LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 128





DK dan Meldy duduk di kursi mereka. Secara tak sengaja Meldy melihat Zico, Zid dan Mikaila yang duduk di deretan bangku lain. Zico, Zid dan Mikaila pun melihat Meldy yang datang bersama DK.



Mikaila melempar senyum dan menganggukkan kepala pada Meldy dari kejauhan. Dan Meldy melakukan hal yang sama.



Zico memalingkan muka seakan tak peduli. Meldy melihat itu, dan Zid masih terdiam, ia terpaku, melihat Meldy dengan penampilannya yang sungguh menawan, tapi justru tangan DK yang menggandengnya mesra.



Meldy duduk setelah DK kembali mempersilahkannya. Dan Meldy tersenyum kaku.



"Aku nanti ada perform. Mungkin tampil antara 5 atau 6 menit, jadi aku terpaksa harus meninggalkanmu sejenak nanti. Tapi mungkin karna persiapan juga. Aku harus meninggalkanmu lebih lama."



DK mengatakan pada Meldy tentang rencana performnya. Dan Meldy mengangguk.



"Apa mereka benar sudah jadian?" Zico bertanya pada Zid.



"Kurasa!" Jawab Zid singkat. Zico hanya tersenyum *Smirk*.



Mikaila sibuk memainkan ponselnya. Ia bertukar pesan singkat dengan Rain. Setelah hampir satu Minggu, dan Rain sama sekali tak mengabarinya. Mikaila pun akhirnya menyerah, dia menurunkan ego dan gengsinya untuk terlebih dulu menghubungi Rain. Meski hanya sekedar menanyakan kabar, karna saat Mikaila membahas hal lain yang lebih intens. Rain akan mengabaikannya. Serba rumit.



Waktu terus berlalu, Zico sangat menikmati acara. Zid masih terus fokus menatap Meldy yang berada di bangku deret sebrang sana. Dan Mikaila sibuk berbalas pesan singkat dengan Rain. Biarlah kisahnya seperti ini. Mikaila sudah cukup senang meski hanya hal kecil seperti ini yang bisa ia lakukan.



Zid membulatkan mata. DK berbisik di telinga Meldy, lalu DK melangkah pergi meninggalkan Meldy sendiri.



Acara berlanjut pada pemberian penghargaan award apresiation perusahaan. Dan pemenangnya jatuh pada perusahaan Aryan. Zico berdiri gagah, ia menggandeng tangan Mikaila untuk ikut bersamanya naik ke atas panggung megah itu. Menerima penghargaan dan memberikan sepatah dua patah kata.



Meldy terus melihatnya.



'*Apakah Zico dan gadis itu? Aaahh? Apa yang ku pikirkan. Biarkan saja dia mau dengan siapa. Apa peduliku*.'



"Terimakasih!" Ucap Zico mengakhiri kalimatnya. Semua orang pun bertepuk tangan dengan meriah.



MC membacakan acara selanjutnya.



"Okay, kita akan menikmati penampilan luar biasa dari penyanyi terbaik kita tahun ini. DK!"



Kembali suara riuh tepuk tangan memenuhi seisi gedung.



Panggung gelap, semua lampu mati, terdengar suara musik yang mulai di mainkan. Hingga satu light menyala tepat di tengah menyorot DK yang berdiri seorang diri. Dan dia mulai menyanyi.



Para penggemarnya yang berada jauh di deretan kursi belakang meneriaki namanya dan juga ikut menyanyi dengan keras. Dia memang bintang yang sedang terang-terangnya.



Sekitar 2 menit lebih satu lagu mendayu yang ia bawakan selesai. Tiba-tiba lampu berubah. Musik kembali di mainkan. Dan riuh penonton serta para penggemar semakin menggema luar biasa.



DK sudah mengganti mic nya yang terpasang di kepala dan menempal pada pipinya.



Zizi datang dari belakang, langsung memeluk tubuh DK sesuai koreografi yang di berikan. Mereka berdansa bersama dengan sangat memukau. Tarian yang seksi, panas dan intens. Para penggemar semakin berteriak kencang.



Meldy dan Zid membulatkan mata. Mereka sangat terkejut, bahkan Zico pun menyipitkan matanya menatap panggung semakin tajam. Meyakinkan dirinya jika kini yang ia lihat tidaklah salah.



'\*Zizi?.'



'Zizi\*?.'



"Bagaimana mungkin?."



DK terus menyanyi dan menari dengan Zizi. Gerakan-gerakannya sangat luar biasa ekstrim tapi sangat seksi. Sangat intens. Meliyuk, melompat, membungkuk, memutar dan menghentak.



Pakaian yang Zizi kenakan pun terbuka di beberapa titik yang menunjang keseksiannya.



Mereka terus menari hingga pada satu titik gerakan akhir. Tubuh Zizi memutar dan DK menarik tangannya kasar hingga tubuh Zizi menempel sempurna memeluk DK.



"Aaaahh?." Teriak Zizi tertahan menahan sakit yang ia rasakan. Tapi wajah Zizi yang berada di ceruk leher DK tak terlihat oleh kamera maupun orang-orang jika kini ia mengernyitkan kening karna sakit di area perutnya.



Lampu kembali padam.



"Zi.?" DK kaget karna tubuh Zizi tiba-tiba melemah. Dan dia bahkan berteriak tadi. Meski tak seorangpun yang mendengar dan hanya DK yang mendengarnya.



"To\_long a-aku?"



"Kau kenapa?" DK lekas membopong tubuh Zizi pergi sebelum lampu kembali menyala. Mereka tak menghiraukan tepuk tangan yang menggema sebagai apresiasi dari penampilan luar biasa mereka.




DK lekas membawa Zizi ke ruangannya. Orang-orang dari agensi mereka jelas kaget.



"Ada apa?."



Wajah Zizi terus mengernyit, ia memegangi perutnya. DK membulatkan mata menyadari adanya darah yang mengalir di kaki Zizi.



'*Tidak. Apa dia*.?'



DK langsung membawa Zizi kembali kedalam gendongannya. Ia melarikan Zizi keparkiran dengan bantuan para staf agar tidak di ketahui media.



"Ada apa ini, DK?"



"Kita bicara lagi lain kali. Aku harus pergi sekarang!."



DK mengabaikan orang-orang agensi yang menanyainya. Ia langsung masuk kedalam mobil setelah Zizi ia masukkan lebih dulu. DK membawa Zizi ke Rumah Sakit.



"Aaahhh? Sak-kiiit?" Zizi merintih, ia terus memegangi perutnya. DK bisa melihat jelas darah yang mengalir dari paha hingga ke betis dan kakinya.



'*Gila. Apakah dia sedang hamil? Jika benar, jelas semua yang dilakukannya membahayakan kandungannya*.'



"DK?" Jerit Zizi. Ia mencengkeram lengan DK menahan sakit yang luar biasa.



"Bertahanlah, kita akan segera sampai."



15 menit kemudian. DK memasuki halaman utama sebuah Rumah Sakit terdekat. DK lantas dengan cepat ia kembali menggendong tubuh Zizi memasuki Rumah Sakit dan dia berteriak meminta tolong. Zizi di masukkan ke ruang IGD.



"Sial. Kenapa aku begitu yakin jika Zizi sedang hamil? Dan itu pasti anaknya Zid. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"



DK merasa cemas sendirian. Ia memainkan jarinya pada ponsel dengan cepat. Orang pertama yang harus ia hubungi adalah Meldy, biar bagaimanapun, Meldy akan menunggu kedatangannya setelah perform.



"Apa. Kenapa kau meninggalaknku?" Meldy menerima telepon dari DK dan DK mengatakan maaf karna ia sudah terlebih dulu pergi dari gedung acara.



"*Aku tidak bermaksud, ini darurat*." Suara DK dari seberang sana terdengar sangat panik.



"Ada apa?" Meldy pun sama halnya. Ia mulai khawatir.



"*Aku belum bisa memberikan jawaban secara pasti. Tapi*?"



"Tapi apa?"



"*Kau lihat siapa yang menjadi partner dance ku tadi kan*?"



"Iya. Zizi."



"*Dia pendarahan*."



"Apa?. Kenapa?"



"*Aku tidak tahu, kalau kau bisa kesini, itu akan lebih baik. Aku merasa sangat cemas sendirian sekarang*."



"Kau tidak sedang berusaha menjebak ku, kan DK? Atau bekerja sama dengan Zizi?"



"*Apa aku segila itu*?"



"Iya, baiklah. Aku percaya. Kau dimana?" Meldy mendengarkan dengan baik ketika DK menyebutkan satu nama Rumah Sakit. Dan dia mengangguk lalu menutup sambungan teleponnya.



Zid terus mengamati sejak tadi. Meldy sudah berdiri. Dan dia lekas pergi keluar.



"Mau kemana dia?"



Zico menatap Zid yang bergumam dan arah pandangannya menatap Meldy yang berjalan keluar dengan tergesa.



"Kalau kau ingin tahu, cepat ikuti. Kenapa kau hanya diam saja disini?" Zico membuka suara.



Zid lantas lekas berdiri dan melangkah mengejar Meldy, ia takut sesuatu yang buruk telah terjadi.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...