
"Mel.? Meldy.?"
Syeira terus meneriaki nama Meldy yang terus berlari. Mereka bahkan melewati tangga, bukan lift saking gugupnya.
Meldy terus berlari membawa hatinya yang telah hancur, remuk redam, itu lebih sakit dari menerima kenyataan perceraian orang tuanya, lebih sakit saat mengetahui meninggalnya sang ayah tercinta, lebih sakit dari Zid yang terus menolaknya pada awalnya. Sakit yang kini Meldy rasakan tak ada gambaran yang mampu tuk menjelaskannya.
Meldy tidak peduli meski beberapa kali ia menabrak tubuh orang-orang disana. Ia terus berlari. Air matanya membanjir, tapi suaranya tercekat.
Detak jantungnya yang gemuruh membuatnya semakin gemetaran. Meldy merasa hidupnya telah berakhir, mencintai Zid dengan pengkhianatannya, sama dengan hidup tanpa detak jantung. Sama seperti mati namun masih bernafas. Lebih sakit dari koma.
Darren yang baru saja melakukan pertemuan bisnis hendak keluar dari gedung SA City. Ia menyipitkan mata kala melihat Meldy yang menangis sambil berlari. Dan Darren semakin membulatkan mata saat melihat Syeira yang juga berlari mengejar Meldy.
Tanpa pikir panjang, Darren lekas berlari mengikuti mereka. Meninggalkan managernya yang masih berbicara padanya.
Meldy dan Syeira sudah keluar dari gedung SA City. Mereka berada di halaman depan bangunan megah tinggi menjulang itu.
"Meldy.?"
Syeira berhasil meraih tangan Meldy, lari Syeira memang sangat cepat, Syeira menghentikan langkah Meldy yang kacau tanpa arah.
Syeira lekas memeluk tubuh Meldy yang gemetar. Meski Syeira tak mengetahui apa yang sedang terjadi. Tapi ia yakin jika Meldy sangat sedih saat ini. Meldy telah patah. Pasti sesuatu yang sangat buruk telah terjadi.
"Aaaaahhhhhhhhhhhh. *hiks hiks hiks hiks*. Syeiraaa.....\_\_.?"
Meldy berteriak sekuat tenaga. Akhirnya ia bisa mengeluarkan suaranya yang begitu tercekat menyakiti tenggorokannya sedari tadi.
Syeira menangis mendengar jeritan Meldy yang perih, yang kini berada di pelukannya. Tubuh Meldy terasa sangat dingin dan bergetar. Ada syok berat yang baru saja di alaminya.
Darren telah sampai, ia berhenti di samping Meldy yang menangis hebat dalam pelukan Syeira. Darren yakin jika Meldy pasti telah mendapati sesuatu, bahkan ia juga masih sangat mengingat dengan apartemen ini saat pertama kali Meldy memaksanya mengikuti mobil kekasihnya hingga sampai pada bangunan ini.
"Aaaahhhhhhh.?? Haaaahhhh haaaaaahh, *hiks hiks hiks hiks*. Syeira.a.a.aa??"
Meldy kembali berteriak, dia menangis sejadi-jadinya. Menarik perhatian orang-orang yang berada di sana.
Syeira terus memeluk Meldy yang kacau. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Syeira hanya terus memeluk tubuh Meldy dengan erat.
Arend baru datang. Ia melihat Darren yang berada disana, Arend menatapnya tidak suka. Tapi Arend harus fokus pada Meldy saat ini.
"Cepat masuk.!"
Ucap Arend tegas pada Syeira. Orang-orang yang melihat semakin berkasak-kusuk, bahkan ada pula yang menunjuk.
Syeira membimbing Meldy untuk segera masuk kedalam mobil. Namun tubuh Meldy justru merosot, ia telah kehilangan daya dan kekuatannya.
"Mel.?" Syeira berteriak panik. Ia tak cukup kuat menopang tubuh Meldy yang lunglai.
Arend tak sempat menolong karna ia sudah berada di jok kemudi.
Untung lah ada Darren, dengan sigap Darren menangkap tubuh Meldy yang merosot.
'*Sangat dingin*.!'
Darren kaget dengan suhu tubuh Meldy yang turun rendah. Darren lekas membantu Meldy untuk masuk kedalam mobil. Lalu menutup pintu nya. Ia tak ingin bertanya apa-apa untuk saat ini, situasinya jelas terlihat kacau. Darren juga memahami masalah yang di alami wanita cerewet itu. Pengkhianatan suatu hubungan memang begitu sangat menyakitkan.
"Thank's"
Ucap Syeira pada Darren yang membantunya dengan cepat dan panik. Lalu Syeira segera masuk kedalam mobil, dan kembali memeluk Meldy yang menangis histeris.
Arend menginjak gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan pusat kota dimalam yang tak lagi damai.
Darren masih berdiri disana, melihat mobil yang membawa Meldy pergi, semakin menjauh dan akhirnya menghilang.
'*Kau akan menyesali perbuatanmu, Tuan Zid*.!'
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Arend terus melajukan mobilnya. Ia akan membawa Meldy ke sebuah hotel untuk tinggal sementara waktu disana. Dan sisanya akan ia pikirkan lagi nanti.
Arend tidak menyangka jika respon Meldy akan seperti ini, Arend berpikir saat Meldy mengetahui perselingkuhan Zid dan Zizi. Maka Meldy akan langsung menyerang mereka, akan meluapkan seluruh amarahnya dengan menghajar mereka.
Tapi Arend ternyata salah, Meldy justru berlari membawa luka batinnya sendiri. Meldy pergi dengan membawa sakit yang menggunung. Jelas itu tidak baik, karna Meldy pasti akan terpuruk setelah ini. Akan lebih baik jika Meldy langsung mengamuk tadi. Bayangan Ineke yang bunuh diri kembali hadir.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Mobil yang Arend kendarai telah memasuki halaman depan sebuah hotel. Itu salah satu hotel bintang 5 yang ada nama Papahnya Aryan disana sebagai salah satu pemilik saham. Hampir seluruh petugas hotel sudah mengenal seorang Narendra Putra Aryan. Ia salah satu orang yang harus di sambut dan di hormati di hotel ini.
Meldy tak sanggup berdiri, dia tidak pingsan. tapi tubuhnya lemah tak berdaya, gigi-giginya beradu gemeretak karna syok berat yang ia alami.
Arend dengan cepat menggendong tubuh Meldy memasuki gedung hotel. Syeira lekas bergerak mengikuti.
"Kamar VVIP.?"
Teriak Arend pada Resepsionis. Yang langsung di sambut dengan kepanikan oleh mereka. Resepsionis memberikan sebuah card untuk membuka pintu. Dan Syeira menerimanya cepat.
"Terimakasih.?"
Teriak Syeira pada Resepsionis sambil berlari.
Syeira menekan tombol lift. Pintu terbuka, dan mereka masuk.
"Lantai berapa.?"
Syeira bertanya panik.
"12"
Syeira menekan tombol.
"Hubungi Dokter.!"
Perintah Arend pada Syeira, dan langsung mendapat anggukan dari Syeira sebagai jawaban.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Flash Back On**.
"*Hei, Tuan Zid. Maukah kau makan siang bersama.?"
Meldy dengan gaya centilnya menemui Zid saat jam istirahat kerja untuk mengajaknya makan siang bersama*.
*Zid sudah sangat jengah dengan wanita ini. Meski telah ratusan dan bahkan ribuan kali ia menolak apapun ajakannya, Meldy masih terus saja mengejarnya*.
*Kembali seperti sikap biasanya. Zid enggan menjawab dan melangkah pergi. Dia selalu bersikap kaku dan dingin pada siapa saja, termasuk Meldy yang terang-terangan menyatakan cintanya padanya. Dan Meldy juga masih seperti biasanya. Meski mendapat penolakan dari Zid, ia masih terus mengekor di belakang pria yang sudah mencuri hatinya itu, berjuang dengan keras*.
*Meldy sedikit berbeda dengan wanita lain, jika wanita lain takluk pada pria yang menyukai dan mengejarnya. Meldy justru merasa risih dengan pria seperti itu*.
*Sudah begitu banyak pria yang Meldy tolak. Pria-pria ang selalu mengejarnya. Menurut Meldy, pria tipe seperti itu akan bosan pada dirinya setelah nanti dia menerimanya*.
*Dan Zid. Ini pertama kalinya Meldy melihat ada pria es batu. Dingin, kaku dan tak tertarik padanya yang cantik dan seksi. Itulah yang membuat Meldy begitu tertarik pada Zid saat pertama kali melihatnya, hingga rasa tertarik itu berubah menjadi cinta yang sangat tulus dan murni*.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Bersambung...