
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
Mischa menelan ludah, berusaha mengendalikan debaran jantungnya yang entah kenapa mulai memukul-mukul rongga dadanya yang lemah.
Dia mengerutkan kening, sekuat tenaga mencoba mengalahkan kekalutan otaknya dan berusaha mengingat-ingat apa yang diajarkan oleh Kara sebelumnya.
Lelaki Zodijak tidak pernah disentuh sebelumnya, itu berarti mereka akan sangat sensitif dengan sentuhan lembut dan akan defensif jika sentuhan itu terlalu keras sehingga mereka akan menganggapnya sebagai ancaman.
Mischa harus belajar menyentuh perlahan supaya sikap defensif Aslan tidak muncul.
Kata Kara, caranya seperti membelai kucing, sentuh di tempat-tempat yang mereka sukai dengan lembut, jangan terlalu keras karena kucing akan menggigit dan mencakar jika sentuhan itu dirasa terlalu berlebihan.
Beruntung Mischa pernah memiliki kucing di masa kecilnya, salah satu hadiah ulang tahun dari ayahnya yang berharga dan selalu diingatnya.
Pada masa peperangan, bukan hanya manusia bumi yang menderita, hewan-hewan bumi pun, meskipun tidak menjadi sasaran Bangsa Zodijak secara langsung, tetap saja mereka merasakan imbas dari kekacauan di bumi.
Situasi yang porak poranda membuat hewan-hewan lemah itu pada akhirnya musnah dan hampir sulit ditemukan di bumi ini. Bahkan pada masa-masa terakhir, Mischa hampir tidak pernah melihat burung ataupun mamalia di tempat-tempat yang dia jelajahi. Hanya serangga-serangga kecil yang bertahan hidup, dan mereka pun sepertinya akan punah juga, karena manusia-manusia yang tersisa, kaum penyelinap yang masih bertahan, menggunakan serangga-serangga kecil itu sebagai makanan utama dan asupan protein untuk tenaga mereka.
Kucing yang dihadiahkan oleh ayah Mischa bukanlah kucing baru yang indah. Kucing itu ditemukan oleh ayah Mischa sedang bersembunyi di bawah reruntuhan, badannya kurus, bulunya kotor dan dekil, dan dua kaki depannya patah karena tertimpa reruntuhan bangunan.
Ketika menerima hadiah itu, Mischa ingat betapa terpesonanya dia melihat makhluk selain manusia dan bangsa Zodijak ternyata masih ada di bumi ini. Dirawatnya kucing itu, dimandikan dan dia bersihkan, bahkan Mischa rela berbagi jatah makanannya yang terbatas dengan kucing itu.
Kucing itu telah menjadi sahabatnya, tetapi pada akhirnya mati terlebih dahulu karena usianya sepertinya sudah tua. Sekarang, ketika mengenang masa-masa itu, ada kesedihan hangat yang memenuhi hati Mischa dan membuatnya tertegun lama dengan mata menerawang.
“Hei,” Aslan menyentuhkan jarinya di pipi Mischa. “Jangan melamun,” ujar Aslan dengan suara gusar.
Hal itu membuat Mischa mengerjapkan mata hingga langsung bertatapan dengan mata gelap tepat di depannya, yang menanti dengan penuh ketidaksabaran.
Seperti kucing… Mischa membatin dalam hati.
Beruntung dia pernah merasakan membelai kucing. Mischa berusaha menekan pertanyaan di dalam benaknya tentang bagaimana Kara mengetahui tentang kucing, dia mencoba menjawab pertanyaannya sendiri dengan berpikir bahwa mungkin saja hewan-hewan di Planet Zodijak sama dengan hewan-hewan di bumi.
Bahkan Aslan sendiri sering menyebutnya sebagai kucing kecil atau kelinci kecil, bukan?
Mischa berusaha membuang semua pikirannya dan memfokuskan diri pada Aslan. Kara juga bilang bahwa lelaki Zodijak sama seperti kucing liar yang mendesis dan menyerang ketika hendak disentuh, tetapi ketika kucing itu mengizinkan dirinya untuk disentuh dan kita berhasil menyentuhnya dengan tepat, kucing itu akan tunduk tanpa perlawanan….
Mischa menarik napas panjang, merasakan jemarinya gemetaran ketika dia menggerakkan tangan untuk mengusap wajah Aslan.
Permukaan kulit Aslan, tanpa diduganya terasa begitu lembut meskipun suhunya dingin, karena suhu tubuh manusia Zodijak memang lebih sejuk dari suhu tubuh manusia biasa.Kesejukan itu mengirimkan sinyal nyaman yang tanpa sengaja diterima oleh otak Mischa. Belum lagi sikap Aslan yang tidak melawan, dimana lelaki itu langsung memejamkan mata rapat begitu Mischa mengusapkan tangan ke pipinya.
Lalu tangan Mischa bergerak lagi, semakin berani menyentuh sisi hidung Aslan, ke alis matanya yang tebal, dan berakhir di kelopak matanya yang menutup.
Sebuah erangan terlepas dari bibir Aslan sementara matanya masih tertutup rapat, membuat perhatian Mischa teralihkan ke sana, menatap ke arah bibir Aslan yang terbuka.
Tanpa sadar tangan Mischa bergerak di luar kemauannya, menyentuhkan jemari dengan hati-hati ke bibir Aslan yang lembut, sedikit terkejut ketika menyadari bagian tubuh Aslan yang itu terasa hangat, jauh lebih hangat daripada seluruh kulit wajahnya yang dingin.
Mata Aslan langsung terbuka di detik pertama kulit jemari Mischa bersentuhan dengan bibirnya, sementara tangan lelaki itu bergerak untuk mencengkeram pergelangan tangan Mischa, menahannya di sana.Aslan lalu mengecup jemari Mischa satu persatu, tidak bisa menahan diri untuk menggigit ujung jari nan lembut itu perlahan sebelum kemudian berkata.
“Gunakan jemarimu ini untuk menyentuh seluruh diriku, Mischa,” suara Aslan begitu kasar, diiringi nada parau mendesak, tetapi entah kenapa Mischa bisa mendengar ada tersirat permohonan nan kental di sana.
Suasana ruang lab itu begitu sepi ketika sosok Sang Dokter berjalan memasuki ruangan yang dijaga dengan suhu teramat dingin untuk menahan penghuninya tetap berada dalam tidur dalam, seolah dibekukan.
Sang Dokter berdiri di samping tubuh Natasha, sosok tubuh yang selama ini dikenal oleh para ilmuwan yang bekerja di lab khusus ini sebagai pasien nomor satu.
Mata Sang Dokter menelusuri seluruh tubuh Natasha dengan pandangan penuh arti sebelum kemudian lelaki itu duduk di tepi ranjang, menghadap ke arah Natasha yang masih terpejam.
Sang Dokter membungkuk, mendekat ke arah wajah Natasha sementara tangannya bergerak lembut memiringkan kepala Natasha dan menyingkirkan rambut panjang Natasha yang menutupi lehernya.
Tangan Sang Dokter bergerak, menurunkan sedikit pakaian Natasha yang lebih mirip dengan baju pasien untuk persiapan operasi, sehingga menampakkan kulit pundak Natasha yang pucat.
Ekspresi Sang Dokter benar-benar tidak terbaca ketika melihat tanda tanda rasi bintang yang melambangkan si kembar terpatri jelas di bahu Natasha. Tanda itu diketahui Sang Dokter ditinggalkan oleh Bangsa Zodijak dengan ras gemini di kulit Natasha.
Salah satu pemimpin Zodijak memberikan tanda di tubuh Natasha, dan itu sudah pasti salah satu dari si kembar Zodijak, jika bukan Kara, maka Kaza adalah pelakunya.
Wajah Sang Dokter tampak begitu dingin, meskipun begitu, matanya tidak sepandai wajahnya dalam menyembunyikan ekspresi, membuat mata itu bersinar penuh kebencian yang menyengat, seolah-olah siap menghancurkan siapapun yang mengganggu.
“Kau begitu bodoh Natasha. Bagaimana mungkin kau menjatuhkan hatimu pada mereka?” ujar Sang Dokter dengan suara parau, lalu membungkuk semakin dalam, mendekatkan wajah ke bahu Natasha untuk kemudian bibirnya mendekat ke arah tanda gemini di bahu Natasha.
Gigi Sang Dokter yang tajam terlihat ketika lelaki itu menyeringai, seolah hendak menggigit tanda gemini di pundak Natasha.
Suara pintu digeser dari ruang depan membuat Sang Dokter menghentikan gerakannya. Bibirnya sudah menempel pada lambang gemini di leher Natasha, siap menggigit tetapi tertahan.
Sang Dokter menegakkan punggung dengan siaga, lalu menatap tajam ke arah pintu. Menunggu siapapun yang hendak masuk ke ruangan ini meskipun dirinya sudah bisa menebak siapa yang datang.
Pintu itu terbuka perlahan dan Kale muncul, lelaki itu tampak terkejut ketika melihat bahwa Sang Dokter juga berada di ruangan yang sama.
“Anda ada di sini?” suara Kale terdengar gugup. “Apa yang Anda lakukan di sini?”
Sang Dokter memasang ekspresi kaku mendengar pertanyaan Kale tersebut, matanya menyorot dingin dan mengintimidasi serta tak lupa menyelipkan pandangan menghina di sana.
“Kau sendiri? Apa yang kau lakukan di sini, Kale?” lelaki itu dengan cerdik membalik pertanyaan yang diajukan oleh Kale, membuat Kale menelan ludah karena gugup.