
INEVITABLE WAR (The Lion and Water Maiden)
Karya Projectsairaakira - Anonymous Yoghurt
Copyright ©2018, Anonymous Yoghurt in Projectsairaakira
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Versi yang ditampilkan di mangatoon adalah versi sensor - untuk versi unedited & uncut silahkan lihat di sumbernya langsung, projectsairaakira dot com/ download aplikasi PSA vitamins Reader di googleplay
W A R N I NG - D I S C L A I M E R
Softcopy ebook buku ini didistribusikan secara resmi hanya melalui Google playbooks oleh projectsairaakira
***
Aslan sama sekali tidak menoleh ke arah Mischa lelaki itu memusatkan perhatiannya kepada Kara.
Kara mengangkat bahu, tersenyum ke arah Aslan lalu bangkit berdiri. Dua saudara itu saling berhadap-hadapan, Kara lebih pendek dari Aslan, tetapi tetap saja termasuk tinggi untuk ukuran manusia. Kedua-duanya tampak sama-sama kuat, hanya saja ekspresi wajah Kara memang tampak lembut karena dihiasi senyum, berbeda dengan Aslan yang selalu memasang wajah garang menyeramkan.
“Aku hanya sekedar menyapanya,” Kara membuka mulut hendak menjelaskan.
“Keluar.”Sekali lagi Aslan mengucapkan perintahnya dengan nada dingin, mengerutkan kening dengan tidak sabar, tidak mau mendengarkan kalimat apapun yang diucapkan oleh Kara.
Akhirnya Kara menoleh ke arah Mischa, tersenyum lembut meminta maaf, lalu menurut dan melangkah ke pintu.
Ketika Kara melewati Aslan yang berada di dekat pintu, Aslan menolehkan kepala dan menatap Kara dengan garang.
“Jangan coba-coba lagi. Kau akan menyesalinya,” desisnya memberi peringatan.
Kara hanya menolehkan kepala sedikit dan memilih menghindari konflik, lelaki itu pun hanya melangkah meninggalkan ruangan tanpa kata.
Aslan menunggu sampai Kara menghilang di ujung lorong sebelum menutup pintu di belakangnya, mengalihkan tatapan kembali ke arah Mischa.
Mischa sendiri sudah berdiri dengan waspada, menyesali diri kenapa dia tidak segera berlari ke kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam begitu ada kesempatan.
“Pintu kamar mandi tidak bisa dikunci dari dalam,” entah kenapa Aslan seolah bisa membaca pikiran Mischa, mungkin lelaki itu membaca lirikan menilai Mischa yang diarahkannya beberapa kali ke pintu kamar mandi.
Mischa melemparkan pandangan putus asa bercampur frustasi ke arah Aslan.
“Kenapa kau tidak membunuhku saja?”
menyipitkan mata dengan ekspresi marah mendengar pertanyaan Mischa.
“Mati atau hidupmu ada di tanganku,” desisnya dingin. “Perlukah kukatakan kepadamu bahwa seluruh Bangsa Zodijak yang berada di istana ini sangat ingin membunuhmu? Kabar tersebar begitu cepat dan sekarang semua orang tahu bahwa kau adalam manusia perempuan yang berbahaya karena bisa melukaiku. Mereka semua tidak sabar untuk membunuhmu begitu melihatmu. Apakah kau sedang memohon kepadaku supaya aku bisa melepaskanmu untuk dibunuh oleh mereka?”
0Mendengar bahwa dirinya menjadi incaran Bangsa Zodijak yang begitu buas membuat Mischa begidik ngeri. Meskipun begitu, kebanggaan dirinya sebagai manusia tidak semudah itu dikalahkan.
“Lebih baik aku mati bunuh diri daripada harus memohon untuk dibunuh oleh Bangsa Zodijak,” Mischa mendesis menantang sementara seluruh tubuhnya menegang waspada.
Kemarahan Aslan langsung menguar dari aura tubuhnya, lelaki itu tiba-tiba melangkah maju perlahan sedikit semi sedikit mendekati Mischa, sementara Mischa otomatis melangkah mundur hanya untuk menemukan bagian belakang lututnya terbentur tempat tidur.
Mischa mengerutkan kening marah. “Meskipun begitu, planet bumi adalah milik kami manusia. Kami diciptakan di sini sejak awal, mendiami planet yang merupakan hak kami. Kalianlah bangsa tidak tahu diri yang hanya bisa datang dan merebut hak kami. Apakah kalian tidak pernah berpikir bahwa saat planet asal kalian tidak mau menghasilkan air lagi itu adalah pertanda bahwa ras penjajah seperti kalian memang ditakdirkan untuk punah?”
“Berani-beraninya kau!” Aslan meraung, merangsek maju ke arah Mischa dan langsung merenggut kedua pergelangan Mischa sebelum Mischa bisa menghindar, Aslan mengangkat tubuh Mischa dan mendongakkannya hingga wajah Mischa hampir sejajar dengan dagunya, sementara kedua kaki Mischa terpaksa berjinjit karena ditarik oleh Aslan.
Aslan menundukkan kepala, membuat mata biru Mischa bertatapan begitu dekat dengan mata hitam kelam yang mengerikan itu.
Selalu seperti itu, setiap menatap mata Aslan, Mischa gemetar ketakutan. Mata yang kelam itu memang begitu menakutkan dilihat, mata yang menjadi mimpi buruk umat manusia yang hancur lebur dan hampir musnah karena makhluk bermata hitam itu akan langsung membunuh dengan keji atau meracuni umat manusia dengan gigitannya tanpa ampun yang membuat manusia kehilangan daya.
“Buka matamu,” Aslan menggeram dengan nada memaksa ketika melihat Mischa memalingkan wajah dengan mata menutup rapat. “Buka matamu, dasar manusia!” cengkeraman Aslan di pergelangan tangan Mischa semakin kencang, membuat Mischa mau tak mau membuka matanya kembali.
Tanpa diduganya, di detik Mischa membuka mata, di detik itu pulalah Aslan menyatukan bibirnya dengan bibir Mischa, merenggut kelembutan bibir Mischa dalam sebuah pagutan yang begitu dalam. Aslan mencium Mischa dengan mata terbuka, mempererat cengkeramannya ketika Mischa mulai meronta sekuat tenaga.
Ketika tahu bahwa Aslan tidak berniat melepaskannya, Mischa menendang kesana kemari, berusaha melepaskan dirinya dari sebuah ciuman yang dipaksakan kepadanya.
Aslan sendiri bergeming seolah-olah seluruh rontaan dan tendangan Mischa tak berarti baginya, lelaki itu memang melepaskan Mischa, lalu Aslan mendorong Mischa ke ranjang dengan kasar kemudian.
Mischa menatap Aslan yang berdiri di tepi ranjang dengan tatapan ngeri, dia langsung beringsut bangun, berusaha mundur dengan bertumpu pada sikunya.
Aslan sendiri tanpa diduga malahan memalingkan wajah, lalu menatap makanan yang disajikan untuk Mischa yang masih utuh. Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya.
“Tidak mau memakan hidangan yang disajikan?” Aslan menatap Mischa mengejek. “Dasar manusia perempuan sombong, padahal aku tahu kau lapar sekali.”
Mischa melirik ke makanan yang tampak lezat itu, dan rasa lapar yang tadi sempat dia lupakan kembali datang menyerbu, memaksanya untuk menelan ludah karena harus menahan diri sekuat tenaga supaya tidak langsung meloncat dan melahap makanan itu sepuasnya, menghabiskannya dan mengenyangkan perutnya yang mulai terasa perih.
Sudah lama sekali Mischa tidak merasakan kenikmatan merasa kenyang.Mischa mengerutkan kening untuk mengusir pikiran tentang makanan dan rasa kenyang yang menggoda di benaknya.
Dia harus kuat dan tidak menunjukkan kelemahan di depan lelaki Zodijak ini, kalau tidak, Aslan pasti akan menginjak-injaknya.
Sayangnya, perut Mischa sama sekali tidak berkompromi dengan hatinya, begitu matanya menatap makanan yang tersaji lezat penuh godaan, perutnya langsung berbunyi, meraung minta diisi karena telah dibiarkan kosong begitu lama, hanya diisi makanan seadanya.
Pipi Mishca langsung memerah malu ketika suara perutnya yang keroncongan terdengar begitu jelas di ruangan yang hening, sementara Aslan melemparkan tatapan mencela ke arah Mischa.
“Budak kami tidak butuh makan,” Aslan menjelaskan perlahan, masih berdiri tegak di samping ranjang sambil menatap Mischa penuh perhitungan. “Begitu kami menggigit mereka, kebutuhan mereka akan makanan menghilang, kami mengaliri darah mereka, mengubah struktur alami mereka, sehingga mereka semua hanya membutuhkan air,” Aslan tampak memusatkan perhatian ke leher Mischa, dimana tanda rasi bintang Leo yang khas masih tertera jelas di sana.
Dengan sengaja, Aslan memberi isyarat tangan ke arah pintu, dan dalam sekejap, memenuhi panggilan tuannya lewat kontak batin antara Sang majikan dengan budak, pintu terbuka perlahan dan seorang budak manusia berwajah kosong muncul di pintu lalu berdiri dengan patuh.
“Buang makanan itu,” perintah Aslan dingin, membuat Mischa terperangah kaget.
Mischa tidak bisa berbuat apa-apa ketika budak itu mengangguk, lalu mengangkat nampan makanan dan membawanya keluar dari kamar itu sebelum menutup pintu di belakangnya.
Perasaan Mischa dipenuhi kekecewaan, belum lagi perutnya yang terasa perih ketika makanan itu menghilang dari jangkauannya. Tetapi pikiran Mischa teralihkan oleh sesuatu yang lain, oleh perintah Aslan tadi.
“Kau menyuruh budak itu membuang makanan tadi?” bibir Mischa bergetar seolah tak percaya. “Benar-benar membuangnya?” tanyanya memastikan.
Aslan bersedekap, tampak arogan dan begitu angkuh di mata Mischa.
“Karena kau menolak makanan itu, maka tidak ada yang memakannya di sini. Kami tidak memakan makanan rendahan seperti makanan manusia dan seperti yang kubilang tadi, budak-budak kami tidak perlu makan. Jadi, ya. Makanan tadi dibuang ke tempat sampah untuk dimakan cacing-cacing tanah.”
Makanan semewah itu… makanan sebanyak itu…. Kaum Penyelinap mungkin rela melakukan apa saja hanya untuk mencicip sedikit saja dari makanan tadi, lalu setelahnya mereka akan menangis bahagia atas kesempatan untuk menikmati momen langka tersebut. Tetapi Aslan membuangnya seolah makanan itu sama sekali tidak berharga….
Didorong oleh rasa marahnya akan kurangnya penghargaan Aslan terhadap makanan dan sikap angkuhnya, Mischa merangsek maju tanpa sadar, tubuh kurusnya melenting bertenagakan rasa marah, dan dia bangkit berdiri di atas ranjang, lalu melemparkan telapak tangannya sekuat tenaga untuk menampar pipi Aslan yang tidak sempat menghindar karena tidak menyangka bahwa Mischa akan berani menamparnya.
***