Inevitable War

Inevitable War
Episode 150 : Mengincar Sasha



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay



W A R N I NG - D I S C L A I M ER


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )



Imhotep menyeringai, ekspresinya tampak mengerikan.


“Kau cerdas kalau bisa menebak pikiranku, Logan. Ya, Kau pasti tahu kenapa aku memilih Natasha dan menjadikannya pendonor. Itu semua karena dia adalah pasangan Kara, dan Kara memiliki sifat penguat di darahnya. Pasangan dari pemimpin Zodijak yang memiliki sifat darah penguat, sangat cocok dijadikan serum untuk penambah kekuatan. Dan ketika kita kehilangan Natasha, maka kita harus menemukan yang satunya. Pasangan dari Kaza, saudara kembar Kara, kita harus berhasil mendapatkan perempuan itu. Perempuan itulah yang paling cocok untuk menggantikan Natasha sebagai donor serum yang efektif,”


“Jadi, apa yang harus kita lakukan pada perempuan yang ini?” Logan, sang pemimpin laboratorium bertanya kembali dengan penuh ingin tahu.


Jika perempuan ini memiliki kemampuan penyembuh seperti yang Sang Dokter katakan, bukankah itu berarti bahwa perempuan ini tidak berguna bagi mereka? Kemampuan penyembuh hanya akan berguna bagi Bangsa Zodijak yang terkena racun darah, bukan? Itu berarti bahwa perempuan ini hanya berguna bagi pihak lawan, bagi Bangsa Zodijak.


“Tetap buat dia tidak sadar. Aku memiliki rencana tersendiri dengan darahnya. Darahnya memiliki sifat penyembuh dan dia menyimpan kunci yang sangat penting. Darah perempuan ini akan menjadi penyembuh bagi Bangsa Zodijak yang terkena racun dari darah Natasha. Itu adalah rahasia yang Bangsa Zodijak tidak tahu. Sebenarnya, mereka tidak perlu mengumpulkan seluruh pasangan air suci untuk menyembuhkan diri. Mereka hanya perlu menyuntik diri dengan darah perempuan ini dan mereka akan sembuh. Karena itulah, hapus pikiran bahwa perempuan ini tidak penting, Logan.” Imhotep menyipitkan mata seolah bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran anak buahnya itu.


“Memiliki penyembuh berarti kita berada di atas angin. Tidak ada gunanya memiliki racun tetapi tidak memiliki penawar. Dengan memiliki kedua-duanya, maka posisi kita akan kuat.” Imhotep menatap Logan dengan tajam. “Perempuan ini penting bagi kita. Dan sangat penting supaya dia tidak jatuh ke tangan Bangsa Zodijak. Berikan dia pengawalan terbaik sehingga Bangsa Zodijak tidak bisa menjangkaunya,”


“Saya akan melakukannya, Dokter,” Logan menatap Imhotep kembali dengan ragu, tetapi akhirnya memutuskan untuk mengutarakan pikirannya. “Apakah Anda akan pergi untuk berburu kembali?”


Imhotep menipiskan bibir sementara ekspresi percaya diri terpancar jelas dari wajahnya.


“Seluruh anak buahku telah berpencar. Aku yakin dalam waktu singkat mereka akan mendapatkan perempuan-perempuan yang tersisa,”


“Tetapi… bukankah Anda melihat ada satu yang lokasinya berada di dalam Istana Bangsa Zodijak?” tanya Logan lagi.


Imhotep menganggukkan kepala. Memang ketika sinar itu memancar dari tubuh seluruh perempuan pasangan air suci karena Mischa memunculkan kekuatan besar tak terduganya yang memanggil saudar-saudarinya yang lain, Imhotep melihat ada satu cahaya biru yang memancar dari dalam Istana Bangsa Zodijak. Itu berarti musuhnya tidak hanya berhasil memiliki dua, Mischa dan Natasha, tetapi juga memiliki satu lagi yang tidak diduganya.


Karena itulah Imhotep harus bergerak cepat. Jika para pemimpin Bangsa Zodijak memiliki tiga, dia harus mendapatkan keempat yang tersisa untuk memaksimalkan kekuatannya. Dan dia sungguh berharap dari tiga yang belum ditangkapnya, ada salah satu yang merupakan pasangan Kaza, karena untuk saat ini, perempuan itulah yang paling dibutuhkannya.


Jika ternyata skenario terburuk yang terjadi, dimana perempuan yang ada di dalam istana Bangsa Zodijak itu adalah pasangan Kaza, maka Imhotep mau tak mau harus menyerang ke dalam istana Bangsa Zodijak itu untuk mendapatkan buruannya.


Sinar licik menyala di mata Imhotep ketika dia menyusun rencana berlapis untuk kemenangannya.


Tentu saja, sebelum dia menyerang Istana Bangsa Zodijak, dia akan memastikan bahwa seluruh pemimpin Bangsa Zodijak meninggalkan Istana itu tanpa pengawalan, lengah karena didorong keinginan untuk bertempur hingga meninggalkan yang berharga dalam penjagaan lemah.



 


 


“Sudah selesai?”


Aslan tetap saja bertanya dengan nada menjengkelkan ketika membuka pintu kamarnya meskipun pemandangan Mischa yang telah berpakaian lengkap tampak jelas di wajahnya.


Hal itu membuat Mischa tidak menjawab. Perempuan itu mendongakkan dagunya dengan angkuh sambil mengangkat sebelah alis seolah hendak mengatakan bahwa Aslan cukup bodoh karena menanyakan pertanyaan itu padahal jawabannya terpampang jelas di matanya.


Mata kelam Aslan menelusuri seluruh diri Mischa. Pakaian masa kecil Akrep menempel dengan pas di tubuh Mischa, entah kenapa bisa menampilkan lekuk tubuh mungil Mischa yang tampak sangat menggiurkan di matanya.


Mischa tampak luar biasa cantik berbalut pakaian bertempur Zodijak berwarna hitam yang berkilat. Perempuan itu juga memutuskan untuk mengikat rambutnya ke atas dengan tarikan ketat, menggulungnya dalam cepol kecil di atas kepala dengan rapi sehingga menempelkan leher jenjangnya nan menggoda.


Sayangnya, saat ini ekspresi Mischa sangat tidak bersahabat. Bahkan, perempuan itu seperti sengaja menebarkan aura bermusuhan di depannya. Aslan tidak mempedulikan itu semua, dia lalu melangkah mendekat dan mengeluarkan senjata dari balik jubah bertempur panjangnya.


Senjata itu adalah yang teringan dari yang mereka miliki, meskipun sama-sama memiliki kekuatan mematikan. Akreplah yang mengusulkan untuk memberikan senjata itu kepada Mischa. Dan meskipun pada awalnya Aslan menolak ide itu mentah-mentah, akhirnya Akrep berhasil menyadarkannya bahwa saat ini, dia bukannya sedang membawa Mischa untuk tour dan wisata. Mereka mungkin akan terjun ke medan perang yang sangat buruk, dan akan berbahaya bagi Mischa jika perempuan itu tidak bisa melindungi diri.


Ya, Mischa mungkin bisa mengandalkan Aslan untuk melindunginya, tetapi di medan perang, apapun bisa terjadi, bisa saja Aslan lengah dan Mischa lepas dari pengawasannya.


Di saat genting, kekuatan besar Mischa bisa saja muncul untuk melindungi dirinya, tetapi mereka juga tidak bisa mengandalkan itu, bukan?


Tidak ada waktu cukup untuk mempelajari kekuatan Mischa dan apa pemicu yang menyebabkan kekuatan itu bangun. Bisa saja kekuatan itu muncul ketika Mischa berada dalam kondisi terdesak.


Tetapi, jika hal itu merupakan pemicunya, kenapa Mischa tidak bisa melindungi dirinya ketika Aslan ataupun Imhotep serta anak buahnya menyerangnya?


Yang ditakutkan oleh Aslan, adalah kemungkinan bahwa kekuatan Mischa baru akan muncul jika Aslan berada dalam bahaya. Jika hal itu yang terjadi, maka Mischa tidak punya pelindung untuk melindungi dirinya selain bergantung kepada Aslan. Karena itulah memberikan senjata kepada Mischa sangatlah penting. Setidaknya perempuan itu bisa melindungi dirinya sendiri ketika keadaan memaksa Aslan tidak bisa melindungi Mischa.


Tanpa kata, Aslan menggenggamkan senjata itu ke tangan Mischa. Membuat mata Mischa yang menunduk menatap senjata genggam legam di tangannya itu melebar bingung, lalu perempuan itu mendongak dan menatap Aslan dengan tatapan tidak percaya.


“Kau memberiku senjata?” serunya cepat.


Aslan menipiskan bibir tanpa ekspresi. “Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Kita tidak tahu seberbahaya apa medan perang yang akan kita terjuni nanti.” Aslan menggerakkan jarinya untuk mengarahkan jemari Mischa supaya menggenggam senjata itu dengan tepat, meletakkan salah satu jari Mischa ke pelatuknya. “Ini adalah senjata yang paling ringan dan paling mudah untuk pemula. Keakuratan daya tembakannya tidak perlu diragukan lagi, dan untuk memuntahkan amunisinya, kau hanya perlu menekan tombol di sisi bawah ini,” Aslan mengarahkan jari Mischa ke senjata itu, “Meskipun paling ringan dan paling mudah, kekuatan senjata ini tidak diragukan lagi. Jika musuhmu manusia biasa, tubuhnya akan hancur berkeping-keping menjadi debu. Jika musuhmu adalah manusia yang disuntik serum darah penguat hingga memiliki karakteristik kekuatan seperti Bangsa Zodijak, maka kau akan membelahnya menjadi dua, atau paling tidak melumpuhkannya dengan luka yang sangat dalam.”


Mischa menatap senjata di tangannya dengan seksama, melawan dorongan menggoda untuk mengarahkan senjata itu kepada Aslan dan menekan tombol pelatuknya untuk menilai kekuatan senjata itu.


“Dan jika senjata ini diarahkan pada Bangsa Zodijak murni?” tanya Mischa dengan sengaja, tidak menutupi rasa ingin tahu dan antisipasinya.


Aslan menyipitkan mata dan menatap Mischa dengan tatapan mengancam.


“Jangan coba-coba, Mischa. Kalau kau menembakkan senjata itu kepadaku, kau tidak akan bisa melukaiku dan juga kau tidak akan bisa melukai saudara-saudaraku dengan senjata itu. Mungkin kau akan bisa melukai prajuritku, tetapi jika kau berani melakukannya, aku akan membuatmu menyesal. Kau harus camkan kata-kataku itu.” Aslan menatap Mischa dengan serius untuk menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh dengan ancamannya.


Keheningan membentang di antara mereka sementara Aslan seolah mempelajari diri MIscha, memastikan bahwa perempuan keras kepala di depannya itu mengerti. Lalu, setelah yakin bahwa Mischa tidak akan berbuat bodoh dengan menggunakan senjata itu untuk menentangnya, Aslan mengambil senjata itu dari tangan Mischa dan menempelkannya di sisi tubuh Mischa.


Secara ajaib senjata itu tiba-tiba menghilang, menyatu dengan pakaian Mischa.


“Beginilah kami para prajurit Zodijak membawa banyak senjata tanpa kerepotan. Senjata-senjata kami didesain bisa menyatu dengan pakaian kami dalam teknologi mikro nano yang hampir tak kasat mata. Kami selalu bisa mengambil seluruh senjata itu dengan cepat jika diperlukan.” Aslan meraba sisi tubuh Mischa dengan sengaja, “Kau hanya tinggal menepuk sisi ini, kau merasakan ada senjata di sana bukan? Jika kau membutuhkan senjata itu, tepuklah sisi tubuhmu beberapa kali, maka senjata itu langsung tergenggam di tanganmu,”


Perkataan Aslan membuat Mischa tidak bisa menahan diri untuk bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.


“Kau sendiri, ada berapa senjata yang tersimpan di pakaianmu, Aslan?”


Aslan memiringkan kepala, kilatan matanya tampak pongah ketika menjawab pertanyaan Mischa.


“Kau akan ketakutan jika aku menjelaskan jumlah dan jenisnya. Yang pasti, aku bisa menghabisi pasukan besar hanya dari senjata yang kubawa di pakaianku. Jadi lebih baik kau singkirkan pikiran macam-macam dari benakmu. Membawa satu senjata kecil bukan berarti kau berada di atas angin, Mischa.” tanpa jeda Aslan meraih lengan Mischa, menghelanya supaya keluar dari ruangan. “Ayo, pesawat sudah menunggu. Kita berangkat sekarang,” ujarnya dengan nada tegas.


***


HELLO, MAAF TADINYA MAU UPLOAD 20 PART LANGSUNG, TETAPI TAKUT REVIEWNYA LAMA KARENA IW INI FULL GAMBAR JADI HARUS ANTRI REVIEW


KARENA ITU, AUTHOR BAGI DUA YA, DIAJUKAN 10 DULU, NANTI SISA 10 NYA MASUK KLOTER BERIKUTNYA KALAU YANG 10 PERTAMA SUDAH LOLOS REVIEW DAN TERBIT.


THANK YOU


***