
Keputusan diambil.
Zid akan pergi ke Rumah Sakit, Meldy akan menemani Syeira dan Zico di rumah Ayah Cellin.
Tidak ada yang akan di beritahu sampai semuanya benar-benar jelas. Dan menunggu kedatangan rombongan Aryan besok siang dari Brazil.
Zid dan Meldy akan saling memberikan kabar situasi masing-masing.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zid sudah sampai di Rumah Sakit. Ia langsung menuju ruang rawat yang di beritahukan oleh petugas Rumah Sakit tadi lewat sambungan telepon.
Zid membuka pintu. Lala duduk seorang diri di sofa dalam ruangan. Ia menangis. Jelas saja ia merasa sangat takut.
"Pak Zid.?" Lala berhambur kedalam pelukan Zid. Dan Zid memeluknya mencoba memberikan ketenangan.
Zid lantas mendekat ke arah Arend. Arend masih tak sadarkan diri.
"Ada apa ini, La.? Apa yang sebenarnya terjadi?."
Lala mulai membuka suara, ia bercerita kronologi kejadian dari awal.
"Aaahh.?" Zid hampir saja memukul tembok. Tapi tangannya sakit dan masih di perban. Jadi ia tak bisa melakukannya. Atau akan konyol sekali jika ia menambah sakit tangannya itu sendiri.
"Pak.? Saya mau pulang.? Saya takut dan lelah.?" Lala menangis meminta izin.
"Iya, pulanglah. Terimakasih. Apa kamu bisa pulang sendiri, La?"
"Saya di jemput papah saya di depan.!"
"Baiklah, hati-hati, terimakasih.!"
Lala pun pergi. Zid segera menemui Dokter. Meminta seorang perawat untuk menjaga Arend dulu sebelum ia pergi.
Zid telah sampai di ruangan Dokter yang menangani Arend. Mereka duduk berhadapan dengan Dokter di Ruangan pribadinya.
"Tuan Narendra mengalami benturan yang sangat keras pada kepalanya. Saya belum bisa memastikan kondisi nya saat ini. Besok siang akan kami lakukan pemeriksaan CT-scan. Untuk memeriksa kepala Tuan Narendra bagian dalam. Untuk saat ini. Jika semua nya baik-baik saja. Kemungkinan Tuan Narendra bisa siuman besok pagi. Tapi kita tetap harus melakukan pemeriksaan lanjutan. Untuk melakukan langkah pengobatan.!"
Zid hanya bisa mengangguk menanggapi setiap kalimat yang Dokter ucapkan.
Zid memberi kabar pada Meldy lewat pesan Chat. Mereka berdua sama-sama bingung. Apakah tetap harus diam, atau segera memberitahu Syeira dan Zico.
"Mel.?"
"Hah.?" Meldy kaget.
Syeira datang menemui Meldy yang duduk seorang diri di halaman depan rumah Cellin. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Dan keluarga Cellin sudah banyak yang tidur. Tapi beberapa orang terutama Bapak-bapak dan para tetangga masih saling bercengkrama di dalam rumah Cellin di ruang tamu.
Sedangkan Zico berdiam diri di kamar Cellin. Seperti janjinya pada Cellin, Zico tak lagi menangis. Ia hanya diam. Tapi sorot mata dan raut mukanya menjelaskan betapa ia kehilangan dan jatuh kedalam kesedihan.
"Kamu gak masuk, Mel.? Di luar dingin lho.!"
Syeira duduk di kursi dekat Meldy. Meldy terdiam. Ingin rasanya ia segera mengatakan apa yang sedang terjadi. Tapi ia tidak berani.
"Zid dimana Mel.? Apa dia menjemput Arend.? Sebenarnya Arend sekarang ada di mana.? Kenapa dia lama sekali datang nya.? Aku sangat cemas.! Zid pergi menemuinya, kan.?"
"Hah.?" Meldy tak tahu harus menjawab apa.
"Ponselnya sudah bisa dihubungi, tapi meski tersambung, tidak ada yang mengangkatnya.!"
Barang-barang Arend dan Lala berada di markas Cosa. Zid meminta mereka untuk menyimpannya dulu sementara waktu.
'\**Aku harus mengatakannya. Syeira harus tahu. Tapi bagaimana caranya*.?'
*Drrtt drrtt drrtt*\*
Ponsel Meldy bergetar. Zid menelpon. Sebenarnya, Zid menelpon hanya ingin berbicara dengan Meldy secara intens. Ia sangat merindukan Meldy. Seharian selalu dekat dengan Meldy membuat Zid merasa semakin cinta dan rindu.
"Itu Zid yang telpon.? Angkat gih. Aku juga ingin bicara.!" Syeira berseru antusias. Batinnya tidak tenang sejak tadi. Ia sangat mengkhawatirkan Arend.
Meldy hanya diam. Dan Syeira pun mengambil alih ponsel Meldy dari tangannya. Syeira yang menerima panggilan telepon Zid.
"Halo, Zid.?"
Zid kaget ketika mendengar suara Syeira yang justru menerima panggilannya.
Syeira langsung menanyakan dirinya posisinya sekarang dimana dan juga Arend.? Syeira terus bertanya karna Zid hanya diam.
"*Ra, dengerin baik-baik. Kamu ikut datang Meldy saja. Baru aku akan menceritakan semuanya nanti sama kamu*.!"
Zid berbicara pelan. Ia tak ingin Syeira menjadi panik. Arend juga masih belum sadar. Zid berencana akan mengatakan pada semua orang besok saja. Karna ini juga sudah malam. Tapi Syeira sangat memaksa. Tentu saja. Dia istri Arend. Dan Syeira sangat khawatir.
Mereka sempat berdebat dan bahkan hampir bertengkar. Syeira marah karna Zid dan Meldy yang tak berterus terang sejak awal.
Zid akhirnya mengatakan semuanya pada Syeira. Membuat Syeira kembali menangis dalam kesedihan.
Panggilan telpon sudah di akhiri.
"Bagaimana dengan Zico.?" Meldy bertanya pada Syeira.
"Dia memang sedang berkabung sekarang, tapi jika kita tidak memberitahunya. Dia akan semakin terluka. Mereka adalah sepasang saudara yang luar biasa. Aku akan mengatakan semuanya pada Zico sekarang. Dan aku juga harus segera ke Rumah Sakit.!"
"Aku akan menemanimu.!"
Syeira mengangguk. Ia mengusap wajahnya yang basah karna air mata. Syeira dan Meldy lekas bangkit, mengetuk pintu kamar Cellin.
Tak butuh waktu lama Zico langsung membukanya. Dan Syeira secara pelan-pelan menceritakan peristiwa yang dialami Arend, seperti yang Zid ceritakan padanya.
Tanpa pikir panjang, Zico lekas mengajak Syeira untuk pergi ke Rumah Sakit. Sebelumnya Zico meminta izin pada keluarga Cellin. Ia terpaksa harus pergi sekarang. Saudaranya dalam kemalangan. Bahkan mereka belum ada yang tahu bagaimana kondisi Arend saat ini.
Semua baru akan terungkap esok hari.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Pukul 12 siang**.
Rombongan Ayla telah sampai di tanah air. Orang-orang yang di kirim Zico menjemput mereka membawa mereka ke Rumah Sakit. Belum ada yang tahu jika Cellin telah tiada. Mereka berpikir saat ini yang sedang di rawat adalah Cellin. Bukan Arend.
Zico menandatangani semua berkas Administrasi Rumah Sakit yang di butuhkan. Arend belum juga sadar, dan dia sedang menjalani pemeriksaan CT-scan.
"Zico.?"
"Mamah.?"
Ibu dan anak itu saling berpeluk haru. Semua orang saling bersalaman sebelum akhirnya percakapan inti di mulai.
"Apakah Cellin masih di periksa.?"
Satu pertanyaan Ayla yang membuat Zico kembali memeluk mamahnya itu dengan erat, Zico menangis kuat dalam pelukan Ayla.
"Dia sudah pergi, Mah. Cellin sudah pulang kemarin siang.?"
"Apa maksud kamu.? Lantas dimana dia sekarang.? Mama ingin bertemu dengannya.!"
"Cellin sudah di makamkan kemarin sore, Mah.!"
Jawaban Zico membuat kaget dan bingung Ayla, Aryan, Rain dan Cen.
"Apa maksud kamu Zico.? Bicara dengan jelas..!" Kini Aryan yang sudah menggebu meminta penjelasan pada Zico.
"Iya Pah, Cellin sudah pergi, dan dia sudah di kuburkan.!"
"Lantas. Kenapa kita disini.?"
"Dimana putraku Arend.?" Ayla baru menyadari adanya kekosongan.
"Arend mengalami kecelakaan, Mah. Kita semua disini karna Arend belum sadarkan diri. Dan dia sekarang di periksa.!"
'*Deg*.!'
Ayla hampir pingsan. Tubuhnya gemetar, Zico dan Aryan lekas menangkapnya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...