Inevitable War

Inevitable War
Episode 81 : Rasa Penasaran



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M E R


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


 


 


 



 


Mata Mischa membelalak lebar, tak percaya dengan kalimat yang diucapkan Aslan dengan pongahnya. Sementara itu Aslan malahan menatap Mischa dalam-dalam, lalu seulas senyum muncul di bibirnya, senyum aneh yang tidak pernah muncul sebelumnya. Seperti senyuman anak kecil yang bahagia karena mendapatkan mainan kesukaan yang telah lama diimpikan.


“Aku telah menunggu saat-saat ini seharian,” Aslan menarik Mischa ke dalam pelukan, mengetatkan kedua lengannya di belakang punggung Mischa supaya tubuh perempuan itu menempel erat di tubuhnya dan tak bisa lepas.“Kau tahu betapa aku menunggu saat-saat ini? Seharian yang kupikirkan hanya dirimu, aku tidak sabar menunggu apa yang kau lakukan padaku, aku menghabiskan hariku dengan membayangkan bagaimana rasanya jika kau menyentuhku,” Aslan menundukkan kepala dan mendekatkan bibirnya ke telinga Mischa ketika berbicara, sengaja berbisik pelan hingga membuat bulu kuduk Mischa merinding.


Mischa menumpukan kedua telapak tangannya di dada Aslan dan menjauh, berusaha menjaga supaya kepalanya tidak menubruk dada bidang itu dan mendongakkan kepala untuk menatap Aslan dengan tatapan mata penuh cibiran.


“Yang ada di kepalamu memang hanya pikiran mesum yang tak berbatas. Kalau saja bukan demi Sasha, aku tidak akan mau melakukan ini semua!” Mischa lupa nasehat Kara supaya dia tidak mengeluarkan kata yang memancing kemarahan Aslan, karena hal ini akan membuat Aslan semakin susah untuk dilunakkan.


Tetapi ucapan Mischa itu rupanya tak membuat Aslan marah karena lelaki itu malahan tampak senang, terkekeh pelan sambil  melepaskan pelukannya sebelum kemudian menarik tangan Mischa dan menyeretnya kembali untukmemasuki ruang mandi.


Ruang mandi itu lebar dengan nuansa marmer hitam yang memenuhi baik lantai, dinding, maupun atapnya, sementara sebuah kolam mandi besar terbentang di depan mereka. Tetapi Aslan melewatkannya dan menarik Mischa untuk memasuki ruang mandi pancuran dengan kaca buram tebal yang membatasi keempat sisinya.


Aslan kemudian menyalakan pancuran air sambil tidak melepaskan genggamannya dari tangan Mischa, air dingin langsung mengucur di sana, menimbulkan suara gemericik pelan dengan cipratannya yang membasahi kaki mereka.


Aslan lalu menoleh kembali ke arah Mischa yang masih terdiam terpaku dengan tatapan mata menantang ke arah Aslan.


“Kita mandi,” Aslan mengangkat sebelah alis, melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Mischa dan bersedekap dengan tatapan sedikit mencemooh.


Mischa langsung mengelus pergelangan tangannya yang terasa sakit karena cengkeraman tangan Aslan yang kuat, dia langsung berkacak pinggang begitu menyadari bagaimana Aslan menatapnya dengan merendahkan.


“Apakah kau begitu bebal sehingga tidak mendengar perkataanku tadi? Aku sudah mandi tadi, dan ini tengah malam, dengan air dingin pula. Aku tidak mau mandi bersamamu!” serunya lantang, mendongakkan dagu menantang dan penuh harga diri.


Aslan menyipitkan mata, mulai menggeram pertanda kesabarannya terusik.


“Kau menantangku, Mischa?” desisnya perlahan dengan suara penuh ancaman.


Sejenak Mischa merasa hatinya gentar, tetapi harga dirinya lebih kuat dan menggelora di dalam jiwanya. Dia tahu bagaimana Aslan selalu berusaha merendahkan harga dirinya, seolah berusaha menunjukkan bahwa status laki-laki itu jauh di atasnya. Tetapi Mischa bukanlah wanita Zodijak yang menurut cerita Kara diperlakukan dengan sangat rendah dan tidak dihargai. Wanita-wanita Zodijak mungkin dilahirkan, tumbuh besar dan tertanam di dalam hatinya bahwa mereka lebih rendah daripada kaum laki-lakinya, sehingga mereka diam saja dan pasrah menyerah diperlakukan seperti itu. Sementara, Mischa tentu saja tidak mau diperlakukan rendah seperti wanita Zodijak, dia manusia perempuan yang memiliki harga diri dan rela berjuang agar diperlakukan sederajat.


Mischa belum pernah bertemu dengan wanita-wanita Zodijak meskipun hatinya bertanya-tanya kenapa tidak pernah sekalipun ada usaha emansipasi dari kaum wanita itu untuk memperjuangkan derajatnya supaya tidak direndahkan sampai ke dasar oleh kaum laki-lakinya. Apalagi dikatakan bahwa mereka memiliki ciri fisik yang hampir sama dengan kaum laki-lakinya, berkulit keras dan bertubuh kuat. Mereka sudah pasti lebih kuat dari manusia perempuan yang dilahirkan dengan kelembutan.


Bukankah jika mereka memiliki kekuatan seperti itu, mereka bisa memberontak kalau mereka mau?


Mischa sendiri membayangkan betapa mengerikannya kalau perlakuan yang diterima oleh wanita-wanita Zodijak itu diterima oleh manusia-manusia perempuan di bumi. Sepanjang dirinya mempelajari sejarah umat manusia, Mischa tahu bagaimana kuatnya manusia perempuan di bumi ini meskipun tubuh mereka rapuh, lemah dan kadang dianggap sebagai beban tak berdaya.


Manusia perempuan bisa kuat dengan caranya sendiri dan mereka tidak tinggal diam begitu saja diperlakukan sebagai makhluk kelas dua. Manusia perempuan, termasuk juga dirinya, memiliki dorongan dalam hati untuk diperlakukan sederajat dengan manusia laki-laki, karena kesadaran yang nyata, bahwa entah laki-laki maupun perempuan, mereka semua memiliki peran yang sama pentingnya di bumi ini dan bukan untuk direndahkan demi meninggikan yang lain.


Karena itulah rasa bertanya-tanya di benak Mischa semakin menggebu ketika membayangkan kenapa wanita-wanita Zodijak itu tiada satupun yang berusaha memberontak dengan seluruh perlakuan merendahkan yang mereka terima dari kaum laki-lakinya.


Kara bilang sampai saat ini, laki-laki Zodijak menjalankan seluruh aturan dengan tidak mengizinkan dirinya disentuh oleh kaum wanitanya jika tidak terpaksa, dan anehnya tidak ada dorongan dari kaum wanitanya untuk berjuang dan mengubah aturan aneh itu.


Tapi siapalah Mischa berusaha menebak apa yang ada di otak kaum alien yang bahkan tempat tinggal asli mereka begitu jauh dari galaksi bimasakti?


Telapak tangan Aslan yang dingin dan lebar mendarat lembut di pipi Mischa membuat Mischa mengerjap dan ketika dia mendongak untuk melihat Aslan, matanya melebar karena lelaki itu sudah melepas jubah perang dan juga kemejanya, hanya menyisakan celana kulit berwarna hitam yang membungkus panggulnya sedikit rendah.


Pipi Mischa langsung memerah melihat dada Aslan yang telanjang, sementara Aslan seolah tidak peduli, lelaki itu entah sejak kapan berdiri begitu dekat tanpa suara hingga Mischa tidak menyadarinya.


“Kalau kau mau melepaskan pakaianmu dan bergabung untuk mandi bersamaku, aku akan menyenangkanmu,” Aslan berucap penuh janji, matanya berkilat senang melihat kulit Mischa yang semakin merah padam ketika mendengar ucapannya.


“Kenapa kalian tidak memperbolehkan kaum wanita menyentuh kalian?”  Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirnya, dan sekali lagi Mischa melupakan nasehat Kara untuk tidak membahas masalah ini dengan Aslan, karena rasa ingin tahunya yang muncul begitu saja tidak bisa ditahan untuk mencoba mendapatkan jawaban.


Dan benar saja, mata Aslan langsung menyipit, menatap Mischa dengan curiga.


“Dari mana kau mendapatkan pengetahuan itu? Bahwa kami tidak memperbolehkan kaum perempuan menyentuh kami?” Aslan meletakkan tangannya di dagu Mischa dengan gerakan mengintimidasi.Mischa berusaha memalingkan kepala, tetapi tangan Aslan menahannya sehingga mau tak mau Mischa menatap mata gelap yang pekat penuh paksaan itu. Dirinya langsung berpikir cepat, tahu bahwa dia harus melindungi Kara.


“Yesil yang menceritakannya kepadaku,” Mischa sedikit meringis ketika menjawab dan langsung meminta maaf dalam hati karena menggunakan nama Yesil sebagai tameng.


Mata gelap itu tampak semakin pekat mendengar jawaban Mischa, suara yang keluar berikutnya dari bibir lebih terdengar seperti geraman.


“Dan kenapa kau membahas tentang sentuhan wanita terhadap laki-laki dengan Yesil?” tanya Aslan lagi, membuat Mischa tertegun kehabisan kata-kata.


Otak Mischa langsung berputar untuk mencari jawaban sekedarnya, tetapi cengkeraman dipundaknya semakin kuat sementara Aslan menggeramkan namanya lagi, tidak sabar menunggu jawaban.


“Jawab, Mischa,” Aslan mengulang, menunjukkan ketidaksabarannya.


“Aku… aku bertanya tentang cara menyentuh laki-laki kepada Yesil… aku juga bercerita tentang perjanjian kita… jadi Yesil menjelaskan semuanya…” pada akhirnya Mischa memilih menjawab yang paling mendekati kejujuran meski tetap menyimpan nama Kara supaya tidak muncul ke permukaan.


Sejenak ada sinar tidak percaya di mata Aslan sebelum kemudian lelaki itu mendecakkan lidah dengan sikap tidak suka.


“Kau menceritakan perjanjian kita, perjanjian intim kita begitu saja kepada Yesil?” Aslan hampir saja membentak tapi bisa menahan diri. Sejenak lelaki itu melangkah mundur, lalu mengacak rambutnya seolah frustasi dengan sikap polos Mischa sebelum kemudian menatap Mischa lagi dengan marah.


Mischa sendiri mengerjap, tidak menyangka kalau hal itu akan menjadi masalah besar dan mengusik kemarahan Aslan, tanpa sadar kerapuhannya muncul, dibebani oleh rasa bersalah yang dia tidak tahu akan muncul dari mana.


“Aku… aku berpikir…. kalau Yesil bisa membantuku,” ucap Mischa kemudian, sedikit terbata dan benci kepada dirinya sendiri karena Aslan berhasil mengintimidasi dirinya dan membuatnya dipenuhi rasa bersalah.


Aslan sejenak hanya berdiri diam, menatap Mischa tajam sementara mata hitamnya berkilat, tetapi kemudian, ketika menemukan bahwa Mischa tidak mencoba menentang atau melawan, sikapnya melunak, pun dengan ekspresinya.


“Kalau kau ingin bertanya kau  bisa bertanya kepadaku. Aku akan menjawab dengan lebih jelas daripada apa yang saudara-saudaraku bisa berikan,” Aslan mendesis perlahan. “Mulai sekarang kau tidak boleh membahas semua hal intim di antara kita dengan saudara-saudaraku, bahkan kalau mereka memaksa dan bertanya sekalipun, apakah kau mengerti, Mischa?” Aslan mengakhiri kalimatnya dengan pertanyaan mendesak yang membutuhkan jawaban segera.


Mischa menghela napas panjang, lalu mau tak mau menganggukkan kepala, masih menahan diri untuk menjawab karena jauh di dalam hatinya dia tidak ingin bersikap patuh kepada Aslan.


Hal itu rupanya diketahui oleh Aslan karena lelaki itu menyipitkan mata kembali dan menggeram penuh ancaman.


“Kau pasti sudah tahu bahwa aku tidak suka menerima jawaban dalam bentuk anggukan kepala, aku menuntut kau bersuara, mengatakan bahwa kau mengerti.”