Inevitable War

Inevitable War
Episode 138 : Dilema Kaza



INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)


Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt


Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira


Hak cipta dilindungi undang-undang


All rights reserved


Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay


 


 


 



W A R N I NG - D I S C L A I M ER


Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira


Ebook Inevitable War berisi 17 PART BONUS yang tidak akan ditemukan dimanapun selain di ebook ( 7 part menceritakan kisah cinta dari 7 pemimpin Zodijak + 10 Part Inevitable Encounter yang khusus menceritakan tentang kisah Kaza dan Sasha )


 


 


 




Kaza melangkah mendekat ke arah Sasha yang beringsut semakin menjauh di ujung ranjang. Sayangnya dinding membuatnya tidak bisa bergerak lebih jauh lagi hingga hanya  bisa meringkuk di atas ranjang dengan tubuh gemetaran.


Kaza bukannya tidak menyadari ketakutan Sasha. Matanya yang tetap tajam di kegelapan bisa melihat dengan jelas bagaimana pundak ringkih itu gemetar menahan rasa takut, pun dengan kulit Sasha yang tampak semakin pucat pasi menyedihkan.


Hal itu membuat Kaza mengetatkan gerahamnya dengan marah.


Dia tidak ingin anak ini selalu beringsut dan ketakutan setiap berada berdekatan dengannya. Tetapi apa yang bisa dilakukannya?


Sepertinya Kaza memang selalu ditakdirkan bersikap kasar pada anak ini. Bukan karena dia jengkel dan benci pada Sasha, tetapi lebih karena dia membenci takdir yang mengikatnya dengan anak ini.


Ketika Kaza berdiri di samping ranjang, dia mendecakkan lidah untuk menunjukkan kekesalannya. Lalu dengan gerakan cepat tanpa diduga, Kaza meletakkan lututnya di atas ranjang, setengah naik di sana sebelum kemudian menggunakan kedua tangannya untuk mencengkeram kedua sisi pundak Sasha.


Reaksi Sasha persis seperti yang diduganya. Anak kecil itu langsung terkesiap seperti tersengat listrik, bahkan suara pekikan tertahan lolos dari bibir mungilnya yang ikut gemetaran seperti setiap sel di tubuhnya.


Tentu saja reaksi itu membuat Kaza tidak suka, ekspresinya semakin gelap, pun dengan matanya.


Seandainya saja lampu diruangan ini terang dan Sasha bisa melihat kegelapan di ekspresi Kaza dengan jelas, tentunya anak kecil itu akan berteriak histeris saking takutnya.


“Tidak usah takut! Aku bukannya ingin memakanmu,” Kaza menggeram dengan suara dingin dan kasar. “Apakah kau ingat kenapa kau ada di ruang perawatan ini?” tanya Kaza kemudian.


Sasha membelalakkan mata mencoba menatap sosok di depannya yang memancarkan aura permusuhan kental.


Sayangnya di tengah kegelapan seperti ini, dia hanya bisa memandang siluet sosok Kaza yang tinggi besar, menaunginya dengan bayangan menakutkan.


“A… ada gempa….” Sasha mengerjapkan mata, pada akhirnya berhasil mengeluarkan suara meskipun lebih terdengar seperti suara tercekik yang menyedihkan.


Kaza menyipitkan mata. Tanpa sadar tangannya bergerak untuk menyingkirkan poni Sasha yang menutupi dahinya. Sentuhan tangan Kaza terasa sedingin es, sehingga sekali lagi anak perempuan itu berjingkat ketakutan.


Kali ini reaksi Sasha tidak dipedulikan oleh Kaza. Lelaki itu menyusurkan jemarinya yang dingin untuk memeriksa perban di dahi Sasha sebelum kemudian bertanya lagi.


“Apakah kepalamu sakit?”


Pertanyaan itu membuat Sasha mengerutkan kening. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa saudara Kara yang ketus ini mau repot-repot menanyakan luka di kepalanya.


Bukankah Kaza selalu bersikap galak, tidak bersahabat dan mengancam tanpa sebab kepadanya? Kenapa sekarang lelaki itu seolah-olah peduli? Apakah Kara yang memintanya melakukan itu?


“Aku bertanya padamu. Kau dengar tidak?” Kaza mulai menggeram tidak nyaman karena dia bisa merasakan bahwa Sasha sedang berusaha sekuat tenaga mengamatinya.


Meskipun suasana gelap dan sudah pasti Sasha tidak bisa melihatnya dengan jelas, tetap saja mengetahui bahwa anak perempuan ini seolah sedang berusaha menembus ke dalam jiwanya membuat Kaza tidak menyukainya.


Sasha tampak tergeragap. Dirinya bahkan baru menyadari rasa nyeri di kepalanya. Memang rasa nyeri itu tidak begitu buruk, tetapi yang membuat Sasha tidak menyadari sakitnya adalah karena dia lebih fokus pada ketakutannya akan kehadiran Kaza di ruangan ini.


“Tidak apa-apa,” Sasha mencoba menetralkan suaranya yang masih terdengar seperti tercekik, “Su.. sudah tidak apa-apa,” sambungnya kemudian.


Seketika Kaza menegakkan punggung tanpa mengatakan apa-apa, melepaskan pegangannya dari tubuh Sasha hingga tanpa sadar Sasha menarik napas lega.


Suara tarikan napasnya begitu keras dan tidak bisa ditutupi hingga sekali lagi geraham Kaza mengetat karena jengkel.


“Apakah kau lapar?”


Ada apa dengan sosok di depannya ini? Kenapa sikapnya aneh dan dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berhubungan satu sama lain?


“Lapar?” pada akhirnya Sasha hanya bisa membeo, mengulang kalimat yang baru saja ditanyakan oleh Kaza kepadanya.


“Ya. Lapar. Manusia butuh makan bukan? Kara bilang kau baru saja sadarkan diri setelah pingsan beberapa lama.” Kaza langsung menyambar dengan suara tidak sabar yang sengaja ditajamkan, menggores indra pendengaran Sasha hingga membuatnya begidik ngeri.


Tangan Sasha bergerak menyentuh perutnya. Ya. Dia lapar. Dulu dia sangat pandai menahan rasa lapar. Ketika hidup dalam pelarian di ruang bawah tanah dan berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok lain, Sasha sudah belajar bahwa rasa lapar merupakan teman dekatnya yang kadang terlalu lengket dan tak mau pergi. Dalam pelarian, dia harus mau memakan apapun yang bisa mereka temukan, kadang lumut, kadang serangga dan jika mereka beruntung, mereka bisa menemukan ulat gemuk dengan lemak dan daging yang bisa mencukupi kebutuhan protein mereka.


Beruntung kemudian dia bertemu dengan Mischa yang begitu dekat dengannya dan dianggap seperti kakaknya sendiri. Mischa sangat tangguh di luar sana, dan dia ahli bertahan hidup serta mencari makanan. Sejak bertemu dengan Mischa, Sasha selalu mendapatkan makanan yang cukup karena Mischa selalu berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan gizi Sasha terlebih dahulu.


Kadang ketika Sasha merasa tidak enak ketika Mischa memberikan hampir seluruh makanan yang didapat untuknya, dengan entengnya Mischa akan berkata bahwa Sasha masih dalam masa pertumbuhan sehingga membutuhkan lebih banyak gizi dibanding dirinya.


Sekarang Sasha merasa lapar, tetapi dia masih bisa menahannya. Selain itu, ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya, yaitu perkataan Kaza tadi.


“Manusia pasti lapar? Ke… kenapa kau menanyakan itu? Kau juga manusia, bukan?” tanyanya dengan curiga.


Ya, meskipun dirinya masih anak-anak, dia tidak sebodoh itu.


Manusia-manusia ini, yang telah membawa mereka, dirinya dan Mischa, ke dalam sebuah benteng megah layaknya istana, terlihat mencurigakan karena mereka tampak kuat dan berkecukupan. Mereka tidak seperti kaum penyelinap tempat Sasha dan Mischa hidup sebelumnya. Bahkan dari penampilan saja mereka berbeda, pakaian mereka tampak bagus dan kuat, berwarna hitam dan sangat berbeda dengan pakaian kaum penyelinap yang berdebu, compang-camping serta lusuh.


Di sini bukan hanya makanan yang terjamin, tempat tinggal, tempat tidur, bahkan sistem pengobatan juga tampaknya begitu lengkap dan maju.


Jika memang benar mereka manusia, siapa sebenarnya orang-orang ini? Apakah mereka merupakan pemimpin salah satu negara yang tersisa dan sedang berjuang melawan Bangsa Zodijak? Kenapa mereka bisa selamat dan hidup tenang di tengah perang yang berkecamuk di luar sana?


Mischa selalu berusaha menenangkannya dan mengatakan bahwa mereka berada di tangan yang baik. Tetapi Sasha tahu pasti bahwa dibalik sikap tenang Mischa, ada yang disembunyikan kakak angkatnya itu jauh di dalam hatinya. Dan itu membuat Sasha menduga-duga, bahkan hingga pikiran terburuknya menyuarakan sebuah kemungkinan yang mengerikan.


“Aku bukan seperti yang kau pikirkan,” seolah bisa membaca pikiran Sasha, Kaza tiba-tiba berujar. Suaranya begitu dingin hingga menebarkan hawa mengancam ke seluruh ruangan.


Keheningan terbentang di antara mereka, sementara Sasha tidak berani memecahkannya. Dia terlalu takut untuk melakukan itu.Dalam keheningan yang membentang lama, Sasha merasa bahwa Kaza mengamatinya dengan tajam.


Lalu lelaki itu seolah menghela napas dengan kesal sebelum menggerakkan tubuh untuk membalikkan badan membelakangi Sasha.


“Aku akan mengambilkan makanan untukmu,” ujarnya dingin sebelum kemudian melangkah pergi, meninggalkan Sasha yang langsung terpuruk dengan tubuh lemas seolah tulang-tulangnya dilolosi karena merasa lega ditinggalkan oleh sosok yang sangat mengerikan itu.


 


 




Hello.


Author mengucapkan terima kasih atas like tiap part, komentar, favorit, rate bintang lima dan juga VOTE RANKING yang diberikan oleh pembaca sehingga Novel author yang berjudul Essence Of The Darkness selalu masuk ke ranking.


Ebook Essence Of The Darkness/ EOTD telah tersedia dan bisa dibeli di G00gle play book.


Kata kunci di g00gle book :


Masuk ke playstore ---> pilih BOOK ---> masukkan kata kunci: Anonymous Yoghurt


Diterbitkan oleh projectsairaakira.


Bonus khusus 10 Part EOTD ekslusif hanya ada di Ebook sebagai berikut :


EOTD Bonus 1 : Morning Sick


EOTD Bonus 2 : Penyesalan


EOTD Bonus 3 : Anti Akram


EOTD Bonus 4 : Menjaga Jarak


EOTD Bonus 5 : Perpisahan


EOTD Bonus 6 : Memeluk Lagi


EOTD Bonus 7 : Rekonsiliasi


EOTD Bonus 8 : Permintaan Istri


EOTD Bonus 9 : Anugerah Terindah


EOTD Bonus 10 : Ayah Bahagia


Terima Kasih.


AY