LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 118





Zico mengantar Meldy ke tempat tinggal barunya. Sebuah mini apartemen. Setelah ia mengantarkan Arend dan Syeira terlebih dulu untuk pulang.



Syeira dan Arend terpaksa makan malam terlebih dulu meninggalkan Zico. Zico yang memintanya. Dia akan makan setelah sepulang dari mengantarkan Meldy.



"Kenapa kau tetap Diam, Ra.? Apa alasan mu tidak bersedia menceritakan padaku bagaimana kita bisa menikah.?"



Arend kembali membahas topik yang sama. Mereka tengah makan bersama di meja makan.



"Apa bedanya.? Meski aku menceritakannya, kau juga tidak akan mengingatnya.!"



Syeira terus menunduk memainkan makanan nya di box yang masih belum habis. Arend terus menatapnya dalam.



'*Ceklek*.!'



Pintu utama apartemen di buka. Zico datang. Ia merasa sangat kedinginan. Udara sehabis hujan deras dan rintikan gerimis yang masih turun membuat hawa terasa lebih dingin. Apa lagi perut Zico yang masih kosong.



Syeira menatap Zico yang masuk sambil mengusap-usap tangannya cepat agar hangat. Syeira lantas meletakkan sendoknya. Berdiri dan melangkah masuk ke kamar, ia kembali keluar cepat setengah berlari membawakan handuk untuk Zico.



"Dingin.?" Tanya Syeira sambil memberikan handuk yang di bawanya untuk Zico.



"Sangat.!" Jawab Zico sambil menggigil. Syeira tersenyum menanggapi Zico yang memang benar-benar kedinginan.



Syeira lantas menarik Zico ke meja makan. Ia membukakan Box makanannya lalu menyeduhkan wedang jahe yang sudah siap untuk Zico. Arend terus memperhatikannya. Dan jelas dia tidak suka.



"Cepat makan. Dan minum juga wedang jahenya. Biar badan kamu cepet anget.!" Syeira berbicara sambil mengacak rambut Zico yang basah. Perlakuan hangat seperti seorang kakak terhadap adik kecilnya.



Arend menyipitkan mata. Raut mukanya terlihat jelas ia tidak suka. Dan dia meninggalkan meja makan masuk ke kamar dengan kesal.



Syeira dan Zico kaget, dan mereka hanya bisa terbengong dengan sikap Arend yang tiba-tiba pergi meninggalkan mereka.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



**Pagi di apartemen Arend**.



"Ra..\_\_.? Kamu tahu dasi ku yang berwarna navy.?"



Zico berteriak dari kamarnya. Ia keluar menemui Syeira yang mencuci piring setelah mereka gunakan sarapan bersama.



"Apa tidak ada di laci dalam lari.?"



"Tidak ada Ra.?" Zico bertingkah seperti anak SD yang mengadu pada Ibu nya.



Arend sudah siap. Tapi dia belum juga berangkat, ia terlihat fokus dengan laptopnya. Duduk di sofa ruang tamu yang di letakkan dekat dinding. Sebenarnya Arend ingin mengajak Syeira ikut ke perusahaan. Arend ingin mengenal dan ingin bisa lebih dekat dengan Syeira. Tapi Arend bingung bagaimana cara ngomongnya.



Zico menyeret Syeira masuk ke kamarnya, ia meminta bantuan Syeira untuk mencarikannya dasi yang ia cari.



Arend membulatkan mata. Dia sangat geram dengan tingkah Zico yang terus manja dengan wanita yang di bilang semua orang sebagai istrinya itu. Arend meletakkan laptopnya dan dia lantas mengikuti langkah Zico yang sudah menarik tangan Syeira untuk ikut dengannya.



Saat Arend sudah sampai di pintu kamar Zico yang terbuka. Ia semakin membulatkan mata. Syeira tengah memasangkan dasi di leher Zico. Bahkan Syeira tak pernah melakukan itu padanya.



"Baiklah, aku pergi dulu. Semoga harimu menyenangkan.?"



"Aauuww"



Syeira teriak kesakitan, Zico mencubit keras pipinya Sampai sedikit merah.



"Zico.?"



Syeira berteriak. Tapi ia tak sempat membalas. Zico sudah berhambur, dan saat Zico mendapati Arend berdiri di depan pintu kamarnya. Zico hanya mengembangkan senyumnya tanpa rasa bersalah. Dan dia lekas pergi bekerja.



Arend menatap tajam pada Syeira yang masih memegangi pipinya. Syeira lantas melangkah keluar dari kamar Zico. Melewati Arend yang berekspresi dingin dengan sorot matanya yang tajam. Dan Arend mengikuti langkah Syeira.



Syeira ingin masuk kedalam kamar, namun Arend sudah meraih tangannya dan menarik Syeira untuk ikut bersamanya.



"Arend.?" Teriak Syeira.



Jelas Syeira merasa panik dan kaget karna Arend yang tanpa berkata apa-apa terus menarik tangannya hingga mereka kini berada di dalam mobil.



"A\_rend.?" Syeira masih terus berteriak dan Arend tak mempedulikan teriakan Syeira.



'*Braaack*.!' Arend membanting pintu mobil. Ia lantas masuk, menyalakan mesin mobil menginjak gas dan melajukan mobilnya menuju kantor.



"Arend.?" Syeira yang masih bingung kembali meneriaki nama Arend.



"Ikut aku ke kantor.!"



"Kenapa.?"



Arend tidak menjawab, ia hanya diam saja sambil terus menyetir, menatap jalan depan dengan tatapan tajam dan raut muka yang dingin. Ia menahan rasa kesalnya pada Syeira dan Zico tadi.




"Arend.? Lepaskan tangan ku.? Aku bisa jalan sendiri.!" Protes Syeira.



"Diam.!"



Mereka berdua berdiri di depan lift saat ini. Beberapa orang yang sudah berada di dalam lift berhambur kembali keluar saat melihat CEO mereka yang datang bersama sang Nyonya. Dan Arend kembali menarik tangan Syeira masuk kedalam lift.



Arend sama sekali tak melepas tangan Syeira. Meski tak ada pembicaraan antara mereka selama di lift dan sampai masuk kedalam ruangan Arend.



Sudah ada Zid dan Meldy disana.



"Syeira.?" Meldy berseru antusias. Sahabatnya datang ke kantor tanpa di sangka.



"Selamat pagi, Arend.?" Zid menyapa.



"Pagi.!" Jawab Arend, dan barulah dia melepas tangan Syeira yang terus ia pegang sejak tadi.



Meldy memperhatikan penampilan Syeira. Ia memakai setelan baju yang.? Terlihat seperti baju rumahan. Kaos dan celana dengan bahan dan motif yang sama. Dan sendal.



Syeira tersenyum cengir kuda. Ia sadar dengan apa yang Meldy perhatikan.



"Kau bisa nonton tv, atau pakai salah satu laptop kantor untuk nonton film. Terserah. Tapi kau tidak boleh jauh dari ku dengan jarak 5 meter. Duduk di sofa.!"



Arend berbicara cepat pada Syeira tanpa menatap nya. Arend memang tak mengingat memory nya yang telah hilang terhapus. Tapi cinta nya pada Syeira masuk ke lubuk jantung dan hati. Ia sendiri merasa sangat bingung karna meski Arend merasa tak mengenal Syeira, ia selalu ingin dekat dengannya. Dan selalu cemburu. Bahkan meskipun itu terhadap Zico saudaranya sendiri.



'*Iisshh*.!' Syeira menyunggingkan bibirnya sinis. Ia tak begitu mengerti dengan sikap Arend. Tapi ia tak membantah. '*Memang benar kata Zico. Dia ini sedang pikun. Jadi biarkan dan turuti saja*.!'



Syeira tengkurap di atas sofa sambil menonton serial Drakor terbaru. Ia merasa lelah setelah hampir 2 jam duduk.



Arend yang sedang membahas suatu rancangan terbaru dengan Zid dan Meldy sesekali mencuri pandang pada Syeira yang terlalu fokus pada laptop di depannya.



"Baik. Akan saya teliti ulang. Dan besok akan saya berikan laporannya.!" Ucap Zid. Mereka telah selesai melakukan pembahasan.



Arend hanya mengangguk menanggapi.



Meldy lekas berhambur menghampiri Syeira. Dan Syeira menyadari kedatangannya.



"Sudah selesai.?" Syeira bertanya. Meldy mengangguk antusias sambil tersenyum cerah.



Di luar turun hujan. Dan lumayan deras.



"Ra.?"



"Hemm.?"



"Di luar hujan.!" Meldy sudah fokus melihat ke arah luar dari balik jendela sejak tadi. Dan Syeira menoleh mengikuti arah pandang Meldy, Syeira pun lekas bangkit dan berdiri di samping Meldy. Ia pun menatap air hujan yang deras mengguyur bumi di hari menjelang siang itu.



Meldy dan Syeira saling pandang, mereka sama-sama tersenyum. Satu hal yang sama terbersit dalam pikiran mereka.



"Kau lelah.?" Syeira bertanya.



"Sangat. Kau sedih.?" Meldy pun bertanya pada Syeira.



"Sangat.!"



"Kita lepaskan semuanya.!"



"Ayo.?"



"Ayo.?"



Syeira dan Meldy bergandengan tangan berlari keluar dari ruangan Arend. Tanpa permisi, meninggalkan Arend dan Zid yang masing-masing sibuk dengan laptopnya.



"Syeira.?"



"Meldy?"



Arend dan Zid pun mengejar kedua wanita yang bertingkah sedikit nakal itu.



**Sesekali bertingkah layaknya anak-anak itu perlu, membuat hati merasa lebih ringan, menghilangkan beban yang terpendam**.



Sesampainya di depan halaman utama *N~A Cell*. Syeira dan Meldy langsung bermain hujan-hujanan. Menjadi pusat perhatian. Beberapa karyawan bahkan mengabadikannya dengan kamera ponsel mereka.



Arend dan Zid berhenti di depan pintu utama *N~A Cell*, memperhatikan wanita yang mereka cintai bermain hujan-hujanan. Menghentak-hentakkan kaki mereka pada genangan air, sambil tertawa terbahak-bahak.



Syeira dan Meldy menciptakan kebahagiaan kecil mereka sendiri demi mengurangi hati yang terus di Landa luka.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...