Inevitable War

Inevitable War
Episode 99 : Straregi Perang



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17**PART BONUS**yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )




Mata Mischa tertuju pada mangkuk-mangkuk kosong di depannya, isi dari mangkuk itu tandas tak bersisa, menunjukkan berapa porsi makanan yang telah dia habiskan.


Pipi Mischa memerah karena malu ketika menghitung mangkuk demi mangkuk kosong yang menumpuk di depannya. Tanpa sadar tangannya mengusap perutnya kembali, sedikit  mengerutkan kening karena bahkan dengan porsi yang sedemikian besar, perutnya belum juga terasa penuh.


Pintu ruangan terbuka dan budak-budak melangkah masuk tanpa kata, tanpa mencoba berinteraksi dengan Mischa. Tatapan mata mereka kosong dan sikap mereka laksana robot, melakukan pekerjaan yang telah diinstruksikan kepada mereka.


Mischa menatap mereka semua dan tiba-tiba saja merasa sedih.


Budak-budak itu dulunya adalah manusia, sama seperti dirinya, sekarang mereka hidup dengan jiwa kosong, terpengaruh oleh racun Zodijak yang membuat mereka tidak punya daya dan kuasa atas tubuhnya sendiri, laksana boneka tali yang hanya bergerak jika digerakkan oleh pemiliknya.


Manusia-manusia yang diubah menjadi budak ini jumlahnya sangat banyak, itu terjadi karena Bangsa Zodijak cenderung tidak membunuh manusia-manusia yang sehat dan memilih menjadikannya budak. Seandainya saja ada racun penawar untuk mengembalikan budak-budak ini supaya hidup seperti semula dengan kemerdekaan atas tubuh mereka sendiri, Mischa akan berjuang untuk mendapatkannya.


Ayahnya dulu melakukan penelitian untuk mencari racun penawar itu, dalam usahanya untuk mengembalikan daya kaum manusia atas tubuhnya sendiri, sayangnya sebelum berhasil mendapatkan penawar atas racun itu, ayahnya telah dibunuh oleh pasukan Zodijak.


Tetapi Mischa kebal terhadap racun Aslan…. meskipun dia juga tidak tahu apakah dia kebal terhadap racun yang lainnya.


Para pemimpin Zodijak bersaudara tersebut sepertinya tidak mau mengambil resiko untuk mencoba menggigit Mischa dengan racun yang lain selain racun Aslan karena taruhannya adalah nyawa Mischa sendiri.


Pertanyaannya adalah kenapa Mischa kebal? Apakah jangan-jangan tanpa dia ketahui, ayahnya telah memberikan sesuatu di tubuhnya? Benarkah itu? Kalau benar itu yang terjadi, berarti penemuan ayahnya bukan hanya penawar racun Zodijak, tetapi juga menciptakan suatu ramuan yang menyebabkan kekebalan terhadap racun Zodijak?


Tetapi sepertinya itu tidak mungkin. Ada Natasha yang menjadi contoh kasus di luar Mischa, dan mereka bilang Mischa merepresentasikan apa yang terjadi pada Natasha sebelumnya, baik itu kekebalan maupun perubahan darah mereka menjadi air suci Zodijak perlahan-lahan, bedanya Natasha bereaksi terhadap Kara sedang Mischa bereaksi terhadap Aslan.


Jika memang Mischa menjadi seperti ini karena penelitian ayahnya, maka Natasha menjadi seperti itu karena apa? Belum lagi dengan Sasha? Mereka bilang Natasha sangat mirip dengan Mischa, pun Sasha yang juga memiliki ciri fisik seperti warna rambut, warna mata yang sama dengannya, tetapi Mischa tahu persis, ketika ayahnya masih hidup dan mereka menjalani hidup bersama di dalam bunker penelitian tersembunyi, tidak pernah sekalipun ada sosok seperti Natasha atau Sasha dalam hidup mereka.


Budak-budak itu menyelesaikan pekerjaannya ketika Mischa masih melamun, mereka mengganti menu yang kosong dengan menu baru yang masih segar, membersihkan piring-piring kotor dan menyiapkan segala sesuatunya sehingga kebutuhan Mischa untuk makan terpenuhi.


Lalu tanpa kata, budak-budak itu melangkah meninggalkan ruangan kembali, membuka pintunya lalu melangkah pergi.


Bersamaan dengan itu, ada sosok yang muncul di ambang pintu, membiarkan dirinya dilewati oleh para budak berwajah datar, lalu mengalihkan pandangan dan mengangguk sedikit ke arah Mischa.Mischa sendiri membelalakkan mata,


“Kara?” tanyanya seolah tak percaya karena Kara berani muncul di sini, di wilayah Aslan untuk menemuinya.


 



 


“Aslan?”


Khar dan Sevgil bisa saja melawan tentara-tentara kaum bawah tanah itu jika mereka memang manusia, bahkan jika mereka adalah manusia yang telah ditingkatkan kemampuannya seperti Vladimir dan kawan-kawannya, sepertinya Khar dan Sevgil juga bisa melawan mereka.


Dengan ketahuannya Khar, maka pupus sudah rencana mereka untuk menyusupkan informan ke dalam markas milik kaum bawah tanah guna mengetahui apa sebenarnya yang sedang mereka rencanakan serta memetakan kekuatan musuh.


Tidak ada cara lain selain mengambil kaum bawah tanah yang saat ini ada untuk bahan penelitian atau tawanan yang bisa dipaksa memberikan informasi. Untuk itu, lebih baik mereka mendapatkan seluruh tentara kaum bawah tanah ini dalam keadaan hidup.


Jika Khar dan Sevgil menghadapi sendirian, mereka kalah jumlah sehingga tidak ada yang bisa dilakukan selain membunuhi kaum bawah tanah tersebut satu persatu sampai habis dan tak terkalahkan. Itu tidak boleh terjadi, dan karena rencana mereka untuk hanya mengawasi gagal, maka yang terbaik adalah memberikan bantuan kekuatan penyerangan sehingga mereka bisa mengurusi satu orang satu dan membawa musuh mereka kembali ke markas dalam keadaan hidup-hidup.


Mata Aslan menyapu padang pasir yang luas membentang di bawah mereka. Seluruh pasukan sudah bersiaga mengelilingi lokasi, sengaja mengambil tempat yang tinggi karena di dalam peperangan ruang terbuka, yang berada pada posisi yang tinggilah yang menang.


Dengan kecepatan mereka, hanya membutuhkan waktu tidak sampai satu menit untuk menuruni bukit, menyeberangi padang pasir, menembus reruntuhan bangunan untuk mencapai lokasi bawah tanah dan menemui musuh-musuh mereka.


Dengan cepat Aslan mengkalkulasi waktu, memikirkan pengaturan strategi di dalam pikirannya untuk kemudian membagi ke seluruh anak buahnya, sebelum kemudian menggumamkan instruksi yang berlaku untuk semuanya.


“Kita menyerang. Sekarang.” Aslan memutuskan dengan cepat, tidak ada keraguan dalam suaranya.


 



 


“Kau bisa mendapat masalah besar kalau muncul di sini,” Mischa berucap perlahan dengan suara hat-hati.


Kara tersenyum miring, lalu mengangkat bahu.“Semua orang bilang begitu tapi aku tak peduli,” tatapan Kara benar-benar menunjukkan ketidakpeduliannya. Meskipun saat ini dirinya masih disangga dengan kruk dan susah payah berjalan, Kara tampaknya tidak kesulitan melakukan itu semua,


“Boleh aku masuk?” Kara bertanya kemudian meminta izin.Mischa mau tak mau menganggukkan kepala. Dirinya duduk di tepi ranjang, sementara Kara melangkah mendekat ke arahnya.


Entah kenapa dia teringat akan pertemuan pertamanya dengan kara dahulu ketika lelaki itu memperkenalkan diri dengan ramah meskipun Mischa memandangnya bermusuhan. Saat itu Kara duduk bersila di tengah ruangan dengan sikap tidak berbahaya.


Mata Mischa memandang kondisi Kara yang saat ini berdiri di tengah ruangan dan tahu bahwa Kara hendak duduk bersila lagi.


Mischa mengerutkan kening ketika menyadari kruk penyangga di bawah lengan Kara dan menunjuk ke sebuah kursi.


“Lebih baik kau duduk di kursi?” tawar Mischa berusaha sopan.


Kara mengangguk, perlahan menarik kursi tersebut dan duduk di sana, tepat di harapan Mischa yang duduk di tepi ranjang. Kruknya diletakkan begitu saja, disandarkan pada dinding ruangan.


Mata Kara melirik ke arah lemari makanan khusus perempuan hamil yang sudah tersedia di dalam ruangan dan tersenyum.


“Aslan sudah memastikan kau makan dengan baik,” ujarnya lembut, “Bagaimana kondisimu?”


*Pertanyaan itu membuat Mischa meringis. Bagaimana kondisinya? terbangun dan menemukan dirinya hamil anak dari alien yang dia benci?*Tentu saja kondisinya buruk!


Kara rupanya tidak memerlukan jawaban dari Mischa, ekspresi Mischa sudah mewakili semua. Pada akhirnya Kara hanya tersenyum, dipenuhi oleh rasa bersalah.


“Maafkan saudaraku. Maafkan kami,” bisiknya perlahan, tiba-tiba saja napasnya terasa berat. “Aslan akan menjagamu, dia akan sangat menjagamu. Kami, Lelaki Zodijak sangat menjaga perempuan kami ketika sedang mengandung,” tiba-tiba saja napas Kara terdengar berat, “Jika perempuanku yang sedang mengandung… aku juga akan sangat menjaganya…”


Mischa mengerutkan kening, menatap Kara dengan saksama. Kali ini Kara sangat berbeda dengan yang terakhir dilihatnya.


Lelaki itu tampak… rapuh.


Yah… meskipun pandangan Mischa mengenai Lelaki Zodijak selalu berhubungan dengan sosok kaum bertubuh kuat mengerikan yang kejam, sosok Kara saat ini entah kenapa tidak terlihat mewakili itu semua.


Kara malahan terlihat lebih mirip manusia, manusia yang sedang memikul beban jiwa dan tergayuti oleh rasa sedih yang amat sangat.


“Apa… yang terjadi?” pada akhirnya Mischa tidak bisa menahan diri untuk bertanya, dan entah kenapa dia merasa prihatin padahal belum mengetahui jawaban Kara.