang.
"Loh itu gak sok tau.!!"ucap Lisha sambil menatap sinis sahabatnya.
"Gue sengaja foto mereka buat gue kirimin ke om gue, bokapnya Natasha. Gue akan laporin Natasha kalo dia beliin baju buat temennya."sambung Lisha.
Dua sahabatnya yang mendengar ucapan Lisha tersebut hanya terdiam. Kadang kala mereka takut untuk bergerak. Salah sedikit pasti Lisha akan merubah targetnya. Ia merupakan gadis yang selalu mencari cara untuk menjatuhkan musuhnya walaupun musuh itu adalah keluarganya sendiri.
Di pojok ruangan kelas Xll IPA 3 tampak dua orang gadis sedang asyik mengobrol.
"Sha... loh udah kenal sama Devan berapa lama? tanya salah seorang gadis itu sedang yang di tanya hanya bisa tersenyum canggung.
"Emm... udah lama Na dari orok malah hehehe." Jawab Natasha.
"Orang tua kami terutama nyokap gue dan dia itu sahabatan." Sambungnya.
"Oo.. terus kenapa lo sama dia bisa pisah.Dan hehe gue kepo sama kalung lo Sha yang katanya dari pangeran loh."Ucap Aina.
"Keluarganya pindah ke Makassar. Emm. Ini kalung pemberian Devan." Jawab Natasha sembari memegang kalungnya.
Aina hanya menganggung tersenyum mendengar hal itu. Ia sangat senang dan tak menyangka hal ini bisa terjadi. Dia punya dua orang yang selalu ada untuknya dan ternyata kedua orang itu berteman sejak kecil.
Lain halnya dengan gadis bermata coklat di sampingnya. Gadis itu harus berpura-pura tegar dan menahan segala perasaan yang ia punya. Hati yang tersayat harus dia tampal dengan sangat baik agar tak ada yang melihat hal itu.
"Eh Natasha... loh itu udah sekaya apa sih sampai si cupu loh ubah habis-habisan." tanya Miska memotong pembicaraan mereka.
"Apa urusan lo ha?? Dasar sok tau." Jawab Natasha geram.
"Ei Cupu hebat loh ya pengaruhin sepupu gue beliin loh baju."tambah Lisha.
Aina hanya menarik tangan Natasha mencoba menenangkan sahabatnya itu agar tak terpancing emosi. Dia tak ingin pertengkaran terjadi apa lagi jika Natasha sampai masuk dalam masalahnya.
Trinngggkkkk.... (bel pulang berbunyi)
Di depan SMA Jaya Putra berdiri seorang gadis yang dulunya berpenampilan sangat kusut kini menjadi tak terduga. Banyak pasang mata menatapnya dengan penuh takjub. Kecantikannya terpancar sangat jelas. Gadis itu tampak sangat fokus ke benda segi empat kecil di tangannya.
Think*
:kamu di jemput sama sopirmu kan Na? Maaf aku gak bisa jemput kamu. Aku harus ke rumah sakit."
:iyah Devan, gpp."
Kata-kata Aina menutup obrolan mereka di handphone tersebut.
Hari ini sebenarnya Aina sengaja menyuruh sopirnya untuk tidak menjemputnya.
Dia memilih untuk naik bis seperti biasanya. Ia tak ingin teman sekolahnya sampai tau hal itu terlebih lagi Natasha.
"Eh Na... loh di undang mamah gue pulang sekolah. Yuk naik." kata Natasha dari balik kaca mobil.
"Ayokk cepetan... ntar mamah gue ngamuk." Sambungnya dengan sedikit teriakan.
Aina langsung menaiki mobil Lamborghini itu. Tidak mengherankan lagi baginya jika ada undangan mendadak seperti hari ini.
Di tengah perjalanan mereka hanya saling diam. Entah mengapa. Hanya alunan musik ringan mengiringi perjalanannya. Mobil Lamborghini itu terhentih di salah satu rumah komplek elit tersebut.
Kedua gadis itu langsung memasuki rumah mewah itu.
"Eh Aina udah dateng yuk nak duduk disini." Ucap pemilik rumah itu yang tak lain adalah Lusy Albert mama Natasha.
"Ih.. mama...kan aku anak mama kok Aina yang di sambut." Celoteh Natasha dengan manjanya.
Aina yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum. Suatu peristiwa yang ia rekam dari semua orang namun tak bisa ia lakukan.
"Om kemana tante?? Ucap Aina
"Om kerja nanti malam dia baru pulang." Jawab mama Natasha.
Mereka pun menghabiskan waktu dengan mengobrol ringan. Canda tawa hadir di sela-sela obrolan tersebut.Bagi Aina, Natasha dan Mamanya adalah salah satu alasannya untuk bisa tertawa.
Sore pun mulai berganti, cahaya kemerahan mulai menampakkan dirinya.Aina pun berpamitan untuk pulang.
Gadis itu akhirnya sampai di sebuah rumah megah. Tempat baru yang harus ia jadikan tujuan untuk singgah. Suasana malam yang berbeda dari sebelumnya membuatnya merasakan rindu. Malam yang biasanya sepi kini di penuhi dengan kehangatan. Peristiwa yang gadis itu dambakan. Ada rasa senang dalam dirinya namun ia merasa sedih karna itu bukanlah keluarga kandungnya. Mereka terduduk di ruang keluarga dengan penuh kebahagiaan.
Lain halnya dengan Keluarga Albert yang sedang sedikit bercekcok. Kepala keluarga itu terus saja mengeluarkan umpatan untuk anaknya. Entah kesalahan besar apa yang anaknya lakukan.
"Apa ini hah?? Kau pikir uang tidak di cari?? Seenak mu saja berbagi!!." Ucap Gerald Albert Ayah Natasha sambil melemparkan satu lembar foto.
"Udah mas... tenangin dirimu. Jangan begitu sama Natasha." Ucap Mama Natasha mencoba menenangkan suaminya.
Natasha tak bisa berkata apapun. Ia hanya bisa menangis melihat amarah ayahnya.Gadis itu segera berlari ke kamarnya. Ia sangat jengkel kepada orang yang memotret dirinya dan Aina serta memberikan kabar palsu kepada ayahnya. Dia kemudian tertidur berharap keributan tadi hanyalah imajinasi.
Tringggkkkk....
Matahari di hari itu kurang menampakkan diri. Awan yang mendung menutupi teriknya.
Ketika panas dan rasa itu harus di kubur oleh dinginnya takdir.
Di Kantin SMA Jaya Putra keadaan riuh hadir. Para siswa disana berdesakkan ingin melihat penampilan baru sang cupu menjadi seorang bidadari. Sementara yang di lihat tak menanggapi hal tersebut. Ia hanya fokus ke makanan dan sahabatnya.
"Ehh... Sha.. kamu kenapa sih dari tadi murung terus?Gak biasanya tau." Tanya Aina.
"Emm.. gue tadi malam di marahin ayah gara-gara loh". Ucap Natasya dengan tatapan kosong.
"Emm bukan karena loh sih Na. Karena tukang foto itu sih hehe. Kemaren ada yang fotoin kita terus di kirim ke ayah gue tapi tuh orang malah nyebarin kabar palsu. Kesel gue". Jelas Natashadengan raut muka masam.
"Ya Tuhan Sha... aku minta maaf ya." Ucap Aina.
"Gak papa Na.. bukan karena loh kok hehe." Ucap gadis bermata coklat itu.
Drettt... drettt.. drett...
"Na.. hp lo geter tuh. Ada yang nelpon kalik." Kata Natasha sambil menunjuk handphone milik Aina di atas meja.
"Hallo..." kata Aina langsung mengambil handphonenya.
"Iyah pak.. iyah ... nanti Aina yang kesana gak usah di jemput .. iyah mall deket sekolah... iyahh... selamat siang juga." Bisik Aina pelan menjawab telpon itu .
"Siapa Na?Kok bahas-bahas mall segala."tanya Natasya.
"Emm....... bukan siapa siapa kok Sha hehe. Itu makanan loh di makan." Ucap Aina mencoba mengalihkan perhatian.
Sepulang sekolah Aina langsung bergegas menaiki bis menuju tempat yang di minta oleh sang penelpon tadi. Ya itu adalah Ardi Bramana papa angkat Aina.
Ia di perintahkan untuk pergi ke mall menemani papanya berbelanja. Sementara istri dari pengusaha konglomerat itu tidak bisa hadir di karenakan beberapa urusannya.
Gadis bermata sipit itu tampaknya seakan mencari dan merekam semua wajah yang ada di mall tersebut. Ia mendapatkan seorang pria tua yang sedang berdiri sambil melambaikan tangan kepadanya.
"Pak.... maafin Aina tadi di jalan soalnya macet." Ucap Aina menghampiri bapak angkatnya itu.
"Alah... kamu nih gak papalah. Ayok kita ke toko baju dulu." Kata pria tua itu sambil menarik tangan Aina.
Mereka pun menikmati suasana sore di mall itu. Aina seakan bermimpi bisa melakukan hal tersebut. Suatu hal yang dulu hanya ia bisa hayalkan namun sekarang menjadi kenyataan. Meskipun sedih di dalam hatinya karena orang di samping nya itu bukanlah papa kandungnya.
Ckrek.... ckrek...!!!
Di tengah perjalanan mereka, Aina seolah merasakan ada yang membuntutinya. Perasaannya sangat tidak enak. Ia terus saja menoleh ke belakang.
"Kenapa Na? Kamu kok gak tenang." Tanya papanya.
"Gak papa Pak.. aku cuman ngerasa ada yang ngikutin." Jawab Aina sambil sesekali matanya mencari orang yang mengikutinya tersebut.
"Alahh... cuman perasaan mu ajah itu. " kata papanya mencoba menenangkan.
Aina hanya mengangguk mendengar perkataan papanya. Ada betulnya juga mungkin ia hanya kelelahan sehingga berhalusinasi.
"Ainaa..." teriakan seorang gadis mengagetkannya. Aina panik akan teriakan tersebut. Suara itu seperti suara sahabatnya Natasha. Apa yang harus dia lakukan?Apa yang akan dia katakan?Pikiran Aina seakan berperang memikirkan bagaiman solusi tersebut. Ia membalikkan tubuhnya. Dan benar saja itu adalah Natasha.
"Ih.. Na capek gue teriak loh diam aja.Gue tadi ngelihat loh.Dari tadi di teriakin pura-pura budeg ajah. Eh btw om ini siapa?Ucap Natasha dengan napas tersengal-sengal karena berlari menyusul sahabatnya itu.
Sontak saja ocehan Natasha itu membuat kaki tangannya seakan membeku. Ia tak tau harus menjawab dengan apa.
"Ahahah....... maaf Sha...gue beneran gak dengar. Emmm.... ini teman papa aku." Ucap Aina gugup.
Ardi Bramana yang mendengar hal itu hanya bisa memahami. Ia tidak mungkin memaksakan Aina untuk mengakui dirinya di depan teman Aina bahwa dia adalah papa angkatnya.
"Oo... gue pikir siapa. Ya udah Na. Gue duluan pulang ya. Lo mau bareng gue? Kata Natasha.
" Emm.. gak Usah Sha. Aku naik bis aja nanti." jawab Aina.
Natasha hanya mengangguk mendengar hal itu. Ia segera berlalu meninggalkan sahabatnya itu.
Dalam hati Aina ia merasa lega. Untung saja sahabatnya itu tak bertanya terlalu banyak.
"Pak.. maafin aku ya.." ucap Aina kepada papanya itu.
"Gak papalah Na.. papa ngerti kok." Kata pria paruh baya itu sambil tersenyum. Mereka pun memutuskan untuk pulang setelah membeli beberapa barang.
Keesokan harinya...
Mentari di hari itu membawa langkah Aina. Menyapa dengan hangatnya sinar pancarannya.
Kakinya melangkah menuju halte bis. Ya gadis bermata sipit itu sudah meminta kepada kedua orang tua angkatnya agar tak mengantar atau menjemputnya lagi. Ia tak ingin teman sekolahnya curiga terlebih selepas kejadian di mall bersama Natasha.
Dia pun tiba di sekolahnya, badan mungilnya terus berjalan mengikuti hembusan udara. Banyak pasang mata menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. Aina tak menggubris hal itu ia terus berjalan tak memperdulikan sorakan mereka. Dalam hatinya bertanya apa lagi kesalahan yang ia perbuat.
"Ahh...." rintih Aina tersandung.
"Hahaha rassain lo. Emang pantes lo jatuh. Dasar gak tau diri." Ucap Miska yang menyandung Aina.
Aina hanya terdiam dan mencoba untuk bangkit. Ia tak berani membuka suara apa lagi sampai bertanya.
"Nihh si ****** di sekolah kita!!!. Bikin malu ajh." Teriak Nada mencoba menarik perhatian banyak siswa.
"Ma....maksud kalian apa? Tanya Aina gugup.
"Hahah pura-pura lugu loh. Gak nyangka gue. Ternyata di balik sok lugu ada jiwa liarnya. Dasar ******!!!." Kata Lisha dengan penuh emosi.
"Nohh loh lihat tuh video. Pantes ya semua pakaian lo berubah. Ternyata loh main sama om-om hahah." Sambung Lisha sambil menyodorkan handphone nya.
Aina hanya bisa menangis melihat video itu. Ternyata dugaanya kemaren itu benar, memang ada yang membuntutinya. Ia tak menyangka ada orang yang tega memfitnah dirinya.
"huuuuuu.u..... dasar loh ya..... huuuu.." teriak siswa-siswi tersebut sambil melemparkan kertas ke arah Aina.
" eh eh eh ada apa ini?? Bubar.. cepetan bubar!!!! Ada apa ini? Tanya Ibu Ros mencoba menghentikan keributan tersebut.
"Pas nih bu.. untung ada ibu.. coba lihat ini video bu.." ucap Lisha memberikan hanphonenya.
"Kita gak boleh biarin ada ****** di sekolah kita. Si Aina pokoknya harus di keluarin dari sekolah." Sambung Lisha.
Aina hanya bisa menangis dan menangis ia tak tau harus berkata apa. Dari jauh ia melihat Natasha berlari kepadanya.
"Ada apa Na..lo kenapa??Si kunti apain lo." Ucap Natasha panik.
"Hidih.. pahlawan kepagian. Noh loh lihat itu video." Kata Nada menunjuk ke arah handphone yang di pegang gurunya tersebut.
Mata Natasha langsung mengarah ke handphone itu. Ia melihat sebuah video orang yang dia temui kemaren bersama Aina.
"Alah... cuman video begini ajah malah ribut. Paling ini cuman editan." Ucap Ibu Ros.
"Betul tuh bu.. si kunti ajah nih yang ngelebay-lebayin." Sambung Natasha membela Aina.
"Apaan maksud lo ha??Kata Lisha mulai emosi.
"Udah... udah.. cepetan bubar.. ini udah mau masuk." Ucap Ibu Ros.
Merekapun kembali ke kelas mereka masing-masing dengan perasaan kurang puas. Rasa hati ingin menghakimi malah terhalang oleh guru mereka.