LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 106





"Zico.? Apakah kamu bisa memanggilkan Ayah, ibu, Kakak dan keluarga ku. Dan juga Syeira.?"



"Cellin.? *Hiks hiks hiks*."



Syeira dan semua orang sebenarnya sudah ada di dalam ruang rawat Cellin sejak tadi. Mereka hanya berdiam diri sambil menahan tangis. Mendengar setiap kata dari obrolan Cellin dan Zico, bahkan menahan tawa saat Cellin dan Zico membahas malam pertama mereka.



Sebuah tirai menjadi pembatas di antara mereka.



Cellin mengernyitkan kening dan memegangi kepalanya sendiri dengan kedua tangannya. Kepalanya sangat sakit.



"Cellin.? *Hiks hiks hiks*.!" Zico berteriak panik. Ia tak lagi bisa menahan tangisnya.



"Syeira.? Kakak? Ibu.? Cepat kemari.?" Zico berteriak. Ia takut. Sangat takut. Badan Cellin sangat dingin.



Cellin di baringkan dengan benar di ranjang. Ia tak lagi memegangi kepalanya yang berdenyut sangat sakit. Seakan mau pecah.



"Cellin.?"



"Putri ku.?"



"Cellin.?"



"Cellin.?"



Semua orang datang dan sudah menangis.



Samar-samar Cellin bisa melihat semua orang yang sudah hadir disana. Cellin tersenyum bahagia. Ruangannya yang tadi terasa sunyi dan sepi sekarang di penuhi oleh bayangan-bayangan orang-orang yang disayanginya.



"Ibu.? Ayah.? Kakak.?"



Mereka semua yang di panggil Cellin mendekat. Memeluk dan mengecup Cellin satu persatu.



"Tolong maafkan semua kesalahan Cellin selama ini.? Cellin merasa waktu Cellin semakin dekat. Cellin sayang sama kalian semua. Tapi Allah lebih sayang sama Cellin.! Tolong ikhlaskan Cellin pergi.?" Suara Cellin terdengar serak dan sumbang.



"*Hiks hiks hiks*.!"



Semua orang menangis. Zico kini berada dalam pelukan Syeira. Ia menggigit kuat bibirnya sendiri menahan tangisnya yang ingin meledak. Tidak ada Arend maupun Ayla yang menguatkannya, yang menjadi sandarannya. Syeira hanya bisa menangis. Meldy menangis dan berdiri mematung.



"Syeira.?"



Kini Syeira yang berjalan mendekat, bersama Zico.



"*Hiks hiks hiks*.!" Tangis Syeira pecah. Ia tak bisa menahannya. Darah yang keluar dari hidung Cellin membanjir hingga ke lehernya mengenai bantal dan sprei.



Zico meraih tisu dan ia lekas mengusap darah Cellin.



"Terimakasih.! Hiks hiks hiks.!" Ucap Cellin sederhana penuh makna pada Syeira yang sudah merawatnya selama ini.



Cellin kembali memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Matanya tak lagi bisa melihat apa-apa. Semuanya menjadi putih dan berkabut. Ia tak merasakan udaranya yang ia hirup masuk kedalam hidungnya.



Tapi Cellin masih bisa mendengar suara semua orang, dan dia bisa merasakan tangan Zico yang menyentuhnya. Membelainya.



"Su\_ a\_mi\_ku.?" Tangan Cellin bergerak. Ia mencari keberadaan Zico. Suaranya sudah terbata-bata karna sakit yang begitu kuat terasa di kepalanya.



"Aku disini.! *Hiks hiks hiks*.!" Zico lekas menggenggam kedua tangan Cellin.



"Mau kah kau menemaniku tidur.? Sekali lagi.?"



Zico memejamkan mata, deraian air matanya lolos membanjiri pipinya. Mendengar permintaan sang istri tercinta.



Mata Syeira pun terpejam kuat mendengar ucapan Cellin. Zico menunduk, kepalanya bertumpu pada kedua tangannya yang memegang erat kedua tangan Cellin.



Nafas Cellin sudah sangat berat, Cellin terus menarik nafas dalam. Hampir seluruh jaringan otaknya mulai terkena aliran darah aneurisma yang pecah. Tubuhnya mulai tak bisa bergerak. Jantungnya melemah. Matanya mulai terpejam. Hanya nafasnya yang begitu berat yang menyatakan Cellin masih hidup.



Syeira lekas membantu Zico agar naik ke ranjang. Ibu Cellin sudah jatuh di lantai. Ayahnya menangis dalam diam di kursi roda yang di jaga oleh kakak iparnya.



Kakak Cellin pun sama halnya. Ia terduduk berselonjor dilantai dengan deraian air matanya. Putra kecilnya memeluk tubuh sang ayah, Kakaknya Cellin yang lemah tak berdaya.



Zico sudah naik keatas ranjang rawat tempat Cellin berbarinh. Ia memposisikan dirinya berada di belakang Cellin. Memeluk tubuh istrinya yang sudah tak berdaya itu, dengan posisi duduk.



"**Heehh Haaahhh**.?"



Nafas Cellin sangat berat. Zico semakin menangis memeluk tubuh istrinya dari belakang. Syeira hampir tumbang. Tapi ia tak boleh lemah saat ini.




"Nak Zico.? Bimbing Cellin untuk melafalkan kalimat thayibah. Laailaahaillallah.? *Hiks hiks*.!"



Budhe Cellin mendekat, berdiri di tepi ranjang Cellin sisi lainnya. Berhadapan dengan Syeira.



Hati Zico sangat bergetar, tubuhnya sendiri gemetaran. Zico lantas menundukkan kepalanya di ceruk leher Cellin. Dan dia mengatakan kalimat thayyibah itu di telinga Cellin dengan pelan karna ia sedang menangis.



'*Apakah ini sudah saatnya Ya Allah.? Aku masih menginginkan agar hidup istriku lebih lama lagi. Akan kah engkau memanggilnya saat ini y Allah.? hiks hiks hiks*.'



Zid baru datang. Ia baru selesai di obati. Tangannya di jahit dan di perban. Zid begitu kaget saat memasuki ruang rawat Cellin.



Semua keadaan sudah tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Semua orang jatuh dalam kesedihan.



Zico mulai berbisik di telinga Cellin.



"Laailaahaillallah..\_\_\_ *Hiks Hiks hiks*.!" Lirih Zico pelan.



Cellin masih bisa mendengarnya. Bahkan ia tersenyum mendengar kalimat yang Zico ucapakan. Cellin hanya diam dengan nafasnya yang semakin lemah.



"Laailaahaillallah..?\_\_!"



Zico kembali mengulanginya karna Cellin masih bernafas.



"Laailaahaillallah.!"



Sontak semua orang menatap Cellin. Wanita cantik itu mengucapkan kalimat thayyibah yang di bisikkan Zico di telinganya dengan lancar dan fasih. Menjadi kalimat terakhir yang Cellin ucapkan setelah nafasnya yang begitu lemah tak lagi berhembus.



"Alllaaaaaaah\_\_\_.?????" Budhe Cellin berteriak.



Tubuh Meldy merosot. Dan Zid lekas menangkapnya. Wanita yang di cintai nya dan sangat di rindukannya itu kehilangan daya tubuhnya melihat seorang teman meregang nyawa.



Zico memeluk erat Cellin yang tak lagi bernyawa. Syeira menjatuhkan kepalanya di tepian ranjang Cellin, memegang kaki Cellin yang dingin. Papa Cellin hanya diam memejamkan mata di kursi roda, air matanya membanjir. Ibu Cellin sudah tak sadarkan diri.



'*Cellin*.?'



"Innaalillaahi, wainnaa ilaihi rooji'un.?"



Para Dokter dan perawat yang datang pun tak kuasa menahan sedih, mereka semua menitikkan air mata.



Zico terus menangis, memeluk tubuh Cellin semakin erat, ia menciumi wajah istrinya yang pucat, ayu, Manis dan teduh.



'*Berjanjilah padaku. Kamu hanya akan menangis selama satu hari saat aku pergi nanti*.!'



Kalimat-kalimat yang Cellin katakan kembali terngiang-mgiang di telinga Zico.



Gambaran-gambaran pertemuan mereka saat pertama kali. Semua berkelebat dalam benak Zico.



Zico yang melihat Cellin di jalur menyeberang lampu merah membantu anak-anak difabel.



Cellin yang memergoki Zico hampir bercinta dengan seorang wanita dilift lalu ia berteriak.



Cellin yang di jemput tunangannya saat pulang kerja dan Zico yang membantu memasang helmnya.



Cellin yang di bawa paksa tunangannya ke Club' dan di tolong Zico.



Semuanya. Hingga mereka akhirnya bisa menikah. Kenangan-kenangan itu berkelebat dalam benak Zico yang menangis memeluk tubuh Cellin yang sudah tak bernyawa.



'*Hiks hiks hiks*.!' Zico hanya bisa menangis mengiringi kepergian Cellin untuk selama-lamanya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



***POV Cellin***.



"*Ini adalah saatnya aku pergi, Ini adalah saatnya untuk aku mengucapkan selamat tinggal, Kau harus hidup tanpa aku. Aku menyayangimu, dan tuhan lebih menyayangiku.



Perjalananku di dunia telah usai, kini kau harus melanjutkan hidupmu tanpa diriku. Berbahagialah.! Hanya itu keinginanku*".



***POV Zico***.



"*Tuhan mempertemukan aku pada dirimu, ia lantas mendekatkan kita, dan aku mencintaimu. Tapi tiba-tiba ada jarak yang membentang antara aku dan kamu. Jarak yang tak bisa tuk ku tempuh.



Kisah cinta kita berakhir tidak lengkap*."



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...