LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 78





Zid dan Meldy sudah selesai mandi, mereka keluar dari kamar mandi bersama.



Betapa kagetnya mereka, karna berpapasan dengan Zizi yang baru saja ingin mandi.



"Maaf.!" Ucap Zizi sambil menunduk.



Meldy melengos, ia terus melangkah, sejujurnya, hati Meldy sakit dan dia merasa cemburu dengan Zizi meski Meldy tak tahu apa alasannya.



Meldy ingin marah karena Zid membiarkan Zizi tinggal bersama mereka, tapi dia tidak bisa melakukannya, Meldy takut akan merusak hubungannya dengan Zid jika ia sampai marah pada Zizi. Karna Meldy tahu, Zid merasa kasihan pada gadis lemah itu.



"Mau mandi.?" Tanya Zid. Zizi hanya mengangguk, tidak berani mendongakkan kepalanya, Zid hanya melilitkan handuk di pinggangnya, membuat Zizi merasa malu.



Zid mengangguk, lalu ia berlalu. Zizi lekas berhambur masuk ke kamar mandi.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Kita makan di luar.?" Tanya Syeira sambil memakai riasan natural di wajah, berdiri di depan cermin di meja rias kamarnya.



"Atau mau aku masakkan saja.?" Tanya Arend balik, ia tengah mengenakan jam tangan. Lalu Arend melangkah, berdiri di belakang Syeira, ia memeluk tubuh sang istri dari belakang dengan penuh cinta dan perlakuan yang mesra.



"Eem eemm.?" Syeira menggeleng, menatap Arend dari pantulan cermin, Arend tengah sibuk kembali menciumi aroma leher Syeira. Benar-benar menjadi candu baginya.



"Stop it.!" Ucap Syeira berbalik karna sudah merasa geli, lalu Syeira mendorong tubuh Arend menjauh darinya. Arend terus saja bermain nakal. Seakan ia selalu haus dan ingin di puaskan.



Syeira melangkah keluar kamar lebih dulu dengan sedikit berlari meninggalkan Arend, gelak tawa Syeira terdengar nyaring dan ceria di telinga Arend. Ia sangat bahagia.



Arend tersenyum dan menggelengkan kepala melihat sang istri yang selalu membuatnya.? \_ \_ \_ \_ ah, sudahlah. *ha ha ha ha*.?



Arend melajukan mobil sportnya membelah jalanan pusat kota di malam yang cerah ini, mereka akan makan malam di alun-alun kota dengan menu nasi goreng yang dulu menjadi menu andalan Syeira. Lama sekali rasanya tak pernah lagi datang ketempat itu. Dan Syeira merindukannya.



Arend dan Syeira duduk di kursi yang dekat dengan trotoar jalan raya. Tak lama pesanan mereka pun datang.



"Tuan Arend.? Nona Syeira.?" Teriak Meldy yang ternyata juga berada di alun-alun bersama Zid.



Tanpa basa basi, Meldy sudah duduk di kursi kosong meja Syeira dan Arend. Dan Zid pun terpaksa mengikutinya, Zid menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa sungkan karna harus mengganggu makan malam orang lain. Terlebih itu Arend, Bos nya.



Tapi Syeira nampaknya biasa saja, justru ia terlihat bahagia. Ia mulai menyukai Meldy yang ceria, centil, dan mudah bergaul.



Tak butuh waktu lama, Syeira yang notabennya cerewet bisa langsung akrab dengan Meldy yang juga selalu berisik. Bahkan tanpa di sadari mereka, gelak tawa mereka sering kali menarik perhatian orang lain. Membuat Arend dan Zid tolah-toleh ke sekeliling diliputi rasa malu. Dan jurus cengir kuda menjadi andalan mereka membalas orang yang menatap mereka. Karna kelakuan wanita-wanitanya.



"Jadi Zizi ikut tinggal bersama kalian.?" Syeira hampir berteriak, setelah Meldy mencurahkan isi hatinya pada Syeira.



Meldy mengangguk berkali-kali dengan cepat, dengan bibirnya yang dimanyunkan dan ekspresi wajahnya yang terlihat sebal. Zid bisa mengerti itu.



"Kenapa gak di suruh nge kost aja.?" Tanya Syeira lagi.



"Belum Nemu tempat yang cocok. Yang dekat dengan Perusahaan *N~A Cell*." Jawab Zid.



Syeira mengangguk, Arend tak ikut bersuara sama sekali sejak tadi. Ia sudah merasa cukup kesal dengan kedatangan Meldy dan Zid yang harus ikut nimbrung mengganggu acara dinnernya bersama sang Istri tercinta.



"Apa kalian.? Tidak berencana untuk menikah.?" Tanya Syeira agak ragu, namun ia ucapkan juga.



Zid yang tengah minum sampai tersedak mendengar pertanyaan Syeira. Arend memalingkan muka dengan senyum sinisnya melihat Zid yang kaget.



Syeira masih diam dengan menatap intens kepada Meldy dan Zid bergantian. Ia sangat ingin mendengar jawaban mereka.



Zid jelas terlihat gugup, sedangkan Meldy justru mengembangkan senyumnya sangat lebar dan malu-malu.



"Aku sangat ingin, tapi Zid tak kunjung melamarku.!" Jawab Meldy cepat sambil memainkan minumanya, lalu menatap Zid dengan gaya centilnya.



Zid menelan salivanya kasar.



"Kita bicarakan di lain hari.!" Sahut Zid. Ia kembali minum, tenggorokannya terasa kering dan tercekat tiba-tiba.



Syeira mengernyitkan kening melihat mereka berdua.



"Cepatlah menikah. Sebelum ada syetan yang mengganggu Kalian.!" Ucap Syeira yang asal nyeletuk tanpa pikir panjang, kalimat itu lolos begitu saja tanpa bimbingan.



"Meldy.?" Beberapa gadis yang gayanya hampir sama dengan Meldy menghampiri. Mereka adalah teman-teman Meldy, dan tidak sengaja bertemu disana.



Singkat cerita Meldy di ajak oleh teman-temannya itu untuk ke Club', Zid malas untuk ikut, karna ia sudah pernah merasakannya, ikut nimbrung di acara para ladies. Dan dia hanya diam seperti cicak. Jadi Meldy meninggalkan Zid dan pergi bersama teman-temannya. Tinggallah Zid menjadi obat nyamuk antara Arend dan Syeira.



"Aku balik dulu.!" Zid berpamitan pada Arend dan Syeira.



"Hati-hati.!"



"Zizi di tempatmu.?" Tiba-tiba Arend bertanya menghentikan langkah Zid.



Syeira yang tengah menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya menetap Arend dengan bingung, dan Syeira mengunyah sambil mendengarkan.



"Iya." Jawab Zid singkat.




"Aku pergi.!"



Zid berlalu, tanpa menjawab kalimat Arend. Syeira mengangguk. Sedangkan Arend hanya diam, pandangan matanya lurus ke arah lain.



"My L.? Apa maksudmu bicara seperti itu tadi pada Zid.?"



Arend menoleh menatap Syeira penuh cinta, dan terukir seutas senyum di bibirnya, Arend mengusap sedikit sisa makanan di ujung bibir Syeira dengan ibu jarinya. Membuat Syeira tersenyum malu.



"Lupakan.! Makanlah.!" Jawab Arend yang tak melepas pandangannya pada Syeira.



Syeira mengangguk, tersenyum, lalu menyendok nasi goreng yang justru ia suapkan pada Arend. Arend tersenyum senang dan menerima suapan dari Syeira.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Zid telah sampai di tempat tinggalnya, ia menutup pintu kembali.



Zizi yang berdiri di dekat jendela menoleh. Melihat kedatangan Zid.



Zid dan Zizi saling pandang, lalu Zid memalingkan muka. Seperti kata Arend. Ia harus bisa menjaga hati Zizi.



"Kau balik sendiri.? Meldy.?" Zizi mendekat dan bertanya.



Zid duduk di tepian ranjang, membuka sepatunya.



"Dia pergi ke Club', bersama teman-temannya.!"



"Kenapa tidak ikut.?"



"Aku malas.!" Jawab Zid sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang terlentang.



Zizi berdiri di tepi ranjang, melihat Zid yang berbaring dan memejamkan mata.



"Apa kau lelah.?"



"He em.!"



"Mau ku pijit.?"



"Kau bisa memijit.?"



"Akan ku coba.!"



Zid pun membuka kemejanya, menampakkan tubuhnya yang atletis, lalu ia tengkurap. Ia memang sangat lelah dengan semua rutinitasnya akhir-akhir ini.



Meldy naik ke atas ranjang, duduk di dekat Zid yang tengkurap, dan Zizi mulai menggerakkan tangannya pelan memijit punggung Zid yang keras.



"Terimakasih.!"



"Sudah berapa kali kau mengatakannya.?"



"Sebanyak apa pun aku mengatakannya, itu selalu terasa kurang. Tidak pernah cukup.!"



"Besok aku akan Carikan kost terdekat untuk mu tinggal.!"



Meldy menghentikan gerakan tangannya yang memijit punggung Zid.



"Kau mengusirku.?"



"Bukan begitu.!" Zid bangun dan duduk, ia berhadapan dengan Zizi sekarang.



Zizi menunduk, dan ia menangis.



"Hey.? Kenapa menangis.?" Zid mengelus lembut wajah Zizi. Mendongakkan kepala Zizi untuk menatap wajahnya. Zizi hanya menggeleng.



Mata Zizi terus menangis, entahlah, hatinya merasa sakit tiba-tiba saat Zid mengatakan akan mencarikannya tempat tinggal baru.



Zid mengusap pipi Zizi yang basah. Ia merasa semakin tidak tega. Wajah Zizi yang polos dan teduh. Menangis karna dirinya.



"Apa kau tidak suka jika aku tinggal disini.?"



Zid terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Matanya dan mata Zizi terus saling pandang, semakin dalam.



Zizi bergerak, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Zid. Semakin maju, Zid menyadari gerakan itu, tapi tubuhnya diam.



Zizi menautkan bibirnya pada bibir Zid, dan Zid menerima bahkan membalas tautan bibir Zizi. Mereka terus melakukannya, saling mengecup dan mengecap, membelit, dan mengeksplor semakin dalam.



Zid merengkuh tubuh Zizi untuk menempel pada tubuhnya, sambil terus saling bertaut, hingga suara pintu di buka tiba-tiba.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...