LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 54





Arend meminta Zid untuk menghentikan laju mobilnya, Zid mulai berpikir, pasti akan ada sesuatu yang di lakukan Arend. Dan benar saja, setelah Zid menginjak rem, dan mobilnya berhenti, Arend lekas turun, berputar arah hingga kini ia berdiri di samping pintu kemudi.



Arend membuka pintu mobil itu. Zid menatapnya bingung, Meldy apa lagi, dengan bibir nya yang di manyun-manyunkan, Meldy menyipitkan mata melihat Arend yang berdiri gagah dengan raut muka nya yang datar serta tatapan matanya yang dingin.



"Keluar.!" Satu kata yang Arend ucapakan dengan sangat tegas membuat Meldy membulatkan mata serta mulutnya yang menganga merasa tidak percaya. Arend akan menurunkan nya dengan Zid di tengah jalan.?



Zid tidak heran, itu adalah bentuk Pembalasan Arend yang merasa kesal, sekali lagi, ia harus kalah dari Arend.



Dengan raut muka kesal Zid keluar, Meldy mengikutinya di sertai dengan rengekan-rengekan manja.



Arend lantas masuk dan duduk di jok kemudi setelah Zid dan Meldy keluar, ia akan langsung menemui Syeira di tempat kerjanya. Dia harus segera menjelaskan kesalahpahaman ini pada istrinya. Arend adalah pria yang sudah belajar dari pengalaman. Rasa cemburu wanita bisa membuat mereka g!la, Arend tidak mau jika Syeira sampai melakukan hal yang tidak-tidak.



Arend lekas menginjak gas meninggalkan Zid dan Meldy yang berdiri dengan kekesalan di belakang sana. Ia tidak peduli dengan pasangan m3$um itu.



"*Iiiiiihhh,,, dasar CEO G!L4aaa*.!" Meldy berteriak setelah mobil sudah berjalan.



"*Sayang,,,.? Bagaimana dengan kita sekarang*.?" Meldy kembali merengek manja pada Zid yang masih kesal.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Ayla tengah melakukan panggilan Video Dengan Arend di sofa ruang tamu apartemen, sudah satu Minggu Aryan di Brazil bersama Aaron, hari ini adalah hari terakhir, dan Aryan akan terbang kembali ke tanah air sore nanti. Itu artinya, sebentar lagi Ayla harus kembali ke Mension Aryan meninggalkan anak dan menantunya. Dan ini adalah malam terakhirnya menginap disini.



(*Perbedaan waktu Indonesia~Brazil adalah Waktu Indonesia Bagian Barat lebih cepat 10 jam dari Brazil. Dan penerbangan yang di lakukan adalah 24 jam lebih*.)



Ayla tidak menyiapkan makan malam, tadi Arend sudah menghubunginya, dia akan membawa makanan siap saji untuk acara makan malam mereka.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Syeira mengusap wajahnya dengan beberapa lembaran tisu yang selalu di bawanya di dalam tas. Ia sudah cukup lama menangis. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ia akhirnya bisa berhenti menangis juga.



Syeira berniat tidak pulang ke apartemen, ingin rasanya ia pulang kerumah kasih, namun Ayla sang mama mertua masih ada disana, akan timbul kekacauan jika ia tidak pulang ke apartmen.



Setelah berpikir dalam tangis, Syeira memutuskan untuk tetap pulang ke apartemen Arend. Dan dia akan mendiamkannya saja. Sebagai bentuk kekesalannya. Syeira sudah merasa begitu sakit hati dengan suara d3$4h4n-d3$4h4n memalukan dari seorang gadis tadi.



Syeira keluar dari gedung, ia melangkah cepat. Saat di halaman depan Bim yang masih di sana berbicara dengan karyawan lain melihat Syeira yang baru keluar.



"Syeira.?" Bim memanggilnya.



Syeira menoleh dan berhenti, Bim berlari kecil ke arahnya.



"Ra.? Kamu habis nangis.?" Bim bertanya. Memang wajah Syeira terlihat sangat sembab, hidung nya nampak merah, dan matanya sudah terlihat bengkak. Syeira menggeleng sebagai jawaban. Bim bisa mengerti, Syeira tidak mungkin menceritakan masalahnya.



"Mau pulang.?" Bim kembali bertanya, dan Syeira mengangguk sebagai jawaban.



"Mau aku antar.?" Bim kembali bertanya, dia akan merasa sangat senang jika Syeira bersedia untuk pulang bersamanya. Syeira sempat berpikir, dan akhirnya dia mengangguk. Bim tersenyum lebar mendapat jawaban persetujuan.



"Aku ambil mobil dulu.!" Bim berlari segera untuk mengambil mobil nya yang masih di area parkir. (*Itu adalah mobil perusahaan yang biasa Bim pakai sehari-hari*.)



Bim sudah datang, ia kembali turun dari mobil hendak membukakan pintu untuk Syeira. Itu belum pernah Bim lakukan sebelumnya, bahkan Syeira sampai bingung melihat sikap Bim yang berusaha romantis padanya.



Arend sampai tepat waktu, ia menghentikan laju mobilnya tepat di depan mereka yang berdiri di samping pintu mobil yang akan mereka naiki.




Tanpa basa-basi maupun permisi. Arend lekas meraih tangan Syeira, menariknya agar masuk kedalam mobil.



"Lepp\_paas.!" Syeira berusaha menolak dan memberontak ingin melepaskan cengkraman tangan Arend pada tangannya.



Tapi tenaga Arend jelas lebih kuat, dengan sekali tarik Syeira sudah mengikuti gerak langkahnya.



Arend lekas membuka pintu lalu mendorong Syeira agar masuk kedalam mobil. Syeira sempat ingin kembali keluar namun Arend dengan kasar dan keras mendorong pintu mobil nya hingga berbunyi keras membuat Syeira kaget dan diam.



Bim yang melihat nya tidak suka, jelas Syeira tidak mau pergi dengannya, ia berlari dan hendak menghentikan Arend yang akan membawa Syeira. Namun hanya dengan satu gerakan Arend yang menahan dadanya di sertai tatapan tajam, membuat Bim berhenti. Kening Bim bahkan mengernyit menahan sakit di dada akibat tangan Arend yang menahan tepat di dadanya.



Arend lantas melepas tangannya di dada Bim. Ia berjalan angkuh memutar, membuka pintu mobil, masuk, dan duduk di jok kemudi. Ia lantas mengunci otomatis pintu.



Syeira hanya bisa diam membulatkan mata mendapati semua perbuatan Arend padanya.



Arend menginjak gas, melajukan mobil dengan kecepatan sedang membelah jalanan pusat kota yang ramai lancar. Senja terlihat semakin menjauh, hari yang cerah akan segera berganti menjadi petang.



Syeira memalingkan muka melihat ke samping, menatap ke kaca mobil yang menampakkan pemandangan para pengendara lainnya diluar sana. Hatinya sangat sakit, dan air matanya kembali lolos.



"Aku tidak bersalah.!" Arend mengatakan sesuatu. Satu kalimat yang pasti akan di nilai salah dan sebagai kebohongan semata di telinga kaum wanita. Apa lagi setelah suara saru yang terdengar nyata sebelumnya.



"Penjahat memang tidak ada yang mengaku jika dirinya bersalah.!" Sangkal Syeira. Yang dengan tersirat menyatakan jika Arend memanglah bersalah.



"Itu ulah Meldy dan Zid di mobil.!"



Syeira lekas menoleh menatap tajam pada Arend yang melihat lurus kedepan dengan muka datar.



"Mereka berc!nt4 di mobil.? Dan kau melihatnya.?"



'*Iisshh*.?' Arend kembali risih mengingatnya.



"Tidak, mereka hanya ingin mengerjai ku, tapi aku sudah mengusir mereka. Aku turunkan mereka di jalan.!"



"Sungguh kau melakukannya.?" Syeira kembali memastikan. Arend mengangguk sebagai jawaban.



"Aku sangat mencintaimu, bagaiman kau bisa berpikir kalau aku bisa melakukannya dengan wanita lain. Kau adalah satu-satunya. Hanya kau!"



Ucap Arend yang di rasa sudah sangat romantis, itu adalah kalimat yang terucap begitu saja tanpa susunan narasi sebelumnya. Ungkapan cinta yang tulus.



Suasana hati Syeira berubah dengan cepat. Ternyata apa yang dikhawatirkannya tidak lah benar terjadi. Itu hanya lah pikirannya saja yang bukan-bukan.



"Kita mampir dulu beli makanan.!"



Syeira mengangguk sambil tersenyum, ia merasa senang sekarang, namun ia berusaha menahan untuk tidak terlalu menunjukkannya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



\**Adakah yang masih ingat dengan negara Brazil. Author akan bawa kalian jalan-jalan esok hari kesana*.



*Siapa saja kah yang akan kita temui disana.? Ada yang ingat*\*.?