
Syeira terdiam tanpa pergerakan, Ia begitu riskan untuk melakukan sesuatu tanpa meminta kejelasan.
"Apa\_ Tuan\_ ingin\_ saya pijit.?" Tanya Syeira hati-hati.
"Heemm.!" Arend mengangguk.
Syeira kembali menelan salivanya kasar. Ia pun bergerak, memposisikan diri duduk dengan benar, menghadap ke arah Arend yang sudah berbaring tengkurap dengan posisi kepala menoleh ke sisi lain membelakangi Syeira.
Jantung Arend sendiri berdetak semakin tidak normal, ia mulai berpikir. *Apakah yang dilakukannya ini terlalu nekat.? Apa ini tidak terlihat memalukan*.? Ia telah mempersilahkan seseorang untuk menyentuh tubuh nya yang tak terjamah sebelumnya. Bagaimana tadi dia bisa bertingkah konyol begitu saja.? Menjatuhkan diri di atas ranjang dan meminta di pijit.? '*Oh Tuhan*...?'
Syeira memulai menggerakkan tangannya pelan menyentuh punggung Arend yang berotot, darahnya terasa berdesir lepas. Satu sentuhan membuat Syeira ingin melayang.
Syeira terus menggerakkan tangannya memijit punggung Arend yang terasa keras karna otot-otonya yang kencang. Perlahan, ke atas dan kebawah, bahu dan juga lengan.
"$*h!!\_\*\**."
Arend mengumpat dalam hati, ide nya meminta pijit salah besar, sentuhan tangan Syeira yang lembut di punggungnya mampu membangunkan jagoannya di bawah sana. Arend langsung merasa tidak nyaman.
Arend menggerakkan tubuhnya menggeser ke kanan, di bawah sana sudah sangat keras mengganjal. Jelas membuat Arend kelimpungan.
Pintu di buka tiba-tiba, Zico datang. Syeira dan Arend kaget bersamaan.
Arend langsung bangkit dan duduk, sedangkan Syeira dengan gerakan cepat mencari apa saja yang bisa di pegangnya. Untunglah Zico tidak melihat adegan Syeira yang tengah memijit Arend tadi.
Zico masuk dengan raut muka yang bingung. Arend terlihat tegang, Syeira menundukkan kepala membaca buku yang bahkan plastiknya belum di buka.
"Kalian kenapa.?"
Zico bertanya.
"Aaah.?? Haha haha haha, tidak.!"
Syeira menggelengkan kepala dengan tawa nya yang terdengar saru. Sedangkan Arend hanya diam dengan raut mukanya yang tegang.
"Ada apa.?" Syeira bertanya pada Zico.
Zico lantas bergerak cepat dengan antusias naik ke ranjang duduk di hadapan Syeira.
"Apa.?" Lagi, Syeira bertanya.
"Taraaaa.!" Zico menunjukkan sebuah kalung pada Syeira, kalung yang berbandulkan bintang kecil, sengaja Arend beli tadi tanpa sepengetahuan Syeira untuk ia berikan pada Kakak iparnya itu sebagai tanda persahabatan.
"Kau suka.?"
"Untuk ku.?" Syeira bertanya kaget, kalung itu perhiasan asli yang sangat berkilau dan cantik.
Arend melihatnya kesal, ia yang datang ingin memberikan sesuatu pada Syeira sejak tadi saja belum juga berhasil, ini Zico malah seenak jidatnya datang dan memberikan hadiah tanpa menjaga perasaan orang.
Arend ingin melarang. Namun Syeira ternyata sudah lebih dulu menolaknya.
"Aku tida bisa.!"
Syeira menolak kalung pemberian Zico.
"Kenapa.? Kau tidak suka Designe nya.? Atau kau tidak suka warnanya.? Kenapa.?"
"Aku sudah memiliki kalung ku sendiri, aku tidak ingin memakai kalung yang lain, kau simpan saja."
Arend tersenyum senang mendengarnya, sedangkan Zico jelas saja kecewa. Tapi Zico tidak kehabisan akal, ia lantas meraih tangan Syeira melilitkan kalung itu hingga tiga kali dan pas. Jadilah Kalung itu seperti gelang di tangan Syeira. Sangat cantik.
"Sudah.!" Zico tersenyum puas. Dan Syeira melihat tangannya sendiri dengan senyuman yang bahagia. Syeira lantas memeluk Zico hangat, melupakan Arend suaminya yang posesif yang masih ada di sana dengan tatapan tajam seperti sebilah pedang.
Arend menarik lengan Syeira kuat melepas tautan tubuh kedua insan itu.
Zico nyengir kuda. Ia akhirnya turun dari ranjang dan bergegas keluar. Sebelum Arend menghajarnya.
Syeira tersenyum kecut. Arend menatapnya tajam.
"Kau memilki kalung yang istimewa.?" Arend bertanya dengan nada yang angkuh.
"He emm.!" Syeira mengangguk sambil tersenyum manis.
"Apa itu sangat istimewa.?"
"Iya, dia selalu menemaniku sejak aku masih kecil, dia selalu ada saat aku sedang bersedih dan terluka. Dia tidak tergantikan."
Suara Syeira melemah di akhir kalimatnya, ia menunduk mengelus bandul cincin itu dari sisi luar bajunya.
"Aku punya sesuatu untukmu,."
Arend mengeluarkan sebuah kotak perhiasan. Lalu ia berikan pada Syeira.
"Ini apa.?"
"Buka. Dan pakai. Buang atau simpan punyamu yang lama. Aku tidak suka melihatnya."
Syeira membuka kotak merah itu, sebuah kalung dengan bandul tetesan air hujan, sangat cantik. Tapi Syeira lekas menutupnya kembali.
"Maaf, Tuan.? Saya tidak bisa menerimanya, saya tidak bisa melakukannya.!"
Syeira menaruh kotak itu di tepian ranjang di dekat Arend yang duduk di sebelahnya.
"Kenapa.? Dari mana kau mendapatkan kalung mu itu.? Sampai kau berani menolak kalung pemberianku?"
Syeira hanya diam, ia tak mampu untuk menjawab pertanyaan Arend.
"Apa itu dari seorang pria.?"
Arend menatap Syeira tajam. Tapi Syeira sendiri tidak merasa takut, dia sudah merasa jika apa yang dilakukannya adalah benar.
"Kita sudah melakukan perjanjian sebelum pernikahan, kau tidak di perbolehkan memiliki ataupun berhubungan dengan pria lain selama kau menjalankan tugasmu sebagai istriku."
Suara Arend sangat berat dan menggebu. Ia hanya ingin agar Syeira menurut dan tidak menolaknya.
"Anda tenang saja, Tuan.? Tidak ada laki-laki lain dalam hidup saya selain anda. Ini hanyalah sebuah kalung, bahkan pemberi benda ini tak pernah menganggap saya ada, lantas untuk apa anda mempermasalahkannya.? Saya hanya terobsesi seorang diri akan benda ini.?"
Syeira mengatakan kalimat itu dengan hati yang terasa perih, air matanya lolos begitu saja.
Itu terasa seperti sebuah tamparan bagi Arend. Semua yang di katakan Syeira adalah kebenaran.
Arend lantas meraih kotak perhiasan itu dan membantingnya kedinding dengan kasar, hingga kalung di dalamnya terlempar keluar, dan bandul tetesan air hujan itu patah dari kalungnya.
Syeira kaget. Namun Arend lekas bangkit melangkah keluar meninggalkan Syeira yang merasa takut dengan sikap Arend barusan. Sikap yang membuat Syeira merasa bingung dan menerka-nerka.
'*Kenapa.? Ada apa dengannya*.?'
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Hari Baru**.
Syeira sudah berangkat sejak pagi. Bu Mela memberinya tugas untuk meliput konferensi pers yang kini di lakukan oleh DK.
Zico sangat bersemangat, hari ini Cellin sudah kembali masuk kerja. Zico seperti tidak sabar untuk bisa bertemu dan kembali menyatakan perasaannya. Dia akan terus berjuang sampai titik darah penghabisan.
Arend sudah di kantor. Ia tengah mengadakan meeting dengan para Staf penting perusahaan. Produk baru yang akan launching membutuhkan model baru untuk iklan. Dan pendapat 99% para Staf jatuh pada DK. Penyanyi pria pendatang baru yang naik daun dan sangat terkenal. Membuat Arend menolak keras ide mereka dan walk out dari ruang meeting sebelum pembahasan itu berakhir.
Para karyawan berkasak kusuk saling bertanya kenapa.?
Zid mengikuti langkah Arend yang masuk kembali ke ruangannya.
Sedangkan Zico merasa jenuh karna Cellin belum juga keluar dari ruang meeting. Ia menunggu Cellin berdiri bersandar pada dinding sebelah pintu.
Akhirnya yang di tunggu keluar juga.
"Hai.!"
Cellin hanya tersenyum sambil terus melangkah menanggapi Zico yang menyapa.
"Em.? Mau makan siang bersama.? Kalaupun sama Syeira tidak masalah.!" Zico ikut melangkah cepat seraya langkah kaki Cellin yang terus berjalan.
"Tidak, dia sedang sibuk."
Jawab Cellin melangkah semakin cepat.
"Bisa kita bicara dengan benar" Ingin sekali rasanya Zico meraih tangan Cellin menghentikan langkahnya, tapi ia tahu jika Cellin tidak akan menyukainya.
Cellin pun berhenti. Dia menghadap Zico. Melihatnya dengan tatapan dalam.
"Ada apa.?" Tanya Cellin tegas.
"Kau tahu apa yang ingin aku katakan.? Berapa kali lagi aku harus mengatakannya.?"
Cellin menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya kasar.
"Dan berapa kali aku harus menjawabnya.? Jawaban yang ku berikan sudah sangat jelas. Dengar Zico. Aku\_ Ti\_ dak\_ mencintai kamu. Dan aku ti\_dak\_ akan menikah."
Cellin mengatakannya dengan sangat lantang, membuat Zico mengernyitkan dahi menyipitkan mata menahan hati yang terasa tertusuk berpuluh-puluh anak panah.
"Kenapa.?" Zico lepas kendali, ia meraih tangan Cellin menguncinya di dinding, hingga Cellin merintih karna merasa sakit.
"Zico.? Sakit.. ! Lepaskan.!"
Zico menyadari kesalahannya. Ia akhirnya melepaskan tangan Cellin segera.
Mata Cellin sudah berkaca-kaca. Hatinya sendiri sangat terluka saat mengatakan dirinya yang tidak mencintai Zico. Tapi itu adalah keputusan yang paling benar menurutnya yang bisa ia lakukan.
Jika Cellin mengakui perasaannya pada Zico. Dan bersedia menikah dengannya. Lantas sampai berapa lama dia bisa bertahan dan memberikan kebahagiaan.? Dia akan menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk terus berjuang. Dan pada akhirnya, dia hanya akan meninggalkan kenangan yang menyakitkan karna orang yang menyayanginya merasa kehilangan.
Cellin tidak akan melakukan itu, jika dia harus pergi dari dunia ini, biarlah dirinya pergi tanpa meninggalkan luka di hati orang yang di cintai nya. Zico begitu sangat sempurna untuk dirinya yang hanya akan menanggung derita memperjuangkan sisa umur yang mungkin tak kan bertahan lama. Cellin sedang sakit.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...